Ini adalah sebuah kisah tentang seekor anak tupai bernama Jonah. Jonah tinggal di dalam sebuah lubang pada sebatang pohon kenari bersama ayah dan ibunya di taman kota. Sebenarnya, Jonah adalah seekor anak tupai yang baik. Ia selalu mau membantu dan selalu ingin menyenangkan orang lain.Akan tetapi entah kenapa ia sering sekali dimarahi. Yahh, memang tupai dewasa itu sulit dimengerti. Jonah juga sering mengalami kecelakaan-kecelakaan yang sepertinya selalu menimpanya. Tapi toh sampai sekarang Jonah masih sehat dan giat berlompatan dari pohon ke pohon, jadi itu bukan masalah kan?
Hari itu Jonah akan pergi bermain ke kolam kecil di tengah taman.
“Bu, aku mau bermain dengan Toby di kolam!” seru Jonah
“Hati-hati Jonah, jangan dekat-dekat air!” ibunya balas berseru dari dalam rumah mereka.
“Baik Bu!” Jonah menyahut sambil melompat ke pohon sebelah. Karena melompat sambil menoleh, Jonah tidak melihat arah tujuannya dan… BUK! Jonah menabrak dahan tempat di mana ia seharusnya mendarat. GEDEBUG! Jonah jatuh telentang di tanah, untung tanah itu berumput tebal.
“Jonah! Kau jatuh lagi?!” Ibu Jonah menjulurkan kepalanya dari lubang tempat tinggal mereka.
“Tak apa-apa, Bu!” Jonah menjawab sambil meringis dan menggosok-gosok pinggangnya yang sakit. Ibu Jonah hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil masuk kembali ke dalam rumah.
Jonah berlari-lari kecil ke arah kolam. Ia sudah berjanji untuk bertemu Toby, si katak kecil. Sesampainya di tepi kolam ternyata Toby belum kelihatan lubang hidungnya sekalipun. Maka Jonah pun duduk di rumput, mengingat pesan ibunya untuk tidak terlalu dekat ke air.
Tak lama kemudian Toby pun mulai merasa bosan. Ia mulai melemparkan bebatuan kecil yang banyak berserakan di sana ke tengah kolam. Mulanya Jonah hanya melempar asal-asalan, lama-kelamaan ia mulai menetapkan target. Pertama-tama rumpun gelagah di tepi air. Kena! Kemudian seonggok batuyang mencuat di permukaan air. Kena! Lalu daun teratai hampir di tengah kolam. Tidak kena! Jonah penasaran. Ia bangkit dari duduknya dan mencoba lagi.Aduh! Kurang sedikit lagi! Dicobanya maju satu langkah dan ia melempar lagi. Tidak kena! Kini Jonah benar-benar gregetan. Diambilnya sekeping batu, ia melangkah mundur beberapa langkah, mengambil ancang-ancang, dan sambil berlari Jonah melempar batu itu sekuat-kuatnya. Horeee, kena! Celakanya Jonah lupa mengerem larinya dan JEBUUURR! Jonah tercebur ke dalam kolam.
“Tolong! Blep blep! Tolong!” Jonah berusaha mempertahankankepalanya di atas permukaan air. Untunglah saat itu Toby muncul dari dalam air. Cepat-cepat ditariknya Jonah ke atas daun teratai terdekat. Fiuhh! Untung tepat pada waktunya.
Keduanya terengah-engah di atas daun yang cukup lebar itu.
“Aduh Toby, terima kasih ya! Hampir saja aku tenggelam. Untung kau datang pada saat yang tepat,” kata Jonah sambil memeras air pada ekornya yang lebat.
“Sama-sama Jonah, tapi aku punya kabar buruk. Kita tidak bisa main hari ini. Ibu menyuruh aku mengantarkan akar teratai ini untuk diramu di tempat Pak Tikus Tanah. Setelah itu aku harus mengantarkannya ke rumah Bu Murai untuk mengobati anakny yang sedang sakit.” Kata Toby sambil menunjukkan benda yang sedari tadi dibawanya, “Kemarin Bu Murai datang untuk minta tolong pada ibuku.”
“Ya sudah, aku ikut kamu saja mengantarkan akar teratai itu, nanti aku akan membantumu memanjat ke sarang Bu Murai,” sahut Jonah bersemangat.
“Wah, ide bagus tuh!” senyum lebar merekah di wajah Toby yang memang bermulut lebar itu.
Maka Toby pun kembali terjun ke air. Dari bawah air ditariknya batang daun teratai itu sampai ke tepi kolam sehingga Jonah bisa melompat ke darat.
Kemudian sambil bercengkrama kedua sahabat itu pun mulai menyusuri jalan setapak ke lubang tempat tinggal Pak Tikus Tanah di bawah gerumbul semak tak jauh dari sana.
Sesampainya di gerumbul semak yang dituju, mereka mulai mencari-cari lubang pintu rumah Pak Tikus Tanah.
“Di mana ya? Aduh, aku lupa nih,” Toby sibuk menyibakkan semak-semak di sekitar tempatnya berdiri.
Sementara itu Jonah berusaha ikut mencari. Ia sedang sibuk menyibakkan semak-semak di sekitarnya ketika kakinya tersandung sebuah kerikil yang mencuat dari dalam tanah. Ia pun jatuh terguling-guling sampai…. PLOK! Kepala hingga bahunya terperosok ke dalam sebuah lubang di tanah. Jonah bertatapan dengan Pak Tikus Tanah yang sangat terkejut ketika tiba-tiba kepala seekor tupai muncul dari atas kepalanya.
“Aku menemukannya!” dengan girang Jonah berseru sambil mencoba mencabut bahunya dari lubang pintu rumah Pak Tikus Tanah. Pak Tikus Tanah pun berusaha mendorong kepala Jonah keluar dari rumahnya sambil mengomel.
“Ada-ada saja! Anak-anak jaman sekarang, hmph… mengagetkan orang tua, hmph…!! Untung jantungku masih kuat, hmppffhhh!!!” PLOK!! Kepala Jonah pun terlepas dari lubang itu. Pak Tikus Tanah memanjat keluar dari liangnya, menghampiri Jonah yang sedang menggosok-gosok bahu dan lehernya.
“Apa-apaan sih kau! Apa tidak bisa lebih sopan masuk ke rumah orang?” Pak Tikus Tanah langsung memarahi Jonah. Sementara Toby melompat-lompat bergegas menghampiri mereka.
“Maaf Pak Tikus Tanah, aku tidak sengaja,” kata Jonah sambil tersipu malu.
“Pak Tikus Tanah! Maaf, Jonah sedang membantuku mencari rumah Anda ketika ia tersandung dan terperosok tepat ke dalam rumah Anda,” Toby buru-buru menambahkan.
“Uh! Ya sudahlah! Ada apa kalian mencari aku?” akhirnya Pak Tikus Tanah memutuskan untuk tidak melanjutkan lagi omelannya.
“Anu, ini Pak, Bu Murai anaknya sakit. Kemarin beliau meminta akar teratai pada ibuku untuk mengobati anaknya. Jadi, ibu menyuruhku membawa akar teratai ini untuk Anda ramu sebelum diberikan kepada Bu Murai,” Toby menjelaskan panjang lebar sementara Jonah mengangguk-angguk mendukung cerita Toby.
“Sayang sekali anak-anak, aku tidak dapat membantu kalian. Batu penggiling obatku hilang,” kata Pak Tikus Tanah sambil mengangkat bahu.
“Hilang?! Kok bisa hilang? Hilang di mana?” Toby dan Jonah bertubi-tubi mengajukan pertanyaan.
“Aaahh! Dasar nasibku yang apes. Waktu itu aku sedang menggosok batuku seperti yang biasa kulakukan dengan kelopak bunga tulip di petak bunga dekat pintu gerbang taman. Tiba-tiba seorang anak manusia melihatku dan berusaha menangkapku. Buru-buru aku lari dan bersembunyi. Ketika aku kembali untuk mencarinya, aku tak dapat menemukannya di mana pun,” Pak Tikus Tanah bercerita dengan ekspresi pasrah.
“Biar kami membantu Anda mencarinya, siapa tahu kami dapat menemukannya,” celetuk Jonah. Seperti biasa dia selalu ingin membantu.
“Yah, terserah kalian lah,” Pak Tikus Tanah melengos masuk ke liangnya untuk melanjutkan lamunannya yang sempat terputus saat kepala Jonah muncul di lubang pintu rumahnya.
Jonah dan Toby berpandang-pandangan dengan ekspresi serius. Kemudian mereka pun memulai perjalanan mereka. Mereka merasa bahwa perjalanan ini adalah suatu petualangan, suatu misi yang harus mereka selesaikan.
Sesampainya di petak bunga yang dimaksud, mereka mulai mencari batu itu.
“Seperti apa ya bentuknya?” Tanya Toby.
“Ah iya! Kita lupa menanyakannya pada Pak Tikus Tanah!” seru Jonah sambil menampar dahinya sendiri, yang ternyata terlalu keras.
“Aww!” teriaknya sambil mengusap-usap dahinya yang terasa pedih dan panas.
“Kita coba saja mengumpulkan beberapa batu yang tampak seperti batu penggiling. Yang jelas pasti batu yang istimewa,” usul Toby.
“Benar! Siapa tahu salh satunya adalah batu penggiling Pak Tikus Tanah,” kata Jonah bersemangat.
Dan mereka pun mulai mengumpulkan beberapa batu yang menurut mereka cocok dan pantas untuk menjadi batu penggiling obat. Ada batu yang pipih dengan permukaan seperti kertas hampelas, ada batu yang berbentuk seperti palu, ada pula batu berwarna hijau yang dipenuhi titik-titik yang menyerupai Kristal, dan banyak lagi batu-batu dengan berbagai bentuk dan tekstur.
Di salah satu sisi petak bunga itu mereka melihat seekor kumbang sedang duduk termenung di aas sehelai rumput.
“Hai Bu Kumbang, sedang apa? Kok termenung sendirian?” sapa Jonah dan Toby dengan sopan.
“Oh, hallo anak-anak. Aku sedang bingung karena sejak kemarin aku tidak dpat masuk ke dalam rumahku. Ada yang menyumbat pintu masuknya. Padahal aku hanya meninggalkannya sebentar untuk menjemur koleksi manik-manikku. Sedihnya lagi, manik-manik kesukaanku kini ikut hilang. Pasti ada yang mengambilnya karena aku memang sempat meninggalkannya untuk mengambil manik-manik lainnya di rumahku.” Wajah Bu Kumbang tampak sangat memelas. Diperlihatkannya koleksi manik-maniknya yang berwarna-warni yang terkumpul dalam satu gundukan di tanah di dekatnya. Bu Kumbang memang memiliki hobi mengumpulkan manik-manik yang kadangkala tercecer dari pakaian atau saku manusia yang berjalan-jalan di taman itu.
“Kesayanganku adalah yang berwarna merah muda. Sekarang tidak ada lagi. Kenapa yang diambil justru yang itu ya?” keluhnya sambil menghela napas panjang.
“Jangan khawatir Bu kumbang, kami akan menolong Anda mengangkat sumbatan dari rumah Anda,” Jonah serta merta menawarkan bantuannya.
Jonah dan Toby pun menghampiri pintu rumah Bu Kumbang dan mengintip ke dalamnya. Dan benarlah, lubang itu tersumbat oleh sebutir batu bulat berwarna kehitaman. Mereka pun mencoba mengorek dan mengangkat batu itu. Tetapi ternyata sumbatannya rapat sekali. Sedikitpun batu itu tak bergeming.
“Bagaimana cara kita mengangkatnya?” Toby menggaruk-garuk kepala botaknya yang sebenarnya tidak gatal itu.
“Sepertinya kita harus menggunakan semacam tuas untuk mengungkitnya,” kata Jonah.
“Benar juga,” Toby mengangguk-angguk setuju.
Setelah mencari-cari, akhirnya mereka menemukan sepotong ranting. Mereka pun memasukkan ranting itu ke celah di antara batu dan liang rumah Bu Kumbang. Kemudian mereka mencoba mngungkitnya bersama-sama.
Toby mulai memberikan aba-aba,” Satu…Dua… Tigaa!!”
“Hmmpphh!!” KRAK! Ranting itu pun patah.
“Wah! Tidak berhasil, bagaimana dong?” kembali Toby menggaruk-garuk kepalanya, kali ini dengan kedua tangannya.
Jonah melipat tangan di dada sambil mengetuk-ngetuk dagu dengan jari telunjuknya. Dahinya berkerut dan bibirnya manyun sedikit. Wah, persis seperti seorang professor yang sedang memecahkan sebuah rumus yang sangat rumit saja tampaknya.
“Aku tahu!” serunya tiba-tiba, membuat Toby yang sedang asyik berpikir terlonjak karena terkejut.
“Apa? Bagaimana?” seru Toby.
“Mungkin kita harus mengungkitnya dari dua sisi secara bersama-sama,” kata Jonah.
“Benar juga. Ayo kita coba,” Toby langsung melesat untuk mencari ranting yang dapat digunakan untuk mengungkit batu itu.
Setelah keduanya memperoleh ranting yang cocok dan kuat, mereka mulai menyelipkannya di sisi-sisi batu penyumbat itu. Sementara itu Bu Kumbang sedari tadi asyik menonton kedua anak muda itu bekerja. Tampaknya untuk sesaat ia melupakan koleksi manik-maniknya.
“Siap? Satu…Dua… Tigaa!!” kembali Toby menyerukan aba-aba.
“Hmmppfff!!!” dan batu itu pun mulai terangkat sedikit demi sedikit.
“Berhasil! Ayo anak-anak, sedikit lagi!” Bu Kumbang melonjak-lonjak girang di atas heli rumput yang didudukinya.
“Hmmppfff!!!” dan… BLUG! Batu itu pun terangkat keluar dan bergulir di tanah.
“Horee!!!” Bu Kumbang meluncur turun dan mereka bertiga menari-nari kegirangan sambil bersorak-sorak.
“Terima kasih anak-anak. Sekarang aku bisa pulang,” suara Bu Kumbang yang kecil melengking meningkahi tarian mereka.
“Sama-sama Bu Kumbang. Kalau begitu kami pamit dulu Bu. Kami masih harus memberikan batu-batu ini pada Pak Tikus Tanah,” mereka pun berpamitan. Batu penyumbat rumah Bu Kumbang pun mereka bawa karena mereka khawatir batu itu akan menyumbat rumah Bu Kumbang lagi.
“Ini anak-anak, bawalah manik-manik biru ini sebagai tanda terima kasih atas bantuan kalian,” kata Bu Kumbang seraya menyerahkan sebuah manik-manik kecil berwarna biru berkilauan.
“Baiklah, terima kasih Bu,” Jonah dan Toby menerimanya karena tak sopan untuk menolak ucapan terima kasih seseorang bukan?
Dan mereka pun melangkah kembali ke rumah Pak Tikus Tanah.
Sesampainya di rumah Pak Tikus Tanah mereka berseru-seru memaggil Pak Tikus Tanah.
“Pak Tikus Tanah, keluarlah! Lihatlah batu-batu ini!” Pak Tikus Tanah pun melongokkan kepalanya dari dalam tanah. Dilihatnya sekilas batu-batu dalam pelukan tangan Toby dan Jonah. Tiba-tiba matanya melebar dan berbinar. Dengan gesit ia melompat keluar dan berlari menghampiri mereka.
“Batuku, oh batuku sayang!” dendang Pak Tikus Tanah sambil merenggut batu penggiling obatnya dari tumpukan batu di pelukan Jonah. Jonah dan Toby saling berpandangan dengan terkejut. Mereka memandangi tumpukan batu-batu yang aneh-aneh di tangan mereka kemudian memandang Pak Tikus Tanah yang sedang mengelus-elus batu hitam penyumbat rumah Bu Kumbang dengan penuh kasih sayang. Mulut Toby membentuk huruf A dan mulut Jonah membentuk huruf O tanpa mengeluarkan suara apapun untuk beberapa detik. Keduanya mengangkat bahu dan membuang batu-batu aneh yang telah mereka kumpulkan tadi.
“Baiklah! Mana akar teratainya? Aku dapat meraciknya sekarang,” Pak Tikus Tanah yang ada di hadapan mereka sekarang sungguh berbeda dengan Pak Tikus Tanah yang menjumpai mereka sebelumnya. Toby pun memberikan akar teratai yang dibawanya kepada Pak Tikus Tanah.
“Coba katakan kepadaku apa penyakit anak Bu Murai itu?” kata Pak Tikus Tanah.
“Mmm… kalau tidak salah, Bu Murai bilang sejak kemarin anaknya tak mau makan dan berbaring terus. Ia juga tak mau bergerak dan tak mau bicara,” papar Toby sambil mengingat-ingat ucapan Bu Murai.
“Hmm… baiklah!” Pak Tikus Tanah mulai bekerja. Di atas sekeping batu yang agak cekung permukaannya, dipecahkannya potongan akar teratai yang dibawa Toby. Kemudian ia berlari masuk ke dalam rumahnya. Tak lama kemudian ia kembali dengan berbagai bahan yang tampak seperti umbi-umbian, dan akar-akaran serta dedaunan kering di tangannya. Ditaruhnya semua bahan-bahan itu di atas batu bersama akar teratai tadi. Kemudian dengan batu penggiling saktinya digilingnya semua bahan-bahan itu. Tak lama kemudian jadilah ramuan obat itu. Pak Tikus Tanah membungkusnya dengan sehelai daun, lalu memberikannya kepada Toby dengan senyum puas di wajahnya,” Nah! Anak murai itu kini akan sehat kembali.”
“Terima kasih Pak Tikus Tanah,” Jonah dan Toby menyahut berbarengan.
Sesudah itu keduanya pun melanjutkan perjalanan mereka ke rumah Bu Murai di pohon ceri di sisi lain dari taman itu. Untunglah perjalanan mereka boleh dibilang lancer. Sepanjang jalan Jonah hanya tersandung dua kali dan tertimpa kenari jatuh satu kali saja.
Akhirnya mereka pun sampai di bawah pohon tempat tinggal Bu Murai dan anaknya. Mereka mendongak ke atas dan melihat sarang Bu Murai di salah satu dahannya.
GLEK! Toby menelan ludah membayangkan ketinggian dahan itu. “Wah! Bisa tidak ya aku naik ke sana?” ragu-ragu Toby memandang sahabatnya.
“Pasti bisa! Lihat pohon ini begitu berbonggol-bonggol dan banyak dahannya. Kita melompat dari satu tonjolan ke tonjolan berikutnya. Nanti kubantu deh!” Jonah berusaha meyakinkan Toby.
“Baiklah!” Toby pun menguatkan tekadnya.
Kedua sahabat itu mulai memanjat pohon. Jonah duluan, disusul oleh Toby. Di setiap bagian yang sulit Jonah akan mengulurkan tangan dan membantu Toby. Sekali, Jonah terpeleset. Untung Toby sigap menyambar ekor Jonah yang panjang. Jonah pun berhasil menyambar dahan di sebelahnya. Fiuuhh! Hampir saja.
Akhirnya mereka pun sampai di rumah Bu Murai. Tampak Bu Murai sedang menunggui anaknya yang tergolek lemas di sudut sarang.
“Permisi Bu, kami membawakan obat untuk anakmu,” sapa Toby dengan sopan.
“ Oh! Terima kasih anak-anak,” Bu Murai bergegas menghampiri mereka. Segera setelah diterimanya obat itu dari Toby, dibukanya bungkusan daun itu. Bu Murai memasukkan obat itu ke dalam paruhnya, kemudian mulai menyuapi anaknya.
Anak Bu Murai berontak, sayapnya mengepak-ngepak, tetapi tidak ada suara yang keluar dari tenggorokannya. Bu Murai terus mencoba memasukkan obat itu ke kerongkongan anaknya, tiba-tiba anak Bu Murai terbatuk. Ia mengeluarkan suara seperti tercekik, terbatuk lagi, lalu ia memuntahkan sebutir manik-manik besar berwarna merah muda.
“Ya ampun! Rupanya kau menelan benda itu! Pantas saja kau tidak dapat makan dan berbicara,” Bu Murai mencicit ribut sambil memegangi kepala dengan kedua sayapnya. “Pasti kau mencuri lagi. Sudah berapa kali kukatakan, jangan mencuri! Aduh, hampir mati aku karena khawatir,” Jonah dan Toby tak dihiraukannya sama sekali.
“Maaf Bu,” anak Bu Murai tampak tersipu malu. Tetapi ekspresi wajahnya tampak lega dan ia tak henti-hentinya mengurut-urut lehernya. “Aku berjanji tak akan mencuri lagi Bu. Aku sudah kapok. Kemarin karena terburu-buru, tak sengaja manik-manik itu tertelan olehku. Aku tidak mau mengalaminya lagi.”
“Ehm, Bu Murai, boleh kami membawa manik-manik itu untuk kami kembalikan kepada Bu Kumbang?” Jonah berkata sambil menunjuk manik-manik yang baru saja dimuntahkan oleh anak Bu Murai.
“Oh, tentu saja. Tolong sampaikan maafku pada Bu Kumbang ya anak-anak. Dan terima kasih atas bantuan kalian,” Bu Murai menyerahkan manik-manik merah muda itu kepada Jonah.
Sementara itu anak Bu Murai memandang manik-manik Bu Kumbang dengan sedih. Matanya berkaca-kaca karena mengumpulkan barang-barang yang berkilauan adalah hobinya sejak lama. Manik-manik milik Bu Kumbang adalah temuannya yang tercantik selama ini.
Tiba-tiba Toby teringat sesuatu. Dikeluarkannya manik-manik biru pemberian Bu Kumbang.
“Ini, ambillah. Bu Kumbang memberikannya pada kami, tetapi kami tidak memerlukannya. Mungkin kau mau memilikinya,” kata Toby. Diberikannya manik-manik itu pada anak Bu Murai.
Dengan penuh harap anak Bu Murai memandang ibunya. Bu Murai perlahan mengangguk.
“Horeee! Terima kasih kawan-kawan. Kalian baik sekali,” ujarnya girang sambil menerima manik-manik biru itu dari tangan Toby. “Aku pasti akan merawatnya baik-baik.”
“Sekali lagi terima kasih, anak-anak. Sampaikan juga ucapan terima kasihku pada ibumu, Toby. Besok aku akan membawakan buah ceri untuknya dan Pak Tikus Tanah,” kata Bu Murai.
“Sama-sama Bu. Kami pamit pulang dulu Bu,” sahut Jonah dan Toby.
Mereka pun memanjat turun dari sarang Bu Murai diiringi lambaian anak Bu Murai yang kini telah sehat kembali.
Kedua sahabat itu kemudian mengembalikan manik-manik merah muda kepada Bu Kumbang dan menjelaskan kejadiannya serta menyampaikan permohonan maaf Bu Murai. Bukan main girangnya Bu Kumbang menemukan kembali manik-manik kesayangannya. Hampir saja mereka dihadiahi manik-manik lagi. Tetapi dengan sopan Toby dan Jonah menolaknya karena toh mereka tidak memerlukannya.
Sepanjang perjalanan pulang Jonah dan Toby bercakap-cakap.
“Wah, hari ini petualangan kita mengasyikkan ya?” kata Jonah.
“Betul. Kita juga sudah menolong banyak hewan hari ini,” timpal Toby.
“Lain kali kita berpetualan lagi yuk!” rupanya Jonah masih bersemangat dengan petualangan mereka hari itu.
“Tentu. Tapi sekarang aku harus pulang. Perutku lapar nih,” Toby mengelus-elus perutnya sambil memasang wajah memelas.
“Aku juga harus pulang. Tidak terasa hari sudah siang nih. Nanti ibuku marah kalau aku terlambat pulang,” Jonah mengiyakan.
Mereka pun berpisah di persimpangan jalan. Toby menuju kolam dan Jonah menuju pohon kenari tempat tinggalnya.
Setibanya di rumah, Jonah baru saja melangkah masuk lubang pohon yang merupakan pintu rumah mereka ketika tiba-tiba ibunya berteriak, “Jonaaahhh!!”
Duk! Kepala Jonah terbentur tepi lubang.
“Iya Bu,” sahutnya sambil menggosok-gosok kepalanya.
“Ke mana saja kau seharian? Kau belum membereskan kulit kenari bekas sarapanmu. Setiap hari Ibu harus bla…bla…bla…”
“Yah, mulai lagi deh,” gumam Jonah pasrah.
TAMAT
Tampilkan postingan dengan label fiction. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fiction. Tampilkan semua postingan
Rabu, 23 Juni 2010
Kisah Freeia dan Vorg part.11
Bagian dalam dari istana itu gelap dan lembab. Penerangan hanya berasal dari beberapa buah obor yang ditancapkan pada dudukannya di sepanjang dinding lorong batu itu. Ada beberapa jendela tetapi semuanya tertutup rapat. Rupanya aktifitas di istana itu belum dimulai sepagi ini. Baguslah, berarti semakin kecil kemungkinan mereka tertangkap.
Cukup jauh Vorg dan Freeia merayap di sepanjang dinding lorong istana itu sampai menjumpai sebuah persimpangan.
“Kita harus ke mana? Kanan, kiri atau lurus?” tanya Freeia pelan.
“Aku juga tidak tahu. Menurutmu bagaimana?” Vorg balas berbisik.
“Perasaanku bilang sebaiknya kita ke kanan,” kata Freeia lagi.
“Baiklah, kalau begitu kita ke kanan,” kata Vorg.
Mereka berlari menyeberangi lorong itu dan kembali merayap di sepanjang dinding lorong yang mengarah ke kanan. Semakin masuk ke perut istana itu suasana bertambah suram. Bau lumut semakin menyengat ditambah bau-bauan lain yang membuat Vorg dan Freeia terpaksa harus menahan napas mereka dan menghirup udara sesedikit mungkin supaya tidak muntah karena bau yang memuakkan itu.
“Sepertinya kita salah jalan. Tidak mungkin tempat tinggal raja sebau dan sejorok ini,” kata Freeia dengan suara aneh karena berbicara sambil memencet hidungnya.
“Tapi kata Lloyd bangsa Troll memang menyukai kelembaban dan bau busuk bukan?” jawab Vorg juga dengan suara aneh karena memencet hidungnya. Maka mereka pun meneruskan perjalanan mereka. Untunglah sejauh ini mereka tidak menjumpai satu troll pun.
Beberapa meter kemudian Vorg tiba-tiba berhenti melangkah dan memberi isyarat agar Freeia tidak bersuara. Rupanya ada suara-suara yang mencurigakan dari tikungan di depan mereka. Mereka mengendap maju perlahan-lahan, Freeia memegang tangan Vorg kuat-kuat. Sesampainya di tikungan Vorg melongokkan kepalanya sedikit ketika tiba-tiba
“RRAAHHH!!! KKIIKKK!!!” Seekor tikus besar memekik sambil melompat melewati kepala mereka. Ekornya yang berulir-ulir dan panjang hampir menampar wajah Vorg yang untungnya sigap berkelit.
Freeia sempat memekik tertahan tetapi untunglah suara tikus dan suara troll-troll yang mengejar di belakangnya lebih berisik dan menutupi suara pekikan Freeia. Kedua troll itu sama sekali tidak melihat atau memperhatikan kedua peri kecil yang meringkuk di pojok tembok itu. Dengan gaduh mereka mengejar tikus besar tadi sambil membawa pentungan dan memaki-maki dengan ribut.
Begitu kedua troll tadi menghilang dari pandangan mereka Vorg segera menarik tangan Freeia menuju ruangan yang ditinggalkan oleh para troll itu. Rupanya ruangan itu adalah semacam gudang penyimpanan bahan-bahan ramuan dan obat-obatan sekaligus semacam laboratorium. Tampak ratusan stoples dan kotak-kotak kecil berderet-deret di rak-rak yang tersusun di sekeliling dinding ruangan sampai ke langit-langit. Di sepanjang tepi ruangan itu juga dipenuhi meja-meja berlaci dan lemari-lemari yang memuat banyak peralatan yang berbentuk aneh dan kotor. Setiap jengkal di ruangan itu tertutup debu dan sarang labah-labah bergelantungan di mana-mana. Bau lumut bercampur dengan bau jamu-jamuan menggantung di setiap penjuru ruangan bagaikan kabut yang menyesakkan. Di tengah ruangan terletak meja besar dengan bermacam-macam timbangan, tabung-tabung, pipet, alat suntik dan beberapa stoples yang terbuka di atasnya. Di pojok ruangan terdapat deretan kandang yang disusun seperti loker bertingkat-tingkat dan dipenuhi tikus-tikus besar seperti yang melewati mereka beberapa waktu yang lalu. Sepertinya tikus itu kabur ketika akan dijadikan tikus percobaan oleh kedua ilmuwan troll tadi.
“Tidak mungkin permata itu ada di sini, ayo kita keluar dari sini,” bisik Vorg kepada Freeia yang tampak memandang ke sekeliling ruangan itu dengan ekspresi jijik campur takjub.
“Tunggu sebentar. Kelihatannya ini cukup menarik,”Freeia malah melayang terbang ke atas meja tempat kerja para ilmuwan troll. Sambil bergidik dilewatinya sebuah botol yang berisi organ-organ hewan entah apa yang diawetkan dan melayang-layang di dalam cairan berwarna kehijauan. Dibacanya catatan yang ditinggalkan kedua troll itu.
“Lihat ini Vorg. Ramuan penyembuh luka dalam sekejap,”Freeia berjalan mundur sambil membaca dengan seksama. Dia menggigiti bibir bawahnya dan mengerutkan keningnya,”Hmm… kelihatannya ini bisa berguna.”
Sementara itu Vorg sudah memanjat naik melalui kursi batu yang berada di samping meja itu. Dia ikut mengintip catatan ramuan itu dari balik bahu Freeia.
“Sejumput kotoran siput air, dua tetes liur kadal sisik merah, tiga tetes air rendaman limpa tikus jantan, sekeping sisik ular bertanduk tiga. Dilarutkan dengan darah anak naga dan direbus dengan api kecil hingga mengental. Hiyyy!! Kok kelihatannya tidak meyakinkan yah?” Vorg meleletkan lidahnya.
“Tapi bagaimana seandainya ramuan ini benar-benar manjur?” kata Freeia lagi,”Kau bisa mencobanya pada lukamu.”
Dengan ragu Vorg memandang cairan hitam berbau busuk yang menggelegak lembut di dalam wadah yang dipanaskan di atas sejenis tungku berbahan bakarkan entah apa yang menyemburkan api kecil berwarna hijau dengan inti api berwarna ungu.
“Bagaimana? Kau mau mencobanya?” tanya Freeia lagi.
“Apakah menurutmu aman?” kata Vorg yang sebenarnya enggan,”Tikus tadi saja lari-terbirit-birit ketika akan dijadikan bahan percobaan.”
“Tentu saja. Untuk mencoba ramuan penyembuh kan mereka harus melukai dahulu tikus itu. Apakah kau tidak akan kabur bila akan dilukai dengan pisau sebesar itu?” kata Freeia sambil menunjuk pisau melengkung besar penuh karat yang memang tampak menyeramkan di dekat mereka.
“Baiklah!” akhirnya Vorg memutuskan,”Toh tidak akan bertambah parah lagi kan?” sambungnya tak yakin sambil membuka bebatan sobekan baju Freeia yang membalut luka di sikunya.
Maka Freeia pun menyobek sedikit ujung catatan ramuan itu dan menggulungnya untuk kemudian mencelupkannya pada ramuan hitam tadi. Begitu diangkat dari wadah tempatnya dipanaskan cairan lengket itu tampak menggumpal dan berubah warna menjadi perak keputihan, uapnya pun langsung menghilang begitu saja seolah-olah cairan kental itu tidak panas sama sekali. Freeia menyentuhkannya perlahan pada luka menganga yang tampak membengkak dan bernanah di siku Vorg.
Vorg menggigit bibirnya kuat-kuat dan memejamkan matanya untuk menahan rasa sakit yang mungkin ditimbulkan obat itu. Tetapi alih-alih merasa sakit, ia malah merasakan suatu perasaan sejuk di daerah sikunya yang terluka. Dibukanya matanya dan dilihatnya ramuan keperakan itu melapisi seluruh lukanya dan dalam sekejap daging dan kulitnya terbentuk sempurna seolah-olah tidak pernah terluka sama sekali. Rasa sakitnya pun menghilang tanpa bekas. Dicobanya untuk menggerakkan lengan itu. Tidak masalah. Dicobanya untuk memutarnya ke segala arah. Berfungsi dengan sempurna!
“Wow! Luar biasa!” hanya itu yang bisa diucapkannya. Freeia pun tercengang memandang khasiat dari ramuan itu.
“Bagaimana kalau kita membawanya sedikit? Pasti suatu waktu akan berguna,” kata Freeia masih terkagum-kagum.
Mereka pun memindahkan sedikit dari ramuan itu ke dalam salah satu cangkang kumbang yang biasa mereka pakai untuk minum dengan gulungan kertas tadi, membungkusnya dengan sobekan baju Freeia bekas membalut luka Vorg, kemudian mengikatnya kuat-kuat dengan seutas tali peri. Vorg memasukkan persediaan ramuan itu ke dalam tas kulit ularnya. Sobekan kertas tadi pun disimpannya agar tidak meninggalkan jejak yang akan membuat para troll curiga.
Kemudian Freeia terbang menyusuri rak-rak yang dipasang di sekeliling ruangan itu sambil membaca setiap label yang melekat pada jajaran botol-botol itu.
“Ramuan penumbuh kutil, ramuan pengeras rambut, ramuan pemikat lalat… Parfum aroma lumut basah, parfum aroma bangkai siput air, parfum aroma lumpur asam… Obat sariawan tanpa cacing, obat sariawan bercacing, obat batuk kering, obat batuk berdahak hijau, obat batuk berdahak hitam, obat batuk berdahak kuning… Hoekhh! Jadi mual aku,” kata Freeia sambil melayang turun kembali ke meja.
Dari kejauhan terdengar suara-suara troll mengobrol yang makin mendekat.
“Ayo kita keluar. Sepertinya mereka sudah kembali,” bisik Vorg sambil melompat turun ke kursi yang tadi dipakainya untuk naik ke meja. Freeia pun melayang turun mengikutinya. Sesampainya di lantai mereka cepar-cepat keluar dan bersembunyi di pojokan tembok yang tertutup bayang-bayang obor yang ditancapkan di atasnya. Dan benarlah. Tampak kedua ilmuwan troll tadi datang mendekat. Troll yang berambut dan berkumis kuning tua memanggul pentungan di bahunya sementara troll pendek yang berambut pendek dan mekar ke segala arah berwarna biru elektrik menjinjing ekor tikus yang meronta-ronta dan mencicit ribut di tangannya.
“Untung kita berhasil menangkap tikus ini. Kalau sampai masuk ke kamar Raja, bisa-bisa kepala kita dipenggalnya,” kata si rambut biru.
“Betul! Padahal hampir saja kita terlambat. Satu, dua, tiga, empat pintu dilewatinya. Tikus ini sungguh lincah dan lihai berkelit. Tepat di depan pintu kamar Raja kita berhasil menangkapnya tadi. Untung Raja tidak terbangun,” si rambut kuning mengiyakan.
Dan mereka pun masuk ke dalam laboratorium mereka seraya menutup pintunya.
“Harus ditutup. Jangan-jangan tikus sialan ini kabur lagi nanti,” ujar salah satu troll itu samar-samar dari balik pintu yang kini tertutup. Ternyata setelah pintu ditutup dinding batu itu tampak seperti dinding batu biasa tanpa terlihat pintu sedikitpun.
Vorg dan Freeia berpandang-pandangan.
“Ternyata kita sudah melewati kamar Gorchuk di lorong tadi,” bisik Vorg.
“Ya. Pintu kelima dari tikungan tadi bukan?” sahut Freeia penuh semangat.
“Tapi, perasaan tadi kita tidak melewati satu pintu pun?” kata Freeia lagi.
“Pandanglah pintu laboratorium itu. Memang sangat tersamar bukan? Mari kita melihatnya dari dekat,” jawab Vorg sambil menggamit lengan Freeia.
Mereka menghampiri bagian dinding yang tadi merupakan pintu masuk ke laboratorium. Tidak tampak tanda-tanda pintu sama sekali. Vorg dan Freeia meraba-raba dinding tersebut mencari celah yang merupakan tanda batas tepi pintu yang mereka cari, tetapi tetap mereka tidak menemukannya.
“Hmm… Aneh sekali,”Freeia menotol-notol dagunya dengan jari telunjuk tanda ia sedang berpikir keras. Sementara itu Vorg memandang seluruh permukaan dinding dengan seksama. Pandangannya menelusuri tempat di mana pintu tadi berada dari bawah, perlahan-lahan naik ke atas hingga mencapai langit-langit lorong itu.
“Freeia, lihat! Rupanya di atas pintu itu ditandai dengan semacam plakat yang merupakan nomor ruangan atau sejenisnya” Vorg berbisik sambil menunjuk semacam plakat kusam yang ditempelkan di atas pintu hampir mendekati langit-langit lorong batu itu,”Pantas saja kita tidak melihatnya. Tinggi sekali, tersamar pula saking kotornya.”
“Berarti kita tinggal mencari cara membuka pintunya,” sambung Freeia penuh semangat.
“Kedua troll yang ada di dalam akan curiga bila pintunya tahu-tahu terbuka. Lebih baik kita menunggu sampai mereka keluar,” kata Vorg lagi
“Tapi bagaimana jika mereka tidak keluar-keluar sampai malam?” tanya Freeia.
“Kalau begitu sebaiknya kita mencari dahulu letak kamar Raja Gorchuk, bagaimana?” Ujar Vorg.
“Baiklah!” Freeia pun setuju.
Vorg memimpin di depan. Kembali mereka mengendap-ngendap kembali ke jalan yang telah mereka lewati sebelumnya. Sesampainya di tikungan Vorg berkata,“Kita harus berhati-hati kalau-kalau tiba-tiba ada troll yang keluar dari salah satu pintu itu,”
Mereka berjalan sambil memperhatikan bagian atas dari dinding di sebelah kanan mereka. Dan benarlah, Setiap beberapa meter ada semacam plakat yang tertempel di sana. Plakat itu memuat lambang-lambang yang tidak mereka pahami.
Pintu pertama, kedua, ketiga dan keempat mereka lewati.
“Berarti yang berikutnya pintu kamar Gorchuk,” Vorg berbisik pada Freeia yang menempel rapat di belakangnya sambil tanpa menghentikan langkahnya. Ia baru berhenti ketika pintu kelima sudah tepat berada di hadapan mereka. Sambil memberi tanda kepada Freeia untuk mengikutinya Vorg menyeberangi lorong itu.
Mereka memandang ke atas ke arah plakat di atas pintu kelima. Memang plakatnya lebih besar dan di sekeliling tepiannya dihiasi oleh ornamen-ornamen seperti ukiran, tidak polos seperti plakat-plakat lainnya.
“Kira-kira bagaimana cara membuka dan menutup pintu-pintu ini ya?” baru saja Vorg selesai berbicara ketika pintu di hadapan mereka mendadak menggeser terbuka dan di hadapan mereka tampak sepasang kaki besar mengenakan sepatu bot yang terbuat dari sejenis kulit binatang melata. Saking kagetnya kedua peri itu tidak sempat bersembunyi atau berbuat apa pun.
“Gawat! Matilah kita,” hanya itu yang sempat terlintas di pikiran mereka saat itu.
TO BE CONTINUED….
Apakah kedua peri itu akan tertangkap?
Bagaimana nasib mereka dan keempat Ratu Musim?
Nantikan lanjutannya di Kisah Freeia dan Vorg part.12
Cukup jauh Vorg dan Freeia merayap di sepanjang dinding lorong istana itu sampai menjumpai sebuah persimpangan.
“Kita harus ke mana? Kanan, kiri atau lurus?” tanya Freeia pelan.
“Aku juga tidak tahu. Menurutmu bagaimana?” Vorg balas berbisik.
“Perasaanku bilang sebaiknya kita ke kanan,” kata Freeia lagi.
“Baiklah, kalau begitu kita ke kanan,” kata Vorg.
Mereka berlari menyeberangi lorong itu dan kembali merayap di sepanjang dinding lorong yang mengarah ke kanan. Semakin masuk ke perut istana itu suasana bertambah suram. Bau lumut semakin menyengat ditambah bau-bauan lain yang membuat Vorg dan Freeia terpaksa harus menahan napas mereka dan menghirup udara sesedikit mungkin supaya tidak muntah karena bau yang memuakkan itu.
“Sepertinya kita salah jalan. Tidak mungkin tempat tinggal raja sebau dan sejorok ini,” kata Freeia dengan suara aneh karena berbicara sambil memencet hidungnya.
“Tapi kata Lloyd bangsa Troll memang menyukai kelembaban dan bau busuk bukan?” jawab Vorg juga dengan suara aneh karena memencet hidungnya. Maka mereka pun meneruskan perjalanan mereka. Untunglah sejauh ini mereka tidak menjumpai satu troll pun.
Beberapa meter kemudian Vorg tiba-tiba berhenti melangkah dan memberi isyarat agar Freeia tidak bersuara. Rupanya ada suara-suara yang mencurigakan dari tikungan di depan mereka. Mereka mengendap maju perlahan-lahan, Freeia memegang tangan Vorg kuat-kuat. Sesampainya di tikungan Vorg melongokkan kepalanya sedikit ketika tiba-tiba
“RRAAHHH!!! KKIIKKK!!!” Seekor tikus besar memekik sambil melompat melewati kepala mereka. Ekornya yang berulir-ulir dan panjang hampir menampar wajah Vorg yang untungnya sigap berkelit.
Freeia sempat memekik tertahan tetapi untunglah suara tikus dan suara troll-troll yang mengejar di belakangnya lebih berisik dan menutupi suara pekikan Freeia. Kedua troll itu sama sekali tidak melihat atau memperhatikan kedua peri kecil yang meringkuk di pojok tembok itu. Dengan gaduh mereka mengejar tikus besar tadi sambil membawa pentungan dan memaki-maki dengan ribut.
Begitu kedua troll tadi menghilang dari pandangan mereka Vorg segera menarik tangan Freeia menuju ruangan yang ditinggalkan oleh para troll itu. Rupanya ruangan itu adalah semacam gudang penyimpanan bahan-bahan ramuan dan obat-obatan sekaligus semacam laboratorium. Tampak ratusan stoples dan kotak-kotak kecil berderet-deret di rak-rak yang tersusun di sekeliling dinding ruangan sampai ke langit-langit. Di sepanjang tepi ruangan itu juga dipenuhi meja-meja berlaci dan lemari-lemari yang memuat banyak peralatan yang berbentuk aneh dan kotor. Setiap jengkal di ruangan itu tertutup debu dan sarang labah-labah bergelantungan di mana-mana. Bau lumut bercampur dengan bau jamu-jamuan menggantung di setiap penjuru ruangan bagaikan kabut yang menyesakkan. Di tengah ruangan terletak meja besar dengan bermacam-macam timbangan, tabung-tabung, pipet, alat suntik dan beberapa stoples yang terbuka di atasnya. Di pojok ruangan terdapat deretan kandang yang disusun seperti loker bertingkat-tingkat dan dipenuhi tikus-tikus besar seperti yang melewati mereka beberapa waktu yang lalu. Sepertinya tikus itu kabur ketika akan dijadikan tikus percobaan oleh kedua ilmuwan troll tadi.
“Tidak mungkin permata itu ada di sini, ayo kita keluar dari sini,” bisik Vorg kepada Freeia yang tampak memandang ke sekeliling ruangan itu dengan ekspresi jijik campur takjub.
“Tunggu sebentar. Kelihatannya ini cukup menarik,”Freeia malah melayang terbang ke atas meja tempat kerja para ilmuwan troll. Sambil bergidik dilewatinya sebuah botol yang berisi organ-organ hewan entah apa yang diawetkan dan melayang-layang di dalam cairan berwarna kehijauan. Dibacanya catatan yang ditinggalkan kedua troll itu.
“Lihat ini Vorg. Ramuan penyembuh luka dalam sekejap,”Freeia berjalan mundur sambil membaca dengan seksama. Dia menggigiti bibir bawahnya dan mengerutkan keningnya,”Hmm… kelihatannya ini bisa berguna.”
Sementara itu Vorg sudah memanjat naik melalui kursi batu yang berada di samping meja itu. Dia ikut mengintip catatan ramuan itu dari balik bahu Freeia.
“Sejumput kotoran siput air, dua tetes liur kadal sisik merah, tiga tetes air rendaman limpa tikus jantan, sekeping sisik ular bertanduk tiga. Dilarutkan dengan darah anak naga dan direbus dengan api kecil hingga mengental. Hiyyy!! Kok kelihatannya tidak meyakinkan yah?” Vorg meleletkan lidahnya.
“Tapi bagaimana seandainya ramuan ini benar-benar manjur?” kata Freeia lagi,”Kau bisa mencobanya pada lukamu.”
Dengan ragu Vorg memandang cairan hitam berbau busuk yang menggelegak lembut di dalam wadah yang dipanaskan di atas sejenis tungku berbahan bakarkan entah apa yang menyemburkan api kecil berwarna hijau dengan inti api berwarna ungu.
“Bagaimana? Kau mau mencobanya?” tanya Freeia lagi.
“Apakah menurutmu aman?” kata Vorg yang sebenarnya enggan,”Tikus tadi saja lari-terbirit-birit ketika akan dijadikan bahan percobaan.”
“Tentu saja. Untuk mencoba ramuan penyembuh kan mereka harus melukai dahulu tikus itu. Apakah kau tidak akan kabur bila akan dilukai dengan pisau sebesar itu?” kata Freeia sambil menunjuk pisau melengkung besar penuh karat yang memang tampak menyeramkan di dekat mereka.
“Baiklah!” akhirnya Vorg memutuskan,”Toh tidak akan bertambah parah lagi kan?” sambungnya tak yakin sambil membuka bebatan sobekan baju Freeia yang membalut luka di sikunya.
Maka Freeia pun menyobek sedikit ujung catatan ramuan itu dan menggulungnya untuk kemudian mencelupkannya pada ramuan hitam tadi. Begitu diangkat dari wadah tempatnya dipanaskan cairan lengket itu tampak menggumpal dan berubah warna menjadi perak keputihan, uapnya pun langsung menghilang begitu saja seolah-olah cairan kental itu tidak panas sama sekali. Freeia menyentuhkannya perlahan pada luka menganga yang tampak membengkak dan bernanah di siku Vorg.
Vorg menggigit bibirnya kuat-kuat dan memejamkan matanya untuk menahan rasa sakit yang mungkin ditimbulkan obat itu. Tetapi alih-alih merasa sakit, ia malah merasakan suatu perasaan sejuk di daerah sikunya yang terluka. Dibukanya matanya dan dilihatnya ramuan keperakan itu melapisi seluruh lukanya dan dalam sekejap daging dan kulitnya terbentuk sempurna seolah-olah tidak pernah terluka sama sekali. Rasa sakitnya pun menghilang tanpa bekas. Dicobanya untuk menggerakkan lengan itu. Tidak masalah. Dicobanya untuk memutarnya ke segala arah. Berfungsi dengan sempurna!
“Wow! Luar biasa!” hanya itu yang bisa diucapkannya. Freeia pun tercengang memandang khasiat dari ramuan itu.
“Bagaimana kalau kita membawanya sedikit? Pasti suatu waktu akan berguna,” kata Freeia masih terkagum-kagum.
Mereka pun memindahkan sedikit dari ramuan itu ke dalam salah satu cangkang kumbang yang biasa mereka pakai untuk minum dengan gulungan kertas tadi, membungkusnya dengan sobekan baju Freeia bekas membalut luka Vorg, kemudian mengikatnya kuat-kuat dengan seutas tali peri. Vorg memasukkan persediaan ramuan itu ke dalam tas kulit ularnya. Sobekan kertas tadi pun disimpannya agar tidak meninggalkan jejak yang akan membuat para troll curiga.
Kemudian Freeia terbang menyusuri rak-rak yang dipasang di sekeliling ruangan itu sambil membaca setiap label yang melekat pada jajaran botol-botol itu.
“Ramuan penumbuh kutil, ramuan pengeras rambut, ramuan pemikat lalat… Parfum aroma lumut basah, parfum aroma bangkai siput air, parfum aroma lumpur asam… Obat sariawan tanpa cacing, obat sariawan bercacing, obat batuk kering, obat batuk berdahak hijau, obat batuk berdahak hitam, obat batuk berdahak kuning… Hoekhh! Jadi mual aku,” kata Freeia sambil melayang turun kembali ke meja.
Dari kejauhan terdengar suara-suara troll mengobrol yang makin mendekat.
“Ayo kita keluar. Sepertinya mereka sudah kembali,” bisik Vorg sambil melompat turun ke kursi yang tadi dipakainya untuk naik ke meja. Freeia pun melayang turun mengikutinya. Sesampainya di lantai mereka cepar-cepat keluar dan bersembunyi di pojokan tembok yang tertutup bayang-bayang obor yang ditancapkan di atasnya. Dan benarlah. Tampak kedua ilmuwan troll tadi datang mendekat. Troll yang berambut dan berkumis kuning tua memanggul pentungan di bahunya sementara troll pendek yang berambut pendek dan mekar ke segala arah berwarna biru elektrik menjinjing ekor tikus yang meronta-ronta dan mencicit ribut di tangannya.
“Untung kita berhasil menangkap tikus ini. Kalau sampai masuk ke kamar Raja, bisa-bisa kepala kita dipenggalnya,” kata si rambut biru.
“Betul! Padahal hampir saja kita terlambat. Satu, dua, tiga, empat pintu dilewatinya. Tikus ini sungguh lincah dan lihai berkelit. Tepat di depan pintu kamar Raja kita berhasil menangkapnya tadi. Untung Raja tidak terbangun,” si rambut kuning mengiyakan.
Dan mereka pun masuk ke dalam laboratorium mereka seraya menutup pintunya.
“Harus ditutup. Jangan-jangan tikus sialan ini kabur lagi nanti,” ujar salah satu troll itu samar-samar dari balik pintu yang kini tertutup. Ternyata setelah pintu ditutup dinding batu itu tampak seperti dinding batu biasa tanpa terlihat pintu sedikitpun.
Vorg dan Freeia berpandang-pandangan.
“Ternyata kita sudah melewati kamar Gorchuk di lorong tadi,” bisik Vorg.
“Ya. Pintu kelima dari tikungan tadi bukan?” sahut Freeia penuh semangat.
“Tapi, perasaan tadi kita tidak melewati satu pintu pun?” kata Freeia lagi.
“Pandanglah pintu laboratorium itu. Memang sangat tersamar bukan? Mari kita melihatnya dari dekat,” jawab Vorg sambil menggamit lengan Freeia.
Mereka menghampiri bagian dinding yang tadi merupakan pintu masuk ke laboratorium. Tidak tampak tanda-tanda pintu sama sekali. Vorg dan Freeia meraba-raba dinding tersebut mencari celah yang merupakan tanda batas tepi pintu yang mereka cari, tetapi tetap mereka tidak menemukannya.
“Hmm… Aneh sekali,”Freeia menotol-notol dagunya dengan jari telunjuk tanda ia sedang berpikir keras. Sementara itu Vorg memandang seluruh permukaan dinding dengan seksama. Pandangannya menelusuri tempat di mana pintu tadi berada dari bawah, perlahan-lahan naik ke atas hingga mencapai langit-langit lorong itu.
“Freeia, lihat! Rupanya di atas pintu itu ditandai dengan semacam plakat yang merupakan nomor ruangan atau sejenisnya” Vorg berbisik sambil menunjuk semacam plakat kusam yang ditempelkan di atas pintu hampir mendekati langit-langit lorong batu itu,”Pantas saja kita tidak melihatnya. Tinggi sekali, tersamar pula saking kotornya.”
“Berarti kita tinggal mencari cara membuka pintunya,” sambung Freeia penuh semangat.
“Kedua troll yang ada di dalam akan curiga bila pintunya tahu-tahu terbuka. Lebih baik kita menunggu sampai mereka keluar,” kata Vorg lagi
“Tapi bagaimana jika mereka tidak keluar-keluar sampai malam?” tanya Freeia.
“Kalau begitu sebaiknya kita mencari dahulu letak kamar Raja Gorchuk, bagaimana?” Ujar Vorg.
“Baiklah!” Freeia pun setuju.
Vorg memimpin di depan. Kembali mereka mengendap-ngendap kembali ke jalan yang telah mereka lewati sebelumnya. Sesampainya di tikungan Vorg berkata,“Kita harus berhati-hati kalau-kalau tiba-tiba ada troll yang keluar dari salah satu pintu itu,”
Mereka berjalan sambil memperhatikan bagian atas dari dinding di sebelah kanan mereka. Dan benarlah, Setiap beberapa meter ada semacam plakat yang tertempel di sana. Plakat itu memuat lambang-lambang yang tidak mereka pahami.
Pintu pertama, kedua, ketiga dan keempat mereka lewati.
“Berarti yang berikutnya pintu kamar Gorchuk,” Vorg berbisik pada Freeia yang menempel rapat di belakangnya sambil tanpa menghentikan langkahnya. Ia baru berhenti ketika pintu kelima sudah tepat berada di hadapan mereka. Sambil memberi tanda kepada Freeia untuk mengikutinya Vorg menyeberangi lorong itu.
Mereka memandang ke atas ke arah plakat di atas pintu kelima. Memang plakatnya lebih besar dan di sekeliling tepiannya dihiasi oleh ornamen-ornamen seperti ukiran, tidak polos seperti plakat-plakat lainnya.
“Kira-kira bagaimana cara membuka dan menutup pintu-pintu ini ya?” baru saja Vorg selesai berbicara ketika pintu di hadapan mereka mendadak menggeser terbuka dan di hadapan mereka tampak sepasang kaki besar mengenakan sepatu bot yang terbuat dari sejenis kulit binatang melata. Saking kagetnya kedua peri itu tidak sempat bersembunyi atau berbuat apa pun.
“Gawat! Matilah kita,” hanya itu yang sempat terlintas di pikiran mereka saat itu.
TO BE CONTINUED….
Apakah kedua peri itu akan tertangkap?
Bagaimana nasib mereka dan keempat Ratu Musim?
Nantikan lanjutannya di Kisah Freeia dan Vorg part.12
Kisah Freeia dan Vorg part.10
Mereka melesat di keremangan langit senja dengan ketinggian dan kecepatan yang tak pernah terbayangkan. Freeia saja yang sebetulnya sudah terbiasa terbang merasa ngeri. Dicengkramnya bulu-bulu di leher Lloyd kuat-kuat. Kakinya menjepit leher burung besar itu sampai pegal rasanya. Untunglah dengan adanya tubuh kokoh Vorg di belakangnya dan kedua lengan kekar yang memeluk pinggangnya Freeia merasa cukup aman.
Sementara itu Vorg sebenarnya merasa sangat ngeri. Tubuh burung yang berlapiskan bulu itu terasa licin di pantatnya. Gerakan mengepak dari kedua sayap di kiri kanannya serasa mendorongnya ke berbagai arah dan ia tak menemukan tempat untuk berpegangan selain dari memeluk tubuh gadis yang duduk merapat di depannya. Tapi lama kelamaan Vorg dapat juga menikmati perjalanan udara itu. Tubuhnya mulai menemukan ritme yang seirama dengan kepakan sayap Lloyd. Helai-helai rambut Freeia yang halus dan harum tertiup angin menyapu wajahnya dan bintang-bintang yang mulai bermunculan di langit menjadikan segalanya menjadi begitu indah. Untuk beberapa saat ia melupakan misi yang kini diembannya bersama Freeia dan rasa sakit menusuk yang berdenyut-denyut di siku dan di kepalanya.
Malam semakin larut tetapi Lloyd terus terbang dengan kecepatan tinggi menembus awan-awan. Vorg memaksa dirinya untuk terus terjaga. Pertama karena takut jatuh, kedua karena udara dingin yang tidak memungkinkannya untuk tidur. Bahkan ketebalan mantel bulunya tidak dapat melawan dinginnya angin di ketinggian seperti itu. Freeia tampaknya cukup nyaman dengan lilitan sayap di sekitar tubuhnya dan lengan Vorg di sekeliling pinggangnya. Beberapa kali gadis itu terangguk-angguk dalam tidurnya, tetapi Vorg memastikan gadis itu aman di atas punggung Lloyd.
Akhirnya Vorg merasa laju terbang mereka mulai melambat dan Lloyd mulai menurunkan ketinggian terbangnya. Saat itu sudah menjelang fajar. Hitamnya langit sudah mulai kehilangan kepekatannya dan bintang-bintang mulai kembali ke peraduannya. Ia memandang ke bawah. Tampaknya kini mereka berada di atas daerah rawa-rawa. Tanaman ilalang yang lebat tampak berkelompok di mana-mana mencuat dari permukaan tanah yang becek dan berlumpur. Beberapa pohon yang rendah tapi rimbun tumbuh di tepian genangan-genangan air yang besar, beberapa di antaranya bahkan hampir menyerupai danau-danau kecil.
Mereka melayang makin rendah hingga akhirnya dengan mulus mendarat di samping sebuah rumpun ilalang yang cukup lebat. Begitu kaki-kaki Lloyd menjejak tanah Freeia terbangun dari tidurnya.
“Hoahhemm… Di mana kita sekarang?” ujarnya sambil menguap dan menggeliat.
“Ssh… Kita sudah berada di wilayah kekuasaan Gorchuk. Sebaiknya kita berhati-hati karena dia menempatkan penjaga di setiap pelosok rawa ini.” Kata Lloyd setengah berbisik.
“Di sini baunya tidak enak,” kata Freeia lagi sambil mengernyitkan hidung, tetapi kali ini dengan suara yang dipelankan.
“Justru karena itulah para Troll memilih tinggal di daerah berawa seperti ini. Mereka menyukai kelembaban dan bau-bauan yang menyengat. Makanan mereka pun biasanya berupa daging yang sudah membusuk dan berbagai jenis ulat dan serangga yang hidup di sekitar sini,” Lloyd menjelaskan dengan suara rendah.
“Hoekkh!” Freeia menjulurkan lidah sambil memegang perutnya yang tiba-tiba terasa mual.
“Apa yang harus kita lakukan sekarang?” Vorg akhirnya buka suara.
“Kurasa sebaiknya kita berusaha mendekati tempat kediaman Gorchuk mumpung hari masih gelap. Akan lebih sulit untuk kita mendekati istananya di siang hari,” kata Lloyd.
“Baiklah, ke arah mana?” tanya Vorg.
Lloyd memberi tanda dengan sayapnya untuk mengikutinya. Maka mereka pun berjalan mengendap-ngendap sambil merunduk dari satu rumpun ilalang ke rumpun ilalang berikutnya mendekati istana Gorchuk. Semakin mendekati istana Gorchuk tanah di bawah kaki mereka semakin becek dan berlumpur. Belum lagi dengingan nyamuk-nyamuk besar yang sesekali berseliweran di sekitar kepala mereka. Sepatu Freeia dan Vorg kini terbungkus lapisan tebal lumpur yang lengket dan bau. Demikian pula dengan kaki Lloyd. Berulang kali ia mengangkat kakinya dan berusaha mengguncangkan lumpur yang memenuhi sela-sela jari kakinya sebelum bisa melangkah lagi. Beberapa kali mereka harus berjalan memutar karena terdengar dengkur keras dari balik rumpun ilalang di hadapan mereka.
“Untung para penjaga Troll malas-malas dan tertidur selagi berjaga,” kata Freeia dengan berbisik.
“Untungnya lagi mereka semuanya mendengkur begitu kerasnya sehingga kita tidak menabrak salah satu dari mereka,” Vorg menimpali dengan berbisik juga.
Langit mulai menampakkan semburat jingga di sebelah timur. Rupanya sebentar lagi Sang Surya akan menampakkan wajahnya.
“Sekarang sudah dekat,” bisik Lloyd,”Istana Gorchuk terletak di balik rumpun ini. Mulai sekarang jangan bersuara sedikitpun.”
Perlahan mereka menyibakkan rumpun ilalang di hadapan mereka. Beberapa meter dari tempat mereka bersembunyi tampaklah istana Gorchuk yang tak tampak seperti istana di mata Freeia dan Vorg. Istana itu berupa bangunan batu besar tak berbentuk yang diselimuti lumut di seluruh permukaannya.Pintu masuknya terbuat dari potongan-potongan batang pohon yang berat yang dijalin dengan sulur-sulur tanaman yang kuat. Dua orang penjaga baru saja terjaga dari tidur mereka. Mereka bangkit dari duduknya di bongkahan batu berlumut di sebelah kiri dan kanan pintu gerbang besar itu.
“Huaahhhhmmm!!!” penjaga sebelah kiri menguap lebar sambil merentangkan tangannya. Suaranya sangat keras karena ternyata Troll itu cukup besar. Tingginya lebih dari tiga kali tinggi Vorg dan lebarnya lebih dari empat kali lebar tubuh Vorg. Badan mereka gempal dan padat, dengan kaki-kaki dan tangan-tangan yang pendek dan lebar. Wajah mereka penuh keriput seperti layaknya kakek-kakek. Hidung mereka bulat dan besar berwarna kemerahan dengan beberapa kutil di seluruh permukaannya dan bulu-bulu hidung mereka mencuat keluar dari kedua lubangnya. Alis mereka pun tebal hingga menjuntai di kedua sisi wajah mereka, tetapi mata mereka yang hitam bulat dan besar tampak kekanak-kananakan dan tidak cocok dengan wajah mereka yang keriput. Kedua mata itu bagaikan bola kaca hitam dan tidak memiliki bagian berwarna putih di sisinya, menonjol keluar dan begitu besarnya hingga memenuhi hampir separuh dari wajah mereka. Sedangkan mulut mereka sangat mungil dan hampir tersembunyi di bawah hidung besar yang memenuhi separuh sisa wajah mereka. Dan yang paling menakjubkan mungkin adalah rambut mereka. Rambut itu tumbuh panjang ke arah atas seolah-olah melawan gravitasi bumi. Penjaga sebelah kiri memiliki rambut berwarna ungu terang yang mencuat lurus dan bersatu di ujungnya sehingga membentuk kerucut yang melengkung membentuk spiral. Sementara penjaga sebelah kanan memiliki rambut berwarna hijau lumut yang mencuat ke segala arah seperti kipas. Dua gumpal kumis lebat berwarna sama menggantung di bawah setiap lubang hidungnya sehingga saat ia berbicara hanya tampak kedua kumis itu bergoyang-goyang tanpa terlihat lubang mulutnya.
“Bagaimana caranya dia makan ya?” mau tak mau pikiran itu terlintas di benak Freeia,”Pasti bubur biji bunga matahari akan tersangkut di kumis itu saat ia makan. Hiyyy!!”
“Kita harus bersiap-siap. Apakah hari ini Raja Gorchuk jadi mengirimkan permata biru untuk Putri Gwendoline?” kumis hijau itu bergerak-gerak cepat saat ia berbicara.
“Sepertinya belum. Kabar terakhir yang kudengar Putri Gwendoline mengajukan syarat tambahan untuk menerima pinangan Raja Gorchuk.” Timpal si rambut ungu.
“Ck ck ck. Memang makin cantik seorang wanita pasti semakin macam-macam saja maunya,” si kumis hijau berdecak sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, rambut kipasnya melambai-lambai seperti ekor merak.
“Hush! Jangan sampai Raja Gorchuk mendengar perkataanmu. Bisa-bisa dipenggalnya kepalamu nanti,” si rambut ungu mengingatkan. Si kumis langsung menutup mulutnya sambil celingukan ke segala arah.
Lloyd memberi tanda untuk mundur. Mereka pun mundur beberapa langkah dan mulai mengatur strategi.
“Tampaknya permata-permata itu ada di dalam,” ujar Lloyd senang.
“Bagaimana caranya kita masuk?” tanya Vorg.
“Itulah masalahnya. Kurasa kita harus mengalihkan perhatian kedua penjaga itu,” kata Lloyd.
“Kalaupun kita berhasil mengalihkan perhatian mereka, bagaimana cara kita membuka pintu yang besar dan berat itu?” Freeia ikut bertanya.
“Hmm… benar juga,” Lloyd tampak makin bingung.
“Apakah ada jalan masuk lain? Jendela mungkin?” kata Vorg.
“Aha! Itu dia! Kita harus mencari jendela untuk masuk,” Lloyd mengangguk setuju.
“Lalu, setelah kita berhasil masuk bagaimana?” Freeia kembali bertanya.
“Entahlah, yang penting kita harus asuk dulu,” jawab Lloyd lagi.
Maka mereka pun mengendap-ngendap memutari bangunan batu itu sambil mencari lubang atau jendela yang terbuka. Kini mereka harus lebih berhati-hati karena sudah terdengar suara-suara dari dalam istana itu yang menunjukkan terjadinya aktifitas di dalamnya. Beberapa jendela yang tertutup mereka jumpai dan mereka lewati karena mereka tak akan mungkin sanggup membukanya. Daun-daun jendela itu terbuat dari lempengan-lempengan kayu yang besar dan berat untuk ukuran tubuh mereka.
Akhirnya mereka menemukan sebuah jendela yang terbuka. Mereka menduga itu adalah jendela dapur karena sejalur tipis asap abu-abu tampak keluar dari cerobong batu di atasnya dan aroma berbau busuk menyengat menguar keluar dari jendela yang terbuka itu. Juga terdengar suara-suara Troll yang ditingkahi suara gedombrangan perkakas yang mereka gunakan dari dalam ruangan di balik jendela itu.
“Bagaimana ini?” Lloyd berbisik. Mereke bersisian di bawah jendela itu. Tubuh mereka menempel rapat pada dinding batu untuk meminimalisir kemungkinan ketahuan.
“Sebaiknya aku terbang dan mengintip keadaan di dalam,” Freeia balas berbisik.
“Terlalu berbahaya,” Vorg tidak setuju.
“Tapi tak ada cara lain. Tenanglah, aku akan berhati-hati,” Freeia menenangkan.
Maka Freeia pun melayang tanpa suara. Sayapnya yang berkilauan bergerak cepat sampai hanya tampak seperti kilatan cahaya keemasan yang berkelebat di belakang punggung dan bahunya. Sesampainya di bibir jendela Freeia bergantung ke tepi bawah jendela dengan kedua tangannya. Perlahan diangkatnya tubuhnya sampai matanya tepat berada di ambang jendela. Untunglah para Troll wanita di dalam dapur itu tampak sangat sibuk dan tidak memperhatikan ke arah jendela. Seorang Troll gemuk dengan rambut oranye keriting yang mencuat tak beraturan sedang sibuk membumbui sekerat daging yang sudah tampak berjamur dan dirayapi belatung dengan sejenis tepung berwarna kuning keabu-abuan di meja besar di tengah dapur. Troll wanita lainnya yang berambut biru lurus ke atas dan melingkar di ujungnya sedang memotong-motong semacam rumput rawa yang layu dan berlendir dan memasukkannya ke dalam panci besar berisi air comberan kecoklatan yang mendidih di atas api di dalam perapian besar yang menempel di dinding dapur. Di sudut lainnya seorang Troll wanita kurus dengan rambut pink menyala yang mengarah ke kiri seperti habis ditiup angin besar selama berjam-jam sedang menggosok peralatan makan dari logam yang sudah berkarat dengan secarik kain lap yang juga berjamur dan penuh bercak-bercak kehitaman.
Perlahan Freeia melayang turun dan menceritakan apa yang dilihatnya kepada Vorg dan Lloyd.
“Menurutmu, bisakah kita masuk tanpa ketahuan?” tanya Vorg.
“Kalau kita kurasa bisa. Tapi Lloyd sepertinya pasti akan menarik perhatian mereka,” jawab Freeia sambil mengerutkan kening dan menotol-notol dagunya dengan jari telunjuk (yang menandakan bahwa ia sedang berpikir keras).
“Betul!” tiba-tiba Vorg berseru agak keras sambil menampar pahanya sendiri membuat kedua temannya terlonjak kaget, “ Lloyd harus terbang masuk dengan ribut dan menarik perhatian ketiga wanita Troll itu. Saat mereka sibuk dengannya, kita menyelinap masuk. Saat itu Lloyd harus terbang keluar dan bersembunyi di sekitar sini kalau-kalau kita butuh kabur dengan cepat,”Vorg menjelaskan strateginya.
“Kalau begitu aku tidak akan ikut menyelinap bersama kalian dong?” Lloyd tampak agak kecewa.
“Tidak ada jalan lain Lloyd, kau terlalu besar untuk menyusup tanpa terlihat oleh para Troll,” kata Vorg.
“Lagipula kami mengandalkanmu untuk kabur dari sini Lloyd. Justru peranmulah yang paling penting untuk menjamin keselamatan kita,” Freeia menambahkan dengan nada membujuk sambil mengelus pipi burung tampan itu.
“Baiklah kalau begitu,” akhirnya Lloyd setuju,” Aku akan mengangkat kalian ke jendela. Bersiap-siaplah untuk masuk begitu mereka mengejarku.”
Freeia dan Vorg pun memanjat ke atas punggung Lloyd yang membawa mereka sampai ke ambang jendela. Segera mereka turun dan bersembunyi di balik daun jendela itu. Tiba-tiba Lloyd melesat masuk ke dalam dapur Troll sambil berkaok-kaok ribut. Ketiga wanita Troll menjerit-jerit dan menutupi kepala mereka ketika paruh Lloyd menyambar-nyambar di atas kepala mereka. Si Troll berambut biru melemparkan pisau yang dipegangnya ke arah Lloyd. Untung Lloyd berhasil menghindar dan pisau itu menancap di daun jendela tepat di atas kepala Vorg yang reflek menunduk begitu pisau melayang ke arahnya. Lloyd kembali menyambar dan ketiga wanita Troll itu berebutan bersembunyi di balik meja sambil menjerit-jerit ribut. Melihat peluang itu Vorg segera menarik tangan Freeia melompat ke rak bumbu di samping jendela, melompat ke meja kecil di bawahnya, dan melorot turun melalui kaki meja itu ke lantai. Lloyd melihat Vorg dan Freeia sudah berhasil masuk dengan sudut matanya. Maka sambil menyambar sekali lagi ia pun melesat keluar dari jendela. Ketiga wanita Troll itu bergegas lari ke jendela dan membanting daun jendela itu keras-keras. Ketiganya terengah-engah di depan jendela.
“Aduh hampir copot jantungku,” ujar si Troll gemuk.
“Dasar burung kurang ajar. Mungkin dia lapar dan tertarik mencium harumnya bau masakan kita,” timpal si rambut pink.
“Sayang pisauku tidak mengenainya tadi. Sup burung busuk mungkin cukup enak untuk disajikan pada Raja Gorchuk,” si rambut biru tak mau kalah.
Sementara itu Freeia dan Vorg telah merayap di sepanjang dinding dapur dan keluar dari pintu dapur menuju bagian dalam dari istana Gorchuk.
TO BE CONTINUED….
Berhasilkan mereka menemukan keempat permata musim?
Nantikan lanjutannya di Kisah Freeia dan Vorg part.11
Sementara itu Vorg sebenarnya merasa sangat ngeri. Tubuh burung yang berlapiskan bulu itu terasa licin di pantatnya. Gerakan mengepak dari kedua sayap di kiri kanannya serasa mendorongnya ke berbagai arah dan ia tak menemukan tempat untuk berpegangan selain dari memeluk tubuh gadis yang duduk merapat di depannya. Tapi lama kelamaan Vorg dapat juga menikmati perjalanan udara itu. Tubuhnya mulai menemukan ritme yang seirama dengan kepakan sayap Lloyd. Helai-helai rambut Freeia yang halus dan harum tertiup angin menyapu wajahnya dan bintang-bintang yang mulai bermunculan di langit menjadikan segalanya menjadi begitu indah. Untuk beberapa saat ia melupakan misi yang kini diembannya bersama Freeia dan rasa sakit menusuk yang berdenyut-denyut di siku dan di kepalanya.
Malam semakin larut tetapi Lloyd terus terbang dengan kecepatan tinggi menembus awan-awan. Vorg memaksa dirinya untuk terus terjaga. Pertama karena takut jatuh, kedua karena udara dingin yang tidak memungkinkannya untuk tidur. Bahkan ketebalan mantel bulunya tidak dapat melawan dinginnya angin di ketinggian seperti itu. Freeia tampaknya cukup nyaman dengan lilitan sayap di sekitar tubuhnya dan lengan Vorg di sekeliling pinggangnya. Beberapa kali gadis itu terangguk-angguk dalam tidurnya, tetapi Vorg memastikan gadis itu aman di atas punggung Lloyd.
Akhirnya Vorg merasa laju terbang mereka mulai melambat dan Lloyd mulai menurunkan ketinggian terbangnya. Saat itu sudah menjelang fajar. Hitamnya langit sudah mulai kehilangan kepekatannya dan bintang-bintang mulai kembali ke peraduannya. Ia memandang ke bawah. Tampaknya kini mereka berada di atas daerah rawa-rawa. Tanaman ilalang yang lebat tampak berkelompok di mana-mana mencuat dari permukaan tanah yang becek dan berlumpur. Beberapa pohon yang rendah tapi rimbun tumbuh di tepian genangan-genangan air yang besar, beberapa di antaranya bahkan hampir menyerupai danau-danau kecil.
Mereka melayang makin rendah hingga akhirnya dengan mulus mendarat di samping sebuah rumpun ilalang yang cukup lebat. Begitu kaki-kaki Lloyd menjejak tanah Freeia terbangun dari tidurnya.
“Hoahhemm… Di mana kita sekarang?” ujarnya sambil menguap dan menggeliat.
“Ssh… Kita sudah berada di wilayah kekuasaan Gorchuk. Sebaiknya kita berhati-hati karena dia menempatkan penjaga di setiap pelosok rawa ini.” Kata Lloyd setengah berbisik.
“Di sini baunya tidak enak,” kata Freeia lagi sambil mengernyitkan hidung, tetapi kali ini dengan suara yang dipelankan.
“Justru karena itulah para Troll memilih tinggal di daerah berawa seperti ini. Mereka menyukai kelembaban dan bau-bauan yang menyengat. Makanan mereka pun biasanya berupa daging yang sudah membusuk dan berbagai jenis ulat dan serangga yang hidup di sekitar sini,” Lloyd menjelaskan dengan suara rendah.
“Hoekkh!” Freeia menjulurkan lidah sambil memegang perutnya yang tiba-tiba terasa mual.
“Apa yang harus kita lakukan sekarang?” Vorg akhirnya buka suara.
“Kurasa sebaiknya kita berusaha mendekati tempat kediaman Gorchuk mumpung hari masih gelap. Akan lebih sulit untuk kita mendekati istananya di siang hari,” kata Lloyd.
“Baiklah, ke arah mana?” tanya Vorg.
Lloyd memberi tanda dengan sayapnya untuk mengikutinya. Maka mereka pun berjalan mengendap-ngendap sambil merunduk dari satu rumpun ilalang ke rumpun ilalang berikutnya mendekati istana Gorchuk. Semakin mendekati istana Gorchuk tanah di bawah kaki mereka semakin becek dan berlumpur. Belum lagi dengingan nyamuk-nyamuk besar yang sesekali berseliweran di sekitar kepala mereka. Sepatu Freeia dan Vorg kini terbungkus lapisan tebal lumpur yang lengket dan bau. Demikian pula dengan kaki Lloyd. Berulang kali ia mengangkat kakinya dan berusaha mengguncangkan lumpur yang memenuhi sela-sela jari kakinya sebelum bisa melangkah lagi. Beberapa kali mereka harus berjalan memutar karena terdengar dengkur keras dari balik rumpun ilalang di hadapan mereka.
“Untung para penjaga Troll malas-malas dan tertidur selagi berjaga,” kata Freeia dengan berbisik.
“Untungnya lagi mereka semuanya mendengkur begitu kerasnya sehingga kita tidak menabrak salah satu dari mereka,” Vorg menimpali dengan berbisik juga.
Langit mulai menampakkan semburat jingga di sebelah timur. Rupanya sebentar lagi Sang Surya akan menampakkan wajahnya.
“Sekarang sudah dekat,” bisik Lloyd,”Istana Gorchuk terletak di balik rumpun ini. Mulai sekarang jangan bersuara sedikitpun.”
Perlahan mereka menyibakkan rumpun ilalang di hadapan mereka. Beberapa meter dari tempat mereka bersembunyi tampaklah istana Gorchuk yang tak tampak seperti istana di mata Freeia dan Vorg. Istana itu berupa bangunan batu besar tak berbentuk yang diselimuti lumut di seluruh permukaannya.Pintu masuknya terbuat dari potongan-potongan batang pohon yang berat yang dijalin dengan sulur-sulur tanaman yang kuat. Dua orang penjaga baru saja terjaga dari tidur mereka. Mereka bangkit dari duduknya di bongkahan batu berlumut di sebelah kiri dan kanan pintu gerbang besar itu.
“Huaahhhhmmm!!!” penjaga sebelah kiri menguap lebar sambil merentangkan tangannya. Suaranya sangat keras karena ternyata Troll itu cukup besar. Tingginya lebih dari tiga kali tinggi Vorg dan lebarnya lebih dari empat kali lebar tubuh Vorg. Badan mereka gempal dan padat, dengan kaki-kaki dan tangan-tangan yang pendek dan lebar. Wajah mereka penuh keriput seperti layaknya kakek-kakek. Hidung mereka bulat dan besar berwarna kemerahan dengan beberapa kutil di seluruh permukaannya dan bulu-bulu hidung mereka mencuat keluar dari kedua lubangnya. Alis mereka pun tebal hingga menjuntai di kedua sisi wajah mereka, tetapi mata mereka yang hitam bulat dan besar tampak kekanak-kananakan dan tidak cocok dengan wajah mereka yang keriput. Kedua mata itu bagaikan bola kaca hitam dan tidak memiliki bagian berwarna putih di sisinya, menonjol keluar dan begitu besarnya hingga memenuhi hampir separuh dari wajah mereka. Sedangkan mulut mereka sangat mungil dan hampir tersembunyi di bawah hidung besar yang memenuhi separuh sisa wajah mereka. Dan yang paling menakjubkan mungkin adalah rambut mereka. Rambut itu tumbuh panjang ke arah atas seolah-olah melawan gravitasi bumi. Penjaga sebelah kiri memiliki rambut berwarna ungu terang yang mencuat lurus dan bersatu di ujungnya sehingga membentuk kerucut yang melengkung membentuk spiral. Sementara penjaga sebelah kanan memiliki rambut berwarna hijau lumut yang mencuat ke segala arah seperti kipas. Dua gumpal kumis lebat berwarna sama menggantung di bawah setiap lubang hidungnya sehingga saat ia berbicara hanya tampak kedua kumis itu bergoyang-goyang tanpa terlihat lubang mulutnya.
“Bagaimana caranya dia makan ya?” mau tak mau pikiran itu terlintas di benak Freeia,”Pasti bubur biji bunga matahari akan tersangkut di kumis itu saat ia makan. Hiyyy!!”
“Kita harus bersiap-siap. Apakah hari ini Raja Gorchuk jadi mengirimkan permata biru untuk Putri Gwendoline?” kumis hijau itu bergerak-gerak cepat saat ia berbicara.
“Sepertinya belum. Kabar terakhir yang kudengar Putri Gwendoline mengajukan syarat tambahan untuk menerima pinangan Raja Gorchuk.” Timpal si rambut ungu.
“Ck ck ck. Memang makin cantik seorang wanita pasti semakin macam-macam saja maunya,” si kumis hijau berdecak sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, rambut kipasnya melambai-lambai seperti ekor merak.
“Hush! Jangan sampai Raja Gorchuk mendengar perkataanmu. Bisa-bisa dipenggalnya kepalamu nanti,” si rambut ungu mengingatkan. Si kumis langsung menutup mulutnya sambil celingukan ke segala arah.
Lloyd memberi tanda untuk mundur. Mereka pun mundur beberapa langkah dan mulai mengatur strategi.
“Tampaknya permata-permata itu ada di dalam,” ujar Lloyd senang.
“Bagaimana caranya kita masuk?” tanya Vorg.
“Itulah masalahnya. Kurasa kita harus mengalihkan perhatian kedua penjaga itu,” kata Lloyd.
“Kalaupun kita berhasil mengalihkan perhatian mereka, bagaimana cara kita membuka pintu yang besar dan berat itu?” Freeia ikut bertanya.
“Hmm… benar juga,” Lloyd tampak makin bingung.
“Apakah ada jalan masuk lain? Jendela mungkin?” kata Vorg.
“Aha! Itu dia! Kita harus mencari jendela untuk masuk,” Lloyd mengangguk setuju.
“Lalu, setelah kita berhasil masuk bagaimana?” Freeia kembali bertanya.
“Entahlah, yang penting kita harus asuk dulu,” jawab Lloyd lagi.
Maka mereka pun mengendap-ngendap memutari bangunan batu itu sambil mencari lubang atau jendela yang terbuka. Kini mereka harus lebih berhati-hati karena sudah terdengar suara-suara dari dalam istana itu yang menunjukkan terjadinya aktifitas di dalamnya. Beberapa jendela yang tertutup mereka jumpai dan mereka lewati karena mereka tak akan mungkin sanggup membukanya. Daun-daun jendela itu terbuat dari lempengan-lempengan kayu yang besar dan berat untuk ukuran tubuh mereka.
Akhirnya mereka menemukan sebuah jendela yang terbuka. Mereka menduga itu adalah jendela dapur karena sejalur tipis asap abu-abu tampak keluar dari cerobong batu di atasnya dan aroma berbau busuk menyengat menguar keluar dari jendela yang terbuka itu. Juga terdengar suara-suara Troll yang ditingkahi suara gedombrangan perkakas yang mereka gunakan dari dalam ruangan di balik jendela itu.
“Bagaimana ini?” Lloyd berbisik. Mereke bersisian di bawah jendela itu. Tubuh mereka menempel rapat pada dinding batu untuk meminimalisir kemungkinan ketahuan.
“Sebaiknya aku terbang dan mengintip keadaan di dalam,” Freeia balas berbisik.
“Terlalu berbahaya,” Vorg tidak setuju.
“Tapi tak ada cara lain. Tenanglah, aku akan berhati-hati,” Freeia menenangkan.
Maka Freeia pun melayang tanpa suara. Sayapnya yang berkilauan bergerak cepat sampai hanya tampak seperti kilatan cahaya keemasan yang berkelebat di belakang punggung dan bahunya. Sesampainya di bibir jendela Freeia bergantung ke tepi bawah jendela dengan kedua tangannya. Perlahan diangkatnya tubuhnya sampai matanya tepat berada di ambang jendela. Untunglah para Troll wanita di dalam dapur itu tampak sangat sibuk dan tidak memperhatikan ke arah jendela. Seorang Troll gemuk dengan rambut oranye keriting yang mencuat tak beraturan sedang sibuk membumbui sekerat daging yang sudah tampak berjamur dan dirayapi belatung dengan sejenis tepung berwarna kuning keabu-abuan di meja besar di tengah dapur. Troll wanita lainnya yang berambut biru lurus ke atas dan melingkar di ujungnya sedang memotong-motong semacam rumput rawa yang layu dan berlendir dan memasukkannya ke dalam panci besar berisi air comberan kecoklatan yang mendidih di atas api di dalam perapian besar yang menempel di dinding dapur. Di sudut lainnya seorang Troll wanita kurus dengan rambut pink menyala yang mengarah ke kiri seperti habis ditiup angin besar selama berjam-jam sedang menggosok peralatan makan dari logam yang sudah berkarat dengan secarik kain lap yang juga berjamur dan penuh bercak-bercak kehitaman.
Perlahan Freeia melayang turun dan menceritakan apa yang dilihatnya kepada Vorg dan Lloyd.
“Menurutmu, bisakah kita masuk tanpa ketahuan?” tanya Vorg.
“Kalau kita kurasa bisa. Tapi Lloyd sepertinya pasti akan menarik perhatian mereka,” jawab Freeia sambil mengerutkan kening dan menotol-notol dagunya dengan jari telunjuk (yang menandakan bahwa ia sedang berpikir keras).
“Betul!” tiba-tiba Vorg berseru agak keras sambil menampar pahanya sendiri membuat kedua temannya terlonjak kaget, “ Lloyd harus terbang masuk dengan ribut dan menarik perhatian ketiga wanita Troll itu. Saat mereka sibuk dengannya, kita menyelinap masuk. Saat itu Lloyd harus terbang keluar dan bersembunyi di sekitar sini kalau-kalau kita butuh kabur dengan cepat,”Vorg menjelaskan strateginya.
“Kalau begitu aku tidak akan ikut menyelinap bersama kalian dong?” Lloyd tampak agak kecewa.
“Tidak ada jalan lain Lloyd, kau terlalu besar untuk menyusup tanpa terlihat oleh para Troll,” kata Vorg.
“Lagipula kami mengandalkanmu untuk kabur dari sini Lloyd. Justru peranmulah yang paling penting untuk menjamin keselamatan kita,” Freeia menambahkan dengan nada membujuk sambil mengelus pipi burung tampan itu.
“Baiklah kalau begitu,” akhirnya Lloyd setuju,” Aku akan mengangkat kalian ke jendela. Bersiap-siaplah untuk masuk begitu mereka mengejarku.”
Freeia dan Vorg pun memanjat ke atas punggung Lloyd yang membawa mereka sampai ke ambang jendela. Segera mereka turun dan bersembunyi di balik daun jendela itu. Tiba-tiba Lloyd melesat masuk ke dalam dapur Troll sambil berkaok-kaok ribut. Ketiga wanita Troll menjerit-jerit dan menutupi kepala mereka ketika paruh Lloyd menyambar-nyambar di atas kepala mereka. Si Troll berambut biru melemparkan pisau yang dipegangnya ke arah Lloyd. Untung Lloyd berhasil menghindar dan pisau itu menancap di daun jendela tepat di atas kepala Vorg yang reflek menunduk begitu pisau melayang ke arahnya. Lloyd kembali menyambar dan ketiga wanita Troll itu berebutan bersembunyi di balik meja sambil menjerit-jerit ribut. Melihat peluang itu Vorg segera menarik tangan Freeia melompat ke rak bumbu di samping jendela, melompat ke meja kecil di bawahnya, dan melorot turun melalui kaki meja itu ke lantai. Lloyd melihat Vorg dan Freeia sudah berhasil masuk dengan sudut matanya. Maka sambil menyambar sekali lagi ia pun melesat keluar dari jendela. Ketiga wanita Troll itu bergegas lari ke jendela dan membanting daun jendela itu keras-keras. Ketiganya terengah-engah di depan jendela.
“Aduh hampir copot jantungku,” ujar si Troll gemuk.
“Dasar burung kurang ajar. Mungkin dia lapar dan tertarik mencium harumnya bau masakan kita,” timpal si rambut pink.
“Sayang pisauku tidak mengenainya tadi. Sup burung busuk mungkin cukup enak untuk disajikan pada Raja Gorchuk,” si rambut biru tak mau kalah.
Sementara itu Freeia dan Vorg telah merayap di sepanjang dinding dapur dan keluar dari pintu dapur menuju bagian dalam dari istana Gorchuk.
TO BE CONTINUED….
Berhasilkan mereka menemukan keempat permata musim?
Nantikan lanjutannya di Kisah Freeia dan Vorg part.11
Kisah Freeia dan Vorg part.9
Keesokan harinya badai telah berhenti. Freeia telonjak bangun dan segera memeriksa keadaan Vorg. Syukurlah suhu tubuhnya terasa normal walaupun wajahnya masih tampak pucat. Freeia pun bangkit untuk menjerang air dan membakar beberapa biji-bijian kalau-kalau Vorg bangun dan merasa lapar.
Vorg bermimpi buruk. Kumbang raksasa mengejar-ngejar dan menangkap adiknya. Saat Vorg mengejarnya wajah dan suara teriakan Trod berubah menjadi sosok dan teriakan Freeia yang dicengkram capit beracun kumbang ganas itu. Vorg berusaha berlari mengejar dan berteriak tetapi suaranya tidak keluar dan langkahnya terasa begitu berat. Tangannya menggapai tanpa daya ketika kumbang itu menyeret tubuh lemas Freeia menuju kegelapan yang begitu pekat…
Vorg bermimpi indah. Tubuhnya serasa melayang di udara. Aneka warna menghiasi latar belakang mimpinya. Rongga hidungnya dipenuhi aroma segar yang sangat familiar di hidungnya, seperti harum bunga-bunga di musim semi. Vorg memejamkan mata dan sepasang tangan yang lembut membelai rambut dan keningnya. Apakah ia sudah mati dan berada di Surga?
Tiba-tiba aroma lain merasuki rongga hidungnya. Harum biji-bijian hangat dan pekatnya aroma dedaunan kering membuatnya terbangun. Dibukanya matanya yang terasa berat. Vorg melihat Freeia sedang bersimpuh di sisi api, mengaduk the rumput dalam cangkang kumbang mantan pelindung sikunya. Biji-bijian yang sudah dipanggang sampai merekah beralaskan daun kering di sisi kakinya. Vorg tersenyum senang. Seandainya saja setiap pagi pemandangan indah seperti ini menyambutnya saat bangun tidur.
Vorg mencoba untuk bangun, tetapi rasa nyeri yang menusuk di lengan dan kepalanya membuatnya terpaksa berbaring kembali sambil mengaduh tertahan. Freeia menoleh mendengar suara Vorg. Dijatuhkannya ranting yang sedang dipakainya mengaduk the dan buru-buru dihampirinya pemuda itu.
“E..eh! Kau jangan bangun dulu,”
“Aku tidak apa-apa kok. Cuma luka kecil, tak seberapa,” kata Vorg.
“Luka kecil apanya? Seluruh tubuhmu luka-luka dan memar-memar. Dan sikumu hampir hilang setengahnya tahu?” Freeia memarahi Vorg.
“Hahaha… Jangan sewot dong. Aku sudah biasa kok,” jawab Vorg ringan. Tetapi tak urung ia mengernyit kesakitan ketika menggerakkan lengannya. Freeia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya, setengah kagum, setengah bingung menghadapi pemuda jabrik itu.
“Ayo kita makan. Setelah itu kita melanjutkan perjalanan. Kau mau pulang kan?” Vorg berkata ceria sambil kembali berusaha bangkit dari tidurnya.
Freeia membantu Vorg duduk. Saat itulah Vorg menyadari bahwa ia tidak berpakaian. Wajahnya yang pucat tiba-tiba saja tampak tidak begitu pucat karena semburat kemerahan di pipinya, hanya bibirnya yang masih tampak kebiruan.
“Kemarin pakaianmu berlumuran lendir dan darah, juga sobek di beberapa tempat. Aku sudah membersihkan dan memperbaikinya. Tuh di sana,” Freeia menjelaskan dengan canggung sambil bergegas mengambilkan pakaian Vorg. Wajahnya merah padam dan ia berjongkok membelakangi Vorg sambil pura-pura mengaduk the rumput yang sebenarnya sudah siap dari tadi. Setelah yakin Vorg selesai berpakaian barulah Freeia berbalik dan membawakan sarapan mereka ke tempat Vorg duduk.
Selama sarapan mereka berdebat tentang ide melanjutkan perjalanan versus ide beristirahat beberapa waktu sampai lengan Vorg sembuh.
Freeia berpikir sebaiknya mereka menunggu tangan Vorg sembuh.
Vorg berpendapat bahwa tangannya tidak apa-apa.
Freeia berkeras bahwa wajah Vorg sangat pucat.
Vorg berkata bahwa wajahnya memang pucat dari dulu.
Freeia merasa menunda perjalanan beberapa hari tidak akan banyak pengaruhnya.
Vorg berdalih bahwa ada kemungkinan masih ada kumbang raksasa lain di sekitar situ.
Akhirnya Freeia terpaksa menyerah karena tidak tahu mau bilang apa lagi.
Setelah selesai sarapan mereka pun melanjutkan perjalananan mereka. Langkah mereka agak lambat karena kondisi Vorg belum pulih benar. Berulang kali Freeia berpura-pura lelah dan meminta Vorg untuk berhenti dan beristirahat karena dilihatnya bibir Vorg begitu putih dan keringat dingin bermunculan di dahinya walaupun Vorg tidak mengatakan apapun.
Menjelang sore mereka baru mencapai tepian dataran luas berumput ketika mereka mendengar suara berkerosak keras di rumpun rumput si sebelah kanan mereka. Keduanya saling memandang. Perlahan Vorg mengeluarkan senjata tanduknya dan berjalan sambil merunduk mendahului Freeia menghampiri arah datangnya suara tadi.
“Vorg, jangan! Mari kita memutar saja,” Freeia merintih setengah memohon. Ingatannya melayang pada kumbang raksasa yang menyerang mereka semalam.
“Tenanglah. Lebih baik kita tahu apa yang kita hadapi dari depan daripada tiba-tiba mendapat serangan dari belakang,” jawab Vorg tenang meskipun rahangnya mengeras dan garis-garis wajahnya tampak tegang.
Dengan hati-hati disibakkannya lembar rumput terakhir yang menghalangi mereka dari sumber suara itu. Hatinya mencelos lega sementara di belakangnya Freeia menghembuskan nafas yang sedari tadi ditahannya. Ternyata seekor burung besar yang sangat tampan terperangkap di sana, tubuhnya terbelit sulur-sulur dan rerumputan yang kusut di sekelilingnya. Wajahnya yang berwarna coklat tanah bermahkotakan jambul besar berwarna hitam mengkilat, sewarna dengan paruhnya yang ramping dan melengkung cantik. Punggung dan sayapnya yang kokoh juga berwarna hitam mengkilat, hanya saja makin mendekati ujungnya warna sayap-sayap itu bergradasi menjadi warna kelabu dengan pendar-pendar kebiruan di seluruh permukaannya. Sedangkan bulu-bulu yang menutupi dada dan perutnya berwarna putih bersih dengan secercah pulasan warna kuning di ujung-ujungnya. Dengan sisa-sisa tenaganya ia berusaha melepaskan diri, tetapi usahanya sia-sia. Tampaknya ia sudah berjuang cukup lama, kepakan sayapnya sudah melemah dan kepalanya terkulai lesu.
“Kasihan,” kata Freeia,” Mari kita tolong dia.”
Freeia dan Vorg dengan senjata tanduknya membantu burung itu melepaskan diri dari jeratan rumput dan sulur-sulur tanaman yang membelit tubuhnya.
“Terima kasih peri-peri yang baik hati. Tanpa kalian aku pasti mati sendirian di sini. Aku, Lloyd tidak akan pernah melupakan budi kalian.” Kata burung itu setelah tubuhnya terbebas sepenuhnya.
“Mengapa kau bisa terjebak di sini?” tanya Freeia
Untuk sesaat burung itu terdiam. Wajahnya tampak sedih sebelum akhirnya ia menjawab.
“Penunggangku adalah ksatria peri Vlardon. Kami sedang dalam perjalanan mengemban sebuah misi penting dari Yang Mulia Ratu-Ratu Musim ketika badai besar kemarin menjebak kami. Aku terlempar ke rerumputan dan terbelit di sini hingga aku bisa selamat, tetapi penunggangku terhempas ke tebing batu sebelah sana, tak mungkin ia berhasil selamat dari badai seganas itu,” sebutir ait mata berkilau menetes dari mata Lloyd.
“Kasihan sekali,” Freeia mengelus-ngelus sayap burung itu untuk menghiburnya.
“Kalau kami boleh tahu, sebenarnya misi apa yang begitu penting sehingga tidak bisa ditunda sampai musim semi?” Vorg akhirnya ikut bersuara.
“Kekacauan musim ini sebenarnya disebabkan karena Gorchuk si Troll mencuri keempat permata musim yang menjaga keseimbangan musim di negeri ini. Permata biru milik Ratu Musim Panas, permata Coklat milik Ratu Musim Gugur, permata ungu milik Ratu Musim Dingin dan permata Hijau milik Ratu Musim Semi. Keempat Ratu Musim menugaskan kami untuk merebut keempat permata itu dari tangan Gorchuk dan mengembalikannya ke tempatnya masing-masing sehingga cuaca ini bisa kembali dikendalikan. Sampai saat ini cuaca masih bertahan karena keempat Ratu Musim mengerahkan energi mereka untuk mengisi tempat permata yang kosong setiap hari. Apabila salah seorang dari mereka melemah terjadilah badai besar seperti kemarin. Badai pertama terjadi karena Ratu Musim Panas jatuh sakit akibat hawa dingin yang berkepanjangan ini. Entah berapa lama keempat Ratu Musim dapat bertahan. Apabila keempat permata itu tak ditemukan , aku tak tahu apa jadinya dunia ini nantinya,” Lloyd menjelaskan panjang lebar dengan wajah muram.
“Kini entah bagaimana nasib Ksatria Vlardon. Bagaimana kau bisa menjalankan misimu?” tanya Freeia.
“Justru itulah yang membuat aku bingung dan sedih,” jawab Lloyd.
“Kami bersedia membantumu,” celetuk Freeia spontan, “Eh, kalau kau mau maksudku…” Freeia melirik Vorg sambil menggigit bibir.
“Tentu saja kami bersedia membantu. Tapi apakah kau tidak ingin pulang? Perjalanan ini mungkin berbahaya,” kata Vorg.
Untuk beberapa saat Freeia sibuk mempertimbangkan perkataan Vorg sambil mengerutkan kening dan menotol-notol dagunya seperti biasa.
“Tidak!” kata Freeia akhirnya, “Aku ikut dengan kalian. Toh di rumah aku tidak akan tenang karena mengkhawatirkan kalian dan nasib dunia ini,” katanya mantap.
“Baiklah kalau begitu!” Lloyd dengan bersemangat merentangkan sayapnya dan merundukkan tubuhnya, “Naiklah ke punggunggku ksatria-ksatria peri. Kita akan memulai misi kita, semoga kita berhasil menyelamatkan dunia ini.”
Kedua peri kecil pemberani itu pun memanjat naik ke punggung Lloyd. Sang burung mengepakkan sayapnya dan mereka pun lepas landas menyongsong suatu petualangan yang tak terbayangkan oleh mereka berdua. Kebaikan dan kepedulian mereka mengalahkan setiap kegentaran dan keragu-raguan akan apa yang harus mereka hadapi nantinya.
TO BE CONTINUED….
Ke mana mereka menuju?
Apa yang akan mereka temui di sana?
Nantikan kelanjutannya di Kisah Freeia dan Vorg part.10
Vorg bermimpi buruk. Kumbang raksasa mengejar-ngejar dan menangkap adiknya. Saat Vorg mengejarnya wajah dan suara teriakan Trod berubah menjadi sosok dan teriakan Freeia yang dicengkram capit beracun kumbang ganas itu. Vorg berusaha berlari mengejar dan berteriak tetapi suaranya tidak keluar dan langkahnya terasa begitu berat. Tangannya menggapai tanpa daya ketika kumbang itu menyeret tubuh lemas Freeia menuju kegelapan yang begitu pekat…
Vorg bermimpi indah. Tubuhnya serasa melayang di udara. Aneka warna menghiasi latar belakang mimpinya. Rongga hidungnya dipenuhi aroma segar yang sangat familiar di hidungnya, seperti harum bunga-bunga di musim semi. Vorg memejamkan mata dan sepasang tangan yang lembut membelai rambut dan keningnya. Apakah ia sudah mati dan berada di Surga?
Tiba-tiba aroma lain merasuki rongga hidungnya. Harum biji-bijian hangat dan pekatnya aroma dedaunan kering membuatnya terbangun. Dibukanya matanya yang terasa berat. Vorg melihat Freeia sedang bersimpuh di sisi api, mengaduk the rumput dalam cangkang kumbang mantan pelindung sikunya. Biji-bijian yang sudah dipanggang sampai merekah beralaskan daun kering di sisi kakinya. Vorg tersenyum senang. Seandainya saja setiap pagi pemandangan indah seperti ini menyambutnya saat bangun tidur.
Vorg mencoba untuk bangun, tetapi rasa nyeri yang menusuk di lengan dan kepalanya membuatnya terpaksa berbaring kembali sambil mengaduh tertahan. Freeia menoleh mendengar suara Vorg. Dijatuhkannya ranting yang sedang dipakainya mengaduk the dan buru-buru dihampirinya pemuda itu.
“E..eh! Kau jangan bangun dulu,”
“Aku tidak apa-apa kok. Cuma luka kecil, tak seberapa,” kata Vorg.
“Luka kecil apanya? Seluruh tubuhmu luka-luka dan memar-memar. Dan sikumu hampir hilang setengahnya tahu?” Freeia memarahi Vorg.
“Hahaha… Jangan sewot dong. Aku sudah biasa kok,” jawab Vorg ringan. Tetapi tak urung ia mengernyit kesakitan ketika menggerakkan lengannya. Freeia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya, setengah kagum, setengah bingung menghadapi pemuda jabrik itu.
“Ayo kita makan. Setelah itu kita melanjutkan perjalanan. Kau mau pulang kan?” Vorg berkata ceria sambil kembali berusaha bangkit dari tidurnya.
Freeia membantu Vorg duduk. Saat itulah Vorg menyadari bahwa ia tidak berpakaian. Wajahnya yang pucat tiba-tiba saja tampak tidak begitu pucat karena semburat kemerahan di pipinya, hanya bibirnya yang masih tampak kebiruan.
“Kemarin pakaianmu berlumuran lendir dan darah, juga sobek di beberapa tempat. Aku sudah membersihkan dan memperbaikinya. Tuh di sana,” Freeia menjelaskan dengan canggung sambil bergegas mengambilkan pakaian Vorg. Wajahnya merah padam dan ia berjongkok membelakangi Vorg sambil pura-pura mengaduk the rumput yang sebenarnya sudah siap dari tadi. Setelah yakin Vorg selesai berpakaian barulah Freeia berbalik dan membawakan sarapan mereka ke tempat Vorg duduk.
Selama sarapan mereka berdebat tentang ide melanjutkan perjalanan versus ide beristirahat beberapa waktu sampai lengan Vorg sembuh.
Freeia berpikir sebaiknya mereka menunggu tangan Vorg sembuh.
Vorg berpendapat bahwa tangannya tidak apa-apa.
Freeia berkeras bahwa wajah Vorg sangat pucat.
Vorg berkata bahwa wajahnya memang pucat dari dulu.
Freeia merasa menunda perjalanan beberapa hari tidak akan banyak pengaruhnya.
Vorg berdalih bahwa ada kemungkinan masih ada kumbang raksasa lain di sekitar situ.
Akhirnya Freeia terpaksa menyerah karena tidak tahu mau bilang apa lagi.
Setelah selesai sarapan mereka pun melanjutkan perjalananan mereka. Langkah mereka agak lambat karena kondisi Vorg belum pulih benar. Berulang kali Freeia berpura-pura lelah dan meminta Vorg untuk berhenti dan beristirahat karena dilihatnya bibir Vorg begitu putih dan keringat dingin bermunculan di dahinya walaupun Vorg tidak mengatakan apapun.
Menjelang sore mereka baru mencapai tepian dataran luas berumput ketika mereka mendengar suara berkerosak keras di rumpun rumput si sebelah kanan mereka. Keduanya saling memandang. Perlahan Vorg mengeluarkan senjata tanduknya dan berjalan sambil merunduk mendahului Freeia menghampiri arah datangnya suara tadi.
“Vorg, jangan! Mari kita memutar saja,” Freeia merintih setengah memohon. Ingatannya melayang pada kumbang raksasa yang menyerang mereka semalam.
“Tenanglah. Lebih baik kita tahu apa yang kita hadapi dari depan daripada tiba-tiba mendapat serangan dari belakang,” jawab Vorg tenang meskipun rahangnya mengeras dan garis-garis wajahnya tampak tegang.
Dengan hati-hati disibakkannya lembar rumput terakhir yang menghalangi mereka dari sumber suara itu. Hatinya mencelos lega sementara di belakangnya Freeia menghembuskan nafas yang sedari tadi ditahannya. Ternyata seekor burung besar yang sangat tampan terperangkap di sana, tubuhnya terbelit sulur-sulur dan rerumputan yang kusut di sekelilingnya. Wajahnya yang berwarna coklat tanah bermahkotakan jambul besar berwarna hitam mengkilat, sewarna dengan paruhnya yang ramping dan melengkung cantik. Punggung dan sayapnya yang kokoh juga berwarna hitam mengkilat, hanya saja makin mendekati ujungnya warna sayap-sayap itu bergradasi menjadi warna kelabu dengan pendar-pendar kebiruan di seluruh permukaannya. Sedangkan bulu-bulu yang menutupi dada dan perutnya berwarna putih bersih dengan secercah pulasan warna kuning di ujung-ujungnya. Dengan sisa-sisa tenaganya ia berusaha melepaskan diri, tetapi usahanya sia-sia. Tampaknya ia sudah berjuang cukup lama, kepakan sayapnya sudah melemah dan kepalanya terkulai lesu.
“Kasihan,” kata Freeia,” Mari kita tolong dia.”
Freeia dan Vorg dengan senjata tanduknya membantu burung itu melepaskan diri dari jeratan rumput dan sulur-sulur tanaman yang membelit tubuhnya.
“Terima kasih peri-peri yang baik hati. Tanpa kalian aku pasti mati sendirian di sini. Aku, Lloyd tidak akan pernah melupakan budi kalian.” Kata burung itu setelah tubuhnya terbebas sepenuhnya.
“Mengapa kau bisa terjebak di sini?” tanya Freeia
Untuk sesaat burung itu terdiam. Wajahnya tampak sedih sebelum akhirnya ia menjawab.
“Penunggangku adalah ksatria peri Vlardon. Kami sedang dalam perjalanan mengemban sebuah misi penting dari Yang Mulia Ratu-Ratu Musim ketika badai besar kemarin menjebak kami. Aku terlempar ke rerumputan dan terbelit di sini hingga aku bisa selamat, tetapi penunggangku terhempas ke tebing batu sebelah sana, tak mungkin ia berhasil selamat dari badai seganas itu,” sebutir ait mata berkilau menetes dari mata Lloyd.
“Kasihan sekali,” Freeia mengelus-ngelus sayap burung itu untuk menghiburnya.
“Kalau kami boleh tahu, sebenarnya misi apa yang begitu penting sehingga tidak bisa ditunda sampai musim semi?” Vorg akhirnya ikut bersuara.
“Kekacauan musim ini sebenarnya disebabkan karena Gorchuk si Troll mencuri keempat permata musim yang menjaga keseimbangan musim di negeri ini. Permata biru milik Ratu Musim Panas, permata Coklat milik Ratu Musim Gugur, permata ungu milik Ratu Musim Dingin dan permata Hijau milik Ratu Musim Semi. Keempat Ratu Musim menugaskan kami untuk merebut keempat permata itu dari tangan Gorchuk dan mengembalikannya ke tempatnya masing-masing sehingga cuaca ini bisa kembali dikendalikan. Sampai saat ini cuaca masih bertahan karena keempat Ratu Musim mengerahkan energi mereka untuk mengisi tempat permata yang kosong setiap hari. Apabila salah seorang dari mereka melemah terjadilah badai besar seperti kemarin. Badai pertama terjadi karena Ratu Musim Panas jatuh sakit akibat hawa dingin yang berkepanjangan ini. Entah berapa lama keempat Ratu Musim dapat bertahan. Apabila keempat permata itu tak ditemukan , aku tak tahu apa jadinya dunia ini nantinya,” Lloyd menjelaskan panjang lebar dengan wajah muram.
“Kini entah bagaimana nasib Ksatria Vlardon. Bagaimana kau bisa menjalankan misimu?” tanya Freeia.
“Justru itulah yang membuat aku bingung dan sedih,” jawab Lloyd.
“Kami bersedia membantumu,” celetuk Freeia spontan, “Eh, kalau kau mau maksudku…” Freeia melirik Vorg sambil menggigit bibir.
“Tentu saja kami bersedia membantu. Tapi apakah kau tidak ingin pulang? Perjalanan ini mungkin berbahaya,” kata Vorg.
Untuk beberapa saat Freeia sibuk mempertimbangkan perkataan Vorg sambil mengerutkan kening dan menotol-notol dagunya seperti biasa.
“Tidak!” kata Freeia akhirnya, “Aku ikut dengan kalian. Toh di rumah aku tidak akan tenang karena mengkhawatirkan kalian dan nasib dunia ini,” katanya mantap.
“Baiklah kalau begitu!” Lloyd dengan bersemangat merentangkan sayapnya dan merundukkan tubuhnya, “Naiklah ke punggunggku ksatria-ksatria peri. Kita akan memulai misi kita, semoga kita berhasil menyelamatkan dunia ini.”
Kedua peri kecil pemberani itu pun memanjat naik ke punggung Lloyd. Sang burung mengepakkan sayapnya dan mereka pun lepas landas menyongsong suatu petualangan yang tak terbayangkan oleh mereka berdua. Kebaikan dan kepedulian mereka mengalahkan setiap kegentaran dan keragu-raguan akan apa yang harus mereka hadapi nantinya.
TO BE CONTINUED….
Ke mana mereka menuju?
Apa yang akan mereka temui di sana?
Nantikan kelanjutannya di Kisah Freeia dan Vorg part.10
Kisah Freeia dan Vorg part.8
Keesokan harinya, setelah sarapan sekedarnya dan mencuci muka dengan salju yang dicairkan, mereka kembali melanjutkan perjalanan. Kali ini lebih mudah karena jalan yang mereka tempuh kini menurun. Dan kini mereka tahu arah mana yang harus ditempuh. Hal ini menambah semangat dan tenaga mereka untuk menempuh perjalanan.
Hari itu mereka lalui dengan gembira. Berjalan sambil bercengkrama dengan gembira membuat waktu dan jarak semakin tak terasa. Mereka pun semakin mengenal satu sama lain. Kini tahu bahwa warna kesukaan Freeia adalah warna kuning yang ceria, makanan kesukaannya adalah bili bunga matahari yang terpanggang sinar matahari dan bahwa peri padang lainnya tidak mempunyai warna kulit dan rambut yang saa dengan Freeia. Freeia pun kini tahu tentang serangan kelabang yang menewaskan kedua orang tua Vorg, tentang besarnya tanggung jawab dan sayang Vorg pada adik semata wayangnya, dan tentang kerasnya kehidupan di hutan belantara. Tapi soal warna favorit, Vorg menjawab seperti ini :
“Aku belum bisa memutuskan warna mana yang paling kusukai. Begitu banyak warna di luar sini sampai-sampai pusing aku melihatnya,” dan wajahnya benar-benar menunjukkan keseriusan dan kebingungan sampai Freeia tertawa terpingkal-pingkal melihat kepolosan Vorg yang perkasa namun lugu itu.
Sore harinya, sayap Freeia sudah cukup panjang untuk terbang. Freeia mencobanya dengan terbang beberapa puluh sentimeter kemudian turun kembali. Vorg terpana memandang Freeia yang tampak begitu indah dengan sepasang sayap keemasan yang bergetar dan memantulkan sinar matahari di rambutnya. Tanpa sadar ia bergumam pada dirinya sendiri.
“Emas… Ya…ya… Warna emas yang paling kusuka. Pendar emas di sayapmu, pendar keemasan di kulitmu, itu warna kesukaanku, ya…ya…”
“Kurasa besok sayapku sudah akan tumbuh sempurna,” Freeia berkata puas ketika kakinya kembali menjejak tanah.
“Beberapa hari lagi mungkin kita sudah akan sampai di rumahmu. Mari kita menginap di sini malam ini,” kata Vorg.
“Aku sudah tidak sabar lagi bertemu dengan teman-temanku,” Freeia berceloteh riang,” Untung cuaca tampak membaik dan tidak ada badai salju lagi.”
Baru saja Freeia selesai berucap, tiba-tiba langit menjadi gelap, angin pun bertiup semaikin kencang. Awan hitam keunguan bergulung-gulung dengan cepat di langit dan siulan badai yang sudah mereka kenal mulai terdengar di kejauhan dan dengan cepat mendekat. Vorg mengumpulkan ranting-ranting yang belum sempat dinyalakannya dengan sekali raup dan menarik tangan Freeia.
“Cepat! Kita harus mencari tempat berlindung!” teriak Vorg mengatasi deru angin.
Untunglah di dekat sana ada semacam ceruk sempit di dalam tanah di bawah sepetak semak-semak yang rimbun. Itu pun mereka temukan karena Vorg terperosok ke dalamnya saat merambah semak itu. Mungkin bekas sarang burung yang biasa membuat sarangnya di bawah semak-semak atau bekas sarang kelinci. Tidak senyaman gua yang mereka tempati waktu itu, tapi lumayan lah. Yang penting mereka cukup terlindung dari badai.
Dan benarlah, sesaat setelah mereka masuk ke dalam ceruk itu, badai mulai mengamuk di atas kepala mereka. Vorg kembali menyusun ranting-ranting kayu dan mulai menyalakannya.
“Untung kita punya cukup persediaan makanan untuk beberapa waktu,” katanya.
Setelah api menyala, karena belum terlalu lelah Vorg mengeluarkan alat musik taringnya dan mulai bermain.
Freeia duduk sambil memeluk lutut. Dagunya bertopang pada lututnya dan sayapnya menyelimuti tubuhnya. Matanya menerawang sambil memandang sosok Vorg yang tampak begitu… begitu… anggun? Agung? Entahlah. Yang jelas Freeia tidak dapat melepaskan pandangannya dari pemuda itu. Dan musik itu… Musik itu serasa menyihirnya, membayangkan rumah yang nyaman, taw aria bersama Vorg, anak-anak…
“Anak-anak?! Ya ampun! Apa ini yang kupikirkan?” rasa panas menjalar di pipinya dan Freeia buru-buru menggigit bibir bawahnya untuk menyembunyikan senyumnya. Untunglah Vorg begitu asyik dengan musiknya sehingga tidak memperhatikan Freeia.
Tiba-tiba Vorg berhenti bermain. Disimpannya alat musik taringnya dan ia meraih sepotong ranting yang menyala dari api unggun mereka.
“Mundur, dan jangan bergerak,” bisiknya sambil berdiri di hadapan Freeia
“Apa yang…?”
“Ssh! Ayo ikuti saja perintahku,” Vorg mendesis rendah.
Freeia beringsut mundur. Jantungnya berdegup kencang karena takut.
Perlahan bayangan sesosok makhluk raksasa merayap di dinding ceruk tanak itu. Freeia menyumpal mulutnya dengan kepalan tangannya sendiri untuk menahan teriakan yang keluar dari mulutnya. Bayangan hitam itu segera diikuti oleh sosok seekor kumbang hitam kehijauan yang sangat besar. Jauh lebih besar dari semua kumbang yang pernah dilihat Freeia. Dan kumbang ini tidak jinak dan lucu seperti kumbang-kumbang teman bermainnya di padang sana. Cangkangnya yang berkilat mengeluarkan pendar seperti pelangi. Keenam kakinya berkeretakan dipenuhi duri-duri kecil melengkung yang tampak sangat tajam. Matanya yang banyak terkumpul dalam 2 bola mata yang berwarna merah. Setiap mata kecilnya bergerak-gerak cepat bagaikan serpihan kaca berwarna merah di dalam gelembungnya. Dan sungutnya yang panjang dan berbulu kasar menampakkan gigi-gigi runcing, sepasang capit yang siap dikatupkan dan penghisap berlendir yang berputar-putar liar membaui calon mangsanya.
Freeia gemetar hingga ke sumsum tulangnya. Teriakannya tercekat di tenggorokannya dan mulutnya terasa kering. Freeia menatap Vorg dan kumbang raksasa itu bergantian. Pikirannya kalut dan telinganya berdenging keras.
Vorg mencoba menusuk kumbang itu dengan ranting berapi yang dipegangnya. Dengan sekali tebas sungut kumbang itu menghempaskan ranting berapi ke dinding ceruk. Ia mendekati Vorg. Vorg pun mengambl senjata tanduknya, berusaha menyerang kumbang itu. Tetapi senjatanya terlalu pendek, sedangkan sungut yang berbahaya itu terus menyambar-nyambar.
Beberapa serangan Vorg yang dilancarkannya sambil berguling-guling menghindari capit dan sungut si kumbang berhasil mengenai sisi tubuhnya yang keras. Tidak mempan! Cangkang kumbang itu terlalu tebal. Vorg juga tidak bisa menyerang wajahnya karena sungut dan capit si kumbang terlalu sulit untuk ditembus.
“Bagian mana selain matanya yang bisa kuserang?” Vorg menunduk menghindari katupan capit kumbang itu sambil berpikir keras.
“Perutnya!” pikir Vorg,” Bagian perut kumbang tidak tertutup cangkang.”
Maka Vorg pun sekali lagi berkelit menghindari serangan si kumbang dan berguling di tanah untuk menyerang perut kumbang raksasa itu.
Tapi kumbang besar itu ternyata sangat gesit. Tiba-tiba sungutnya sudah memagut siku dan lengan Vorg yang tidak terlindung. Teriakan Freeia melengking memenuhi gua, dan Vorg merasakan cengkraman gigi-gigi runcing dan capit yang menembus daging di sekitar sikunya. Dengan satu hentakan kuat disentakkannya lengannya dari cengkeraman sungut kumbang. Sebagian kulit dan dagingnya ikut terlepas, tetapi Vorg terlalu sibuk untuk memikirkan luka ataupun rasa sakitnya.
“Tali peri!” pekiknya pada Freeia,” Lemparkan tali peri padaku!”
Freeia terperanjat. Tangannya yang gemetar meraih gulungan tali peri dan melemparkannya pada Vorg. Vorg menangkapnya dan dengan 1 tangan dan giginya mengikatkannya secepat mungkin pada senjata tanduknya sambil berguling menghindari belitan alat penghisap kumbang yang kini bertambah ganas karena sudah mencicipi daging mangsanya.
Vorg memutarkan tali yang berujungkan senjata tanduk itu di atas kepalanya dan melemparkannya kea rah kaki-kaki kumbang yang sedang menyerbu ke arahnya. Berhasil! Tali itu melilit, menjerat kaki-kaki kumbang yang banyak itu. Senjara tanduk mengunci belitan tali peri di kaki kumbang, membuatnya tak seimbang dan akhirnya jatuh terguling dengan bunyi berdedum keras dan kepulan debu yang terangkat dari tanah.
Kumbang itu mengais-ngaiskan kaki-kakinya yang terbelit tali peri tanpa dapat membalikkan tubuhnya. Ia meraung marah, sungutnya menyambar-nyambar. Secepat kilat Vorg mengambil sebatang ranting berapi dan melompat di antara kaki-kaki kumbang. Dengan sekuat tenaga ditusuknya perut kumbang itu dengan ranting yang masih membara. Kumbang itu menjerit keras dan berkelojotan. Lendir abu-abu kehijauan muncrat keluar. Vorg mencabut ranting itu, dikumpulkannya segenap sisa tenaganya dan sambil menggeram keras sekali lagi ditusuknya perut kumbang raksasa itu. Raungan kumbang memenuhi gua itu, duri-duri pada kaki-kakinya mencakar dan menggores wajah dan tubuh Vorg, tapi Vorg tidak melepaskan tikaman rantingnya sampai kumbang itu mati dan tak bergerak lagi.
Sekujur tubuh Vorg berlumuran lendir dan darah. Terlalu lemas untuk melompat turun, Vorg pun terkulai lemas dan terjatuh dari perut kumbang. Kepalanya pening, matanya berkunang-kunang. Rupanya sungut kumbang itu beracun.
Freeia berlari menghampiri Vorg yang tergeletak di tanah.
“Vorg! Apakah kau baik-baik saja? Jawablah aku!”
“Sungut kumbang itu beracun. Ambil senjataku, torehlah lukaku dan keluarkan semua racunnya,” suara Vorg semakin melemah dan akhirnya ia pun tak sadarkan diri.
Freeia gemetar ketakutan. Rasa panik dan dan takut membuat air mata mengalir deras di pipinya.
“Aku harus menyelamatkan Vorg! Aku harus menyelamatkan Vorg!” pikirnya berulang-ulang.
Freeia pun memeberanikan diri untuk mendekati bangkai kumbang yang walaupun sudah mati masih tampak mengerikan. Digigitnya tali peri untuk memutuskannya. Diambilnya senjata tanduk Vorg lalu dibakarnya ujung dan sisinya yang tajam di atas api unggun.
Diseretnya tubuh Vorg mendekati api. Wajahnya yang memang pucat kini tampak keabu-abuan dan tubuhnya terasa sedingin es.
“Vorg, jangan mati! Jangan tinggalkan aku sendiri,” Freeia meratap di dalam hatinya.
Ditariknya nafas dalam-dalam untuk menguatkan hatinya, dan sambil menggigit bibir diangkatnya siku Vorg yang terluka. Luka menganga yang mengerikan, kini tampak berlendir dan agak menghitam. Freeia harus memaksa dirinya untuk menusuk luka itu dengan ujung tanduk yang tajam dan menorehnya cukup dalam agar darah kehitaman yang mulai menggumpal itu bisa mengalir keluar.
Darah yang menghitam bercampur racun mengalir dan menetes ke tanah. Freeia menekan-nekan dan mengurut sekeliling luka Vorg, memaksa semua darah yang terkontaminasi racun untuk keluar. Setelah darah yang mengalir keluar menjadi merah segar barulah ia berhenti mengurut lengan Vorg. Kemudian dibersihkannya daging-daging yang tampak seperti terbakar kehitaman karena terkena racun. Setelah itu dibasuhnya luka itu dengan air panas. Akhirnya, Freeia mencabut sehelai mahkota bunga dari pakaiannya dan membalut luka Vorg, membebatnya erat-erat dengan tali peri.
Freeia memandang tubuh Vorg yang basah bermandikan darah dan lendir kehijauan. Perlahan, dilepaskannya seluruh pakaian Vorg yang penuh dilumuri lendir dan darah itu. Sebagian sarang labah-labahnya tercabik-cabik terkena duri kaki kumbang dan cangkang kumbangnya tampak tergores di sana-sini walaupun tidak ada yang pecah. Wajah Freeia memanas ketika ia melepaskan celana Vorg. Ia menelan ludah dan memejamkan mata ketika menurunkan celana pemuda itu. Pelan-pelan dibukanya sebelah matanya. Untunglah, ternyata ia mengenakan semacam cawat di selangkangannya.
Freeia membersihkan tubuh Vorg dengan sobekan bajunya dan air hangat. Membersihkan sisa-sisa lendir dan darah, membersihkan semua luka gores dan memar di tubuhnya. Ternyata sangat banyak bekas luka yang sudah sembuh di tubuh pemuda itu. Freeia tak dapat membayangkan kerasnya kehidupan yang dihadapi Vorg setiap hari. Setelah selesai Freeia berusaha meminumkan sedikit air hangat ke mulut Vorg, lalu menyelimutinya dengan mantel bulunya, dan mulai membersihkan dan memperbaiki pakaian Vorg yang kotor dan sobek-sobek dengan jarum dan tali peri yang memang dibawanya untuk menjahit.
Setelah semuanya selesai kembali dihampirinya tubuh Vorg. Wajahnya masih tampak pucat, dan nafasnya lemah sekali. Tetapi butir-butir keringat bermunculan di wajahnya. Dirabanya kening Vorg. Kulitnya kini terasa panas seperti api. Coba dirabanya dada Vorg, ternyata sama panasnya. Bgaimana ini? Freeia terdiam kebingungan, rasa khawatirnya memuncak.
“Ayo berpikir Freeia!” bisiknya pada dirinya sendiri. Akhirnya diambilnya segumpal salju untuk mengompres dahi pemuda itu. Sebentar saja salju itu sudah mencair. Sepanjang malam Freeia mengompres dari Vorg sambil tak henti-hentinya bergumam,” Ayo Vorg, kau harus sembuh. Ayolah Vorg…” Sesekali Vorg mengigau. Dipanggilnya nama Freeia dan Trod dalam tidurnya yang gelisah.
Kegigihan Freeia akhirnya membuahkan hasil. Menjelang dini hari suhu tubuh Vorg mulai menurun dan tidurnya pun mulai tenang. Freeia menghela nafas dengan lega. Sambil duduk di samping Vorg, Freeia pun akhirnya jatuh tertidur kelelahan.
TO BE CONTINUED….
Hari itu mereka lalui dengan gembira. Berjalan sambil bercengkrama dengan gembira membuat waktu dan jarak semakin tak terasa. Mereka pun semakin mengenal satu sama lain. Kini tahu bahwa warna kesukaan Freeia adalah warna kuning yang ceria, makanan kesukaannya adalah bili bunga matahari yang terpanggang sinar matahari dan bahwa peri padang lainnya tidak mempunyai warna kulit dan rambut yang saa dengan Freeia. Freeia pun kini tahu tentang serangan kelabang yang menewaskan kedua orang tua Vorg, tentang besarnya tanggung jawab dan sayang Vorg pada adik semata wayangnya, dan tentang kerasnya kehidupan di hutan belantara. Tapi soal warna favorit, Vorg menjawab seperti ini :
“Aku belum bisa memutuskan warna mana yang paling kusukai. Begitu banyak warna di luar sini sampai-sampai pusing aku melihatnya,” dan wajahnya benar-benar menunjukkan keseriusan dan kebingungan sampai Freeia tertawa terpingkal-pingkal melihat kepolosan Vorg yang perkasa namun lugu itu.
Sore harinya, sayap Freeia sudah cukup panjang untuk terbang. Freeia mencobanya dengan terbang beberapa puluh sentimeter kemudian turun kembali. Vorg terpana memandang Freeia yang tampak begitu indah dengan sepasang sayap keemasan yang bergetar dan memantulkan sinar matahari di rambutnya. Tanpa sadar ia bergumam pada dirinya sendiri.
“Emas… Ya…ya… Warna emas yang paling kusuka. Pendar emas di sayapmu, pendar keemasan di kulitmu, itu warna kesukaanku, ya…ya…”
“Kurasa besok sayapku sudah akan tumbuh sempurna,” Freeia berkata puas ketika kakinya kembali menjejak tanah.
“Beberapa hari lagi mungkin kita sudah akan sampai di rumahmu. Mari kita menginap di sini malam ini,” kata Vorg.
“Aku sudah tidak sabar lagi bertemu dengan teman-temanku,” Freeia berceloteh riang,” Untung cuaca tampak membaik dan tidak ada badai salju lagi.”
Baru saja Freeia selesai berucap, tiba-tiba langit menjadi gelap, angin pun bertiup semaikin kencang. Awan hitam keunguan bergulung-gulung dengan cepat di langit dan siulan badai yang sudah mereka kenal mulai terdengar di kejauhan dan dengan cepat mendekat. Vorg mengumpulkan ranting-ranting yang belum sempat dinyalakannya dengan sekali raup dan menarik tangan Freeia.
“Cepat! Kita harus mencari tempat berlindung!” teriak Vorg mengatasi deru angin.
Untunglah di dekat sana ada semacam ceruk sempit di dalam tanah di bawah sepetak semak-semak yang rimbun. Itu pun mereka temukan karena Vorg terperosok ke dalamnya saat merambah semak itu. Mungkin bekas sarang burung yang biasa membuat sarangnya di bawah semak-semak atau bekas sarang kelinci. Tidak senyaman gua yang mereka tempati waktu itu, tapi lumayan lah. Yang penting mereka cukup terlindung dari badai.
Dan benarlah, sesaat setelah mereka masuk ke dalam ceruk itu, badai mulai mengamuk di atas kepala mereka. Vorg kembali menyusun ranting-ranting kayu dan mulai menyalakannya.
“Untung kita punya cukup persediaan makanan untuk beberapa waktu,” katanya.
Setelah api menyala, karena belum terlalu lelah Vorg mengeluarkan alat musik taringnya dan mulai bermain.
Freeia duduk sambil memeluk lutut. Dagunya bertopang pada lututnya dan sayapnya menyelimuti tubuhnya. Matanya menerawang sambil memandang sosok Vorg yang tampak begitu… begitu… anggun? Agung? Entahlah. Yang jelas Freeia tidak dapat melepaskan pandangannya dari pemuda itu. Dan musik itu… Musik itu serasa menyihirnya, membayangkan rumah yang nyaman, taw aria bersama Vorg, anak-anak…
“Anak-anak?! Ya ampun! Apa ini yang kupikirkan?” rasa panas menjalar di pipinya dan Freeia buru-buru menggigit bibir bawahnya untuk menyembunyikan senyumnya. Untunglah Vorg begitu asyik dengan musiknya sehingga tidak memperhatikan Freeia.
Tiba-tiba Vorg berhenti bermain. Disimpannya alat musik taringnya dan ia meraih sepotong ranting yang menyala dari api unggun mereka.
“Mundur, dan jangan bergerak,” bisiknya sambil berdiri di hadapan Freeia
“Apa yang…?”
“Ssh! Ayo ikuti saja perintahku,” Vorg mendesis rendah.
Freeia beringsut mundur. Jantungnya berdegup kencang karena takut.
Perlahan bayangan sesosok makhluk raksasa merayap di dinding ceruk tanak itu. Freeia menyumpal mulutnya dengan kepalan tangannya sendiri untuk menahan teriakan yang keluar dari mulutnya. Bayangan hitam itu segera diikuti oleh sosok seekor kumbang hitam kehijauan yang sangat besar. Jauh lebih besar dari semua kumbang yang pernah dilihat Freeia. Dan kumbang ini tidak jinak dan lucu seperti kumbang-kumbang teman bermainnya di padang sana. Cangkangnya yang berkilat mengeluarkan pendar seperti pelangi. Keenam kakinya berkeretakan dipenuhi duri-duri kecil melengkung yang tampak sangat tajam. Matanya yang banyak terkumpul dalam 2 bola mata yang berwarna merah. Setiap mata kecilnya bergerak-gerak cepat bagaikan serpihan kaca berwarna merah di dalam gelembungnya. Dan sungutnya yang panjang dan berbulu kasar menampakkan gigi-gigi runcing, sepasang capit yang siap dikatupkan dan penghisap berlendir yang berputar-putar liar membaui calon mangsanya.
Freeia gemetar hingga ke sumsum tulangnya. Teriakannya tercekat di tenggorokannya dan mulutnya terasa kering. Freeia menatap Vorg dan kumbang raksasa itu bergantian. Pikirannya kalut dan telinganya berdenging keras.
Vorg mencoba menusuk kumbang itu dengan ranting berapi yang dipegangnya. Dengan sekali tebas sungut kumbang itu menghempaskan ranting berapi ke dinding ceruk. Ia mendekati Vorg. Vorg pun mengambl senjata tanduknya, berusaha menyerang kumbang itu. Tetapi senjatanya terlalu pendek, sedangkan sungut yang berbahaya itu terus menyambar-nyambar.
Beberapa serangan Vorg yang dilancarkannya sambil berguling-guling menghindari capit dan sungut si kumbang berhasil mengenai sisi tubuhnya yang keras. Tidak mempan! Cangkang kumbang itu terlalu tebal. Vorg juga tidak bisa menyerang wajahnya karena sungut dan capit si kumbang terlalu sulit untuk ditembus.
“Bagian mana selain matanya yang bisa kuserang?” Vorg menunduk menghindari katupan capit kumbang itu sambil berpikir keras.
“Perutnya!” pikir Vorg,” Bagian perut kumbang tidak tertutup cangkang.”
Maka Vorg pun sekali lagi berkelit menghindari serangan si kumbang dan berguling di tanah untuk menyerang perut kumbang raksasa itu.
Tapi kumbang besar itu ternyata sangat gesit. Tiba-tiba sungutnya sudah memagut siku dan lengan Vorg yang tidak terlindung. Teriakan Freeia melengking memenuhi gua, dan Vorg merasakan cengkraman gigi-gigi runcing dan capit yang menembus daging di sekitar sikunya. Dengan satu hentakan kuat disentakkannya lengannya dari cengkeraman sungut kumbang. Sebagian kulit dan dagingnya ikut terlepas, tetapi Vorg terlalu sibuk untuk memikirkan luka ataupun rasa sakitnya.
“Tali peri!” pekiknya pada Freeia,” Lemparkan tali peri padaku!”
Freeia terperanjat. Tangannya yang gemetar meraih gulungan tali peri dan melemparkannya pada Vorg. Vorg menangkapnya dan dengan 1 tangan dan giginya mengikatkannya secepat mungkin pada senjata tanduknya sambil berguling menghindari belitan alat penghisap kumbang yang kini bertambah ganas karena sudah mencicipi daging mangsanya.
Vorg memutarkan tali yang berujungkan senjata tanduk itu di atas kepalanya dan melemparkannya kea rah kaki-kaki kumbang yang sedang menyerbu ke arahnya. Berhasil! Tali itu melilit, menjerat kaki-kaki kumbang yang banyak itu. Senjara tanduk mengunci belitan tali peri di kaki kumbang, membuatnya tak seimbang dan akhirnya jatuh terguling dengan bunyi berdedum keras dan kepulan debu yang terangkat dari tanah.
Kumbang itu mengais-ngaiskan kaki-kakinya yang terbelit tali peri tanpa dapat membalikkan tubuhnya. Ia meraung marah, sungutnya menyambar-nyambar. Secepat kilat Vorg mengambil sebatang ranting berapi dan melompat di antara kaki-kaki kumbang. Dengan sekuat tenaga ditusuknya perut kumbang itu dengan ranting yang masih membara. Kumbang itu menjerit keras dan berkelojotan. Lendir abu-abu kehijauan muncrat keluar. Vorg mencabut ranting itu, dikumpulkannya segenap sisa tenaganya dan sambil menggeram keras sekali lagi ditusuknya perut kumbang raksasa itu. Raungan kumbang memenuhi gua itu, duri-duri pada kaki-kakinya mencakar dan menggores wajah dan tubuh Vorg, tapi Vorg tidak melepaskan tikaman rantingnya sampai kumbang itu mati dan tak bergerak lagi.
Sekujur tubuh Vorg berlumuran lendir dan darah. Terlalu lemas untuk melompat turun, Vorg pun terkulai lemas dan terjatuh dari perut kumbang. Kepalanya pening, matanya berkunang-kunang. Rupanya sungut kumbang itu beracun.
Freeia berlari menghampiri Vorg yang tergeletak di tanah.
“Vorg! Apakah kau baik-baik saja? Jawablah aku!”
“Sungut kumbang itu beracun. Ambil senjataku, torehlah lukaku dan keluarkan semua racunnya,” suara Vorg semakin melemah dan akhirnya ia pun tak sadarkan diri.
Freeia gemetar ketakutan. Rasa panik dan dan takut membuat air mata mengalir deras di pipinya.
“Aku harus menyelamatkan Vorg! Aku harus menyelamatkan Vorg!” pikirnya berulang-ulang.
Freeia pun memeberanikan diri untuk mendekati bangkai kumbang yang walaupun sudah mati masih tampak mengerikan. Digigitnya tali peri untuk memutuskannya. Diambilnya senjata tanduk Vorg lalu dibakarnya ujung dan sisinya yang tajam di atas api unggun.
Diseretnya tubuh Vorg mendekati api. Wajahnya yang memang pucat kini tampak keabu-abuan dan tubuhnya terasa sedingin es.
“Vorg, jangan mati! Jangan tinggalkan aku sendiri,” Freeia meratap di dalam hatinya.
Ditariknya nafas dalam-dalam untuk menguatkan hatinya, dan sambil menggigit bibir diangkatnya siku Vorg yang terluka. Luka menganga yang mengerikan, kini tampak berlendir dan agak menghitam. Freeia harus memaksa dirinya untuk menusuk luka itu dengan ujung tanduk yang tajam dan menorehnya cukup dalam agar darah kehitaman yang mulai menggumpal itu bisa mengalir keluar.
Darah yang menghitam bercampur racun mengalir dan menetes ke tanah. Freeia menekan-nekan dan mengurut sekeliling luka Vorg, memaksa semua darah yang terkontaminasi racun untuk keluar. Setelah darah yang mengalir keluar menjadi merah segar barulah ia berhenti mengurut lengan Vorg. Kemudian dibersihkannya daging-daging yang tampak seperti terbakar kehitaman karena terkena racun. Setelah itu dibasuhnya luka itu dengan air panas. Akhirnya, Freeia mencabut sehelai mahkota bunga dari pakaiannya dan membalut luka Vorg, membebatnya erat-erat dengan tali peri.
Freeia memandang tubuh Vorg yang basah bermandikan darah dan lendir kehijauan. Perlahan, dilepaskannya seluruh pakaian Vorg yang penuh dilumuri lendir dan darah itu. Sebagian sarang labah-labahnya tercabik-cabik terkena duri kaki kumbang dan cangkang kumbangnya tampak tergores di sana-sini walaupun tidak ada yang pecah. Wajah Freeia memanas ketika ia melepaskan celana Vorg. Ia menelan ludah dan memejamkan mata ketika menurunkan celana pemuda itu. Pelan-pelan dibukanya sebelah matanya. Untunglah, ternyata ia mengenakan semacam cawat di selangkangannya.
Freeia membersihkan tubuh Vorg dengan sobekan bajunya dan air hangat. Membersihkan sisa-sisa lendir dan darah, membersihkan semua luka gores dan memar di tubuhnya. Ternyata sangat banyak bekas luka yang sudah sembuh di tubuh pemuda itu. Freeia tak dapat membayangkan kerasnya kehidupan yang dihadapi Vorg setiap hari. Setelah selesai Freeia berusaha meminumkan sedikit air hangat ke mulut Vorg, lalu menyelimutinya dengan mantel bulunya, dan mulai membersihkan dan memperbaiki pakaian Vorg yang kotor dan sobek-sobek dengan jarum dan tali peri yang memang dibawanya untuk menjahit.
Setelah semuanya selesai kembali dihampirinya tubuh Vorg. Wajahnya masih tampak pucat, dan nafasnya lemah sekali. Tetapi butir-butir keringat bermunculan di wajahnya. Dirabanya kening Vorg. Kulitnya kini terasa panas seperti api. Coba dirabanya dada Vorg, ternyata sama panasnya. Bgaimana ini? Freeia terdiam kebingungan, rasa khawatirnya memuncak.
“Ayo berpikir Freeia!” bisiknya pada dirinya sendiri. Akhirnya diambilnya segumpal salju untuk mengompres dahi pemuda itu. Sebentar saja salju itu sudah mencair. Sepanjang malam Freeia mengompres dari Vorg sambil tak henti-hentinya bergumam,” Ayo Vorg, kau harus sembuh. Ayolah Vorg…” Sesekali Vorg mengigau. Dipanggilnya nama Freeia dan Trod dalam tidurnya yang gelisah.
Kegigihan Freeia akhirnya membuahkan hasil. Menjelang dini hari suhu tubuh Vorg mulai menurun dan tidurnya pun mulai tenang. Freeia menghela nafas dengan lega. Sambil duduk di samping Vorg, Freeia pun akhirnya jatuh tertidur kelelahan.
TO BE CONTINUED….
Kisah Freeia dan Vorg part.7
Mereka sudah tidak dapat lagi membedakan siang dan malam. Setiap saat hanya ada raungan angin dan kegelapan. Ke mana pun mata memandang hanya tampak salju berputar-putar di udara.
Saat itu mereka sedang tertidur di sudut gua mereka masing-masing. Entah mengapa tiba-tiba badai menggila begitu hebatnya, meraung bagaikan makhluk yang terluka, menabrak-nabrak dinding gua hingga bergetar. Freeia terbangun dari tidurnya dan memekik ketakutan.
“Ada apa Freeia?” Vorg terlonjak bangun dari tidurnya.
“Aku…Aku takut.”
“Ssh… Jangan takut, Cuma suara angin kok,” Vorg bergegas menghampiri Freeia.
Akhirnya mereka pun tidak lagi mencoba untuk tidur dan pindah ke sisi api unggun. Mungkin karena takut, tanpa sadar Freeia duduk merapat pada Vorg. Aroma tubuhnya yang segar seperti bunga-bunga di musim semi menyusup ke dalam hidung Vorg. Berbagai perasaan yang belum pernah dirasakannya berkecamuk di dada Vorg. Jantungnya berdegup makin kencang, nafasnya semakin memburu, dan keringat mulai bermunculan di dahi dan di atas bibirnya walaupun sebenarnya suhu udara saat itu sangat dingin. Ia berdehem keras dan mulai tidak dapat berpikir jernih ketika Freeia melihat bekas luka di lehernya dan bertanya,” Bekas luka apa ini? Bagaimana kau mendapatkannya?”
Vorg kembali berdehem keras, mengembalikan suaranya yang tiba-tiba menjadi serak, merasa lega karena ada sesuatu yang membuyarkan suasana yang mencekam itu (bagi dia setidaknya).
“Oh, itu gara-gara kalajengking. Ketika itu aku pulang sehabis mencari makanan. Sesampainya di rumah peninggalan kedua orang tuaku, ternyata seekor kalajengking besar sedang menerobos liang masuk rumah kami. Demi mendengar jeritan Trod adikku yang berada di rumah sendirian, aku berlari masuk secepat aku bisa. Trod meringkuk di pojok. Ekor kalajengking itu mencuat ke atas, hampir saja Trod disengatnya. Buru-buru aku melemparnya dengan sendok, satu-satunya barang terdekat yang bisa kuraih saat itu, ke kepala kalajengking itu. Kalajengking itu berbalik marah dan berusaha menyerangku. Aku berkelit, berlari menghampiri Trod, memasukkannya ke dalam panci besar tempat biasa ibuku membuat bubur ubi, dan menggelindingkannya keluar. Tetapi aku tidak keburu kabur, kalajengking itu menghalangi pintu keluar. Aku mengeluarkan senjata tanduk kumbangku. Dan ketika sengatnya siap memagutku, kutusuk hidungnya keras-keras. Ia mengamuk dan capitnya mengenai leherku. Untung aku tidak terkena sengat beracunnya. Sementara ia mengamuk kesakitan, aku pun berhasil menyelinap keluar.”
Sementara itu Freeia tertawa terbahak-bahak sambil memegangi sisi perutnya. Vorg berhenti bercerita, tertegun mendengar alunan dering merdu tawa Freeia. Belum pernah didengarnya derai tawa seperti itu. Bahkan Trod tidak pernah tertawa selepas itu.
Freeia mengusap air mata dari sudut matanya seraya berkata,”Aduh, maafkan aku. Aku tidak tahan. Bukannya aku tidak bersimpati, tetapi ceritamu lucu sekali. Ha ha ha, melempar kalajengking dengan sendok, ha ha ha, dan menggelindingkan adikmu dalam panci ubi, ha ha ha, dan menusuk hidung kalajengking, ha ha ha, mengapa kaupilih hidungnya? Ha ha ha…” kembali Freeia tertawa terpingkal-pingkal di sela-sela kata-katanya.
Vorg mulai membayangkan lagi adegan perkelahiannya dengan kalajengking itu. Mulai dilihatnya kelucuan-kelucuan di dalamnya, dan ia mulai tertawa bersama Freeia. Mereka tertawa sampai sakit perut. Dan ketika tawa mereka mulai mereda, Freeia menirukan gerakan melempar sendok pada kalajengking dan mereka pun mulai tertawa lagi.
Setelah selesai tertawa, lemas rasanya. Freeia terdiam. Vorg pun terdiam. Diresapinya perasaan yang baru sekarang ini dirasakannya. Terasa ringan, hampir-hampir pusing. Dan dadanya terasa begitu lapang. Pipinya pegal sehabis tertawa sedemikian rupa, tetapi kehangatan mengalir di perutnya. Betapa nikmatnya bisa tertawa seperti itu.
“Tahukah Vorg, kau lebih tampan bila kau tersenyum,” kata Freeia menggoda.
Vorg tersenyum simpul. Dikeluarkannya alat musik taringnya untuk kemudian dimainkannya. Aneh, musik yang keluar kali ini tidak sesendu biasanya. Rasanya musik itu mengandung harapan, dan bahkan keceriaan di dalamnya.
“Waw! Belum pernah kudengar musik seindah itu,” kata Freeia sesudahnya, “Aku jadi teringat tarian peri-peri padang di perayaan awal musim semi, dengan taburan kuncup bunga aneka warna dan kicauan burung-burung muda di rerumputan.”
“Mau tahu dari mana kuperoleh alat musikku ini?” tiba-tiba Vorg bertanya.
“Mau! Mau!” Freeia mengangguk dengan antusias.
Maka Vorg pun mulai menceritakan perkelahiannya dengan seekor kadal gendut kurang ajar yang berusaha memakannya ketika ia sedang buang hajat sendirian di hutan. Bagaimana karena terkejut dan kesal ia menunggangi kadal itu berputar-putar dan akhirnya menjerat leher kadal itu dengan celananya sampai lemas tak bernyawa. Kemudian ia mengambil taringnya yang berongga dan mencucinya untuk dijadikan alat musik yang ternyata oke punya. Sayang daging kadal itu liat dan bau, jadi Vorg mengurungkan niatnya untuk membawanya pulang dan memakannya.
Mereka tertawa-tawa dengan gembira. Bercakap-cakap dan bersenda gurau dengan ceria. Juga saat Freeia menceritakan berbagai kekacauan yang kerap ditimbulkan akibat perbuatannya. Raungan angin yang melolong menyeramkan di luar gua terlupakan sudah, yang ada hanyalah kehangatan dan kebahagiaan semata.
~oOo~
Pagi itu Vorg terbangun karena secercah cahaya yang masuk dari mulut gua. Badai sudah berlalu dan matahari tampak bersinar di luar gua. Freeia masih tertidur. Dipandanginya wajah manis gadis peri itu puas-puas.
Seolah-olah menyadari tatapan Vorg, Freeia menggeliat dalam tidurnya. Perlahan kesadaran mulai merebak dan hal pertama yang merasuki memorinya adalah Vorg dan kebersamaan mereka selama beberapa hari terakhir. Freeia membuka matanya. Tampak seraut wajah tampan dengan senyum simpul di bibirnya balas menatapnya. Freeia tersenyum malas.
“Ayo bangun peri malas. Badai sudah berhenti. Kita harus melanjutkan perjalanan,” sapa Vorg lembut.
Maka setelah sarapan dan bersiap-siap, Vorg melepaskan kedua pelindung yang dipakainya di lututnya. Dia membuat sepasang sepatu kedap air dari serpihan cangkang kumbang itu untuk Freeia. Yah, sedikit kasar buatannya. Maklum, alat yang tersedia hanyalah senjata dari kepingan tanduk miliknya. Terakhir, dipasangnya sedikit tali peri untuk mengencangkan sepatu itu di kaki Freeia.
“Nah! Kaimu tidak akan keriput lagi,” kata Vorg puas. Freeia menatap kakinya yang kini terbungkus sepatu cangkang kumbang buatan Vorg, kemudian menatap lutut Vorg yang kini telanjang, kemudian ia menatap wajah Vorg dan menghadiahinya dengan senyum lebar dan ucapan terima kasih. Membuat wajah Vorg yang tadinya tampak puas menjadi berseri-seri dan sedikit sumringah. Hidungnya kembang kempis karena bangga dan senang.
Vorg mengemas sisa persediaan makanan mereka untuk bekal mereka di perjalanan, kemudian mematikan api yang selama beberapa hari ini telah mengahangatkan mereka. Dan mereka pun melangkah ke luar, ke dinginnya udara pegunungan sehabis badai salju. Langit tampak bersih seperti habis dicuci dan udara yang mereka hirup terasa dingin dan pedas di wajah mereka.
Vorg menyipitkan matanya, membiasakan diri dengan cahaya matahari yang dengan bebas menerangi hamparan bukit berbatu-batu itu. Freeia merentangkan kedua tangannya dan menghirup nafas dalam-dalam, “Ahh… Segarnya!”
Mereka mulai melanjutkan perjalanan mereka menuju puncak bukit. Kini Vorg berjalan lebih perlahan agar Freeia dapat mengimbanginya. Sesekali mereka berhenti untuk makan atau sekedar beristirahat sejenak.
“Tak lama lagi kita akan sampai di puncak bukit,” kata Vorg. Ya, buat peri sekecil mereka perjalanan itu luar biasa jauhnya.
“Bagus! Dan tak lama lagi aku bisa mengembalikan mantelmu. Lihat, sayapku mulai tumbuh,” Freeia memperlihatkan sepasang sayap kecil keemasan yang tumbuh begitu saja di punggungnya.
“Kurasa cuaca yang dingin ini menumbuhkan sayapku walaupun musim dingin belum lagi tiba. Tak lama lagi sayap-sayap ini akan cukup untuk menghangatkanku,” ujarnya lagi.
“Benarkah? Tapi tampaknya sayap-sayap kecil itu begitu tipis dan rapuh,” kata Vorg ragu-ragu.
“Eh! Jangan meremehkan sayap peri. Lihat saja kekuatan tali peri. Tali peri kan berasal dari sayap-sayap ini,”
“Hmm… Begitu… Bagaimana kakimu? Sakitkah?”
“Tidak kok. Sepatunya pas benar di kakiku. Enak dan hangat pula. Kau hebat sekali membuat sepatu,” celetuk Freeia samba tersenyum penuh kekaguman kepada Vorg. Hati Vorg menjadi berbunga-bunga mendengarnya, hidungnya kembali kembang kempis mendengar pujian Freeia meskipun ia tidak mengatakan apapun.
Mereka kembali melanjutkan perjalanan. Dan ketika hari mulai senja, saat langit mulai berwarna kemerahan, sampailah mereka di puncak bukit berbatu itu.
Vorg menaungi matanya dengan telapak tangan dan melihat berkeliling. Dari ketinggian bukit itu, tampaklah bahwa bukit tempat mereka terdampar terletak di antara hutan belantara yang lebat tempat tinggal Vorg dan padang belantara yang luas tempat tinggal Freeia. Selain itu masih ada dataran tandus berselimutkan salju di satu sisi dan rawa-rawa becek yang berkabut di sisi yang lain.
“Rumahmu pasti berada di antara padang rumput itu bukan?” tanya Vorg tanpa mengalihkan pandangan dari pemandangan di sekitarnya.
“Iya betul! Ayo kita pulang!” Freeia berseru senang sambil menarik tangan Vorg, mengajaknya melanjutkan perjalanan mereka.
“E..eh! Nanti dulu. Hari sudah malam, dan kita sudah berjalan seharian. Lebih baik kita beristirahat di sini malam ini. Besok baru kita lanjutkan perjalanan kita.” Vorg menahan Freeia yang sudah tidak sabar ingin pulang ke rumah.
“Baiklah,” setelah berpikir beberapa saat dengan gaya khas mengerutkan kening, menggigit bibir dan menotol-notol dagu, akhirnya Freeia setuju dengan usul Vorg.
Kembali Vorg membuat api unggun. Mereka mencairkan salju untuk minum dan membakar ubi dan dedaunan yang mereka jumpai dan mereka petik selama di perjalanan. Hanya saja di puncak bukit ini tidak ada gua. Vorg merasa cukup aman untuk beristirahat di alam terbuka karena langit begitu jernih sehingga tidak mungkin badai bertiup malam itu. Mereka pun duduk meringkuk sedekat mungkin dengan api. Freeia masih mengenakan mantel bulu Vorg karena sayapnya belum cukup panjang untuk menyelimuti dirinya sementara Vorg membungkus tubuhnya dengan daun lebar yang dibawanya dari gua.
Kali ini kantuk cepat menghampiri mereka karena tubuh keduanya sudah penat sehabis berjalan mendaki bukit seharian. Tak lama kemudian mereka pun jatuh terlelap. Sinar bulan yang pucat, kerlip bintang-bintang dan cahaya api yang lincah menemani kedua insan peri yang terlelap di puncak bukit dengan perasaan manis yang kini mulai tumbuh di hati mereka berdua…
TO BE CONTINUED….
Suit Swiwww!!! :D
Saat itu mereka sedang tertidur di sudut gua mereka masing-masing. Entah mengapa tiba-tiba badai menggila begitu hebatnya, meraung bagaikan makhluk yang terluka, menabrak-nabrak dinding gua hingga bergetar. Freeia terbangun dari tidurnya dan memekik ketakutan.
“Ada apa Freeia?” Vorg terlonjak bangun dari tidurnya.
“Aku…Aku takut.”
“Ssh… Jangan takut, Cuma suara angin kok,” Vorg bergegas menghampiri Freeia.
Akhirnya mereka pun tidak lagi mencoba untuk tidur dan pindah ke sisi api unggun. Mungkin karena takut, tanpa sadar Freeia duduk merapat pada Vorg. Aroma tubuhnya yang segar seperti bunga-bunga di musim semi menyusup ke dalam hidung Vorg. Berbagai perasaan yang belum pernah dirasakannya berkecamuk di dada Vorg. Jantungnya berdegup makin kencang, nafasnya semakin memburu, dan keringat mulai bermunculan di dahi dan di atas bibirnya walaupun sebenarnya suhu udara saat itu sangat dingin. Ia berdehem keras dan mulai tidak dapat berpikir jernih ketika Freeia melihat bekas luka di lehernya dan bertanya,” Bekas luka apa ini? Bagaimana kau mendapatkannya?”
Vorg kembali berdehem keras, mengembalikan suaranya yang tiba-tiba menjadi serak, merasa lega karena ada sesuatu yang membuyarkan suasana yang mencekam itu (bagi dia setidaknya).
“Oh, itu gara-gara kalajengking. Ketika itu aku pulang sehabis mencari makanan. Sesampainya di rumah peninggalan kedua orang tuaku, ternyata seekor kalajengking besar sedang menerobos liang masuk rumah kami. Demi mendengar jeritan Trod adikku yang berada di rumah sendirian, aku berlari masuk secepat aku bisa. Trod meringkuk di pojok. Ekor kalajengking itu mencuat ke atas, hampir saja Trod disengatnya. Buru-buru aku melemparnya dengan sendok, satu-satunya barang terdekat yang bisa kuraih saat itu, ke kepala kalajengking itu. Kalajengking itu berbalik marah dan berusaha menyerangku. Aku berkelit, berlari menghampiri Trod, memasukkannya ke dalam panci besar tempat biasa ibuku membuat bubur ubi, dan menggelindingkannya keluar. Tetapi aku tidak keburu kabur, kalajengking itu menghalangi pintu keluar. Aku mengeluarkan senjata tanduk kumbangku. Dan ketika sengatnya siap memagutku, kutusuk hidungnya keras-keras. Ia mengamuk dan capitnya mengenai leherku. Untung aku tidak terkena sengat beracunnya. Sementara ia mengamuk kesakitan, aku pun berhasil menyelinap keluar.”
Sementara itu Freeia tertawa terbahak-bahak sambil memegangi sisi perutnya. Vorg berhenti bercerita, tertegun mendengar alunan dering merdu tawa Freeia. Belum pernah didengarnya derai tawa seperti itu. Bahkan Trod tidak pernah tertawa selepas itu.
Freeia mengusap air mata dari sudut matanya seraya berkata,”Aduh, maafkan aku. Aku tidak tahan. Bukannya aku tidak bersimpati, tetapi ceritamu lucu sekali. Ha ha ha, melempar kalajengking dengan sendok, ha ha ha, dan menggelindingkan adikmu dalam panci ubi, ha ha ha, dan menusuk hidung kalajengking, ha ha ha, mengapa kaupilih hidungnya? Ha ha ha…” kembali Freeia tertawa terpingkal-pingkal di sela-sela kata-katanya.
Vorg mulai membayangkan lagi adegan perkelahiannya dengan kalajengking itu. Mulai dilihatnya kelucuan-kelucuan di dalamnya, dan ia mulai tertawa bersama Freeia. Mereka tertawa sampai sakit perut. Dan ketika tawa mereka mulai mereda, Freeia menirukan gerakan melempar sendok pada kalajengking dan mereka pun mulai tertawa lagi.
Setelah selesai tertawa, lemas rasanya. Freeia terdiam. Vorg pun terdiam. Diresapinya perasaan yang baru sekarang ini dirasakannya. Terasa ringan, hampir-hampir pusing. Dan dadanya terasa begitu lapang. Pipinya pegal sehabis tertawa sedemikian rupa, tetapi kehangatan mengalir di perutnya. Betapa nikmatnya bisa tertawa seperti itu.
“Tahukah Vorg, kau lebih tampan bila kau tersenyum,” kata Freeia menggoda.
Vorg tersenyum simpul. Dikeluarkannya alat musik taringnya untuk kemudian dimainkannya. Aneh, musik yang keluar kali ini tidak sesendu biasanya. Rasanya musik itu mengandung harapan, dan bahkan keceriaan di dalamnya.
“Waw! Belum pernah kudengar musik seindah itu,” kata Freeia sesudahnya, “Aku jadi teringat tarian peri-peri padang di perayaan awal musim semi, dengan taburan kuncup bunga aneka warna dan kicauan burung-burung muda di rerumputan.”
“Mau tahu dari mana kuperoleh alat musikku ini?” tiba-tiba Vorg bertanya.
“Mau! Mau!” Freeia mengangguk dengan antusias.
Maka Vorg pun mulai menceritakan perkelahiannya dengan seekor kadal gendut kurang ajar yang berusaha memakannya ketika ia sedang buang hajat sendirian di hutan. Bagaimana karena terkejut dan kesal ia menunggangi kadal itu berputar-putar dan akhirnya menjerat leher kadal itu dengan celananya sampai lemas tak bernyawa. Kemudian ia mengambil taringnya yang berongga dan mencucinya untuk dijadikan alat musik yang ternyata oke punya. Sayang daging kadal itu liat dan bau, jadi Vorg mengurungkan niatnya untuk membawanya pulang dan memakannya.
Mereka tertawa-tawa dengan gembira. Bercakap-cakap dan bersenda gurau dengan ceria. Juga saat Freeia menceritakan berbagai kekacauan yang kerap ditimbulkan akibat perbuatannya. Raungan angin yang melolong menyeramkan di luar gua terlupakan sudah, yang ada hanyalah kehangatan dan kebahagiaan semata.
~oOo~
Pagi itu Vorg terbangun karena secercah cahaya yang masuk dari mulut gua. Badai sudah berlalu dan matahari tampak bersinar di luar gua. Freeia masih tertidur. Dipandanginya wajah manis gadis peri itu puas-puas.
Seolah-olah menyadari tatapan Vorg, Freeia menggeliat dalam tidurnya. Perlahan kesadaran mulai merebak dan hal pertama yang merasuki memorinya adalah Vorg dan kebersamaan mereka selama beberapa hari terakhir. Freeia membuka matanya. Tampak seraut wajah tampan dengan senyum simpul di bibirnya balas menatapnya. Freeia tersenyum malas.
“Ayo bangun peri malas. Badai sudah berhenti. Kita harus melanjutkan perjalanan,” sapa Vorg lembut.
Maka setelah sarapan dan bersiap-siap, Vorg melepaskan kedua pelindung yang dipakainya di lututnya. Dia membuat sepasang sepatu kedap air dari serpihan cangkang kumbang itu untuk Freeia. Yah, sedikit kasar buatannya. Maklum, alat yang tersedia hanyalah senjata dari kepingan tanduk miliknya. Terakhir, dipasangnya sedikit tali peri untuk mengencangkan sepatu itu di kaki Freeia.
“Nah! Kaimu tidak akan keriput lagi,” kata Vorg puas. Freeia menatap kakinya yang kini terbungkus sepatu cangkang kumbang buatan Vorg, kemudian menatap lutut Vorg yang kini telanjang, kemudian ia menatap wajah Vorg dan menghadiahinya dengan senyum lebar dan ucapan terima kasih. Membuat wajah Vorg yang tadinya tampak puas menjadi berseri-seri dan sedikit sumringah. Hidungnya kembang kempis karena bangga dan senang.
Vorg mengemas sisa persediaan makanan mereka untuk bekal mereka di perjalanan, kemudian mematikan api yang selama beberapa hari ini telah mengahangatkan mereka. Dan mereka pun melangkah ke luar, ke dinginnya udara pegunungan sehabis badai salju. Langit tampak bersih seperti habis dicuci dan udara yang mereka hirup terasa dingin dan pedas di wajah mereka.
Vorg menyipitkan matanya, membiasakan diri dengan cahaya matahari yang dengan bebas menerangi hamparan bukit berbatu-batu itu. Freeia merentangkan kedua tangannya dan menghirup nafas dalam-dalam, “Ahh… Segarnya!”
Mereka mulai melanjutkan perjalanan mereka menuju puncak bukit. Kini Vorg berjalan lebih perlahan agar Freeia dapat mengimbanginya. Sesekali mereka berhenti untuk makan atau sekedar beristirahat sejenak.
“Tak lama lagi kita akan sampai di puncak bukit,” kata Vorg. Ya, buat peri sekecil mereka perjalanan itu luar biasa jauhnya.
“Bagus! Dan tak lama lagi aku bisa mengembalikan mantelmu. Lihat, sayapku mulai tumbuh,” Freeia memperlihatkan sepasang sayap kecil keemasan yang tumbuh begitu saja di punggungnya.
“Kurasa cuaca yang dingin ini menumbuhkan sayapku walaupun musim dingin belum lagi tiba. Tak lama lagi sayap-sayap ini akan cukup untuk menghangatkanku,” ujarnya lagi.
“Benarkah? Tapi tampaknya sayap-sayap kecil itu begitu tipis dan rapuh,” kata Vorg ragu-ragu.
“Eh! Jangan meremehkan sayap peri. Lihat saja kekuatan tali peri. Tali peri kan berasal dari sayap-sayap ini,”
“Hmm… Begitu… Bagaimana kakimu? Sakitkah?”
“Tidak kok. Sepatunya pas benar di kakiku. Enak dan hangat pula. Kau hebat sekali membuat sepatu,” celetuk Freeia samba tersenyum penuh kekaguman kepada Vorg. Hati Vorg menjadi berbunga-bunga mendengarnya, hidungnya kembali kembang kempis mendengar pujian Freeia meskipun ia tidak mengatakan apapun.
Mereka kembali melanjutkan perjalanan. Dan ketika hari mulai senja, saat langit mulai berwarna kemerahan, sampailah mereka di puncak bukit berbatu itu.
Vorg menaungi matanya dengan telapak tangan dan melihat berkeliling. Dari ketinggian bukit itu, tampaklah bahwa bukit tempat mereka terdampar terletak di antara hutan belantara yang lebat tempat tinggal Vorg dan padang belantara yang luas tempat tinggal Freeia. Selain itu masih ada dataran tandus berselimutkan salju di satu sisi dan rawa-rawa becek yang berkabut di sisi yang lain.
“Rumahmu pasti berada di antara padang rumput itu bukan?” tanya Vorg tanpa mengalihkan pandangan dari pemandangan di sekitarnya.
“Iya betul! Ayo kita pulang!” Freeia berseru senang sambil menarik tangan Vorg, mengajaknya melanjutkan perjalanan mereka.
“E..eh! Nanti dulu. Hari sudah malam, dan kita sudah berjalan seharian. Lebih baik kita beristirahat di sini malam ini. Besok baru kita lanjutkan perjalanan kita.” Vorg menahan Freeia yang sudah tidak sabar ingin pulang ke rumah.
“Baiklah,” setelah berpikir beberapa saat dengan gaya khas mengerutkan kening, menggigit bibir dan menotol-notol dagu, akhirnya Freeia setuju dengan usul Vorg.
Kembali Vorg membuat api unggun. Mereka mencairkan salju untuk minum dan membakar ubi dan dedaunan yang mereka jumpai dan mereka petik selama di perjalanan. Hanya saja di puncak bukit ini tidak ada gua. Vorg merasa cukup aman untuk beristirahat di alam terbuka karena langit begitu jernih sehingga tidak mungkin badai bertiup malam itu. Mereka pun duduk meringkuk sedekat mungkin dengan api. Freeia masih mengenakan mantel bulu Vorg karena sayapnya belum cukup panjang untuk menyelimuti dirinya sementara Vorg membungkus tubuhnya dengan daun lebar yang dibawanya dari gua.
Kali ini kantuk cepat menghampiri mereka karena tubuh keduanya sudah penat sehabis berjalan mendaki bukit seharian. Tak lama kemudian mereka pun jatuh terlelap. Sinar bulan yang pucat, kerlip bintang-bintang dan cahaya api yang lincah menemani kedua insan peri yang terlelap di puncak bukit dengan perasaan manis yang kini mulai tumbuh di hati mereka berdua…
TO BE CONTINUED….
Suit Swiwww!!! :D
Kisah Freeia dan Vorg part.6
Samar-samar didengarnya suara yang begitu merdu menyeruak masuk ke alam mimpinya. Lebih merdu dari kicauan burung-burung di musim semi, lebih merdu dari koor jangkrik-jangkrik di malam musim panas. Suara yang merasuk ke dalam kalbu. Suara apakah ini?
Hangat. Seluruh tubuhnya terasa begitu hangat dan nyaman. Rasanya sudah lama sekali Freeia tidak merasakan kehangatan seperti ini. Aliran dingin sedingin air es yang mengaliri tulang-tulangnya kini digantikan aliran hangat darah yang terasa mencair kembali di setiap pembuluh darah di sekujur tubuhnya.
Sedikit-sedikit kesadaran mulai menguasainya dan mengingatkan Freeia akan apa yang telah terjadi. Freeia menggeliatkan tubuhnya yang terasa kaku dan pelan-pelan ia duduk dan membuka matanya. Hei! Ia memakai selimut bulu. Ini kan mantel pemuda tadi? Tempat apakah ini? Bayangan api menari-nari di dinding dan langit-langit gua. Rupanya badai kembali bertiup karena didengarnya suara angin yang berputar-putar liar di luar sana. Freeia bangkit terduduk. Dilayangkannya pandangan ke sekeliling gua yang nyaman, api unggun yang menari-nari ceria dan menguarkan kehangatan ke setiap penjuru gua itu, dan… itu dia. Pemuda itu sedang duduk menyamping di mulut gua. Dan dia memainkan suatu alat musik yang mengeluarkan bunyi yang begitu merdu.
Freeia terpana memandang siluet Vorg di mulut gua. Tak dapat dilepaskannya pandangannya dari sosok tegap pemuda pucat berambut perak berantakan yang tampak begitu berkilauan sambil memainkan musik terindah yang pernah didengarnya.
Naluri Vorg merasa ada yang memperhatikannya. Secepat kilat ia menoleh dan mendapati Freeia tengah menatapnya dengan mulut sedikit terbuka dan rambut yang agak berantakan akibat berbaring di lantai gua.
Freeia terperangah, malu juga rasanya kepergok sedang menatap si pemuda tanpa berkedip seperti itu.
“Oh, kau sudah bangun rupanya,” kata Vorg.
“Maafkan aku tidak menyadari kalau kau tidak terbiasa dengan perjalanan seberat itu,” lanjutnya lagi dengan perasaan bersalah di wajahnya.
“Oh tidak! Aku yang minta maaf karena telah merepotkanmu,” kata Freeia tersipu. Tiba-tiba ia menyadari kalau kaki mungilnya kini tidak bersepatu, dan rona kemerahan semakin jelas di pipinya.
Keduanya terdiam canggung. Tetapi tiba-tiba terdengar sura geraman yang dalam dari perut Freeia. Vorg berpikir bahwa wajah Freeia tak akan dapat lebih merah dari saat itu. Dengan malu Freeia memegangi perutnya sambil nyengir kagok.
“Kau lapar ya? Maaf aku tidak punya makanan. Tadi badai keburu datang sebelum aku sempat mencari makanan. Seandainya aku punya tali, akan kucarikan makanan untuk kita. Tanpa tali aku takut tersesat dalam badai sebesar ini,” kata Vorg.
“Ehm… Aku punya tali. Kebetulan aku tadinya memang berencana untuk menjahit, jadi aku membawa tali peri,” ujar Freeia malu-malu.
“Tali peri? Apaan tuh?”
“Tali ini terbuat dari sayap peri yang sudah rontok dan terurai. Walaupun tipis, tali ini sangat kuat dan lentur,” Freeia menjelaskan dengan bersemangat.
“Tapi kau kan tidak punya sayap?”
“Belum. Biasanya menjelang musim dingin sayap kami baru tumbuh. Ini kan baru musim gugur? Tapi kurasa dengan badai salju begini tak lama lagi sayapku akan tumbuh.”
“Baiklah. Aku pinjam dulu tali perimu. Akan kucoba mencarikan makanan untuk kita.” Dengan sigap Vorg menerima tali peri dari tangan Freeia dan beranjak menuju ke luar gua.
“E..eeh! Tunggu dulu. Ini, pakailah mantelmu.”
“Kau pakai saja mantel itu, supaya hangat.”
“Aku sudah cukup hangat. Lagi pula di sini ada api yang menghangatkanku. DI luar angin sangat kencang. Ayo, pakailah.”
Akhirnya Vorg pun setuju untuk memakai kembali mantel bulunya. Ia mengikatkan salah satu ujung tali peri ke sebuah batu yang besar dan berat, kemudian berjalan keluar menembus badai sambil mengulur gulungan tali di tangannya. Dengan tali itu, dia tinggal menyusuri sambil menggulung kembali tali itu untuk kembali ke gua, sejauh apa pun ia meninggalkan gua sepanjang tali itu mengijinkan.
Freeia menanti dengan cemas sambil mengawasi tali yang terikat kuat di batu. Dari waktu ke waktu tali itu akan bergerak-gerak. Kadang, untuk beberapa saat tali itu tak bergerak sama sekali. Freeia pun akan menatap tali itu lekat-lekat sambil berharap tidak terjadi sesuatu yang buruk pada Vorg. Saat tali itu kembali bergerak Freeia akan menghembuskan nafas yang tanpa sadar ditahannya dengan lega.
Setelah waktu yang dirasakan sangat lama oleh Freeia, akhirnya Vorg kembali. Seluruh tubuhnya, termasuk rambut dan wajahnya diselimuti salju, tetapi senyum lebar menghiasi wajahnya. Ia membawa sepelukan makanan di lengannya. Ada akar-akaran, beberapa helai daun yang sudah setengah mongering dan sebuah ubi!
“Aku beruntung menemukan beberapa tanaman ubi di sebelah sana. Minimal kita tidak akan kelaparan di tempat ini. Untung ada tali perimu,” ujarnya senang.
Mereka pun duduk bersisian di depan api. Vorg mengeluarkan senjata tanduknya, menetakkannya pada ubi yang dibawanya, membelahnya menjadi beberapa bagian, lalu mulai membakar salah satunya. Tidak lama berselang, harum ubi bakar mulai memenuhi gua itu. Perut Freeia melenguh lagi, lebih keras dari yang pertama. Vorg tersenyum. Ia pun mengambil ubi yang sudah matang, membelahnya menjadi dua dan memberikan salah satunya kepada Freeia.
“Awas masih panas,” ujarnya mengingatkan.
Freeia meniupi ubi bakar yang panas itu dan mulai memakannya. Matanya yang bulat membesar keenakan. Daging ubi yang lembut, manis dan harum seperti itu belum pernah dirasakannya. Maklum, peri padang tidak pernah perlu untuk mencari makanan dengan menggali jauh ke dalam tanah. Cukup banyak biji-bijian, buah-buahan, tunas tanaman dan rumput-rumputan muda yang manis yang tumbih di atas tanah.
Vorg membakar potongan ubi berikutnya, dan sambil menggigit ubi bagiannya ia mengawasi Freeia yang makan dengan lahap, sesekali mengaduh dan mengipasi mulutnya yang terbuka dengan tangannya karena kepanasan.
“Kau belum pernah makan ubi yah?”
“Belum. Kami di padang makan biji-bijian, buah-buahan dan tunas-tunas rumput muda. Apakah semua makanan di tempatmu seenak ini?”
“Yahhh, tidak juga. Kalau beruntung kita dapat makan ubi, atau kutu. Tetapi biasanya kami makan akar-akaran, dedaunan, dan kadang-kadang kulit kayu.”
Freeia terbelalak menatap Vorg. Untuk sesaat ubi di tangannya terlupakan.
“Kutu? Kalian makan kutu? Dan kulit kayu? Ih! Pasti rasanya tidak enak,” wajah Freeia mengernyit membayangkan rasa kutu dan kulit kayu.
“Sebetulnya rasa kutu itu lumayan enak. Kaubakar sebentar, rasanya garing dan gurih. Tapi kalau kulit kayu memang tidak enak. Apa boleh buat, kalau sudah tidak ada lagi yang bisa dimakan, kulit kayu pun jadilah.”
“Ngomong-ngomong, namamu siapa? Dari kemarin kau belum memberi tahu namamu.”
“Aku Vorg, peri hutan.”
Dan begitulah, sambil menunggu badai yang seakan tak akan pernah berlalu, mereka menghabiskan waktu dengan bercakap-cakap atau terdiam sambil memandangi api. Anehnya, Freeia merasa aman dan nyaman di samping pemuda ini. Dalam diam pun tidak ada kecanggungan. Rasanya seperti sepasang teman lama. Vorg pun merasa heran, belum pernah ia bercakap-cakap dengan siapa pun seperti dengan Freeia. Rasanya begitu alami. Dan keterbukaan serta keceriaan Freeia membuat hatinya terasa hangat, seperti menemukan sebuah rumah yang selama ini tak dimilikinya.
Ketika mereka lelah, karena mereka bahkan tak dapat membedakan siang dan malam, Freeia akan tidur di salah satu sudut gua sementara Vorg berbaring di sudut satunya. Vorg memaksa Freeia mengenakan mantelnya, sementara ia sendiri tidur berselimutkan sehelai daun lebar yang dijumpainya di luar gua.
Tali peri sangat berguna. Vorg memakainya untuk mencari ranting kayu untuk menjaga api tetap menyala, juga untuk mencari makanan. Dan mereka berdua memakainya bila ingin buang air di luar gua.
Hangat. Seluruh tubuhnya terasa begitu hangat dan nyaman. Rasanya sudah lama sekali Freeia tidak merasakan kehangatan seperti ini. Aliran dingin sedingin air es yang mengaliri tulang-tulangnya kini digantikan aliran hangat darah yang terasa mencair kembali di setiap pembuluh darah di sekujur tubuhnya.
Sedikit-sedikit kesadaran mulai menguasainya dan mengingatkan Freeia akan apa yang telah terjadi. Freeia menggeliatkan tubuhnya yang terasa kaku dan pelan-pelan ia duduk dan membuka matanya. Hei! Ia memakai selimut bulu. Ini kan mantel pemuda tadi? Tempat apakah ini? Bayangan api menari-nari di dinding dan langit-langit gua. Rupanya badai kembali bertiup karena didengarnya suara angin yang berputar-putar liar di luar sana. Freeia bangkit terduduk. Dilayangkannya pandangan ke sekeliling gua yang nyaman, api unggun yang menari-nari ceria dan menguarkan kehangatan ke setiap penjuru gua itu, dan… itu dia. Pemuda itu sedang duduk menyamping di mulut gua. Dan dia memainkan suatu alat musik yang mengeluarkan bunyi yang begitu merdu.
Freeia terpana memandang siluet Vorg di mulut gua. Tak dapat dilepaskannya pandangannya dari sosok tegap pemuda pucat berambut perak berantakan yang tampak begitu berkilauan sambil memainkan musik terindah yang pernah didengarnya.
Naluri Vorg merasa ada yang memperhatikannya. Secepat kilat ia menoleh dan mendapati Freeia tengah menatapnya dengan mulut sedikit terbuka dan rambut yang agak berantakan akibat berbaring di lantai gua.
Freeia terperangah, malu juga rasanya kepergok sedang menatap si pemuda tanpa berkedip seperti itu.
“Oh, kau sudah bangun rupanya,” kata Vorg.
“Maafkan aku tidak menyadari kalau kau tidak terbiasa dengan perjalanan seberat itu,” lanjutnya lagi dengan perasaan bersalah di wajahnya.
“Oh tidak! Aku yang minta maaf karena telah merepotkanmu,” kata Freeia tersipu. Tiba-tiba ia menyadari kalau kaki mungilnya kini tidak bersepatu, dan rona kemerahan semakin jelas di pipinya.
Keduanya terdiam canggung. Tetapi tiba-tiba terdengar sura geraman yang dalam dari perut Freeia. Vorg berpikir bahwa wajah Freeia tak akan dapat lebih merah dari saat itu. Dengan malu Freeia memegangi perutnya sambil nyengir kagok.
“Kau lapar ya? Maaf aku tidak punya makanan. Tadi badai keburu datang sebelum aku sempat mencari makanan. Seandainya aku punya tali, akan kucarikan makanan untuk kita. Tanpa tali aku takut tersesat dalam badai sebesar ini,” kata Vorg.
“Ehm… Aku punya tali. Kebetulan aku tadinya memang berencana untuk menjahit, jadi aku membawa tali peri,” ujar Freeia malu-malu.
“Tali peri? Apaan tuh?”
“Tali ini terbuat dari sayap peri yang sudah rontok dan terurai. Walaupun tipis, tali ini sangat kuat dan lentur,” Freeia menjelaskan dengan bersemangat.
“Tapi kau kan tidak punya sayap?”
“Belum. Biasanya menjelang musim dingin sayap kami baru tumbuh. Ini kan baru musim gugur? Tapi kurasa dengan badai salju begini tak lama lagi sayapku akan tumbuh.”
“Baiklah. Aku pinjam dulu tali perimu. Akan kucoba mencarikan makanan untuk kita.” Dengan sigap Vorg menerima tali peri dari tangan Freeia dan beranjak menuju ke luar gua.
“E..eeh! Tunggu dulu. Ini, pakailah mantelmu.”
“Kau pakai saja mantel itu, supaya hangat.”
“Aku sudah cukup hangat. Lagi pula di sini ada api yang menghangatkanku. DI luar angin sangat kencang. Ayo, pakailah.”
Akhirnya Vorg pun setuju untuk memakai kembali mantel bulunya. Ia mengikatkan salah satu ujung tali peri ke sebuah batu yang besar dan berat, kemudian berjalan keluar menembus badai sambil mengulur gulungan tali di tangannya. Dengan tali itu, dia tinggal menyusuri sambil menggulung kembali tali itu untuk kembali ke gua, sejauh apa pun ia meninggalkan gua sepanjang tali itu mengijinkan.
Freeia menanti dengan cemas sambil mengawasi tali yang terikat kuat di batu. Dari waktu ke waktu tali itu akan bergerak-gerak. Kadang, untuk beberapa saat tali itu tak bergerak sama sekali. Freeia pun akan menatap tali itu lekat-lekat sambil berharap tidak terjadi sesuatu yang buruk pada Vorg. Saat tali itu kembali bergerak Freeia akan menghembuskan nafas yang tanpa sadar ditahannya dengan lega.
Setelah waktu yang dirasakan sangat lama oleh Freeia, akhirnya Vorg kembali. Seluruh tubuhnya, termasuk rambut dan wajahnya diselimuti salju, tetapi senyum lebar menghiasi wajahnya. Ia membawa sepelukan makanan di lengannya. Ada akar-akaran, beberapa helai daun yang sudah setengah mongering dan sebuah ubi!
“Aku beruntung menemukan beberapa tanaman ubi di sebelah sana. Minimal kita tidak akan kelaparan di tempat ini. Untung ada tali perimu,” ujarnya senang.
Mereka pun duduk bersisian di depan api. Vorg mengeluarkan senjata tanduknya, menetakkannya pada ubi yang dibawanya, membelahnya menjadi beberapa bagian, lalu mulai membakar salah satunya. Tidak lama berselang, harum ubi bakar mulai memenuhi gua itu. Perut Freeia melenguh lagi, lebih keras dari yang pertama. Vorg tersenyum. Ia pun mengambil ubi yang sudah matang, membelahnya menjadi dua dan memberikan salah satunya kepada Freeia.
“Awas masih panas,” ujarnya mengingatkan.
Freeia meniupi ubi bakar yang panas itu dan mulai memakannya. Matanya yang bulat membesar keenakan. Daging ubi yang lembut, manis dan harum seperti itu belum pernah dirasakannya. Maklum, peri padang tidak pernah perlu untuk mencari makanan dengan menggali jauh ke dalam tanah. Cukup banyak biji-bijian, buah-buahan, tunas tanaman dan rumput-rumputan muda yang manis yang tumbih di atas tanah.
Vorg membakar potongan ubi berikutnya, dan sambil menggigit ubi bagiannya ia mengawasi Freeia yang makan dengan lahap, sesekali mengaduh dan mengipasi mulutnya yang terbuka dengan tangannya karena kepanasan.
“Kau belum pernah makan ubi yah?”
“Belum. Kami di padang makan biji-bijian, buah-buahan dan tunas-tunas rumput muda. Apakah semua makanan di tempatmu seenak ini?”
“Yahhh, tidak juga. Kalau beruntung kita dapat makan ubi, atau kutu. Tetapi biasanya kami makan akar-akaran, dedaunan, dan kadang-kadang kulit kayu.”
Freeia terbelalak menatap Vorg. Untuk sesaat ubi di tangannya terlupakan.
“Kutu? Kalian makan kutu? Dan kulit kayu? Ih! Pasti rasanya tidak enak,” wajah Freeia mengernyit membayangkan rasa kutu dan kulit kayu.
“Sebetulnya rasa kutu itu lumayan enak. Kaubakar sebentar, rasanya garing dan gurih. Tapi kalau kulit kayu memang tidak enak. Apa boleh buat, kalau sudah tidak ada lagi yang bisa dimakan, kulit kayu pun jadilah.”
“Ngomong-ngomong, namamu siapa? Dari kemarin kau belum memberi tahu namamu.”
“Aku Vorg, peri hutan.”
Dan begitulah, sambil menunggu badai yang seakan tak akan pernah berlalu, mereka menghabiskan waktu dengan bercakap-cakap atau terdiam sambil memandangi api. Anehnya, Freeia merasa aman dan nyaman di samping pemuda ini. Dalam diam pun tidak ada kecanggungan. Rasanya seperti sepasang teman lama. Vorg pun merasa heran, belum pernah ia bercakap-cakap dengan siapa pun seperti dengan Freeia. Rasanya begitu alami. Dan keterbukaan serta keceriaan Freeia membuat hatinya terasa hangat, seperti menemukan sebuah rumah yang selama ini tak dimilikinya.
Ketika mereka lelah, karena mereka bahkan tak dapat membedakan siang dan malam, Freeia akan tidur di salah satu sudut gua sementara Vorg berbaring di sudut satunya. Vorg memaksa Freeia mengenakan mantelnya, sementara ia sendiri tidur berselimutkan sehelai daun lebar yang dijumpainya di luar gua.
Tali peri sangat berguna. Vorg memakainya untuk mencari ranting kayu untuk menjaga api tetap menyala, juga untuk mencari makanan. Dan mereka berdua memakainya bila ingin buang air di luar gua.
Kisah Freeia dan Vorg part.5
Berjam-jam mereka mendaki bebatuan berlapis salju itu. Semakin lama, kaki Freeia terasa semakin berat. Ia tidak terbiasa dengan aktifitas fisik yang berat seperti itu. Apalagi sejak badai semalam perutnya belum diisi apa-apa. Sepatunya sudah basah dari tadi karena menapak di salju. Sepatu itu terbuat dari kelopak bunga yang lembut dan tidak kedap air. Pandangannya mulai berkunang-kunang. Hanya punggung Vorg yang berada beberapa meter di depannya yang menjadi fokusnya. “Satu langkah lagi… Satu langkah lagi… Satu langkah lagi…” litani itu seakan bergaung di kepalanya sementara ia terus melangkah mengikuti Vorg yang berjalan sambil sesekali menghentak-hentakkan kaki untuk memadatkan salju di depannya agar Freeia lebih mudah melaluinya.
Sementara itu Vorg berkonsentrasi pada jalur yang harus mereka tempuh. Ia berusaha mencari jalan dengan medan yang termudah supaya dapat diiuti oleh peri mungil di belakangnya. Sesekali ia mengerling dengan sudut matanya dan melihat Freeia masih mengikutinya. Ia tak menyadari kelelahan yang dirasakan peri manis yang terseok-seok mengikutinya karena Vorg sendiri sudah terbiasa berjalan atau memanjat seharian tanpa makanan sedikitpun.
Entah sudah berapa lama mereka berjalan ketika cahaya di langit tampak memudar. Kegelapan perlahan bertambah pekat dan Vorg mulai gelisah karena firasatnya mengirimkan sinyal-sinyal negative di hatinya. Freeia tampak tak menyadari apa pun karena ia sudah terlalu lemas untuk bahkan berpikir tentang apa pun. Tiba-tiba suara gemuruh angin mulai terdengar di kejauhan.
“Gawat! Kelihatannya badai akan datang lagi. Kita harus segera mencari perlindungan,” kata Vorg sambil menoleh memandang Freeia. Alangkah terkejutnya Vorg melihat Freeia yang berjalan sempoyongan. Bibirnya pucat dan tubuhnya menggigil. Dengan sigap dihampirinya Freeia dan menangkapnya tepat ketika Freeia terjatuh karena kelelahan.
Angin bertiup semakin kencang. Badai semakin mendekat. Dibopongnya tubuh mungil Freeia dan ia pun dengan cepat merambah semak-semak dan gundukan-gundukan batu yang mencuat untuk mencari tempat berlindung. Akhirnya Vorg menemukan semacam gua yang cukup dalam di punggung bukit itu ketika raungan angin sudah begitu dekat. Ia pun masuk ke dalam gua dan dengan hati-hati diletakkannya Freeia di lantai gua. Dengan cepat dibersihkannya gua itu sekedarnya dan dipindahkannya Freeia ke sudut gua yang terlindung dari angin.
Vorg mengumpulkan sebanyak mungkin ranting-ranting kayu dan dedaunan kering yang bisa dijumpainya dan meletakkannya kayu-kayu itu dalam gua. Kemudian dibukanya pelindung sikunya yang terbuat dari cangkang kumbang. Diisinya kedua cangkang itu dengan salju yang bersih untuk dicairkan menjadi air minum. Tapi sayang, sebelum ia berhasil mencari sesuatu untuk dimakan badai yang ganas itu sudah kembali bertiup di luar gua. Cepat-cepat Vorg masuk untuk berlindung di dalam gua.
Hal pertama yang dilakukannya adalah membuat api di tengah gua dengan cara menjentikkan 2 buah batu sampai muncul percikan bunga api di antaranya. Setelah api yang riang menari-nari menghangatkan gua itu, ia pun memanaskan salju yang tadi diambilnya dengan cara menggantung cangkang kumbang yang berisi salju pada sebatang ranting yang ditancapkannya di lantai tanak di samping api unggun. Kemudian perlahan Vorg menghampiri Freeia yang tergolek di sudut gua. Tubuhnya masih agak menggigil dan bibirnya yang pucat tampak pecah-pecah terkena terpaan udara dingin.
Sepatunya basah. “Dasar bodoh! Mana bisa sepatu empuk begitu dipakai untuk perjalanan berat,” pikir Vorg. Perlahan dibukanya sepatu Freeia. Tampak kakinya yang mungil kini pucat dan keriput karena basah dan kedinginan. Vorg melepas mantel bulunya dan menyelimuti tubuh Freeia dengan mantel itu. Mantelnya yang putih (mungkin dari musang putih atau serigala putih yang bulunya tersangkut di semak-semak tempat Vorg menemukannya) tampak kontras dengan kulit Freeia yang kecoklatan dan rambutnya yang hitam legam. Selanjutnya Vorg berusaha menghangatkan kaki Freeia dengan menggosoknya keras-keras agar darah kembali mengalirinya. “Kecil sekali kakinya,” pikir Vorg sambil terus menggosok sampai dirasanya kehangatan mulai terasa di kaki Freeia dan warna kemerahan mulai kembali di kulitnya.
Air panas sudah siap. Vorg meniupi air panas itu dan membawanya kepada Freeia. Ia menopang kepala Freeia dengan tangan kiri dan meminumkan air hangat itu ke mulut Freeia dengan tangan kanannya. Sebagian airnya tumpah dan mengalir ke pipi dan leher Freeia, tetapi sebagian lagi berhasil melewati kerongkongan gadis itu. Mengangguk puas, Vorg pun membaringkan Freeia kembali dan ia duduk di dekat mulut gua. Ditatapnya pusaran angin dan salju yang menutup setiap pemandangan yang ada di hadapannya. Raungan angin yang memekakkan tak hentinya menyerang pendengarannya.
Jemu mendengar suara angin, dikeluarkannya alat musik taringnya dari tas kulit ularnya, diselipkannya di sela-sela bibirnya dan Vorg pun mulai meniupnya. Alunan musik memenuhi gua kecil itu, menyuarakan kesepiannya, menyuarakan kegundahan hatinya memikirkan Trod adiknya, menyuarakan impian hatinya akan masa depan yang ia pun tidak tahu seperti apa rupanya.
TO BE CONTINUED….
Nah, sampe di sini saya mulai bercabang ide nih. Boleh kasih masukan?
Apa lebih baik cerita ini dilanjut tetap sebagai cerita petualangan biasa dengan sedikit greget cinta (Rating remaja)
Atau lebih baik cerita ini saya kembangkan jadi adventurous romance yang lebih cocok buat konsumsi dewasa (17 tahun ke atas, tapi ngga sampe vulgar banget kok ;p)
Hehehe polling nih ceritanya…. Thanks before
Sementara itu Vorg berkonsentrasi pada jalur yang harus mereka tempuh. Ia berusaha mencari jalan dengan medan yang termudah supaya dapat diiuti oleh peri mungil di belakangnya. Sesekali ia mengerling dengan sudut matanya dan melihat Freeia masih mengikutinya. Ia tak menyadari kelelahan yang dirasakan peri manis yang terseok-seok mengikutinya karena Vorg sendiri sudah terbiasa berjalan atau memanjat seharian tanpa makanan sedikitpun.
Entah sudah berapa lama mereka berjalan ketika cahaya di langit tampak memudar. Kegelapan perlahan bertambah pekat dan Vorg mulai gelisah karena firasatnya mengirimkan sinyal-sinyal negative di hatinya. Freeia tampak tak menyadari apa pun karena ia sudah terlalu lemas untuk bahkan berpikir tentang apa pun. Tiba-tiba suara gemuruh angin mulai terdengar di kejauhan.
“Gawat! Kelihatannya badai akan datang lagi. Kita harus segera mencari perlindungan,” kata Vorg sambil menoleh memandang Freeia. Alangkah terkejutnya Vorg melihat Freeia yang berjalan sempoyongan. Bibirnya pucat dan tubuhnya menggigil. Dengan sigap dihampirinya Freeia dan menangkapnya tepat ketika Freeia terjatuh karena kelelahan.
Angin bertiup semakin kencang. Badai semakin mendekat. Dibopongnya tubuh mungil Freeia dan ia pun dengan cepat merambah semak-semak dan gundukan-gundukan batu yang mencuat untuk mencari tempat berlindung. Akhirnya Vorg menemukan semacam gua yang cukup dalam di punggung bukit itu ketika raungan angin sudah begitu dekat. Ia pun masuk ke dalam gua dan dengan hati-hati diletakkannya Freeia di lantai gua. Dengan cepat dibersihkannya gua itu sekedarnya dan dipindahkannya Freeia ke sudut gua yang terlindung dari angin.
Vorg mengumpulkan sebanyak mungkin ranting-ranting kayu dan dedaunan kering yang bisa dijumpainya dan meletakkannya kayu-kayu itu dalam gua. Kemudian dibukanya pelindung sikunya yang terbuat dari cangkang kumbang. Diisinya kedua cangkang itu dengan salju yang bersih untuk dicairkan menjadi air minum. Tapi sayang, sebelum ia berhasil mencari sesuatu untuk dimakan badai yang ganas itu sudah kembali bertiup di luar gua. Cepat-cepat Vorg masuk untuk berlindung di dalam gua.
Hal pertama yang dilakukannya adalah membuat api di tengah gua dengan cara menjentikkan 2 buah batu sampai muncul percikan bunga api di antaranya. Setelah api yang riang menari-nari menghangatkan gua itu, ia pun memanaskan salju yang tadi diambilnya dengan cara menggantung cangkang kumbang yang berisi salju pada sebatang ranting yang ditancapkannya di lantai tanak di samping api unggun. Kemudian perlahan Vorg menghampiri Freeia yang tergolek di sudut gua. Tubuhnya masih agak menggigil dan bibirnya yang pucat tampak pecah-pecah terkena terpaan udara dingin.
Sepatunya basah. “Dasar bodoh! Mana bisa sepatu empuk begitu dipakai untuk perjalanan berat,” pikir Vorg. Perlahan dibukanya sepatu Freeia. Tampak kakinya yang mungil kini pucat dan keriput karena basah dan kedinginan. Vorg melepas mantel bulunya dan menyelimuti tubuh Freeia dengan mantel itu. Mantelnya yang putih (mungkin dari musang putih atau serigala putih yang bulunya tersangkut di semak-semak tempat Vorg menemukannya) tampak kontras dengan kulit Freeia yang kecoklatan dan rambutnya yang hitam legam. Selanjutnya Vorg berusaha menghangatkan kaki Freeia dengan menggosoknya keras-keras agar darah kembali mengalirinya. “Kecil sekali kakinya,” pikir Vorg sambil terus menggosok sampai dirasanya kehangatan mulai terasa di kaki Freeia dan warna kemerahan mulai kembali di kulitnya.
Air panas sudah siap. Vorg meniupi air panas itu dan membawanya kepada Freeia. Ia menopang kepala Freeia dengan tangan kiri dan meminumkan air hangat itu ke mulut Freeia dengan tangan kanannya. Sebagian airnya tumpah dan mengalir ke pipi dan leher Freeia, tetapi sebagian lagi berhasil melewati kerongkongan gadis itu. Mengangguk puas, Vorg pun membaringkan Freeia kembali dan ia duduk di dekat mulut gua. Ditatapnya pusaran angin dan salju yang menutup setiap pemandangan yang ada di hadapannya. Raungan angin yang memekakkan tak hentinya menyerang pendengarannya.
Jemu mendengar suara angin, dikeluarkannya alat musik taringnya dari tas kulit ularnya, diselipkannya di sela-sela bibirnya dan Vorg pun mulai meniupnya. Alunan musik memenuhi gua kecil itu, menyuarakan kesepiannya, menyuarakan kegundahan hatinya memikirkan Trod adiknya, menyuarakan impian hatinya akan masa depan yang ia pun tidak tahu seperti apa rupanya.
TO BE CONTINUED….
Nah, sampe di sini saya mulai bercabang ide nih. Boleh kasih masukan?
Apa lebih baik cerita ini dilanjut tetap sebagai cerita petualangan biasa dengan sedikit greget cinta (Rating remaja)
Atau lebih baik cerita ini saya kembangkan jadi adventurous romance yang lebih cocok buat konsumsi dewasa (17 tahun ke atas, tapi ngga sampe vulgar banget kok ;p)
Hehehe polling nih ceritanya…. Thanks before
Kisah Freeia dan Vorg part.4
Freeia terbangun dalam keheningan. Kepalanya berdenyut-denyut, seluruh tubuhnya terasa ngilu. Perlu beberapa saat sampai ia menyadari apa yang telah terjadi. Perlahan ia bangkit dan memandang ke sekitarnya. Ternyata ia telah terlempar ke segerumbul semak dan tersangkut di sana. Salju menimbuni semak itu sehingga Freeia tidak terbawa lebih jauh oleh badai semalam. Untunglah ia begitu kecil hingga tubuhnya terselip di antara helai-helai daun dan tidak kehabisan nafas karena tertimbun salju.
Freeia merasa kedinginan. Sayapnya belum lagi tumbuh karena sebetulnya musim dingin belum tiba. Dicobanya untuk melangkah. Untunglah! Kedua kakinya masih berfungsi dengan baik. Dilayangkannya pandangan ke sekeliling semak tempatnya terdampar. Tampak daerah perbukitan yang berbatu-batu. Beberapa batang pohon yang pendek dan semak-semak menyembul di beberapa tempat. Sejauh matanya memandang semua tertutup salju.
Sulit sekali bagi peri sekecil Freeia untuk mengarungi salju yang dalam. Sebentar saja ia sudah merasa kelelahan, dan basahnya salju membuatnya gemetar kedinginan. Akhirnya ia kembali ke semak-semak tadi, menyusup masuk dan bergelung rapat di dasar semak sambil menggosok-gosok tangan dan lengannya, berharap untuk merasakan sedikit kehangatan.
Di manakah ia berada? Akankah ia bisa kembali ke padang permai kampong halamannya? Satu persatu wajah teman-temannya terlintas di benaknya. Dan Freeia mulai dicekam rasa takut. Gigilannya kini bercampur antara gigilan kedinginan dan ketakutan. Air mata meleleh di pipinya dan perlahan isak tangis terdengar dari balik gerumbul semak di bukit batu yang hening itu.
~oOo~
Telinga Vorg terasa sakit. Ada sesuatu yang hilang. Oh! Suara angin. Suara angin yang beberapa waktu belakangan ini menggempur gendang telinganya sudah berhenti. Seluruh tubuhnya terasa sakit. Dirabanya setiap anggota tubuhnya. Ajaib! Tidak ada satupun tulang yang patah. Rupanya ia terbawa angin dan terlontar ke suatu ceruk batu yang terlindung. Tubuhnya terguling ke dasar ceruk yang menyerupai gua kecil di tanah.
Segera Vorg bangkit dan mengamati daerah sekitarnya. Matanya terasa silau dengan begitu banyaknya sinar matahari di daerah yang terbuka itu. Badai sudah berhenti. “Aku harus mencari jalan pulang,” adalah pikiran yang pertama terlintas di benaknya. Ia pun mulai berjalan. Merambah tumpukan salju, memanjat dan menuruni gundukan batu, menerobos semak-semak, mencari jalan pulang. “Ke mana aku harus berjalan?” pikirnya bingung. Ia benar-benar tidak tahu di mana ia berada sekarang. Tetapi bagaimanapun ia harus mencoba, ia harus kembali kepada Trod. Maka ia pun terus berjalan.
~oOo~
Entah berapa lama ia berjalan, tiba-tiba telinganya yang terlatih menangkap samar-samar suatu suara yang asing dari balik sebuah gerumbul semak. Suara apakah itu? Ternyata suara isak tangis. Siapa yang menangis di tengah perbukitan batu yang lengang dan terpencil ini? Perlahan disibakkannya helai-helai semak itu.
“Aaaaa!!!” Freeia memekik ketakutan.
“Oh! Eh! Tunggu dulu,” Vorg pun tak kalah terkejut.
“Aaaaaaa!!!!” Freeia memekik ketakutan.
“Tenang, aku tidak akan menyakitimu,” Vorg dengan panik berusaha menenangkan gadis peri di hadapannya.
“Aaaaaaaaa!!!!!” Freeia memekik ketakutan.
“Hei! Dengarkan aku dulu!” Vorg mulai kebingungan.
“Aaaaaaaaaa!!!!!!” Freeia memekik ketakutan.
“DIAAAAAAMMM!!!!” Akhirnya Vorg berteriak jengkel.
“………” Freeia terdiam sambil membelalak karena terkejut.
Keduanya saling menatap untuk pertama kalinya.
“Eh! Makhluk apakah ini? Perikah? Dia manis sekali. Belum pernah aku melihat makhluk seindah ini,” pikir Vorg setengah terpana.
“Ih! Makhluk apa ini? Begitu… begitu… pucat! Tidak berwarna, hampir-hampir transparan. Sayang, padahal dia ganteng juga. Dan… Ah! Sepertinya lengan itu kuat sekali,” pikir Freeia. Matanya menelusuri makhluk jangkung (bagi ukuran peri padang) di hadapannya dari atas ke bawah.
Akhirnya Vorg mencoba untuk berkomunikasi lagi dengan makhluk manis yang baru dijumpainya itu, katanya, “Ehmm… Jangan takut ya? Aku tidak akan menyakitimu. Tapi, apa yang sedang kau lakukan di yempat seperti ini?”
“Oh! Aku Freeia, peri padang rumput. Semalam aku terbawa oleh badai salju dan tak sadarkan diri. Ketika siuman aku berada di sini. Hik! Aku mau pulaaaangg… hik!” Freeia mulai menangis lagi.
“E…eh! Jangan menangis dong. Sudahlah. Aku akan mengantarmu pulang. Ayo dong, jangan menangis ya? Ya?!” Freeia tertegun memandang pemuda peri yang tampak bingung di hadapannya.
“Ini peri benar-benar baik atau punya maksud jahat kepadaku ya?” pikirnya.
“Kalau aku ikut, jangan-jangan dia mengapa-apakan aku. Tapi kalau tidak ikut dengannya, aku harus ke mana yah?” Freeia berpikir keras sambil menggigiti bibir bawahnya. Keningnya sedikit berkerut dan jari telunjuknya menotol-notol dagunya. “Tetapi dia tidak tampak seperti penjahat,” Freeia masih menimbang-nimbang.
“Ini peri rada oon kali ya? Masa aku ngomong gitu aja ngga ngerti? Mikirnya serius amat,” pikir Vorg sambil mengamati kelakuan Freeia dengan heran.
“Oke deh! Aku ikut kamu!” tiba-tiba Freeia berseru sambil melompat berdiri hingga Vorg terlonjak kaget.
“Ke mana kita pergi sekarang?” Freeia bertanya dengan antusias. Ia ingin segera pulang ke padang rumputnya tercinta.
“Nanti dulu. Kita harus mendaki sampai ke puncak bukit ini supaya kita bisa melihat di mana kita sebenarnya berada dan ke mana kita harus pergi. Karena aku pun tidak tahu kita berada di mana sekarang,” Vorg menjelaskan dengan sabar.
“Yahhh! Kupikir dia tahu jalan,” pikir Freeia agak kecewa, diam-diam ia mencibirkan bibir bawahnya.
Sementara itu Vorg sudah mulai mendaki bukit. Terperanjat karena takut ditinggal, Freeia buru-buru mengejar Vorg. “Hei! Tunggu akuuu…” ujarnya seraya berlari-lari kecil menyusul Vorg.
TO BE CONTINUED….
Petualangan akan segera dimulai, tunggu kelanjutannya ya?
Freeia merasa kedinginan. Sayapnya belum lagi tumbuh karena sebetulnya musim dingin belum tiba. Dicobanya untuk melangkah. Untunglah! Kedua kakinya masih berfungsi dengan baik. Dilayangkannya pandangan ke sekeliling semak tempatnya terdampar. Tampak daerah perbukitan yang berbatu-batu. Beberapa batang pohon yang pendek dan semak-semak menyembul di beberapa tempat. Sejauh matanya memandang semua tertutup salju.
Sulit sekali bagi peri sekecil Freeia untuk mengarungi salju yang dalam. Sebentar saja ia sudah merasa kelelahan, dan basahnya salju membuatnya gemetar kedinginan. Akhirnya ia kembali ke semak-semak tadi, menyusup masuk dan bergelung rapat di dasar semak sambil menggosok-gosok tangan dan lengannya, berharap untuk merasakan sedikit kehangatan.
Di manakah ia berada? Akankah ia bisa kembali ke padang permai kampong halamannya? Satu persatu wajah teman-temannya terlintas di benaknya. Dan Freeia mulai dicekam rasa takut. Gigilannya kini bercampur antara gigilan kedinginan dan ketakutan. Air mata meleleh di pipinya dan perlahan isak tangis terdengar dari balik gerumbul semak di bukit batu yang hening itu.
~oOo~
Telinga Vorg terasa sakit. Ada sesuatu yang hilang. Oh! Suara angin. Suara angin yang beberapa waktu belakangan ini menggempur gendang telinganya sudah berhenti. Seluruh tubuhnya terasa sakit. Dirabanya setiap anggota tubuhnya. Ajaib! Tidak ada satupun tulang yang patah. Rupanya ia terbawa angin dan terlontar ke suatu ceruk batu yang terlindung. Tubuhnya terguling ke dasar ceruk yang menyerupai gua kecil di tanah.
Segera Vorg bangkit dan mengamati daerah sekitarnya. Matanya terasa silau dengan begitu banyaknya sinar matahari di daerah yang terbuka itu. Badai sudah berhenti. “Aku harus mencari jalan pulang,” adalah pikiran yang pertama terlintas di benaknya. Ia pun mulai berjalan. Merambah tumpukan salju, memanjat dan menuruni gundukan batu, menerobos semak-semak, mencari jalan pulang. “Ke mana aku harus berjalan?” pikirnya bingung. Ia benar-benar tidak tahu di mana ia berada sekarang. Tetapi bagaimanapun ia harus mencoba, ia harus kembali kepada Trod. Maka ia pun terus berjalan.
~oOo~
Entah berapa lama ia berjalan, tiba-tiba telinganya yang terlatih menangkap samar-samar suatu suara yang asing dari balik sebuah gerumbul semak. Suara apakah itu? Ternyata suara isak tangis. Siapa yang menangis di tengah perbukitan batu yang lengang dan terpencil ini? Perlahan disibakkannya helai-helai semak itu.
“Aaaaa!!!” Freeia memekik ketakutan.
“Oh! Eh! Tunggu dulu,” Vorg pun tak kalah terkejut.
“Aaaaaaa!!!!” Freeia memekik ketakutan.
“Tenang, aku tidak akan menyakitimu,” Vorg dengan panik berusaha menenangkan gadis peri di hadapannya.
“Aaaaaaaaa!!!!!” Freeia memekik ketakutan.
“Hei! Dengarkan aku dulu!” Vorg mulai kebingungan.
“Aaaaaaaaaa!!!!!!” Freeia memekik ketakutan.
“DIAAAAAAMMM!!!!” Akhirnya Vorg berteriak jengkel.
“………” Freeia terdiam sambil membelalak karena terkejut.
Keduanya saling menatap untuk pertama kalinya.
“Eh! Makhluk apakah ini? Perikah? Dia manis sekali. Belum pernah aku melihat makhluk seindah ini,” pikir Vorg setengah terpana.
“Ih! Makhluk apa ini? Begitu… begitu… pucat! Tidak berwarna, hampir-hampir transparan. Sayang, padahal dia ganteng juga. Dan… Ah! Sepertinya lengan itu kuat sekali,” pikir Freeia. Matanya menelusuri makhluk jangkung (bagi ukuran peri padang) di hadapannya dari atas ke bawah.
Akhirnya Vorg mencoba untuk berkomunikasi lagi dengan makhluk manis yang baru dijumpainya itu, katanya, “Ehmm… Jangan takut ya? Aku tidak akan menyakitimu. Tapi, apa yang sedang kau lakukan di yempat seperti ini?”
“Oh! Aku Freeia, peri padang rumput. Semalam aku terbawa oleh badai salju dan tak sadarkan diri. Ketika siuman aku berada di sini. Hik! Aku mau pulaaaangg… hik!” Freeia mulai menangis lagi.
“E…eh! Jangan menangis dong. Sudahlah. Aku akan mengantarmu pulang. Ayo dong, jangan menangis ya? Ya?!” Freeia tertegun memandang pemuda peri yang tampak bingung di hadapannya.
“Ini peri benar-benar baik atau punya maksud jahat kepadaku ya?” pikirnya.
“Kalau aku ikut, jangan-jangan dia mengapa-apakan aku. Tapi kalau tidak ikut dengannya, aku harus ke mana yah?” Freeia berpikir keras sambil menggigiti bibir bawahnya. Keningnya sedikit berkerut dan jari telunjuknya menotol-notol dagunya. “Tetapi dia tidak tampak seperti penjahat,” Freeia masih menimbang-nimbang.
“Ini peri rada oon kali ya? Masa aku ngomong gitu aja ngga ngerti? Mikirnya serius amat,” pikir Vorg sambil mengamati kelakuan Freeia dengan heran.
“Oke deh! Aku ikut kamu!” tiba-tiba Freeia berseru sambil melompat berdiri hingga Vorg terlonjak kaget.
“Ke mana kita pergi sekarang?” Freeia bertanya dengan antusias. Ia ingin segera pulang ke padang rumputnya tercinta.
“Nanti dulu. Kita harus mendaki sampai ke puncak bukit ini supaya kita bisa melihat di mana kita sebenarnya berada dan ke mana kita harus pergi. Karena aku pun tidak tahu kita berada di mana sekarang,” Vorg menjelaskan dengan sabar.
“Yahhh! Kupikir dia tahu jalan,” pikir Freeia agak kecewa, diam-diam ia mencibirkan bibir bawahnya.
Sementara itu Vorg sudah mulai mendaki bukit. Terperanjat karena takut ditinggal, Freeia buru-buru mengejar Vorg. “Hei! Tunggu akuuu…” ujarnya seraya berlari-lari kecil menyusul Vorg.
TO BE CONTINUED….
Petualangan akan segera dimulai, tunggu kelanjutannya ya?
Langganan:
Postingan (Atom)