Rabu, 23 Juni 2010

Kisah Freeia dan Vorg part.11

Bagian dalam dari istana itu gelap dan lembab. Penerangan hanya berasal dari beberapa buah obor yang ditancapkan pada dudukannya di sepanjang dinding lorong batu itu. Ada beberapa jendela tetapi semuanya tertutup rapat. Rupanya aktifitas di istana itu belum dimulai sepagi ini. Baguslah, berarti semakin kecil kemungkinan mereka tertangkap.

Cukup jauh Vorg dan Freeia merayap di sepanjang dinding lorong istana itu sampai menjumpai sebuah persimpangan.
“Kita harus ke mana? Kanan, kiri atau lurus?” tanya Freeia pelan.
“Aku juga tidak tahu. Menurutmu bagaimana?” Vorg balas berbisik.
“Perasaanku bilang sebaiknya kita ke kanan,” kata Freeia lagi.
“Baiklah, kalau begitu kita ke kanan,” kata Vorg.

Mereka berlari menyeberangi lorong itu dan kembali merayap di sepanjang dinding lorong yang mengarah ke kanan. Semakin masuk ke perut istana itu suasana bertambah suram. Bau lumut semakin menyengat ditambah bau-bauan lain yang membuat Vorg dan Freeia terpaksa harus menahan napas mereka dan menghirup udara sesedikit mungkin supaya tidak muntah karena bau yang memuakkan itu.
“Sepertinya kita salah jalan. Tidak mungkin tempat tinggal raja sebau dan sejorok ini,” kata Freeia dengan suara aneh karena berbicara sambil memencet hidungnya.
“Tapi kata Lloyd bangsa Troll memang menyukai kelembaban dan bau busuk bukan?” jawab Vorg juga dengan suara aneh karena memencet hidungnya. Maka mereka pun meneruskan perjalanan mereka. Untunglah sejauh ini mereka tidak menjumpai satu troll pun.

Beberapa meter kemudian Vorg tiba-tiba berhenti melangkah dan memberi isyarat agar Freeia tidak bersuara. Rupanya ada suara-suara yang mencurigakan dari tikungan di depan mereka. Mereka mengendap maju perlahan-lahan, Freeia memegang tangan Vorg kuat-kuat. Sesampainya di tikungan Vorg melongokkan kepalanya sedikit ketika tiba-tiba
“RRAAHHH!!! KKIIKKK!!!” Seekor tikus besar memekik sambil melompat melewati kepala mereka. Ekornya yang berulir-ulir dan panjang hampir menampar wajah Vorg yang untungnya sigap berkelit.
Freeia sempat memekik tertahan tetapi untunglah suara tikus dan suara troll-troll yang mengejar di belakangnya lebih berisik dan menutupi suara pekikan Freeia. Kedua troll itu sama sekali tidak melihat atau memperhatikan kedua peri kecil yang meringkuk di pojok tembok itu. Dengan gaduh mereka mengejar tikus besar tadi sambil membawa pentungan dan memaki-maki dengan ribut.

Begitu kedua troll tadi menghilang dari pandangan mereka Vorg segera menarik tangan Freeia menuju ruangan yang ditinggalkan oleh para troll itu. Rupanya ruangan itu adalah semacam gudang penyimpanan bahan-bahan ramuan dan obat-obatan sekaligus semacam laboratorium. Tampak ratusan stoples dan kotak-kotak kecil berderet-deret di rak-rak yang tersusun di sekeliling dinding ruangan sampai ke langit-langit. Di sepanjang tepi ruangan itu juga dipenuhi meja-meja berlaci dan lemari-lemari yang memuat banyak peralatan yang berbentuk aneh dan kotor. Setiap jengkal di ruangan itu tertutup debu dan sarang labah-labah bergelantungan di mana-mana. Bau lumut bercampur dengan bau jamu-jamuan menggantung di setiap penjuru ruangan bagaikan kabut yang menyesakkan. Di tengah ruangan terletak meja besar dengan bermacam-macam timbangan, tabung-tabung, pipet, alat suntik dan beberapa stoples yang terbuka di atasnya. Di pojok ruangan terdapat deretan kandang yang disusun seperti loker bertingkat-tingkat dan dipenuhi tikus-tikus besar seperti yang melewati mereka beberapa waktu yang lalu. Sepertinya tikus itu kabur ketika akan dijadikan tikus percobaan oleh kedua ilmuwan troll tadi.

“Tidak mungkin permata itu ada di sini, ayo kita keluar dari sini,” bisik Vorg kepada Freeia yang tampak memandang ke sekeliling ruangan itu dengan ekspresi jijik campur takjub.
“Tunggu sebentar. Kelihatannya ini cukup menarik,”Freeia malah melayang terbang ke atas meja tempat kerja para ilmuwan troll. Sambil bergidik dilewatinya sebuah botol yang berisi organ-organ hewan entah apa yang diawetkan dan melayang-layang di dalam cairan berwarna kehijauan. Dibacanya catatan yang ditinggalkan kedua troll itu.
“Lihat ini Vorg. Ramuan penyembuh luka dalam sekejap,”Freeia berjalan mundur sambil membaca dengan seksama. Dia menggigiti bibir bawahnya dan mengerutkan keningnya,”Hmm… kelihatannya ini bisa berguna.”
Sementara itu Vorg sudah memanjat naik melalui kursi batu yang berada di samping meja itu. Dia ikut mengintip catatan ramuan itu dari balik bahu Freeia.
“Sejumput kotoran siput air, dua tetes liur kadal sisik merah, tiga tetes air rendaman limpa tikus jantan, sekeping sisik ular bertanduk tiga. Dilarutkan dengan darah anak naga dan direbus dengan api kecil hingga mengental. Hiyyy!! Kok kelihatannya tidak meyakinkan yah?” Vorg meleletkan lidahnya.
“Tapi bagaimana seandainya ramuan ini benar-benar manjur?” kata Freeia lagi,”Kau bisa mencobanya pada lukamu.”
Dengan ragu Vorg memandang cairan hitam berbau busuk yang menggelegak lembut di dalam wadah yang dipanaskan di atas sejenis tungku berbahan bakarkan entah apa yang menyemburkan api kecil berwarna hijau dengan inti api berwarna ungu.
“Bagaimana? Kau mau mencobanya?” tanya Freeia lagi.
“Apakah menurutmu aman?” kata Vorg yang sebenarnya enggan,”Tikus tadi saja lari-terbirit-birit ketika akan dijadikan bahan percobaan.”
“Tentu saja. Untuk mencoba ramuan penyembuh kan mereka harus melukai dahulu tikus itu. Apakah kau tidak akan kabur bila akan dilukai dengan pisau sebesar itu?” kata Freeia sambil menunjuk pisau melengkung besar penuh karat yang memang tampak menyeramkan di dekat mereka.
“Baiklah!” akhirnya Vorg memutuskan,”Toh tidak akan bertambah parah lagi kan?” sambungnya tak yakin sambil membuka bebatan sobekan baju Freeia yang membalut luka di sikunya.

Maka Freeia pun menyobek sedikit ujung catatan ramuan itu dan menggulungnya untuk kemudian mencelupkannya pada ramuan hitam tadi. Begitu diangkat dari wadah tempatnya dipanaskan cairan lengket itu tampak menggumpal dan berubah warna menjadi perak keputihan, uapnya pun langsung menghilang begitu saja seolah-olah cairan kental itu tidak panas sama sekali. Freeia menyentuhkannya perlahan pada luka menganga yang tampak membengkak dan bernanah di siku Vorg.
Vorg menggigit bibirnya kuat-kuat dan memejamkan matanya untuk menahan rasa sakit yang mungkin ditimbulkan obat itu. Tetapi alih-alih merasa sakit, ia malah merasakan suatu perasaan sejuk di daerah sikunya yang terluka. Dibukanya matanya dan dilihatnya ramuan keperakan itu melapisi seluruh lukanya dan dalam sekejap daging dan kulitnya terbentuk sempurna seolah-olah tidak pernah terluka sama sekali. Rasa sakitnya pun menghilang tanpa bekas. Dicobanya untuk menggerakkan lengan itu. Tidak masalah. Dicobanya untuk memutarnya ke segala arah. Berfungsi dengan sempurna!

“Wow! Luar biasa!” hanya itu yang bisa diucapkannya. Freeia pun tercengang memandang khasiat dari ramuan itu.
“Bagaimana kalau kita membawanya sedikit? Pasti suatu waktu akan berguna,” kata Freeia masih terkagum-kagum.
Mereka pun memindahkan sedikit dari ramuan itu ke dalam salah satu cangkang kumbang yang biasa mereka pakai untuk minum dengan gulungan kertas tadi, membungkusnya dengan sobekan baju Freeia bekas membalut luka Vorg, kemudian mengikatnya kuat-kuat dengan seutas tali peri. Vorg memasukkan persediaan ramuan itu ke dalam tas kulit ularnya. Sobekan kertas tadi pun disimpannya agar tidak meninggalkan jejak yang akan membuat para troll curiga.

Kemudian Freeia terbang menyusuri rak-rak yang dipasang di sekeliling ruangan itu sambil membaca setiap label yang melekat pada jajaran botol-botol itu.
“Ramuan penumbuh kutil, ramuan pengeras rambut, ramuan pemikat lalat… Parfum aroma lumut basah, parfum aroma bangkai siput air, parfum aroma lumpur asam… Obat sariawan tanpa cacing, obat sariawan bercacing, obat batuk kering, obat batuk berdahak hijau, obat batuk berdahak hitam, obat batuk berdahak kuning… Hoekhh! Jadi mual aku,” kata Freeia sambil melayang turun kembali ke meja.

Dari kejauhan terdengar suara-suara troll mengobrol yang makin mendekat.
“Ayo kita keluar. Sepertinya mereka sudah kembali,” bisik Vorg sambil melompat turun ke kursi yang tadi dipakainya untuk naik ke meja. Freeia pun melayang turun mengikutinya. Sesampainya di lantai mereka cepar-cepat keluar dan bersembunyi di pojokan tembok yang tertutup bayang-bayang obor yang ditancapkan di atasnya. Dan benarlah. Tampak kedua ilmuwan troll tadi datang mendekat. Troll yang berambut dan berkumis kuning tua memanggul pentungan di bahunya sementara troll pendek yang berambut pendek dan mekar ke segala arah berwarna biru elektrik menjinjing ekor tikus yang meronta-ronta dan mencicit ribut di tangannya.
“Untung kita berhasil menangkap tikus ini. Kalau sampai masuk ke kamar Raja, bisa-bisa kepala kita dipenggalnya,” kata si rambut biru.
“Betul! Padahal hampir saja kita terlambat. Satu, dua, tiga, empat pintu dilewatinya. Tikus ini sungguh lincah dan lihai berkelit. Tepat di depan pintu kamar Raja kita berhasil menangkapnya tadi. Untung Raja tidak terbangun,” si rambut kuning mengiyakan.
Dan mereka pun masuk ke dalam laboratorium mereka seraya menutup pintunya.
“Harus ditutup. Jangan-jangan tikus sialan ini kabur lagi nanti,” ujar salah satu troll itu samar-samar dari balik pintu yang kini tertutup. Ternyata setelah pintu ditutup dinding batu itu tampak seperti dinding batu biasa tanpa terlihat pintu sedikitpun.

Vorg dan Freeia berpandang-pandangan.
“Ternyata kita sudah melewati kamar Gorchuk di lorong tadi,” bisik Vorg.
“Ya. Pintu kelima dari tikungan tadi bukan?” sahut Freeia penuh semangat.
“Tapi, perasaan tadi kita tidak melewati satu pintu pun?” kata Freeia lagi.
“Pandanglah pintu laboratorium itu. Memang sangat tersamar bukan? Mari kita melihatnya dari dekat,” jawab Vorg sambil menggamit lengan Freeia.

Mereka menghampiri bagian dinding yang tadi merupakan pintu masuk ke laboratorium. Tidak tampak tanda-tanda pintu sama sekali. Vorg dan Freeia meraba-raba dinding tersebut mencari celah yang merupakan tanda batas tepi pintu yang mereka cari, tetapi tetap mereka tidak menemukannya.
“Hmm… Aneh sekali,”Freeia menotol-notol dagunya dengan jari telunjuk tanda ia sedang berpikir keras. Sementara itu Vorg memandang seluruh permukaan dinding dengan seksama. Pandangannya menelusuri tempat di mana pintu tadi berada dari bawah, perlahan-lahan naik ke atas hingga mencapai langit-langit lorong itu.
“Freeia, lihat! Rupanya di atas pintu itu ditandai dengan semacam plakat yang merupakan nomor ruangan atau sejenisnya” Vorg berbisik sambil menunjuk semacam plakat kusam yang ditempelkan di atas pintu hampir mendekati langit-langit lorong batu itu,”Pantas saja kita tidak melihatnya. Tinggi sekali, tersamar pula saking kotornya.”
“Berarti kita tinggal mencari cara membuka pintunya,” sambung Freeia penuh semangat.
“Kedua troll yang ada di dalam akan curiga bila pintunya tahu-tahu terbuka. Lebih baik kita menunggu sampai mereka keluar,” kata Vorg lagi
“Tapi bagaimana jika mereka tidak keluar-keluar sampai malam?” tanya Freeia.
“Kalau begitu sebaiknya kita mencari dahulu letak kamar Raja Gorchuk, bagaimana?” Ujar Vorg.
“Baiklah!” Freeia pun setuju.

Vorg memimpin di depan. Kembali mereka mengendap-ngendap kembali ke jalan yang telah mereka lewati sebelumnya. Sesampainya di tikungan Vorg berkata,“Kita harus berhati-hati kalau-kalau tiba-tiba ada troll yang keluar dari salah satu pintu itu,”
Mereka berjalan sambil memperhatikan bagian atas dari dinding di sebelah kanan mereka. Dan benarlah, Setiap beberapa meter ada semacam plakat yang tertempel di sana. Plakat itu memuat lambang-lambang yang tidak mereka pahami.

Pintu pertama, kedua, ketiga dan keempat mereka lewati.
“Berarti yang berikutnya pintu kamar Gorchuk,” Vorg berbisik pada Freeia yang menempel rapat di belakangnya sambil tanpa menghentikan langkahnya. Ia baru berhenti ketika pintu kelima sudah tepat berada di hadapan mereka. Sambil memberi tanda kepada Freeia untuk mengikutinya Vorg menyeberangi lorong itu.

Mereka memandang ke atas ke arah plakat di atas pintu kelima. Memang plakatnya lebih besar dan di sekeliling tepiannya dihiasi oleh ornamen-ornamen seperti ukiran, tidak polos seperti plakat-plakat lainnya.
“Kira-kira bagaimana cara membuka dan menutup pintu-pintu ini ya?” baru saja Vorg selesai berbicara ketika pintu di hadapan mereka mendadak menggeser terbuka dan di hadapan mereka tampak sepasang kaki besar mengenakan sepatu bot yang terbuat dari sejenis kulit binatang melata. Saking kagetnya kedua peri itu tidak sempat bersembunyi atau berbuat apa pun.
“Gawat! Matilah kita,” hanya itu yang sempat terlintas di pikiran mereka saat itu.

TO BE CONTINUED….
Apakah kedua peri itu akan tertangkap?
Bagaimana nasib mereka dan keempat Ratu Musim?
Nantikan lanjutannya di Kisah Freeia dan Vorg part.12

Tidak ada komentar:

Posting Komentar