Tampilkan postingan dengan label contemplation. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label contemplation. Tampilkan semua postingan

Rabu, 23 Juni 2010

Wajah dalam Cermin

Wajah itu menatapku dari dalam cermin. Wajah yang sangat familier, tapi juga asing karena selama ini aku kurang akrab bergaul dengan cermin. Boleh dibilang bahkan aku cenderung untuk menjauhi cermin karena aku kurang menyukai apa yang kutemukan di sana.
Tetapi malam itu aku menatap wajah itu dengan seksama. Memperhatikan setiap detilnya, menganalisa setiap bagiannya.
Aku melihat dahi yang lebar, persis dahi ayahku, dengan warna kulit yang sedikit lebih gelap dari bagian wajahku yang lain (yang juga tidak putih). Ibuku bilang sewaktu melahirkanku dulu, dokter meninggalkan ibuku yang baru mencapai bukaan lima untuk menangani pasien yang sudah mencapai bukaan sepuluh di rumah sakit lain dengan pesan untuk jangan dulu mengejan sebelum dokter kembali. Ternyata dalam waktu yang relatif singkat ibuku sudah mencapai bukaan sepuluh dan aku mulai mendesak keluar. Cukup lama beliau menahanku tepat di jalan lahir. Ketika dokter kembali, begitu melihat ujung rambut sang dokter, ibuku melepas semua pertahanannya dan akupun meluncur keluar dalam satu dorongan. Dahi dan ubun-ubunku berwarna kehitaman karena pembuluh-pembuluh darah di sana sempat terjepit cukup lama ketika ibuku menanti dokter yang tak kunjung datang. Untunglah lama kelamaan warna kehitaman itu memudar walaupun tidak sama persis dengan bagian wajahku yang lain.
Pandanganku beralih ke alis yang tipis dan tersebar tak beraturan di sepanjang tulang alis, bahkan sampai ke kelopak mata.
Disusul dengan sepasang kelopak mata yang tebal dan tanpa lipatan, dengan bulu mata yang lurus dan pendek-pendek. Begitu tipis dan pendeknya sampai kalau tidak diperhatikan benar-benar, tampak seolah-olah aku tidak mempunyai bulu mata sama sekali.
Kini aku memperhatikan bagian mata. Sepasang mata yang kecil dan sipit, dengan sudut luar yang mengarah ke bawah sehingga mennimbulkan kesan sayu. Seandainya saja sudut-sudut mata itu mengarah ke atas seperti mata kucing, mungkin akan tampak lebih menarik dan seksi, seperti Lucy Liu, salah satu pemeran tokoh Charlie’s Angels, atau Michelle Khan, seorang aktris Hong Kong yang terpilih menjadi salah satu James Bond’s girl (gadis pendamping James Bond) yang merupakan pilihan gadis-gadis terseksi sepanjang zaman.
Beralih ke hidung yang walaupun tidak pesek tetapi cukup besar, dengan sebutir baso sebagai pusat tepat di tengahnya. Kucoba memijitnya agar tampak lebih ramping, tetapi wajah itu malah terlihat aneh karena sudut matanya ikut tertarik. Akhirnya, dengan pasrah kulepaskan kembali hidung baso yang malang itu sambil menghembuskan nafas keras-keras.
Bagian terakhir dari wajah itu adalah sepasang bibir yang cukup lumayan sebetulnya, hanya saja bibir itu tampak sedikit kehitaman akibat pemakaian lipstick-lipstik murah yang kubeli waktu ABG, sebelum akhirnya aku menyerah dalam usahaku memperbaiki penampilanku ini.
Aku pun mengalihkan tatapanku ke bawah, menolak untuk menatap wajah yang mengecewakan itu lebih lama lagi.
Memang selama ini aku tidak pernah mengalami kesulitan bergaul dengan siapa pun, termasuk para pria. Mereka mengagumi efisiensi kerja dan luasnya wawasanku, kami biasa berdiskusi dan tukar pendapat. Topik apa pun bisa kuladeni dengan seimbang seolah-olah aku ini seorang pria seperti mereka, bahkan sampai membicarakan kaum wanita tanpa merasa kagok di depanku. Tapi kalau soal asmara, tak seorang pun melirikku. Seperti percakapanku siang tadi dengan serang rekan pria.
“Gila, gue kemaren ngeliat cewek cakep banget di BIP! Putih, mulus, pake hot pants sama tank top, keren boo! Pantatnya kenceng lagi, kaya bapaw!”
“Ah elo! Emang ngga cukup apa punya pacar satu? Kan si Rani juga udah cakep banget,” ujarku sambil diam-diam melirik pakaianku yang sangat jauh dari kategori seksi. Lagipula aku tidak cukup percaya diri untuk mengenakan pakaian seksi karena kurasa bentuk tubuhku kurang menunjang untuk itu.
“Iya dong! Pacar gue kan harus cakep. Kalo ngga cakep malu dong dibawa jalan, apalagi kalo ketemu temen, muka gue mau ditaro di mana kalo bawa cewek jelek?”
Dalam hati aku ngedumel, “Ngga sensitif! Ngga punya perasaan! Gua kan termasuk cewek jelek, sialan! Dia pikir gua bukan cewek apa?”
“Emang kenapa?” tantangku, “Yang penting kan hati sama otaknya. Diajak ngomong nyambung, saying suami, setia pula!”
“Puih! Cewek mah ngga usah pinter-pinter, ntar malah ngelunjak! Yang penting keren, jadi bangga ngegandengnya. Kalo urusan setia sih, selama doku mengalir, doi pasti setia kok, tenang aja,” sahutnya renyah.
“Emangnya barang? Bisa dibeli pake uang & gunanya Cuma untuk dipamerin doang? Enak aja!” ujarku ketus, tersinggung karena dia begitu merendahkan nilai dan martabat kaum wanita.
“Ya iya lah! Bayangin gue ngegandeng cewek udah item, jelek, gayanya kampungan lagi. Bisa-bisa disangka gue jalan sama pembantu gue dong!”
Aku pun malas membahasnya lebih lanjut karena rasanya hatiku perlahan tenggelam, amblas entah ke mana menyisakan ruang yang begitu hampa sampai-sampai terasa menyesakkan di dadaku.
Itulah penyebab aku mengamati wajahku di cermin malam itu, dan banyak malam-malam lain di mana aku menyesali penampilanku yang “biasa-biasa saja” kalau tidak bisa dibilang jelek.

Lamunanku terputus oleh suara anak bungsuku, “Mama! Susunya udah abisss!”
“Oh! Iya sayang, sebentar mama ke sana,” aku menyahut dengan riang.
Perlahan kuletakkan sisir yang kupegang di meja riasku, kembali kutatap bayanganku di cermin. Wajah yang menatapku mala mini masih wajah yang sama dengan wajah dalam cermin di malam itu dua belas tahun yang lalu, hanya sedikit lebih berisi, dan mulai ada timbunan lemak tipis di bawah daguku. Tetap tanpa polesan, tetap dengan hidung baso dan dahi yang lebih gelap. Yang membedakan hanyalah ekspresi damai dan penerimaan yang terpancar darinya, tak ada lagi penyesalan dan amarah di sana.
Diam-diam kuamati sosok suamiku yang sedang bercanda dengan kedua jagoan cilikku. Sosok yang gagah dan digandrungi wanita. Bahkan sampai saat ini masih banyak wanita yang menunjukkan perhatian lebih padanya. Tapi dia telah memilihku menjadi pendampingnya, mengasihiku dan menghormatiku. Alasannya? Ternyata kriteria seorang pria dalam mencari pacar dan mencari istri itu berbeda, dan dia menemukan apa yang dia cari di dalam diriku.
Jadi, kaum wanita yang merasa dirinya “biasa-biasa saja”, percayalah bahwa Tuhan menciptakan setiap kita sempurna adanya. Setiap kekurangan dan kelebihan kita ada dalam rancangan-Nya, bukan merupakan suatu kesalahan atau pun kelalaian. Dan Tuhan punya rencana yang indah dalam hidup kita, apa pun itu, asalkan kita sabar menanti dan mengikuti waktunya Tuhan.

Sekolah Kehidupan

Selama kira-kira 1 bulan terakhir ini aku didera permasalahan yang cukup pelik. Selama itu pula aku merasa bahwa Tuhan mengingatkan dan mengajarkan beberapa hal mengenai kehidupan ini kepadaku.

Yang pertama adalah berserah penuh. Akumengalami titik di mana aku merasa tidak mempunyai jalan keluar dan tak ada satu hal pun yang dapat kulakukan lagi mengenainya. Aku belajar untuk menerima bahwa segala usahaku sungguh tak ada artinya. Dan di saat-saat seperti itu hanya satu hal yang dapat kami lakukan, yaitu berserah dan memasrahkan semuanya kepada Tuhan. Berharap hanya pada belas kasihan dan kasih setia-Nya karena aku tak tahu lagi apa yang harus kulakukan.

Yang kedua adalah tidak bergantung pada manusia. Karena pada akhirnya manusia akan mengecewakan. Karena hanya Tuhan lah yang tetap setia dan tak pernah berubah. Hanya Tuhan lah yang tulus dan menilai manusia berdasarkan hatinya, bukan penampilannya, buan hartanya, bukan bukan statusnya dan bukan masa lalunya.

Yang ketiga adalah terus berharap. Karena kita tahu bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan itu menimbulkan tahan uji, dan tahan uji menimbulkan pengharapan, dan pengharapan tidak mengecewakan. Dan karena tanpa pengharapan tak ada lagi alasan untuk bertahan, sehingga aku terus berharap dan berharap. Hanya doa, pencarian di dalam Firman Tuhan dan perenungan di dalam kasih-Nya yang menjadi penghiburan dan kekuatan bagiku.

Yang keempat adalah terus bersyukur. Karena begitu banyak berkat yang aku terima, bahkan di titik terendah dari kehidupanku. Sosok-Nya dan kasih-Nya muncul di sekitarku di saat-saat aku begitu membutuhkan-Nya. Kujumpai kasih-Nya saat membaca ayat-ayat Firman yang menguatkan. Kurasakan kasih-Nya lewat perhatian dan kehadiran sahabat-sahabat yang senantiasa menopangku. Kutemukan penghiburan-Nya dalam SMS dari saudara-saudara yang mengasihiku. Kualami jamahan-Nya lewat pelukan dan sentuhan mereka yang mencintaiku, menemaniku, menghapus air mataku, menguatkanku dan memberiku alasan untuk bertahan dan berjuang.

Yang kelima adalah bahwa Tuhan itu begitu baik. Sangat baik dan luar biasa baik padaku. Dari detik ke detik Dia pelihara aku. Dia mampukan aku berjalan maju walaupun ujung dari jalan yang kutempuh tidak terlihat. Seperti seorang ayah yang membimbing langkah anak-Nya di jalan yang berat dan berbatu-batu. Dia menuntun tanganku dan berjalan bersamaku, Diatak membiarkanku jatuh terjerembab. Dia mengangkatku saat aku terantuk jatuh dan berdarah. Dia menggendongku saat aku tak sanggup lagi melangkah, dan dia mencucurkan air mata bersamaku saat kumenangis di sepanjang perjalananku.

Yang keenam adalah pelajaran untuk mengampuni. Mengampuni orang lain dan diri sendiri, berdamai dengan orang lain dan diri sendiri, menerima kekurangan orang lain dan diri sendiri, merendahkan hati dan melembutkan hati untuk orang lain dan diri sendiri.

Dan yang terakhir adalah aku belajar untuk memfokuskan diri pada tujuan yang ditetapkan Tuhan, bukan ditetapkan oleh diriku sendiri. Untuk bersedia dipangkas dan dibentuk dengan cara Tuhan, bukan caraku. Untuk menanti segalanya terjadi sesuai dengan waktu yang ditetapkan Tuhan, bukan waktu yang kutetapkan sendiri. Dan untuk beriman bahwa semua yang Tuhan ijinkan terjadi adalah bagian dari rencana-Nya yang indah untuk hidupku.

Masalah tetap masalah. Ujung jalan tetap belum terlihat. Tapi aku tidak akan menyerah dan akan terus melangkah karena aku tahu bahwa Tuhan besertaku. Bukankah DIa yang menanggung beban kita saat DIa memanggul salib-Nya di Kalvari? Bukankah bilur-bilur pada tubuh-Nya yang menyembuhkan segala luka dan kelemahan kita?

Dan ketika tiba waktunya aku pulang menjumpai-Nya pada saatnya nanti, aku akan memperoleh semua jawaban, kelegaan, kedamaian dan penggenapan dari apa yang telah direncanakan-Nya bahkan sebelum aku dijadikan, asalkan aku selalu berpegang teguh pada imanku…

Sebuah lagu yang selalu menguatkan dan menjadi penghiburan bagiku di saat-saat yang berat adalah sebuah lagu anak-anak yang begitu indah dan member pengharapan.
Rumahku ada di dalam Surga
Di tempat suci dan mulia
Bila hatiku sedih dan susah
Kuingat rumahku di Surga…
May God bless all of you with His unchanging love….

Sekedar Intermezzo (Apa sih sebetulnya kebahagiaan itu?)

Seorang CEO sebuah perusahaan besar sedang meninjau proyeknya di pinggiran kota, kebetulan lokasi proyek tersebut terletak di pinggiran sebuah danau, dan di tepi danau tersebut tampak seorang pemuda kampung sedang memancing ikan sambil menikmati segelas kopi dan beberapa potong singkong rebus.
"Huh! Anak muda sekarang memang pemalas, bagaimana mungkin orang malas seperti itu bisa maju & meraih kabahagiaan?" pikir sang CEO yang memang berdedikasi tinggi itu.

Saking gemasnya, ia menyempatkan diri untuk menghampiri dan menegur pemuda tersebut, "Hei anak muda, mengapa di siang hari seperti ini kau bukannya bekerja malah membuang-buang waktu dengan memancing di sini? Tahu tidak, sedari muda, setiap hari aku bekerja dari pukul 7 pagi sampai pukul 8 malam, masa anak muda sepertimu kalah denganku?"

Si pemuda memandang sang CEO sambil tersenyum dan balik bertanya, "Memangnya Bapak mati-matian bekerja dari muda hasilnya apa?

"Uang tentu saja, selama sekian tahun aku sudah berhasil mengumpulkan banyak uang, sekarang aku menjadi orang kaya berkat kerja kerasku!" jawab CEO itu dengan bangganya.

Pemuda tadi bertanya lagi, "Setelah menjadi kaya, apa yang Bapak lakukan dengan uang itu?"

"Tentu saja melipat gadakannya lagi supaya bertambah banyak,kita tidak boleh cepat merasa puas bila ingin sukses!" spontan CEO itu menjawab.

"Lalu, untuk apa uang sebanyak itu?", si pemuda kembali bertanya.

"Untuk masa depan!", jawab sang CEO dengan nada mencemooh karena menurutnya pemuda itu tidak mempunyai masa depan.

"Memang, apa yang akan Bapak lakukan di masa depan setelah Bapak merasa uang Bapak sudah cukup banyak?" anak muda itu tidak kapok bertanya.

"Menikmati hidup, bersantai, melakukan hobi dan rekreasi...." sang CEO menjawab dengan pandangan agak menerawang membayangkan masa depannya.

"Nah, kalau menurut Bapak apa yang sedang saya lakukan sekarang?" tanya si anak muda dengan entengnya sambil menyuap singkong rebusnya.....



THE END

The moral of the story : Bukan berarti kita ngga boleh rajin bekerja, tapi ingat, kita bekerja untuk hidup, bukan hidup untuk bekerja.....

A Chinese Idiom says :
If you want to be happy for an hour - TAKE A NAP
If you want to be happy for a day - GO FISHING
If you want to be happy for a week - GO FOR A HOLIDAY TRIP
If you want to be happy for a month - WIN A LOTTERY
If you want to be happy for a year - GET MARRIED
If you want to be happy for a lifetime - GET PEACE WITH EVERYTHING AND EVERYONE, ACCEPT REALITY, BE GRATEFUL, AND ENJOY.....

Renungan 8 Januari 2010

Amsal 14:30 “Hati yang tenang menyegarkan tubuh, tetapi iri hati membusukkan tulang.”

Seorang anak bernama Lewis yang semenjak bayi ditinggalkan di depan pintu sebuah panti asuhan bercita-cita menciptakan sebuah ‘mesin penggali memori’ untuk mengingat kembali dan menemukan ibu kandungnya. Untuk itu hampir setiap malam dia bekerja keras menciptakan berbagai alat tanpa kenal waktu dan kata menyerah. Akibatnya, teman sekamarnya yang bernama Michael sering kali merasa terganggu dan tidak dapat tidur dengan nyenyak. Michael ini bercita-cita menjadi seorang pemain baseball terkenal. Tetapi suatu hari pada pertandingan yang sangat penting Michael tertidur di lapangan dan karenanya gagal menangkap bola penentuan yang datang tepat ke arahnya berjaga.

Setelah dewasa Lewis berhasil menjadi ilmuwan dan penemu terkenal. Ia akhirnya bahkan berhasil menciptakan 2 buah ‘mesin penjelajah waktu’. Salah satu mesin ini dicuri dan anak laki-laki Lewis mencari pencuri mesin ini sampai ke waktu ketika ayahnya masih kecil. Ternyata pencuri mesin tersebut adalah Michael yang merasa impiannya kandas gara-gara Lewis dan merasa iri akan kesuksesan Lewis sementara dirinya tidak berhasil menjadi apapun. Michael bermaksud menggagalkan presentasi mesin pertama ciptaan Lewis yang nantinya akan menjadi awal dari semua mesin-mesin sukses penemuannya. Ia mencuri mesin awal ini ke masa depan dengan maksud mencuri kesuksesan Lewis.

Singkat cerita akhirnya Lewis berdamai dengan Michael, dia bahkan sempat membangunkan Michael yang tertidur di lapangan pada masa kecilnya yang tentunya akan merubah masa depan Michael. Dan Lewis akhirnya menerima bahwa apa yang dijalani selama hidupnyalah yang membuatnya menjadi seperti sekarang ini, dan ia melepaskan keinginannya untuk mencari dan mempertanyakan alasan ibunya meninggalkannya di panti asuhan.

Demikian kira-kira jalan cerita dari sebuah film animasi buatan Disney yang berjudul ‘The Robbinsons’. Sebuah film yang bukan saja menghibur tetapi juga sarat dengan makna kehidupan.

Belakangan ini keadaan perekonomian agak lesu. Di toko kami pun keadaan kami boleh dibilang cukup berat dengan besarnya hutang dagang sementara penjualan tak menunjukkan peningkatan yang berarti. Siang tadi seperti biasa aku dan suamiku menunggui toko. Tiba-tiba seorang ibu masuk ke toko kami. Seperti biasa juga karyawan kami menghampiri ibu tersebut dan menanyakan apakah ada yang bisa dibantu. Ibu tersebut tidak menjawab sapaan ramah karyawan kami malah tak lama kemudian keluar meninggalkan toko kami setelah melihat-lihat sekilas barang-barang yang ada di toko kami.

Yang lebih menyesakkan lagi, tak lama kemudian kami melihat ibu tersebut keluar dari toko sebelah dengan menjinjing barang belanjaan yang sebetulnya juga tersedia di toko kami. Mengapa ia memilih untuk berbelanja di toko sebelah? Ditambah lagi dengan kami menengok ke luar toko, kami jadi melihat betapa beberapa orang berbelanja dalam jumlah besar di toko-toko lain sementara toko kami tetap sepi. Maklum di sepanjang jalan tempat kami membuka toko sebagian besar toko-toko yang ada menjual komoditi yang sejenis. Hal ini menyebabkan persaingan yang sangat ketat, bahkan terkadang kurang sehat di antara toko-toko yang ada.

Mulailah kami beralasan bahwa display toko sebelah lebih baik. Atau mungkin pelayanan karyawan kami kurang ramah. Atau karena kita tidak punya modal seperti orang lain yang tokonya tampak mewah dan barangnya lebih lengkap dan stok barangnya lebih banyak. Kami pun mulai memikirkan cara untuk merebut lebih banyak pembeli ke toko kami, mulai dari menurunkan harga sampai menata ulang display toko yang sebetulnya sudah sangat terbatas ini.

Ayat yang diambil dari Kitab Amsal di atas sebenarnya pertama kali meninggalkan kesan bagi kami ketika dibacakan pada suatu session di kelas pra-baptisan di gereja kami. Hari ini, Tuhan membukakan ayat itu bagi kami dan’menampar’ kami bahwa apa yang kami pikirkan di dalam hati kami dan apa yang berkecamuk dalam pikiran kami adalah buah dari iri hati yang merupakan salah satu sumber utama kejahatan di dunia, bahkan sejak awal Adam dan Hawa berdosa karena ingin menjadi serupa dengan Allah. Iri hati adalah kelemahan utama manusia yang selalu iblis pakai untuk menjatuhkan dan menjauhkan manusia dari kebenaran. Kamu mengingini sesuatu, tetapi kamu tidak memperolehnya, lalu kamu membunuh; kamu iri hati, tetapi kamu tidak mencapai tujuanmu, lalu kamu bertengkar dan kamu berkelahi. Kamu tidak memperoleh apa-apa, karena kamu tidak berdoa.(Yak 4:2)

Sungguh kami lupa bahwa iri hati bisa secara harfiah membusukkan tulang, hati dan pikiran kita. Dan iri hati pada akhirnya akan mendorong munculnya reaksi dan perilaku yang negatif dalam tindakan dan kehidupan kita. Seperti Michael dalam cerita di atas, iri hati menyebabkannya menyerah dan melupakan impian dan kehidupannya sendiri. Ia memfokuskan diri untuk mencelakakan Lewis hanya karena iri hati dan dendam yang dipeliharanya. Padahal belum tentu ia harus menjadi orang gagal hanya karena 1 pertandingan bukan?

Puji Tuhan hari ini kami diingatkan untuk menenangkan hati dan percaya pada pemeliharaan dan rencana Tuhan, seperti firman-Nya dalam Kitab Yesaya 30:15 “Sebab beginilah firman Tuhan Allah, Yang maha Kudus, Allah Israel: ‘Dengan bertobat dan tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu.’” Dan Kitab Yesaya 30:18 “Sebab itu Tuhan menanti-nantikan saatnya hendak menunjukkan kasih-Nya kepada kamu; sebab itu Ia bangkit hendak menyayangi kamu. Sebab Tuhan adalah Allah yang adil; berbahagialah semua orang yang menanti-nantikan Dia!”

Semoga dari hari ke hari, dari setiap pengalaman dan kejadian yang kita alami, iman kita bisa semakin bertumbuh dan semakin mengandalkan Tuhan dan kebenaran-Nya dalam menjalani kehidupan ini. Amin…

Renungan 7 Januari 2010

Mzm 42:6 “Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku.”

Hari ini perasaanku gundah dan tertekan. Tak ada alasan yang jelas sebetulnya, dalam bahasa pergaulan sehari-hari orang sering menyebutnya “bĂȘte”. Mungkin karena PMS yang sedang menghampiri bulan ini, atau mungkin karena kejenuhan di tempatku bekerja.

Setiap orang pasti pernah mengalaminya, mulai dari karena alasan sepele seperti yang kualami, sampai ke masalah berat yang menimpa di saat-saat tertentu dalam kehidupan kita. Atau bahkan perasaan tak nyaman ini muncul begitu saja tanpa alasan. ‘Got up on the wrong side of bed’ , begitu istilahnya dalam bahasa saudara kita di barat sana.

Terlepas dari alasan apa yang membuat kita merasa ‘bete’, pemazmur dalam ayat ini mengingatkan kita untuk selalu berharap dan bersyukur kepada Tuhan. Pemazmur juga menekankan kata ‘lagi’ dalam kalimat ‘Sebab aku akan bersyukur lagi kepada-Nya…’ yang menunjukkan bahwa pemazmur pun bukan sekali atau dua kali dalam hidupnya mengalami kegundahan seperti yang kita alami. Dan segala penghiburan, kesembuhan,pertolongan, damai sejahtera, sukacita, serta ketentraman bersumber hanya Pada-Nya, Penolong dan Allah kita yang tak pernah mengecewakan.

Kata ‘bersyukur’ di sini mengingatkan saya untuk mengucap syukur dan menghitung berkat yang Tuhan berikan kepada saya dari hari ke hari. Betapa pemeliharaan dan berkat Tuhan selalu mengiringi hidup kita sampai detik ini dan betapa Tuhan tidak pernah membiarkan anak-anak-Nya sampai jatuh tergeletak tanpa jalan keluar. Justru setiap pencobaan menjadi sarana untuk kita bertumbuh dalam kesamaan karakter kita dengan Kristus.

Ayat yang sama diulang lagi pada Mazmur 42:12 dan Mazmur 43:5. Jika pemazmur begitu berpegang pada ayat ini dalam setiap pencobaan yang dialami selama hidupnya, bukankah layak jika kita pun berpegang pada ayat ini setiap kali kita merasakan kegundahan, kegalauan dan cobaan perjalanan kita meniti hidup bersama-Nya?

Arti Natal

Bagi umat Kristiani, perayaan terbesar tentunya adalah Natal dan Paskah. Yang pertama adalah hari kelahiran Kristus, yang terakhir adalah hari kebangkitan Kristus dari maut.
Banyak dari kita hanya mengikuti perayaan-perayaan itu dengan begitu saja. Seringkali justru kita lebih mementingkan kemeriahan perayaannya daripada merenungkan makna dari Hari Natal atau Paskah itu sendiri. Khususnya pada setiap perayaan Natal, seolah-olah setiap gereja berlomba-lomba mengadakan perayaan semeriah mungkin, dengan bintang tamu artis terkenal dan dekorasi super mewah. Setiap umat berlomba-lomba tampil segaya mungkin, tak jarang acara-acara seperti ini dijadikan ajang pamer mobil dan pakaian, atau ajang ngeceng dan mencari pacar.
Selain itu biasanya diadakan acara makan-makan dan tukar kado atau memberikan hadiah pada keluarga dan teman-teman kita. Anak-anak pun menantikan hari ini karena pasti ada makanan enak dan hadiah menanti mereka baik di rumah maupun di gereja.
Alasannya? Merayakan kelahiran Tuhan Yesus. Kalau ulang tahun manusia saja dirayakan secara meriah, apalagi ulang tahun Tuhan kita. Bukankah demikian? Sebenarnya, tidaklah salah untuk merayakan Hari Natal dengan meriah, mengekspresikan rasa syukur dan sukacita kita atas kelahiran Sang Kristus selama kita menyadari apa arti Natal sesungguhnya dan bisa mengaplikasikannya dalam kehidupan kita.
Akan tetapi Natal ini marilah kita mencoba merenungkan Natal dari sudut pandang yang berbeda. Pernahkan kita menempatkan diri kita di posisi Yusuf, Maria, bahkan Yesus sendiri yang mengalami kejadian ini dua ribu sekian tahun yang lalu?
Bayangkan seorang Yusuf, yang menerima perintah untuk melakukan sensus di kota tempat asalnya, yaitu Kota Betlehem. Sedangkan ia sendiri berdomisili di Nazaret (Lukas 2:1-5). Bukan suatu perjalanan yang mudah, karena jarak yang harus ditempuh cukup jauh dan satu-satunya kendaraan yang tersedia adalah seekor keledai untuk istrinya yang sedang hamil tua.
Di samping kelelahan fisik, saat itu juga Yusuf sedang bergumul dengan segenap dirinya, emosi dan perasaannya, karena istrinya Maria mengandung seorang anak yang bukan merupakan benih dirinya. Bahkan selama sembilan bulan kehamilan, ia tak sekalipun bersetubuh dengan istrinya. Bukan hal yang salah bagi seorang Yusuf kalau ia berpikir untuk menceraikan istrinya itu, akan tetapi Tuhan mengirimkan sebuah mimpi kepada Yusuf untuk menikahi Maria dan merawat anak ini karena Dia lah yang akan menyelamatkan manusia dari dosa (Mat 1:18-25). Haruskah dia mempercayai mimpi ini? Dan seandainya benar, sanggupkah ia menjadi seorang ayah yang baik bagi anak ini yang adalah Putra Allah sendiri? Suatu tanggung jawab yang luar biasa besar dan menakutkan, sedangkan kita sebagai orang tua biasa saja kadang merasa ragu dan khawatir tidak dapat menjadi orang tua yang baik bagi anak kita, apalagi anak pertama.
Apakah saat itu terbersit di dalam pikiran Yusuf untuk merayakan kelahiran putranya dengan meriah? Mungkin tidak. Apakah saat itu dia tahu apa yang harus dialami olah putranya sebagai Juru Selamat? Pasti berbagai dugaan dan kekhawatiran melintas di pikiran dan hati bapak yang satu ini di sepanjang perjalanan jauhnya dari Nazaret sampa ke Betlehem.
Kemudian sesampainya di Betlehem, tak satu pun penginapan mau menerima mereka sehingga akhirnya mereka terpaksa bermalam di kandang domba (Lukas 2:6-7). Sedangkan malam itu adalah saatnya Maria untuk melahirkan. Apa yang berkecamuk dalam pikiran Yusuf saat itu? Panik? Pasti. Dia harus menjadi bidan darurat tanpa pengalaman, dan kondisi kandang yang kotor dan bau tentunya sangat mengganggu. Apa yang akan dilakukan seorang calon ayah jika rumah sakit tempat istrinya akan melahirkan ternyata kotor dan bau? Protes? Marah? Khawatir? Frustasi? Mungkin semuanya.
Sekarang, mari kita bayangkan perasaan seorang Maria pada saat itu dalam keadaan hamil sembilan bulan, dia harus melakukan perjalanan jauh ke luar kota dengan menunggang keledai. Seorang wanita dalam keadaan hamil sembilan bulan itu pasti merasa sangat tidak nyaman karena selain bobot tubuhnya yang bertambah (dengan kisaran umum 10-20 kg), tulang punggung pun terasa sakit karena harus menahan beban perut yang membuncit ke depan. Di samping itu, seluruh organ tubuh akan terdesak ke atas dan ke bawah karena sebagian besar rongga tubuh diisi oleh bayi, air ketuban, dan rahim yang ukurannya membesar sampai lebih kurang lima puluh kali ukuran normalnya. Biasanya seorang wanita hamil sudah mengambil cuti dan beristirahat total begitu kehamilannya menginjak bulan kedelapan.
Selain itu Maria pun mengalami pergumulan yang sama dengan suaminya. Menjadi orang tua Sang Kristus? Tak semua orang sanggup mengemban tanggung jawab yang sedemikian besar. Belum lagi sejuta tanda tanya tentang karya penyelamatan yang harus dilakukan sang anak.
Ketika tiba saatnya melahirkan di kandang domba, Maria terbaring hanya beralaskan jerami kotor dan serakan kotoran ternak, tanpa pertolongan medis profesional. Di tengah kesakitan dan ketakutan, dia harus melahirkan anak pertamanya sendirian, hanya ditemani sang suami yang selama ini tidak pernah menyentuhnya. Secara psikologis sangat berat bagi seorang wanita menjalani proses kehamilan dan melahirkan tanpa kedekatan fisik dan emosi yang intens dengan sang suami.
Kemudian setelah sang bayi lahir dengan selamat dan ditidurkan di palungan (tempat makanan) domba, datanglah para gembala dan orang-orang majus untuk memberi hadiah dan penghormatan bagi Sang Juru Selamat. Terkejut dan bangga, tentunya perasaan Maria dan Yusuf karena ternyata putra mereka sungguh adalah Anak Allah yang dipercayakan kepada mereka. Bersamaan dengan itu perasaan gamang pun timbul karena mereka hanyalah manusia yang tidak mengetahui rencana Allah yang maha besar dalam kehidupan keluarga mereka.
Tetapi setelah itu, malaikat memerintahkan mereka untuk lari ke Mesir karena Herodes sedang mencari anak mereka untuk membunuhnya (Mat 2:13-15). Kembali perasaan mereka terombang-ambing oleh ketakutan dan kekhawatiran. Apalagi kondisi fisik Maria masih lemah pasca melahirkan, ditambah lagi harus membawa seorang bayi merah dalam perjalanan jauh. Pernahkah kita mengalami bepergian dengan seorang bayi? Bayi yang masih sangat rentan dan lemah, dengan segala keperluan nya yang membutuhkan banyak perhatian dan tenaga. Apalagi di masa itu belum ada susu formula dan pampers yang sangat membantu meringankan tugas kita di masa kini.
Akankah dalam kondisi yang demikian Maria dan Yusuf memikirkan pesta pora dan kemeriahan?
Akhirnya, marilah kita mencoba, walaupun dengan segala keterbatasan kita, untuk menempatkan diri di posisi Yesus, sang tokoh utama dalam peristiwa Natal. Di malam itu, Dia menggenapi janji Tuhan untuk mengirimkan Putra-Nya untuk menanggung dan menebus dosa kita sehingga kita beroleh keselamatan dan hidup yang kekal. Penderitaan dan pengorbanan-Nya bahkan telah dinubuatkan dalam Kitab Yesaya jauh sebelum Ia dilahirkan (Yes 52:13–53:12).
Bagaimanakah cara Tuhan Yesus menebus dosa kita? Dengan menerima hukuman yang diperuntukkan bagi kita! Allah adalah Allah yang maha adil dan maha kudus. Tidak ada dosa yang berlalu begitu saja. Upah dosa adalah maut, titik! Dan tak ada dosa yang dapat menyentuh pelatarannya yang kudus. Sedangkan semua manusia telah berdosa, bagaimana cara kita menghampiri Allah?
Pada jaman Perjanjian Lama, Tuhan memberi jalan bagi manusia untuk menghapus dosa dengan korban sembelihan dan korban bakaran. Manusia juga diberi jalan untuk berkomunikasi dengan Tuhan melalui para Imam (perantara persembahan dan permohonan manusia kepada Tuhan) dan para nabi (perantara wahyu dan nubuat Tuhan kepada manusia)yang terpilih.
Tuhan Yesus, yang adalah Putra Tunggal Allah, yang adalah Allah sendiri, turun ke dunia untuk menjadi korban yang terakhir dan yang sempurna, yang membayar lunas dan mencuci bersih semua dosa manusia dari awal dan untuk selama-lamanya. Ia menerima semua hukuman yang diperuntukkan bagi kita, seperti tertulis dalam Pengakuan Iman Rasuli :
Menderita sengsara di bawah pemerintahan Pontius Pilatus
Disalibkan, mati dan dikuburkan
Turun ke dalam kerajaan maut
Dan pada hari yang ketiga bangkit pula dari antara orang mati
Naik ke Surga, duduk di sebelah kanan Allah, Bapa yang Maha Kuasa
Dan dari sana Ia akan datang
Untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati
Ia menerima penyiksaan secara fisik, mati dengan penuh penderitaan, dan turun ke dalam kerajaan maut (Neraka) selama tiga hari untuk menanggung dosa yang tak pernah dilakukannya, dosa yang kita lakukan setiap harinya.
Apa yang Yesus pikirkan saat ia dilahirkan ke dunia sebagai manusia yang hina? Menanggalkan segala kuasa dan kemuliaan-Nya hanya untuk menanggung dosa kita yang tidak berharga ini? (Flp 2: 6-8)
Dia dilahirkan hanya untuk disiksa sampai mati tanpa melakukan perlawanan untuk menanggung dosa yang tak pernah dilakukannya, hidup seperti apakah itu? Adakah di antara kita yang mau dilahirkan dengan nasib seperti itu? Apakah Yesus harus bersuka cita dengan semuanya itu? Tentu tidak, tetapi Dia menerima semua itu dengan rela dan tulus karena Dia begitu mengasihi manusia.
Apakah Allah Bapa bersorak sorai manyaksikan penderitaan Putra-Nya yang sejak dilahirkan sebagai manusia harus menanggung sengsara? Tentu tidak, tetapi Dia merelakan semuanya itu karena Dia begitu menginginkan keselamatan bagi setiap manusia di bumi (Yoh 3:16). Dan hanya Yesus, Anak Allah sendiri, yang dapat melakukan itu, hanya Dia lah satu-satunya korban tebusan yang cukup berharga untuk menggantikan nyawa kita, dan hanya melalui Dia lah kita dapat memperoleh hidup yang kekal (Yoh 14:6).
Setelah kita menyadari arti Natal yang sesungguhnya, arti kelahiran Kristus ke dunia ini, marilah kita merenungkan apa yang harus kita perbuat dengan anugerah yang sedemikian besar yang Tuhan limpahkan kepada kita.
Yang pertama adalah bersyukur, mensyukuri hadiah yang begitu berharga secara cuma-cuma, walaupun sebenarnya kita tidak layak mendapatkannya (Ef 2:8-9, Rm 3:24)). Mengingat kebaikan Tuhan setiap hari adalah hal yang sungguh sangat wajar, karena setelah menganugerahkan keselamatan, Dia masih menganugerahkan hidup, berkat, makanan, kesehatan, kebahagiaan, dan lain-lain yang tak terhitung banyaknya (Rat 3:22-23).
Yang kedua adalah membagikan keselamatan itu, karena sungguh malang mereka yang belum mengenal Tuhan Yesus dan belum menerima keselamatan yang daripada-Nya. Tuhan Yesus sendiri telah memberi perintah kepada kita untuk menjadikan semua orang murid-Nya (Mat 28:19-20). Caranya? Tidak semua orang bisa berkhotbah atau bersaksi secara langsung, akan tetapi semua orang bisa bersaksi dengan kehidupannya yang mencerminkan kasih dan ketaatan kepada Tuhan (Yoh 13:35), yang juga akan tampak pada buah-buah kehidupan yang kita hasilkan (Buah-buah Roh, Gal 5:22-23)
Yang ketiga adalah mengisi kehidupan ini dengan tindakan yang nyata kepada sesama, sebagai wujud syukur kita atas Kasih Tuhan kepada kita (1Yoh 3:18) dan sebagai bentuk nyata Kasih Tuhan dalam diri kita yang kita aplikasikan dalam kehidupan ini.
Yang terakhir adalah dengan menjaga kehidupan dan keselamatan kita. Menjaga kekudusan hidup kita, menjaga hubungan kita dengan Tuhan dalam doa dan pembacaan Firman, sehingga dari hari ke hari kita semakin teguh dalam iman dan hubungan kita pun semakin dekat dan intim dengan Bapa Surgawi pencipta kita.

Renungan ini terinspirasi dari sebuah lagu karya David Meece yang mengingatkan kita untuk melihat Hari Natal lebih dari sekedar perayaan agama semata
KARENA KITA
(David Meece)

Waktu kecil kita merindukan Natal
Hadiah yang indah dan menawan
Namun tak menyadari seorang bayi t’lah lahir
Bawa kes’lamatan ‘tuk manusia

Waktu pun berlalu dan kita pun tahu
Anugerah yang besar dari Bapa
Yang relakan Anak-Nya disiksa dan disalibkan
Di Bukit Kalvari, kar’na kasih

Karena kita Dia menderita
Karena kita Dia disalibkan
Agar dunia yang hilang diselamatkan
Dari hukuman kekal

T’lah kudapati jalan kehidupan
Tatkala kubukakan hati bagi Dia
Dalam ucapanku, dalam segalanya
Ku s’lalu memuji Dia… Puji Dia….

Karena kita Dia menderita
Karena kita Dia disalibkan
Agar dunia yang hilang diselamatkan
Dari hukuman kekal

Selamat Hari Natal 2009 dan Tahun Baru 2010…..

Sudah dimuat di majalah Kuasa Doa edisi Desember 2009

Disiplin pada Anak

Akhir-akhir ini sangat banyak berita tentang kekerasan dalam rumah tangga, yang menyita perhatian saya khususnya kekerasan fisik terhadap anak-anak. Baru-baru ini seorang rekan mengutip berita kematian seorang gadis cilik berusia 2 tahun karena dipukuli ayah kandungnya sendiri. Si ayah mengajukan pembelaan tidak bersalah dengan alasan ingin mendisiplinkan putrinya . Dunia macam apa ini?

Baru minggu yang lalu di gereja, khotbah pendeta minggu itu bertema tentang mendidik dan mendisiplinkan anak. Sempat pula dikutip ayat tentang menghajar anak dengan tongkat. Yang menjadi masalah di sini mungkin penafsiran tentang “tongkat” itu sendiri. Apakah ayat ini harus diartikan secara harfiah?

Secara pribadi, saya tidak setuju dengan hukuman secara fisik kepada anak-anak. Mengapa? Ada beberapa hal yang melandasinya.
1. Seorang anak seharusnya menemukan rasa aman dan kepercayaan pada orang tuanya. Bagaimana seorang anak bisa merasa aman kalau dia tahu bahwa sewaktu-waktu orang tua itu akan menyakitinya? Hal ini saya rasakan sendiri ketika masih kanak-kanak. Walaupun saya termasuk anak yang baik dan jarang dipukul, tetapi pengalaman yang sedikit itu sangat membekas di hati dan ingatan saya. Saya ingat perasaan takut saat ibu saya mendekat dengan kemoceng teracung di tangannya. Rasa pedih saat rotan itu mendarat di betis, dan bilur pukulan yang menonjol kemerahan di kulit saya setelahnya, hal itu tercetak jelas sampai hari ini. Dan ini walaupun efektif di masa kanak-kanak tetapi sempat menimbulkan masalah saat saya remaja karena saya merasa orang tua tidak menyayangi saya sebagaimana seharusnya. Saya menjadi anak yang pemberontak dan selalu menghindari rumah, dan bahkan sempat mengalami masalah yang cukup besar karenanya, karena saya selalu merasa tidak nyaman dengan orang tua. Walaupun orang tua menjelaskan apa kesalahan si anak, tetap kejadian itu akan membekas dan menjadi trauma dalam diri si anak. Walaupun mungkin kadar trauma akan berbeda pada setiap anak tergantung dari kepekaan dan kepribadian anak yang bersangkutan. Sebagai contoh suami saya pun semasa kecilnya beberapa kali mengalami dipukuli oleh orang tuanya. Walaupun tidak mengalami trauma dan pergumulan seperti yang saya rasakan karena dia seseorang yang lebih logis dan “cuek” daripada saya yang sensitif dan emosional, tetapi semua kejadian itu masih diingatnya secara detil, yang berarti memori yang menyakitkan itu terekam secara lebih jelas pada seorang anak, jauh melebihi ingatan akan kejadian yang menyenangkan. Bahkan pada suatu kejadian anjing kesayangan suami saya menggeram dan berusaha menggigit ayah suami saya pada saat beliau sedang “menghajar” anaknya. Alhasil, di sepanjang masa kanak-kanaknya, dalam benak suami saya Boboy sang anjing adalah sahabat terbaik dan pelindungnya yang paling setia. Suatu posisi kehormatan yang seharusnya ditempati oleh orang tua. Toh sebenarnya masih banyak metode lain yang lebih positif dalam mendisiplinkan anak. Trauma ini kadang berdampak lebih jauh dari yang kita pikirkan. Misalnya dalam mengasosiasikan fungsi suatu benda. Tangan : untuk bekerja, untuk membelai, untuk mengobati. Bukan untuk memukul, mencubit, menjewer. Sapu lidi : untuk membersihkan tempat tidur dari debu. Bukan untuk menyabet atau memukuli anak atau hewan peliharaan. Beberapa kali di toko saya, saya melihat bukti nyata dari kasus ini. Sekali seorang ibu datang bersama anaknya yang masih balita. Si ibu membeli sapu lidi, si anak langsung bertanya dengan wajah memucat ,”Mamah, itu buat apa?” Si ibu dengan kejam menjawab, “ Buat ngegebugin Ade kalo ngga bisa diem.” Kontan si anak mengkerut dan terdiam sepanjang sisa waktunya di toko saya sambil menatap si sapu lidi kutukan itu dengan nanar. Apakah kejadian seperti ini tidak menggugah hati seorang ibu? Ataukah ia akan berbangga hati karena telah “berhasil” mendisiplin sang anak?

2. Orang tua merupakan teladan. Anak secara otomatis akan mengikuti perilaku dan pola yang dijalani oleh orang tuanya.Orang tua yang sering menggunakan kekerasan fisik sebagai hukuman akan menanamkan pola ini pada benak sang anak. Akan muncul kecenderungan pada anak untuk melakukan kekerasan pada orang yang dirasanya merugikan atau bersalah kepadanya. Hal ini dapat kita lihat bahkan pada anak-anak usia playgroup tan TK. Seorang anak yang memukul temannya, pada saat ditanyai ia akan menjawab, “Habis Anto nakal!” seolah-olah itu adalah pembenaran yang universal, nakal = boleh/harus dipukul.

3. Orang tua pun hanyalah seorang manusia. Seringkali dalam memarahi dan mendisiplin anak orang tua terbawa emosi atau lebih melampiaskan kekesalan daripada terfokus pada penyelesaian masalah dan memikirkan efeknya pada si anak. Kadang kala hal ini bisa berbahaya bila hukuman fisik diterapkan, karena seringkali orang tua terbawa emosi dan menghukum secara berlebihan. Sangat banyak kasus kematian anak akibat dipukuli orang tuanya sendiri, dan sebagian besar dari orang tua itu merasa menyesal karena sebenarnya tidak bermaksud untuk membunuh sang anak.

4. Tubuh manusia, apalagi anak-anak, tidak tidak dirancang oleh Tuhan untuk menerima perlakuan kasar secara fisik. Seluruh tubuh manusia dilapisi dengan daging dan kulit yang lembut dan sensitif, lengkap dengan pembuluh darah dan ujung-ujung syaraf yang sangat peka di bawah permukaannya. Bahkan area yang katanya disediakan khusus untuk dipukul (yaitu pantat), setelah saya telaah lebih jauh saya berkesimpulan itu pun tidak tepat. Pantat itu diciptakan Tuhan sebagai alas duduk. Bayangkan kita dengan lapisan pantat yang tebal berlemak pun akan merasa pegal dan sakit jika harus duduk di permukaan yang keras untuk jangka waktu yang lama, apalagi kalau kita tidak punya pantat? Selain itu tepat di tengah pantat terletak ujung tulang ekor yang merupakan kumpulan ujung syaraf-syaraf utama di dalam sumsum tulang belakang. Seorang yang jatuh terduduk dan terbentur tepat di tulang ekor nya beresiko besar mengalami kebutaan, bahkan kelumpuhan.

5. Tuhan menciptakan panca indera yang sangat luar biasa pada manusia. Salah satu di antaranya adalah kulit, yang merupakan indera peraba. Dalam keadaan terpejam sekali pun, manusia dapat merasakan semilir hembusan angin membelai kulitnya, atau merasakan sehelai rambut yang disentuhkan kekulitnya. Bayangkan sesuatu yang sepeka itu harus menerima pukulan atau benturan yang keras. Dalam persepsi saya, pemukulan adalah bentuk penyiksaan, bukan disiplin. Bahkan dalam metode melatih hewan pun, pemukulan adalah metode yang tidak dianjurkan karena walaupun efektif akan tetapi hanya membuat hewan menurut karena takut. Masih banyak teknik lain yang lebih positif dan berdampak permanen dalam jangka panjang, seperti penggunaan sprayer, pengenalan simbol tertentu, dan terutama adalah pendekatan secara pribadi dengan kasih sayang. Bahkan dalam menjinakkan hewan buas seperti harimau dan singa pun, cemeti hanya digunakan untuk menciptakan efek dalam pertunjukan, atau untuk memberikan aba-aba untuk melakukan suatu kegiatan saat dilecutkan ke tanah. Tidak pernah cemeti tersebut dilecutkan ke tubuh hewan yang sedang dilatih.

6. Secara ilmiah dan psikologis pun, di jaman modern ini metode mendisiplinkan anak secara fisik sudah dikecam dan ditinggalkan. Secara ilmiah, sudah banyak survei dan percobaan yang membuktikan efektifitas yang rendah dari metode ini. Terutama dalam jangka panjang. Kualitas hubungan yang sehat antara orang tua dan anak di masa dewasanya, juga keberhasilan sang anak dalam kehidupan pribadi dan bermasyarakat sangat ditentukan oleh sehatnya kondisi mental dan psikis sang anak. Metode disiplin secara kekerasan pun hanya efektif apabila figur pen-disiplin ada di tempat. Seorang anak yang terlalu dikekang di rumah, biasanya akan bermasalah dengan disiplin di sekolah dan di lingkungan lain di luar rumahnya. Biasanya muncul kecenderungan menjadi trouble-maker atau menjadi anak yang tertutup dan insecure, tergantung dari bawaan kepribadian si anak. Demikian pula halnya setelah ia tumbuh dewasa, ia akan secepat mungkin berusaha melepaskan diri dari kungkungan orang tua (misalnya dengan menikah muda atau memilih bersekolah dan bekerja di luar kota). Dan begitu terlepas ia akan cenderung untuk memanfaatkan kebebasannya secara tidak terkendali, yang tentu saja berbahaya dan beresiko bagi kehidupannya sendiri.

Jadi, bagaimanakah cara mendisiplinkan anak secara efektif tanpa melukai sang anak? Dari beberapa buku yang saya baca, juga dari sharing dengan rekan-rekan orang tua dan dokter anak serta psikolog perkembangan anak, ada beberapa metode yang disepakati efektif dan positif untuk tumbuh kembang seorang anak, yaitu :
1. Kasih sayang dan sentuhan fisik. Hubungan yang dekat dan penuh kasih antara orang tua dan anak sejak dari masa kandungan sangat mempengaruhi kemudahan mendisiplinkan seorang anak. Seorang anak yang baik hubungannya dengan orang tuanya cenderung lebih mudah menurut karena ia secara naluri ingin menyenangkan orang tuanya.
Karena itu ajaran lama yang menganjurkan untuk tidak terlalu sering menggendong bayi agar tidak “bau tangan” dan merepotkan kini mulai ditinggalkan. Bahkan dianjurkan untuk memberikan ASI eksklusif dan menyentuh, menggendong, dan berbicara kepada bayi sesering yang dibutuhkan. Memang lebih melelahkan dan membutuhkan komitmen dari seorang ibu, tetapi hal ini berdampak positif dan permanen bagi perkembangan mental dan psikis anak. Jangan takut anak menjadi “ogoan” karena justru anak yang di masa kecilnya dekat dengan orang tuanya pasti mempunya kadar rasa aman yang tinggi dan pada waktunya akan menimbulkan rasa penerimaan dan percaya diri yang alami.

2. Rasa aman dan percaya diri. Hubungan yang baik antara orang tua dan anak pada gilirannya akan menimbulkan rasa aman pada diri si anak. Hal ini sangat berpengaruh pada rasa percaya diri si anak. Anak yang merasa aman otomatis akan lebih percaya diri karena sudah terbiasa merasa diterima dan nyaman dengan dirinya sendiri. Hal ini juga menyebabkan anak lebih mudah untuk mengaku salah, meminta maaf, dan beradaptasi dengan orang lain. Dampak positif lainnya, anak akan lebih berani mengeksplorasi lingkungan dan tampil di muka umum.

3. Toleransi. Salah satu cara belajar yang paling mudah bagi seorang anak adalah dengan cara imitasi. Figur yang diimitasi adalah figure yang terdekat yang dihadapinya sehari-hari. Bila orang tua menunjukkan rasa toleransi dan kemurahan hati pada anak dan orang-orang di lingkungannya, anak pun akan belajar untuk lebih memiliki toleransi terhadap orang-orang dan lingkungannya. Hal ini mencakup daya tahan terhadap stress dan peraturan. Hati-hati apabila orang tua kurang memperhatikan tumbuh kembang anak, seorang anak yang notabene dibesarkan oleh suster akan mengimitasi perilaku si suster.

4. Jadwal. Menurut salah seorang psikolog anak di Bandung dalam sebuah seminar pendidikan yang saya ikuti beberapa waktu yang lalu, untuk anak usia Playgroup sampai Taman Kanak-kanak, bahkan usia Sekolah Dasar awal, pengenalan akan jadwal yang tetap seperti waktu makan, waktu mandi, waktu sekolah, dan lain-lain secara konsisten cukup baik diterapkan untuk membiasakan anak mengenal keteraturan, tanggung jawab dan mengorganisasi waktu dengan baik. Walaupun hal ini tidak efektif apabila diterapkan kepada anak-anak dengan usia yang lebih tinggi, namun pembiasaan hidup yang teratur di awal kehidupannya merupakan dasar bagi pola disiplin sang anak.

5. Punishment(sanksi) and Reward(ganjaran). Punishment pada hakekatnya adalah suatu tindakan atau stimuli yang dimaksudkan untuk mencegah pengulangan suatu perbuatan yang kurang baik/tidak diterima. Sedangkan reward pada hakekatnya adalah suatu tindakan atau stimuli yang meng-encourage atau merangsang seseorang untuk mengulangi suatu perbuatan yang dianggap baik/disetujui. Penerapan Metode ini harus dilakukan dengan bijaksana dan seimbang. Jangan reward dijadikan “sogokan” untuk meminta si anak melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Demikian pula dengan punishment, jangan dijadikan ancaman untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Akan tetapi doronglah anak untuk berkembang sesuai dengan potensi dan ke-khas-an pribadinya. Beri koridor, tetapi jangan mendikte. Pujilah anak pada saat dia melakukan sesuatu yang baik atau meraih suatu prestasi. Dukung dan beri semangat anak pada saat dia mengalami kesulitan. Tegur anak pada saat dia melakukan kesalahan.

Contoh punishment yang efektif dan positif di antaranya :
• Time out : Ini merupakan suatu waktu yang disepakati untuk menjauhkan anak dari kegiatan yang sedang berlangsung atau dari orang-orang yang ada di rumah untuk sementara karena si anak tidak mengikuti peraturan atau etika yang berlaku atau bila anak mengamuk (tantrum). Biasanya cocok diterapkan pada anak-anak kecil (usia balita). Dapat ditentukan misalnya sebuah kursi di sudut ruangan, di kamar si anak, atau tempat lain yang disepakati. Waktu time out ini pun disesuaikan dengan usia si anak dan kesalahan yang dilakukan. Misalnya 3 menit di sudut karena si anak merebut mainan adiknya tanpa permisi. Atau 5 menit di kamar karena si anak memukul kakaknya saat berebut mainan. Atau 2 menit di tangga karena si anak melemparkan makanannya ke lantai dengan sengaja. Atau beberapa waktu di kamar karena si anak mengamuk meminta es krim sebelum makan siang (sampai amukannya mereda).
Kegunaan dari metode punishment ini adalah untuk meredakan pertikaian yang memanas, meredakan emosi anak, dan memberi waktu kepada orang tua untuk mengesampingkan emosi dan memikirkan kata-kata yang tepat untuk disampaikan kepada si anak.
Yang harus diperhatikan dalam penerapan time out ini adalah pentingnya bincang-bincang dengan anak setelah waktu time out selesai, Ajak anak untuk mengetahui kesalahannya dan dampaknya bagi dirinya sendiri dan orang lain. Biasakan juga anak untuk meminta maaf kepada pihak yang dilukai dan tekankan bahwa orang tua mencintai si anak, yang tidak disukai adalah perbuatan nakalnya.

• Taking away a previlege : Ini merupakan pengambilan privilege (hak) anak sebagai ganti kesalahan yang dilakukannya. Biasanya cocok diterapkan pada anak-anak hampir di semua usia. Misalnya pengurangan waktu bermain game atau menonton televisi untuk belajar karena nilai ulangannya merah akibat tidak belajar. Atau pemotongan uang jajan untuk mengganti kaca jendela sekolah yang pecah akibat bermain bola di kelas. Atau menghapuskan jadwal piknik keluarga karena anak melalaikan tugas membereskan kamar yang telah dijanjikannya. Kegunaan dari metode ini adalah mengajarkan anak untuk bertanggung jawab atas setiap perbuatannya dan untuk menunaikan kewajibannya. Yang harus diperhatikan adalah hukuman yang diberikan harus adil dan sesuai dengan kesalahan si anak. Jangan menerapkan hukuman yang mengada-ada dan tidak membuat si anak menyadari kesalahannya. Hal ini akan membuat anak bingung dan kehilangan motivasi untuk disiplin. Misalnya anak dihukum tidak boleh ikut acara piknik sekolah karena makannya diemut, hal ini sangat tidak logis dan membingungkan anak dalam mengaitkan hubungan sebab-akibat suatu perbuatan. Dalam penerapan metode ini mungkin akan muncul negosiasi. Jangan langsung meng-cut anak. Biarkan anak mengemukakan pendapat dan alasannya, karena toh orang tua biasanya bisa menilai kebenaran dari cerita si anak. Misalnya anak mendapat nilai jelek karena ternyata anak sakit atau tidak enak badan sehingga tidak dapat konsentrasi, mungkin waktu hukuman dapat dikurangi walaupun anak tetap harus menambah jam belajar untuk mengejar kekurangan yang telah terjadi. Namun apabila anak berdalih dengan berbohong, tidak menutup kemungkinan bagi orang tua untuk menambah waktu hukuman sehingga anak akan berpikir 2 kali sebelum berbohong.

• Task atau Assignment : Metode hukuman ini banyak kita lihat diterapkan di sekolah. Misalnya hukuman menulis 20 kali “Tulisan harus lebih rapi” atau “Saya tidak boleh melempar kapur kepada teman” dengan tujuan mengingatkan anak agar tidak mengulangi perbuatannya. Bentuk lain yang kita jumpai di sekolah misalnya menghukum seorang anak yang kedapatan membolos dengan tugas piket membersihkan kelas sepulang sekolah setiap hari selama 1 minggu. Hal ini juga dimaksudkan untuk men-discourage seorang anak mengulangi perbuatannya dan menggantinya dengan sesuatu yang lebih berguna.
Cara ini juga bisa kita terapkan di rumah untuk kasus-kasus yang tepat. Tetapi tentu saja sekali lagi harus diperhatikan prinsip keadilan dan efektifitasnya.

Sedangkan beberapa bentuk reward yang bisa diberikan adalah :
• Positive Reinforcement : Berupa dukungan positif secara verbal. Bisa berupa pujian, pelukan, kecupan, atau kartu ucapan apabila si anak melakukan suatu tindakan yang baik atau menunjukkan perkembangan yang positif dalam suatu hal. Misalnya pujilah seorang anak yang mau membagi kue atau meminjamkan mainan pada kakak atau adiknya. Peluk dan kecuplah seorang anak yang membawa pulang setangkai bunga untuk ibunya sambil si ibu mengucapkan terima kasih yang tulus. Beritahukan kejadian itu kepada orang lain sehingga si anak bisa merasakan kebanggaan sang ibu akan tindakannya. Contoh lain adalah memberikan kartu ucapan selamat kepada anak yang naik kelas atau memenangkan suatu kejuaraan. Positive reinforcement ini bisa disertai dengan bentuk reward yang ke-2 .

• Hadiah. Bisa berupa benda, acara seperti piknik atau bermain di mal, perayaan, misalnya makan di restoran kesukaan si anak untuk merayakan keberhasilan atau prestasi, atau berupa privilege seperti tambahan jam main atau tambahan jatah penyewaaan DVD untuk minggu tersebut. Seperti halnya punishment, pemberian reward pun harus secara proporsional dan tidak berlebihan. Jangan biasakan anak menagih reward untuk setiap perbuatannya. Karena reward adalah privilege, bukan hak.

6. Komunikasi. Komunikasi mungkin adalah alat disiplin yang terpenting setelah kasih sayang. Dengan komunikasi yang baik dan terbuka antara orang tua dan anak, kedua pihak terbiasa untuk membicarakan segala sesuatu dalam setiap aspek kehidupannya. Hal ini juga membuat anak merasa dipercaya, dihargai dan diperhatikan sebagai anggota keluarga sehingga ia juga akan mempercayai dan menghargai apa yang disampaikan oleh orang tuanya. Mulailah sedini mungkin karena semakin besar usia seorang anak, semakin sulit untuk memulai komunikasi karena si anak semakin tidak terlalu terikat pada orang tua dan sudah memperoleh pengaruh dari banyak pihak yang dihadapinya selain orang tua. Penerapan komunikasi ini juga harus dirintis dalam setiap kesempatan, jangan hanya mengajak anak berbincang saat ada masalah. Hal ini bisa menyebabkan anak enggan berkomunikasi dengan orang tua. Saat makan bersama atau bersantai bersama adalah contoh waktu yang tepat untuk mengobrol. Biasakan diri untuk terlibat dengan keseharian sang anak, tanyakan kegiatannya hari itu, tawarkan bantuan apabila ia menghadapi kesulitan, tapi jangan memaksa apabila anak belum mau bercerita atau tidak ingin dibantu. Pendidikan moral dan spiritual seperti mezbah keluarga juga sangat penting dan berpengaruh dalam pembentukan pribadi seorang anak. Selain itu, ikut sertakan anak dalam rapat untuk mengambil suatu keputusan bagi keluarga, misalnya dalam rencana mengganti perabot rumah atau rencana tujuan liburan keluarga. Satu hal yang perlu diperhatikan lagi adalah untuk menegur dan membahas kesalahan anak secara pribadi, jangan di hadapan umum atau di depan saudaranya karena hal ini akan melukai harga dirinya.

7. Keteladanan. Seperti sempat disinggung sebelumnya, salah satu cara belajar anak adalah dengan meniru /imitasi. Keteladanan orang tua adalah sarana awal pendidikan anak, termasuk dalam hal disiplin. Jangan berharap untuk mengajarkan anak bangun pagi kalau orang tuanya pun selalu bangun siang, misalnya. Juga hati-hati berkata-kata kasar di depan anak karena akan segera ditiru secara efektif oleh seorang anak. Kadang-kadang mempunyai anak berarti kita harus juga memperbaiki sikap dan pola hidup kita. Cara ini juga paling efektif untuk mengajarkan sesuatu yang agak abstrak seperti agama, moral, juga disiplin itu sendiri. Apa yang disaksikan dan dialami sendiri oleh si anak adalah guru yang paling efektif, bahkan kadang tanpa kita perlu bersusah payah mengajarkannya.

8. Konsistensi. Setiap metode disiplin yang diterapkan harus disertai dengan konsistensi. Suatu perilaku yang salah yang kadang diterima dan kadang tidak diterima akan membuat anak menganggap remeh kesalahan. Anak akan selalu mencari celah untuk bisa lolos dari hukuman. Konsistensi juga mencakup kesepakatan. Kesepakatan antara ayah dan ibu dalam mengambil keputusan sangat penting. Apabila tidak anak akan mencoba-coba kepada ibu ketika dilarang sesuatu oleh ayahnya. Karena itu ada baiknya dibicarakan dahulu dasar di dalam rumah tangga. Untuk hal-hal yang belum dibicarakan sebelumnya, jangan ragu untuk menunda memberi jawaban kepada anak, “Nanti mama ngobrol dulu sama papa. Keputusannya besok ya?” Hal ini juga berlaku apabila ada pihak lain yang berpengaruh di rumah, misalnya kakek dan nenek. Tekankan bahwa pengambil keputusan akhir mengenai anak tetaplah orang tua. Pengasuh atau suster juga harus menyadari aturan ini dan harus bertanya kepada orang tua untuk hal-hal yang membutuhkan pengambilan keputusan.



Tulisan ini saya buat sebagai sharing dan ungkapan hati sebagai seorang ibu yang concern dan prihatin dengan kondisi pendidikan anak di masa ini, walaupun saya sendiri masih jauh dari sempurna dan masih banyak kekurangan dalam mendidik anak karena mendidik anak adalah salah satu tugas yang tersulit di muka bumi ini.

Saya juga belum dapat membuat tulisan yang lebih ilmiah dengan referensi yang lebih jelas, untuk itu saya mengundang semua pihak yang mungkin lebih mempunyai kapasitas untuk itu agar melengkapi dan mengembangkan tulisan ini sehingga bermanfaat bagi semua orang tua.

Minggu Stress

Seminggu kemarin mungkin adalah salah satu minggu terberat yang kualami selama tahun ini. Padahal selama ini jarang-jarang aku menyerah terhadap deraan masalah, tapi seminggu kemarin sepertinya batas ketahananku sudah melewati titik puncaknya.

Pertama-tama suamiku jatuh sakit, setelah sembuh, giliran anakku yang jatuh sakit. Seolah belum cukup, pembantuku yang biasa membantu mengasuh si kecil pun jatuh sakit dan minta pulang kampung. Ditambah lagi tamu bulananku memilih datang pada hari itu. Sakit kepala, sakit kaki dan mulas-mulas pun menemani hari-hariku. Akhirnya aku dan suamiku memutuskan untuk bergilir antara menjaga toko dan mengasuh anak yang sakit.

Untungnya anakku yang besar sudah berusia 11 tahun dan sudah mandiri sehingga kami tidak terlalu dipusingkan olehnya. Benarkah? Dalam 2 minggu terakhir kami sudah 2 kali dipanggil menghadap wali kelasnya. Belum lagi teguran-teguran dan keluhan yang disampaikan lewat telepon dan yang ditulis di agenda sekolahnya. Belum 1 semester berlalu, sudah 15 kelalaian yang menghiasi buku kejadian anakku yang satu ini. Ditambah lagi 3 kali menghilangkan prakarya, 2 kali ketinggalan melodion di sekolah, 1 kali lupa ulangan susulan, hampir tiap minggu “lupa” piket, dan kejadian-kejadian lain mulai dari mengejar-ngejar temannya sambil membawa kursi, menulis kata-kata “ajaib” di papan tulis, sampai secara tidak sengaja melukai lengan temannya dengan cutter pada saat pelajaran ketrampilan. Jadwal kami pun bertambah dengan jadwal pertemuan dengan psikolog perkembangan anak.

Selain masalah-masalah di atas, keadaan keuangan pun turut menyumbangkan pengaruhnya dalam menguji ketahanan iman dan mentalku. Beberapa minggu belakangan ini toko begitu sepi dan lesu, sementara tagihan-tagihan dari pesanan-pesanan sebelumnya terus berdatangan. Biasanya kami selalu membayar tagihan tepat pada waktunya. Kalaupun ada kekurangan dana, paling-paling kami menggesernya hanya beberapa hari dan itu pun masih dalam tenggat waktu yang memang disediakan. Tapi kali ini, hampir semua tagihan molor lebih dari sebulan. Tagihan yang jatuh tempo terus bertambah sementara pendapatan tidak juga membaik. Padahal kami harus membayar biaya pendaftaran pendidikan untuk masuk TK bagi anak bungsu kami, belum lagi berbagai cicilan yang masih kami perjuangkan dari bulan ke bulan.

Puncaknya adalah suatu hari di hari Selasa. Saat itu giliran suamiku yang menjaga anak di atas, sementara aku menjaga toko di bawah, sambil membereskan bon-bon yang membuat kepalaku berdenyut-denyut. Tiba-tiba datanglah seorang ibu-ibu bersama suaminya yang rupanya adalah seorang aparat keamanan (lengkap dengan seragam loreng-loreng dan sepatu botnya). Mereka mengeluh karena katanya oven yang mereka beli di toko kami penyok dan kacanya retak. Padahal semua barang yang kami jual pasti kami buka dan kami selalu mempersilahkan konsumen untuk memeriksa kelengkapan dan kualitasnya. Atau apabila konsumen yang meminta, karyawan kami akan memeriksakannya di hadapan konsumen. Singkat cerita, kami setuju untuk mengganti barang tersebut dengan yang baru. Pada waktu kami memeriksa barang yang dikembalikan oleh konsumen tersebut, tampak bagian atas dari oven itu agak kehitaman (seperti bekas dipakai). Aku pun member instruksi untuk mengganti bodi dan kaca oven, tetapi bagian atasnya tetap menggunakan bagian atas oven yang dikembalikan tersebut. Rupanya bapak aparat tidak terima dan ia pun marah-marah di toko kami, mengutuki toko kami yang katanya menjual barang jelek, menantangku berkelahi karena merasa dituduh sudah memakai oven padahal belum, juga hampir memukul karyawan kami yang kebetulan melayani bapak tersebut. Akhirnya aku mengalah dan menyerahkan oven yang baru kepada bapak tersebut, bahkan juga meminta maaf kepada bapak tersebut karena aku tidak ingin terjadi keributan di toko. Tapi aku sangat menyayangkan karena banyak sekali oknum aparat yang berperilaku arogan, mengancam dan sewenang-wenang di negara ini.

Seolah tak cukup, begitu bapak tersebut pergi sambil-marah-marah, datang lagi seorang ibu yang marah-marah dan menuduh bahwa termos yang kujual palsu dan jelek karena tidak panas. Apalagi ibu ini tidak membawa nota pembeliannya dan termos tersebut menurut pengakuannya sudah dibeli lebih dari sebulan yang lalu. Akhirnya aku pun mengganti termos tersebut dengan yang baru hanya karena supaya masalahnya cepat selesai, padahal aku tahu aku sepenuhnya berhak menolak mengganti termos tersebut karena si ibu tidak memawa nota pembelian yang membuktikan bahwa dia benar membelinya di toko kami. Dan kalau saja kepalaku tidak begitu sakit dan balon emosiku tidak begitu penuh sampai sedemikian tipisnya, mungkin aku tidak akan mengganti termos itu.

Belum lagi si ibu pergi dari tokoku, karyawanku yang bertugas menjemput anakku dari sekolah menelepon bahwa mereka akan pulang terlambat karena anakku sedang menjalani hukuman dari gurunya. Kali ini karena menusuk temannya dengan jarum pentul yang ditemukannya di halaman sekolah.

Begitu aku menutup telepon, di hadapanku berdiri seorang kolektor perusahaan panci yang memberikan kontra bon baru untuk bon-bon yang telah jatuh tempo senilai hampir 40 juta (karena memang bulan sebelumnya ada pesanan panci dalam jumlah yang cukup besar).

Pandanganku langsung terasa gelap, telingaku mendenging, dan dadaku serasa akan meledak. Setelah kutandatangani kontra bon itu, kukunci pintu laci kas, dan aku pun berlari ke atas, meninggalkan semua karyawan dan konsumen yang sedang berbelanja di tokoku.

Suamiku sedang tertidur sambil menunggui anak bungsuku yang sedang sakit tidur siang. Tanpa bersuara aku bersimpuh di samping tempat tidur dan meletakkan dahiku di dadanya, lalu mulai menangis tanpa dapat dikendalikan lagi. Rasanya semua beban ini terlalu berat, dan rasanya jalan keluar atau penyelesaian masalah tak tampak sedikit pun dalam jarak pandanganku. Rasanya pencobaan ini begitu berat dan kesabaranku sudah terkuras habis.

Suamiku terbangun dan setengah bingung menanyaiku apa yang telah terjadi. Aku tak sanggup menjawab, hanya menangis dan menangis. Terdengar karyawanku berseru-seru, “Ci, bayaarrrr!!” Untunglah saat itu anakku yang sulung pulang dan suamiku pun menyuruhnya menunggui toko dulu.

Dengan sabar suamiku memelukku sambil menungguiku berhenti menangis. Akhirnya, walaupun sambil menangis, aku berhasil juga menceritakan apa yang terjadi hari itu dan kekhawatiranku mengenai anak dan toko kami.

Suamiku mengingatkanku untuk berserah kepada Tuhan, mengingatkanku bahwa tak ada suatu masalah pun yang lebih besar dari kuasa Tuhan. Akhirnya ia mengajakku untuk berdoa, menyerahkan masalah kami di kaki Yesus, yang kuasa dan kasihnya selama ini tidak pernah mengecewakan kami.

Aku sungguh bersyukur mempunyai seorang suami yang bisa menopangku di saat aku lemah. Kuharap aku juga selama ini bisa menjadi penolong yang menopangnya di saat dia lemah. Dan terutama aku bersyukur karena kami mempunya Allah yang begitu baik dan dahsyat, yang mencukupkan dan menolong pada waktunya.

Memang semua masalah tidak selesai begitu saja. Hutang-hutang masih harus dibayar sedikit demi sedikit, puji Tuhan rata-rata supplier kami mau mengerti dan memberi kelonggaran waktu. Konseling dengan psikolog anak pun masih berjalan, dan puji Tuhan dalam prosesnya kami pun belajar banyak mengenai anak kami dan diri kami sendiri. Kami sadar bahwa tekanan stress pada diri kami rupanya juga berdampak pada anak-anak kami. Kami juga disadarkan bahwa anak ini, yang selalu membuat kami dipanggil pihak sekolah, adalah juga anak yang merelakan uang makannya untuk membelikan mamanya setangkai bunga di hari valentine, juga anak yang sama yang membelikan boneka lumba-lumba untuk adiknya pada saat berdarmawisata ke sea world bersama sekolahnya. Kesehatan anakku yang bungsu pun mulai membaik, walaupun pembantuku belum kembali dari kampung karena belum sehat benar.

Tapi pelajaran yang kupetik dari minggu itu adalah, pertama, betapa lemahnya kita manusia, dan betapa seringnya kita lupa untuk berserah dan melibatkan Tuhan dalam menghadapi hidup ini, betapa kerasnya pun kita berusaha, mengandalkan kekuatan diri sendiri, tak ada masalah yang bisa kita selesaikan sebaik Tuhan kita menyelesaikannya. Kedua, batapa pentingnya membangun segalanya di atas dasar iman, termasuk membangun keluarga dan perkawinan. Ternyata santapan rohani setiap hari, saat teduh secara rutin, mezbah keluarga, dan doa bersama menjadi sumber kekuatan yang memampukan kita tetap berpegang pada-Nya saat keluarga kita menghadapi masalah atau cobaan hidup yang selalu ada di sekitar kita.

Cape deeehhh!!!

Seonggok bangunan besar mendominasi pemandangan di jendela kamarku di lantai 2. Letaknya menyisi, sehingga aku bisa melihat sisi samping dan belakangnya.

Dari depan, aku pernah melihatnya. Dicat berwarna pink, dengan jendela-jendela yang cantik berhiaskan tirai berwarna senada.

Tapi bagian samping dan belakangnya, berwarna abu-abu semen yang buruk dan kusam. Beberapabagian mulai retak, dan bahkan lumut berwarna hijau kehitaman menandai tempat mengalirnya air hujan. Jendela-jendela yang mati bejejer, menatap nanar dalam kekosongan. Apakah isinya? Gudangkah? Rumahkah? Ditingkahi antena rumah sebelah dan semrawutnya kabel-kabel PLN, sungguh menyedihkan.

Kemudian toko-toko di sebelahnya, kutahu ada yang menjual madu, ada yang menjual peralatan kompor, ada toko sepeda, dan ada toko alat-alat olah raga. Semua tampak bonafit dan terawat. Tetapi sisi belakang yang menghadap jendela kamarku? Sebagian dilapisi seng yang sudah mulai berkarat dan terkelupas di sana-sini. Sebagian lagi berupa tembok bata tanpa plester. Talang-talang air yang pecah-pecah dan putus-putus meneteskan sisa-sia air buangan. Dan atap-atapnya yang tambal sulam menunjukkan betapa seringnya terjadi kebocoran di sana.

Inikah kehidupan?
Seperti itu jugakah manusia?
Yang cantik dan glamor di depan, tetapi bobrok di belakang?
Apakah yang tersimpan di balik topeng keseharian?
Kesedihan?
Kebusukan?
Kepahitan?
Kapan semuanya akan tersingkap?
Kapan segalanya akan dibenahi?
Atau memang selalu harus ada titik air mata dan kegeraman di balik senyuman?
Cape deeehhh!!!

Bandung, 08102008

Tuhan, saat-saat begini barulah aku datang mencari-Mu
Ampuni hamba-Mu yang kurang ajar ini Tuhan
Betapa berharga sepercik kasih sayang di kegersangan kehidupan
Betapa mahalnya harga sebuah kepercayaan
Di celah-celah tebing padas kesalahpahaman
Di dalamnya jurang keraguan
Di pekatnya gelap kecurigaan
Maafkan hamba-Mu yang tidak tahu diri ini Tuhan
Penat… haus… dalam kekeringan jiwa
Rindukan seuntai senyuman
Dambakan sebentuk pelukan
Impikan untaian kata-kata manis yang meneduhkan
Dari terik dan tajamnya kesepian dan ketakutan
Luputkan hamba-Mu yang tidak berharga ini Tuhan
Karena lalai memegang tangan kanan-Mu
Karena berlari menjauh dari kota benteng-Mu
Karena memuai kepala atas lena kehidupan
Rengkuhlah tubuh rapuh ini Tuhan
Mengapa ketakutan tak jua melepaskan cakarnya?
Mengapa kesepian tak lelah menyambarkan paruhnya?
Ke mana pribadi yang berharga di mata-Mu Tuhan?
Karena hamba-Mu seolah tak bernilai sebutir pasir pun
Karena hamba-Mu tercampak laksana ampas buangan
Manisnya anggur tidak terasa di lidah menjangan pujaan
Pahitnya empedu dikecap tanpa laku dan kata
Tolonglah hamba-Mu yang hina dina ini Tuhan
Peluklah seonggok kehinaan ini Tuhan
Karena hamba-Mu takut
Karena hamba-Mu resah
Jangan tinggalkan hamba-Mu yang bebal ini Tuhan
Ajarlah sepotong kegagalan ini tentang berserah
Kuatkanlah sekeping kebodohan ini dengan kasih-Mu yang tiada duanya.
Ijinkanlah sejumput debu ini bersandar di lapangnya hati-Mu Tuhan
Biar hamba-Mu yang tidak layak ini memuliakan nama-Mu Tuhan
Kalau boleh Tuhan, kalau boleh oh Tuhan Rajaku
Ijinkan pemulihan terjadi di sini Tuhan
Relakan sepercik kasih-Mu di relung hati menjangan pujaan
Biarkan sonata cinta berpondasi kasih-Mu yang tiada berkesudahan
Biar semua insan melihat kasih-Mu dalam kasih kami Tuhan
Yang menyejukkan dan memberi kehidupan
Yang menyembuhkan dan menguatkan
Sebab Engkau-lah jujungan hamba-Mu ini Tuhan
Tak putus sungai derita mengalir
Menuruni bukit dan lembah raut yang mengernyit
Meratapi impian dan harapan
Akan hangatnya dekapan masa depan
Lepaskan hamba-Mu yang lancang ini Tuhan
Jangan patah rusuk diterpa sepak menjangan pujaan
Jangan hancur hati dihantam kerling putri menjangan
Dara belia nan suci…
Bagaikan borok dan koreng hamba-Mu yang penuh noda ini
Ampuni durjana di kelam lampau
Tak lekang nista diusung masa
Laksana tanda terpeta di kulit
Laksana besi tempa tertambat di leher
Darah-Mu putihkan merah kirmizi, tak jua putihkan nila kenangan
Kokohkan iman hamba-Mu yang lemah ini Tuhan
Sepasang buah rahim Tuhan ikhlaskan
Sebiduk sampan keluarga dalam danau kehidupan Tuhan percayakan
Tuhan jangan lepaskan, Tuhan jangan lepaskan
Karena gentar hamba-Mu yang kecil ini Tuhan
Luluh lantak dalam deraan cobaan ya Tuhan
Ampuni hamba-Mu Tuhan, ampuni hamba-Mu
Oh Raja yang mulia, luar biasa mulia dan agung Engkau Tuhan
Kuasa Tuhan berlaku mutlak atas hidup hamba-Mu ini Tuhan
Hanya jangan tinggalkan, jangan tinggalkan
Akal sehat mengatasi sengsara
Kasih Tuhan melampaui godaan
Terima kasih Tuhan, puji syukur, hormat, kemuliaan, sembah sujud hanya bagi nama-Mu
Tuhan sumber kekuatan, penghiburan, kehidupan dan kesempatan
Yesus, anak Allah yang Maha Tinggi
Amin