Rabu, 23 Juni 2010

Kisah Freeia dan Vorg part.3

Tahun ini, cuaca terasa berbeda, bahkan musim panas pun terasa dingin. Sepanjang tahun, peri-peri padang merasa bingung. Matahari masih bersinar, tetapi angin selalu bertiup kencang dan suhu udara menurun terus dari hari ke hari. Naluri para peri berkata sesuatu yang buruk sedang terjadi. Mereka mulai mengumpulkan makanan sedini mungkin. Dan di musim gugur, walaupun salju belum turun udara sudah menjadi demikian dingin hingga air parit membeku. Titik-titik air hujan pun terasa bagaikan jarum-jarum es yang turun dari langit.

Dan suatu sore di musim gugur, tiba-tiba badai salju yang sangat dahsyat, badai salju terdahsyat yang pernah ada, melanda seluruh negeri. Tanpa tanda-tanda dan tanpa diduga badai itu menerjang tanpa ampun. Angin dan salju berputar-putar menerpa segala yang ada di permukaan bumi. Tidak sedikit hewan-hewan dan peri-peri yang tersapu dan menghilang entah ke mana. Bunga-bunga menghilang tanpa bekas dan banyak pohon tumbang diterjang ganasnya badai. Hanya mereka yang sudah berada di liangnya masing-masing yang selamat.

Saat itu Freeia sedang berjalan menuju rumah Deenia. Mereka sudah berjanji akan merajut bersama. Mereka bermaksud membuat baju-baju tambahan karena cuaca semakin dingin. Di tengah jalan tiba-tiba badai salju datang menyapu. Freeia merasakan kekuatan angin yang sangat besar mengangkatnya berputar-putar bersama dengan serpihan-serpihan salju yang sesekali menampar wajahnya dan menabrak tubuhnya, membuat kepalanya terasa sangat pening. Semuanya berputar-putar. Warna putih melingkupinya. Raungan angin memekakkan telinganya. Hingga akhirnya Freeia pun kehilangan kesadaran. Kegelapan dan keheningan membungkam semua raungan angin di telinganya dan membuatnya tidak merasakan dinginnya salju di kulitnya.

~oOo~

Sementara di hutan, segala perubahan cuaca itu tidak begitu terasa karena lebatnya pepohonan yang menaungi hutan itu. Hanya dinginnya udara terasa semakin menggigit dari hari ke hari. Peri-peri hutan mulai mengumpulkan bulu-bulu hewan yang tersangkut di semak-semak untuk dibuat mantel. Mereka pun harus bekerja lebih keras lagi mengumpulkan persediaan makanan untuk menghadapi musim dingin.

Ketika itu semua peri hutan sudah berlindung di rumahnya masing-masing. Tetapi Vorg mendengar suara cereceh kutu-kutu di atas lubang pohon tempatnya tinggal bersama Trod sejak kalajengking merebut liang peninggalan orang tua mereka di sela-sela akar pohon ek.
Vorg pun menitipkan adiknya pada keluarga Begt di pohon sebelah dan pergi mengejar kutu-kutu itu. Sebetulnya keluarga Begt menyarankan Vorg untuk mengurungkan niatnya dan berlindung di rumah karena angin begitu kencang bertiup sore itu. Tetapi kesempatan untuk menambah persediaan makanan begitu menggoda bagi Vorg. Apalagi di musim dingin setelah persediaan makanan habis mereka harus hidup dari sisa-sisa serabut akar-akaran atau kulit batang kayu mati yang hambar dan kasar seperti pasir. Bayangan tambahan kutu-kutu renyah sebagai tambahan lauk untuk Trod membulatkan tekadnya untuk mulai memanjat menembus hembusan angin setajam silet di kulit pucatnya.

Vorg memanjat semakin tinggi. Tangannya mencengkram kulit pohon kuat-kuat untuk bertahan dari terpaan angin yang begitu gigih berusaha menerbangkannya. Kutu-kutu itu tak kunjung ditemukannya, apalagi siulan angin di telinganya membuatnya sulit mendengarkan sumber suara cereceh kutu-kutu itu. “Apakah aku salah dengar? Jangan-jangan tidak ada kutu di sini. Sialan! Apa sebaiknya aku pulang saja ya?” pikir Vorg geram. “Akan kucoba sampai ke puncak agar aku tak penasaran, setelah itu aku akan pulang. Dinginnya minta ampun!” Akhirnya Vorg memutuskan untuk melanjutkan pencariannya.

Ketika Vorg hampir mencapai puncak pohon, tiba-tiba badai salju itu datang. Sekuat apa pun Vorg bertahan, tubuh kecilnya tak dapat melawan terjangan badai yang maha dahsyat itu. Ketika segumpal salju menabraknya, cengkraman kukunya pada batang pohon itu pun terlepas. Vorg yang tak berdaya terbawa berputar-putar entah ke mana sampai akhirnya pandangannya mengabur. Suara-suara di sekitarnya mengecil dan Vorg pun kehilangan kesadarannya.

TO BE CONTINUED…
Maap lama sambungannya ya…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar