Rabu, 23 Juni 2010

Kisah Freeia dan Vorg part.1

Di sebuah padang rumput nan permai di negeri yang teramat jauh, di mana ribuan kuntum bunga aneka warna menghiasi setiap jengkal tanah berpermadani rumput sehalus beledu, hiduplah sekelompok peri-peri mungil dengan damai.

Di musim semi, saat bunga-bunga bermekaran, mereka akan bernyanyi dan menari bersama kumbang, lebah dan kupu-kupu, menikmati madu yang lezat, tunas rumput baru yang manis dan embun yang murni menyejukkan.

Di musim panas, saat matahari bersinar cerah dan awan berarak bagaikan gumpalan kapas di langit, peri-peri berkejaran di antara rerumputan yang meninggi sambil mengumpulkan biji-bijian yang hangat dan wangi terpanggang sinar matahari, juga buah berry liar yang ranum dan manis yang tumbuh menggerumbul di semak-semak.

Di musim gugur, saat helai-helai mahkota bunga mulai berguguran, saat hujan mulai rajin membasahi bumi, mereka bermain di parit jernih di tepi padang, bersampan dedaunan, berdayung ranting, kadang seekor ikan berbaik hati menghela daun tumpangan mereka menyusuri lika-liku parit dengan kecepatan tinggi, membuat peri-peri kecil terpekik senang menikmati jet ski dadakan ala peri.

Dan di musim dingin, saat serpih-serpih lembut salju pertama turun dari langit, sayap akan tumbuh di punggung peri-peri padang, sepasang sayap yang tipis gemerlap namun liat dan hangat. Sayap itu diperlukan karena peri-peri itu begitu kecil, mereka akan terbenam di tumpukan salju bila mereka berjalan, dan sayap itu akan membungkus hangat tubuh kecil mereka saat mereka bergelung tidur di dalam liang-liang mereka di dalam tanah.

Alkisah, hiduplah seorang gadis peri mungil bernama Freeia. Freeia benar-benar mungil, bahkan untuk ukuran peri sekalipun. Matanya bulat berkilauan, berwarna hitam seperti sepasang kancing baru, hidungnya kecil dan agak mencuat ke atas, bibirnya pun kecil, dengan sederetan gigi-gigi kecil seputih mutiara dan senyum nakal yang selalu tersungging di sudutnya. Anehnya, kulitnya berwarna coklat keemasan dan rambutnya yang lembut berwarna hitam pekat, berkilat seperti sepatu yang baru disemir, tergerai membingkai wajahnya yang oval, menampakkan kedua ujung telinganya yang runcing di sisi kepalanya.

Freeia benar-benar mencuat di antara para peri lainnya yang rata-rata berambut pirang, pink, biru atau ungu, dengan kulit putih pucat dan mata berwarna biru, hijau, ungu, atau kuning keemasan. Akan tetapi pembawaannya yang nakal dan ceria membuatnya disukai semua peri-peri lainnya. Freeia lah yang selalu menemukan permainan baru yang mengasyikkan, seperti balap semut, lontar embun, arung parit dan ayun sulur. Freeia juga lah yang selalu punya gagasan untuk berbuat kenakalan, seperti mengecat kumbang-kumbang dengan berbagai warna dan pola di saat mereka tidur, hingga terjadi kekacauan dan kepanikan yang cukup parah ketika mereka bangun, atau menukarkan semua perabot di rumah Tuan Berslaa dan rumah Tuan Mugsy, atau mengambil semua topi kuncup bunga yang sedang dijemur setelah dicuci sehabis dipakai saat perayaan awal musim semi sehari sebelumnya dan membawanya ke rumah peri kecil Dixie sampai-sampai Ibu Dixie kebingungan setengah mati.

Tetapi peri-peri besar selalu kehilangan kata-kata ketika memarahi Freeia karena ia selalu punya alasan untuk setiap perbuatannya. Saat dimarahi karena mengecat kumbang-kumbang, ia berkata ,"Tetapi kasihan, kumbang-kumbang itu semuanya berwarna hitam, tidak seperti kita yang memakai baju bunga berwarna-warni atau seperti kupu-kupu yang bersayap indah. Aku hanya ingin membuat mereka terlihat lebih cantik."

Saat dimarahi karena menukar perabot rumah Tuan Mugsy dan Tuan Berslaa, ia berkata ,"Tapi kupikir mereka akan senang berganti suasana, mereka tidak pernah melakukan apa pun yang menarik, dan mereka sama-sama tidak punya teman, mungkin dengan begitu mereka bisa saling berkenalan...."
Dan saat dimarahi karena mencuri topi-topi kuncup bunga, ia berdalih ." Tapi kasihan Dixie kecil sedang sakit, ia tidak bisa ikut menikmati perayaan, kupiir topi-topi berwarna-warni akan menghiburnya dan membuatnya merasakan sedikit suasana perayaan musim semi di liangnya."

Tapi bukan hanya ide-ide nakal, Freeia juga selalu punya ide-ide kreatif untuk menyenangkan orang lain. Freeia memprakarsai pembuatan jembatan untuk melintasi parit, dengan bantuan ikan-ikan dan katak-katak, mereka menyusun ranting-ranting dan sulur-sulur menyebrangi parit, kemudian mengikatnya dengan tali peri, tali yang terbuat dari sayap-sayap peri yang rontok di awal musim semi, tali yang lentur namun liat, tidak dapat putus , dipotong dengan pisau yang palling tajam sekalipun, hanya gigi peri padang yang dapat memutuskannya. Mereka juga menggunakan tali peri yang halus itu untuk menjahit baju mereka dari mahkota bunga, atau semua keperluan ikat-mengikat lainnya. Dengan adanya jembatan itu, peri-peri di kedua sisi sungai kini dapat saling mengunjungi tanpa harus bersampan, hal ini sangat berguna terutama bagi peri-peri tua yang sudah tidak sekuat dulu lagi, atau peri-peri kecil yang terlalu kecil untuk mendayung melawan arus parit yang cukup deras.

Freeia juga menciptakan lagu ulang tahun khusus untuk Nenek Kerlund, peri tertua di koloni mereka, saat ia merayakan ulang tahunnya yang ke-781. Seluruh warga desa menyanyikannya untuk Nenek Kerlund sambil membawakan makanan dan hadiah untuknya, hingga Nenek Kerlund tak henti-hentinya mengusap ujung matanya dengan ujung lengan bajunya sambil tersenyum lebar dan mengangguk-angguk senang. Lagunya seperti ini :
" Nenek Kerlund, Nenek Kerlund yang ceria....
Lebih tua dari kura-kuraaa....
Tapi lebih sehat dari singaaa....
Hangat, ramah, dan bijaksanaa....
Juga pandai berceritaaaa....
Selamat Ulang Tahun Nenek yang lucu....
Kami semua sayang padamuuu..... "
Yah, itulah Freeia kita yang ceria dan menggemaskan, nun jauh di padang sana......

TO BE CONTINUED....

Hehehe, minta komentar dan feedback-nya yahh
Kalau berkenan, nantikan Kisah Freeia dan Vorg part.2
Peace....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar