Tampilkan postingan dengan label love. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label love. Tampilkan semua postingan

Rabu, 23 Juni 2010

Wajah dalam Cermin

Wajah itu menatapku dari dalam cermin. Wajah yang sangat familier, tapi juga asing karena selama ini aku kurang akrab bergaul dengan cermin. Boleh dibilang bahkan aku cenderung untuk menjauhi cermin karena aku kurang menyukai apa yang kutemukan di sana.
Tetapi malam itu aku menatap wajah itu dengan seksama. Memperhatikan setiap detilnya, menganalisa setiap bagiannya.
Aku melihat dahi yang lebar, persis dahi ayahku, dengan warna kulit yang sedikit lebih gelap dari bagian wajahku yang lain (yang juga tidak putih). Ibuku bilang sewaktu melahirkanku dulu, dokter meninggalkan ibuku yang baru mencapai bukaan lima untuk menangani pasien yang sudah mencapai bukaan sepuluh di rumah sakit lain dengan pesan untuk jangan dulu mengejan sebelum dokter kembali. Ternyata dalam waktu yang relatif singkat ibuku sudah mencapai bukaan sepuluh dan aku mulai mendesak keluar. Cukup lama beliau menahanku tepat di jalan lahir. Ketika dokter kembali, begitu melihat ujung rambut sang dokter, ibuku melepas semua pertahanannya dan akupun meluncur keluar dalam satu dorongan. Dahi dan ubun-ubunku berwarna kehitaman karena pembuluh-pembuluh darah di sana sempat terjepit cukup lama ketika ibuku menanti dokter yang tak kunjung datang. Untunglah lama kelamaan warna kehitaman itu memudar walaupun tidak sama persis dengan bagian wajahku yang lain.
Pandanganku beralih ke alis yang tipis dan tersebar tak beraturan di sepanjang tulang alis, bahkan sampai ke kelopak mata.
Disusul dengan sepasang kelopak mata yang tebal dan tanpa lipatan, dengan bulu mata yang lurus dan pendek-pendek. Begitu tipis dan pendeknya sampai kalau tidak diperhatikan benar-benar, tampak seolah-olah aku tidak mempunyai bulu mata sama sekali.
Kini aku memperhatikan bagian mata. Sepasang mata yang kecil dan sipit, dengan sudut luar yang mengarah ke bawah sehingga mennimbulkan kesan sayu. Seandainya saja sudut-sudut mata itu mengarah ke atas seperti mata kucing, mungkin akan tampak lebih menarik dan seksi, seperti Lucy Liu, salah satu pemeran tokoh Charlie’s Angels, atau Michelle Khan, seorang aktris Hong Kong yang terpilih menjadi salah satu James Bond’s girl (gadis pendamping James Bond) yang merupakan pilihan gadis-gadis terseksi sepanjang zaman.
Beralih ke hidung yang walaupun tidak pesek tetapi cukup besar, dengan sebutir baso sebagai pusat tepat di tengahnya. Kucoba memijitnya agar tampak lebih ramping, tetapi wajah itu malah terlihat aneh karena sudut matanya ikut tertarik. Akhirnya, dengan pasrah kulepaskan kembali hidung baso yang malang itu sambil menghembuskan nafas keras-keras.
Bagian terakhir dari wajah itu adalah sepasang bibir yang cukup lumayan sebetulnya, hanya saja bibir itu tampak sedikit kehitaman akibat pemakaian lipstick-lipstik murah yang kubeli waktu ABG, sebelum akhirnya aku menyerah dalam usahaku memperbaiki penampilanku ini.
Aku pun mengalihkan tatapanku ke bawah, menolak untuk menatap wajah yang mengecewakan itu lebih lama lagi.
Memang selama ini aku tidak pernah mengalami kesulitan bergaul dengan siapa pun, termasuk para pria. Mereka mengagumi efisiensi kerja dan luasnya wawasanku, kami biasa berdiskusi dan tukar pendapat. Topik apa pun bisa kuladeni dengan seimbang seolah-olah aku ini seorang pria seperti mereka, bahkan sampai membicarakan kaum wanita tanpa merasa kagok di depanku. Tapi kalau soal asmara, tak seorang pun melirikku. Seperti percakapanku siang tadi dengan serang rekan pria.
“Gila, gue kemaren ngeliat cewek cakep banget di BIP! Putih, mulus, pake hot pants sama tank top, keren boo! Pantatnya kenceng lagi, kaya bapaw!”
“Ah elo! Emang ngga cukup apa punya pacar satu? Kan si Rani juga udah cakep banget,” ujarku sambil diam-diam melirik pakaianku yang sangat jauh dari kategori seksi. Lagipula aku tidak cukup percaya diri untuk mengenakan pakaian seksi karena kurasa bentuk tubuhku kurang menunjang untuk itu.
“Iya dong! Pacar gue kan harus cakep. Kalo ngga cakep malu dong dibawa jalan, apalagi kalo ketemu temen, muka gue mau ditaro di mana kalo bawa cewek jelek?”
Dalam hati aku ngedumel, “Ngga sensitif! Ngga punya perasaan! Gua kan termasuk cewek jelek, sialan! Dia pikir gua bukan cewek apa?”
“Emang kenapa?” tantangku, “Yang penting kan hati sama otaknya. Diajak ngomong nyambung, saying suami, setia pula!”
“Puih! Cewek mah ngga usah pinter-pinter, ntar malah ngelunjak! Yang penting keren, jadi bangga ngegandengnya. Kalo urusan setia sih, selama doku mengalir, doi pasti setia kok, tenang aja,” sahutnya renyah.
“Emangnya barang? Bisa dibeli pake uang & gunanya Cuma untuk dipamerin doang? Enak aja!” ujarku ketus, tersinggung karena dia begitu merendahkan nilai dan martabat kaum wanita.
“Ya iya lah! Bayangin gue ngegandeng cewek udah item, jelek, gayanya kampungan lagi. Bisa-bisa disangka gue jalan sama pembantu gue dong!”
Aku pun malas membahasnya lebih lanjut karena rasanya hatiku perlahan tenggelam, amblas entah ke mana menyisakan ruang yang begitu hampa sampai-sampai terasa menyesakkan di dadaku.
Itulah penyebab aku mengamati wajahku di cermin malam itu, dan banyak malam-malam lain di mana aku menyesali penampilanku yang “biasa-biasa saja” kalau tidak bisa dibilang jelek.

Lamunanku terputus oleh suara anak bungsuku, “Mama! Susunya udah abisss!”
“Oh! Iya sayang, sebentar mama ke sana,” aku menyahut dengan riang.
Perlahan kuletakkan sisir yang kupegang di meja riasku, kembali kutatap bayanganku di cermin. Wajah yang menatapku mala mini masih wajah yang sama dengan wajah dalam cermin di malam itu dua belas tahun yang lalu, hanya sedikit lebih berisi, dan mulai ada timbunan lemak tipis di bawah daguku. Tetap tanpa polesan, tetap dengan hidung baso dan dahi yang lebih gelap. Yang membedakan hanyalah ekspresi damai dan penerimaan yang terpancar darinya, tak ada lagi penyesalan dan amarah di sana.
Diam-diam kuamati sosok suamiku yang sedang bercanda dengan kedua jagoan cilikku. Sosok yang gagah dan digandrungi wanita. Bahkan sampai saat ini masih banyak wanita yang menunjukkan perhatian lebih padanya. Tapi dia telah memilihku menjadi pendampingnya, mengasihiku dan menghormatiku. Alasannya? Ternyata kriteria seorang pria dalam mencari pacar dan mencari istri itu berbeda, dan dia menemukan apa yang dia cari di dalam diriku.
Jadi, kaum wanita yang merasa dirinya “biasa-biasa saja”, percayalah bahwa Tuhan menciptakan setiap kita sempurna adanya. Setiap kekurangan dan kelebihan kita ada dalam rancangan-Nya, bukan merupakan suatu kesalahan atau pun kelalaian. Dan Tuhan punya rencana yang indah dalam hidup kita, apa pun itu, asalkan kita sabar menanti dan mengikuti waktunya Tuhan.

Pudding vs Cinta

Minggu yang lalu saya mendapat pesanan pudding untuk peringatan empat puluh hari kelahiran putri salah seorang teman saya. Sebanyak 54 parsel pudding dalam dua model dipesannya untuk dibagikan kepada sanak saudara dan teman-temannya.
Diawali dengan diskusi soal desain dan pembuatan sampel. Akhirnya diputuskan untuk sanak saudara akan dibuat berbentuk hati, terdiri dari 5 lapisan, yang teratas jelly kenyal berwarna merah dengan taburan buah strawberry di dalamnya, lapisan kedua pudding susu berwarna merah muda, lapisan ketiga agar-agar berwarna merah dengan rasa strawberry, lapisan keempat pudding susu merah muda lagi dan lapisan terakhir adalah pudding coklat sebagai dasar. Sedangkan untuk teman-teman akan dibuat pudding dalam gelas-gelas mini dengan jumlah lapisan yang sama, hanya saja lapisan teratas akan dibuat menonjol berbentuk hati mungil. Kemudian pudding-pudding ini akan dikemas dalam kotak mika tansparan dan dihiasi dengan pita satin merah muda, kartu yang memuat foto, nama dan tanggal lahir si bayi, hiasan boneka berbentuk bayi dan sepasang telur yang juga terbuat dari jelly berwarna merah yang dibungkus kertas mika dan diberi pita.
Tadinya saya pikir tidak akan terlalu sulit karena membuat pudding dan menerima pesanan sudah saya lakoni cukup lama, walaupun belum pernah dalam jumlah sebanyak ini. Saya sengaja berbelanja bahan-bahan 2 hari sebelum hari pengiriman dan membuat pudding 1 hari sebelum hari pengiriman agar bahan-bahannya masih segar dan pada saat pengiriman pudding-pudding tersebut masih fresh tetapi sudah membeku dengan sempurna.
Hari itu Jumat, 16 Oktober 2009, hari di mana saya menjadwalkan untuk membuat pudding. Seperti biasa saya bangun pada pukul 05.00 pagi dan memulai rutinitas membangunkan dan menyiapkan anak-anak untuk sekolah. Setelah selesai semua tugas di pagi hari, saya pun bersiap siap untuk mulai membuat puddng. Tetapi ternyata kiriman strawberry yang saya pesan terlambat datang. Singkat cerita setelah tahap pembersihan dan persiapan bahan-bahan dan alat-alat, proses pembuatan pudding yang sesungguhnya baru bisa dimulai kira-kira pukul 13.00.
Hari pertama saya harus menyiapkan 27 loyang pudding berbentuk hati, sedangkan saya hanya mempunyai 10 buah Loyang berbentuk hati. Berarti harus 3 ronde pembuatan, dikali 5 lapisan, plus waktu untuk tiap lapisan agar membeku. Perkiraan saya baru akan selesai di atas jam 12 malam nanti.
Akan tetapi ternyata prosesnya tidak semudah itu, karena untuk setiap kali rebusan saya harus memperhitungkan berapa banyak adonan yang harus saya buat agar sesedikit mungkin adonan yang tersisa. Sisa adonan pudding tidak dapat dipakai kemudian karena akan membeku dalam kurun waktu tertentu. Semakin banyak adonan yang tersisa, maka semakin besar pula biaya yang terjadi untuk perhitungan kelebihan adonan bukan?
Pukul 19.00 malam itu, saya baru menyelesaikan 10 loyang pertama karena sepanjang hari ada saja hal-hal yang menyela proses pembuatan pudding. Kadang anak-anak yang butuh perhatian, kadang sesuatu di toko mengalihkan perhatian saya, juga hal-hal kecil lainnya seperti telepon dan sms yang masuk. Saya berharap tahap ke-2 dan ke-3 akan lebih cepat karena di malam hari tidak ada gangguan, bukan?
Malam itu suami saya mengambil alih tugas menidurkan anak-anak. Para karyawan pun dikerahkan untuk membantu apa yang bisa dibantu, misalnya menempelkan pita dan stiker (yang untungnya sudah saya persiapkan sehari sebelumnya). Sementara itu saya melepaskan pudding yang sudah membeku satu persatu dari Loyang untuk kemudian memasukkannya dalam box mika dan memasangkan dekorasinya. Suasana cukup ramai dan menyenangkan, saya pun tambah bersemangat meneruskan proyek pudding ini.
Pukul 24.00, proses pembuatan tahap ke-2 baru sampai pada lapisan ke-2. Seisi rumah sudah terlelap. Saya tinggal sendirian di dapur yang berantakan. Sebelum tidur suami saya yang baik hati telah mengambilkan sebuah kursi untuk saya, jadi di sanalah saya, terduduk di kursi sambil mengaduk adonan pudding yang mengepul di panci besar.
Pukul 03.00 dini hari, 10 loyang pudding tahap ke-2 pun akhirnya selesai. Sambil menunggu pudding membeku (dibantu dengan kipas angin kecil), sambil terkantuk-kantuk saya membungkusi telur-telur puyuh yang terbuat dari jelly merah dengan plastik mika dan menghiasinya dengan pita merah muda dan bunga mawar kecil.
Pukul 04.30, akhirnya semua pudding tahap ke-2 selesai. Sambil menghela nafas panjang saya mulai menyiapkan proses pembuatan pudding tahap ke-3, dimulai dengan mencuci Loyang-loyang yang akan digunakan kembali.
Pukul 06.00, satu persatu karyawan saya mulai bangun dan memulai aktifitas pagi mereka. Sempat mereka berkomentar melihat saya masih bergaul karib dengan kompor, namun saya sudah terlalu lemas untuk menanggapinya.
Pukul 08.00 pagi, saya memandangi hasil kerja sehari semalam dengan puas. Satu jam lagi pesanan tersebut akan diambil, dan saya berhasil menyelesaikannya tepat pada waktunya.
Suami saya tampak sangat khawatir karena saya tidak tidur semalaman dan menyuruh saya beristirahat. Tapi tidak bisa, karena saya harus mengerjakan pesanan pudding model ke-2 sebanyak 27 parsel lagi untuk keesokan harinya. Apalagi sore itu ada undangan pernikahan sahabat saya yang tak mungkin saya lewatkan.
Untunglah pudding model ke-2 ini pengerjaan dan prosesnya lebih mudah dan sederhana daripada pudding model pertama. Singkat cerita, pengerjaan proyek pudding ini selesai pada pukul 24.00 malam itu, hari Minggu, 18 Oktober 2009, dan saya pun bisa beristirahat setelah 43 jam terjaga tanpa memejamkan mata barang semenit pun.

Selama jam-jam panjang yang saya habiskan di depan kompor tua yang setia, khususnya di malam hari saat semua orang sudah terlelap, saya punya begitu banyak waktu untuk melamun, merenung dan berpikir. Banyak hal yang terlintas di benakku, mulai dari masalah sehari-hari, cerita film yang pernah saya tonton, sampai cita-cita dan angan-angan kosong yang tak pernah saya pikirkan sebelumnya. Tetapi entah kenapa ada satu topik yang hamper mendominasi pikiranku malam itu. Cinta.
Mengapa cinta? Entahlah, saya merasa banyak hal yang saya alami dalam kehidupan cinta manusia ter-refleksikan dalam proses pembuatan pudding ini.
Pertama-tama adalah desain. Begitu banyak desain dan model cinta yang ada di dunia. Cinta Tuhan kepada manusia, cinta orang tua kepada anak, cinta antara pria dan wanita, dan cinta kepada sesama. Kadang-kadang kita jumpai hubungan cinta yang salah desain, yang modelnya kurang cocok. Misalnya, cinta suami istri diberikan kepada selingkuhan, cinta orang tua kepada anak yang tidak diberikan sesuai desain yang disepakati, cinta Tuhan pada manusia yang disia-siakan, dan masih banyak lagi penyelewengan lainnya.
Yang kedua adalah tahapan atau lapisan dalam hubungan percintaan. Setiap hubungan kasih pasti melalui tahapan-tahapan yang berlapis. Ada yang lapisannya banyak, ada pula yang sedikit tergantung desain yang disepakati. Setiap tahap harus dikerjakan secara berurutan sesuai dengan desainnya. Tidak boleh ada yang dilewati, walaupun kadang-kadang ada tahapan yang harus diulangi.
Yang ketiga adalah proses pengerjaannya. Mulai dari pemilihan bahan-bahan yang tepat dan berkualitas sampai dengan proses pembuatan yang cermat dan penuh kesabaran agar dicapai hasil yang maksimal sesuai dengan yang diinginkan.
Akhirnya, saya mencoba memformulasikan suatu resep pudding cinta yang berlaku universal, bisa dinikmati oleh segala lapisan masyarakat dan usia, sarat dengan bahan-bahan yang alami dan bermanfaat, serta ekonomis dan tahan selama-lamanya.

PUDDING CINTA
Lapisan Pertama -> Perkenalan
Bahan-bahan :
• 1 bungkus niat baik (tersedia dalam berbagai pilihan rasa : teman, pacar, orang tua, dll)
• 100 gram keterbukaan
• 250 gram komunikasi
• 800 cc ketulusan
• Rasa humor secukupnya untuk hiasan
Cara membuat :
1. Campurkan niat baik dan keterbukaan dalam wadah hati yang lapang.
2. Larutkan dalam ketulusan yang murni (tanpa bahan kepura-puraan).
3. Jerang di atas api kecil sampai matang.
4. Tambahkan komunikasi sedikit demi sedikit, aduk rata, lalu matikan api.
5. Setelah matang, hiasi dengan rasa humor sesuai selera.

Lapisan Kedua -> Penyesuaian/Penjajakan
Bahan-bahan :
• 1 bungkus keseriusan
• 100 gram keterbukaan
• 250 gram komunikasi
• 1000 cc kebesaran hati untuk menerima kekurangan
Cara membuat :
1. Campur semua bahan jadi satu.
2. Jerang di atas api kecil sambil diaduk-aduk sampai benar-benar matang.
Tips : Untuk tahap ini diperlukan kesabaran karena prosesnya agak lama dan resiko gagalnya cukup besar.

Lapisan ketiga -> Penerimaan
Bahan-bahan :
• 1 bungkus komitmen
• 100 gram keterbukaan
• 250 gram komunikasi
• 1000 cc cinta tanpa campuran apapun
Cara membuat :
1. Campur semua bahan jadi satu.
2. Jerang di atas api kecil sambil diaduk-aduk sampai benar-benar matang.
Tips : Lapisan ini sangat penting karena jika lapisan ini tidak kuat tidak akan dapat menopang lapisan-lapisan selanjutnya.

Lapisan keempat -> Pertumbuhan
Bahan-bahan :
• 1 bungkus dukungan
• 100 gram keterbukaan
• 250 gram komunikasi
• 1000 cc kepercayaan
• Sejumput kreatifitas
Cara membuat :
1. Campurkan semua bahan kecuali kreatifitas.
2. Jerang di atas api kecil sampai setengah matang.
3. Larutkan kreatifitas dengan sedikit adonan setengah matang.
4. Campurkan ke dalam adonan, masak hingga matang.
Tips : Hati-hati mencampurkan kreatifitas karena adonan kepercayaan ini sangat rentan . Jaga jangan sampai pecah-pecah.

Lapisan kelima -> Kemantapan
Bahan-bahan :
• 1 bungkus rasa aman
• 100 gram keterbukaan
• 250 gram komunikasi
• 400 cc kesetiaan
• 400 cc kasih abadi
Cara membuat :
1. Campurkan rasa aman, keterbukaan, komunikasi dan kesetiaan.
2. Jerang di atas api sambil dituangi kasih abadi sedikit-sedikit sampai habis.
3. Masak sampai benar-benar matang dan harum.

Sajikan pudding cinta 5 lapis ini dengan Vla Iman dan Pimpinan Tuhan
Vla Iman dan Pimpinan Tuhan
Bahan-bahan :
• 500 cc doa
• 500 cc Firman Tuhan
• 100 gram persekutuan
• 50 gram ibadah
Cara membuat :
1. Campur semua bahan jadi satu.
2. Jerang di atas api sampai mendidih
3. Kentalkan dengan sedikit kesaksian

Selamat mencoba! 

Bunga

Bunga itu tertunduk layu pada potnya. Warnanya mulai memudar. Helai-helai daunnya tampak kering, beberapa bahkan sudah tanggal dari tangkainya.

Pot itu kini teronggok di pojok, hampir tak terlihat dan tak mencolok. Pot baru yang berisi bunga segar nan cantik berseri berdiri riang menggantikan posisi kesayangan sang majikan di ambang jendela kamarnya.

Bentuknya yang mutakhir, warnanya yang cemerlang, sampai pada potnya yang tampak bersih mengkilap kelihatan pantas bertengger di sana. Sang majikan tak pernah lalai menyiraminya dengan air yang menyejukkan dan memberinya pupuk yang menyehatkan dan kian menonjolkan kecantikan si bunga baru.

Seandainya bunga bisa menangis, ia akan menangis. Meratapi kesederhanaan dirinya, meratapi kenangan yang seolah tak bernilai bagi sang majikan, dan meratapi kematiannya yang kian mendekat dan tak dapat ditampiknya.

Dia berjuang semampu dia bisa. Dicobanya untuk memancarkan sisa-sisa warnanya. Dicobanya untuk menghisap apa yang bisa didapatnya dari tanah kering yang ditempatinya. Dicobanya untuk menebarkan keharumannya meski hal itu akan menghabiskan seluruh tenaganya.

Sang majikan pun tak tega untuk membuangnya. Bunga kecil yang diperolehnya saat ia masih belum mempunyai apa-apa. Bunga kecil yang selalu ada di sana walaupun tidak membanggakan dan terkadang merepotkan. Mungkin itulah sebabnya sampai kini ia masih menaruhnya di pojok yang berdebu, meski sebisa mungkin tak dipandangnya.

Pagi itu, setelah melalui satu lagi malam yang begitu gelap dan membekukan, seperti biasa si bunga kecil berusaha mengangkat wajahnya untuk melihat sekilas bayangan sang majikan yang selalu membuka jendelanya di pagi hari.

Tak seperti biasanya, pagi itu embun terasa begitu menyejukkan. Tak seperti biasanya pula, pagi itu semua gerakan terasa begitu mudah. Si bunga kecil bisa mengangkat wajahnya, mengembangkan daun-daunnya, meliukkan batangnya.

Betapa cerahnya mentari bersinar pagi ini. Betapa ringan tubuhnya. Betapa cantiknya dirinya. Begitu ringan sehingga ia merasa dapat melayang. Dikembangkannya daun-daunnya yang lebat dan segar. Ditengadahkannya wajahnya yang berseri dan cemerlang kea rah matahari, dan ia pun terbang. Semakin tinggi ke angkasa, meninggalkan pot yang selama ini menjadi rumahnya. Meninggalkan semua cinta dan kepedihannya menuju sepasang tangan yang terbuka dan seraut wajah yang tersenyum menyambutnya pulang.

Tak dilihatnya lagi apabila sang majikan menghela napas lega memandang sisa-sisa tubuhnya yang telah tak bernyawa dan menyingkirkannya dengan segera. Tak dilihatnya pula apabila sang majikan menangis dan merindukan kenangan bersamanya.

Kini hanya kedamaian yang dirasakannya. Tak ada duka, tak ada kesakitan, tak ada penyesalan.
Untuk semua bunga yang terluka…
Untuk semua bunga yang telah memudar…
Untuk semua bunga yang berjuang…

Bahasa Kasih

Setiap orang mempunyai cara masing-masing untuk menyatakan atau menunjukkan kasihnya kepada orang-orang di sekitarnya. Memang ada banyak cara untuk menyatakan kasih, akan tetapi sayangnya seringkali pernyataan cinta ini disalah artikan atau tidak disadari oleh orang yang menerimanya. Padahal memahami bahasa kasih ini juga adalah salah satu bagian dari ilmu komunikasi yang sangat penting dalam memastikan kelancaran hubungan dan interaksi antar manusia.

Sebetulnya ada referensi ilmiah mengenai bahasa kasih ini, dan mungkin ada yang akan melengkapi artikel ini nantinya. Tapi saya sebagai orang awam akan mencoba membahasnya sedikit karena seringkali dalam kehidupan sehari-hari justru kesalahpahaman mengartikan bahasa kasih ini seringkali menjadi pemicu timbulnya konflik dalam suatu hubungan, khususnya hubungan suami istri atau kekasih, tetapi tak jarang juga terjadi dalam hubungan persahabatan atau hubungan antara orang tua dan anak.

Ada beberapa bahasa kasih yang paling umum kita jumpai dalam kehidupan kita sehari-hari, di antaranya :
1. Bahasa verbal atau dengan kata-kata. Ini adalah cara mengungkapkan perasaan kasih yang paling mudah dimengerti dan diterima, bisa berupa perkataan secara lisan maupun tulisan. Sayangnya, tidak semua orang dapat secara langsung mengungkapkan perasaannya dengan kata-kata. Banyak di antara kita yang merasa malu atau gengsi untuk mengucapkan ‘I love you’ bahkan pada orang terdekat kita sekalipun. Beberapa orang malah menyalahgunakan pernyataan kasih ini dan mengumbarnya untuk mendapatkan keinginannya tanpa menghargai makna kasih itu sendiri. Atau sebaliknya beberapa orang menganggap pernyataan cinta dengan kata-kata sebagai sesuatu yang ‘gombal’.

2. Sentuhan. Ini adalah cara menyatakan perasaan kasih kita kepada seseorang dengan kontak fisik atau sentuhan. Bisa berupa belaian, pelukan, gandengan, ciuman, atau bentuk-bentuk sentuhan lainnya secara langsung maupun tak langsung. Sentuhan tak langsung misalnya ada orang yang senang memakai pakaian pasangannya pada saat pasangan tersebut tidak berada di rumah.


3. Perhatian. Perhatian bisa berupa nasihat, bisa berupa sms atau telepon, bisa juga berupa tindakan seperti mengambilkan makanan/minuman, memijati waktu pasangan sakit badan, mengantarkan ke dokter, dan lain-lain. Kadang-kadang justru bentuk perhatian ini tidak dirasakan sebagai sesuatu yang positif oleh penerimanya. Misalnya omelan orang tua agar anaknya menjadi lebih baik. Hal ini dilakukan karena orang tua menyayangi si anak tetapi bagi si anak rasanya tidak menyenangkan.

4. Pelayanan. Bentuk pernyataan kasih dengan pelayanan hampir mirip dengan perhatian, bedanya perhatian cenderung bersifat praktis dan sesuai kebutuhan, sedangkan pelayanan lebih bersifat memanjakan dan diberikan tidak berdasarkan kebutuhan. Misalnya memijat suami sambil menonton TV bersama. Memakaikan dasi dan mengancingkan kemeja suami (padahal si suami 100% sehat dan mampu melakukannya sendiri). Contoh lain misalnya membawakan sarapan dan koran ke tempat tidur di pagi hari, atau menyuapi buah-buahan atau camilan. Kebayang kan bedanya?

5. Kebersamaan. Orang yang mempunyai bahasa kasih kebersamaan paling merasakan kuatnya perasaan kasih saat berada atau melakukan sesuatu bersama-sama dengan orang yang dikasihinya. Tipe orang-orang begini biasanya ingin ditemani saat melakukan aktivitasnya dan juga ingin terlibat dengan kegiatan pasangannya.

6. Hadiah. Suatu cara pernyataan kasih yang cukup digemari karena praktis dan kadang tidak memerlukan interaksi langsung (hadiah bisa dikirim atau diantar oleh kurir, misalnya). Hadiah bisa berupa makanan, benda, bunga, dan lain-lain. Kelemahan dari cara ini adalah seringkali cara ini dipakai sebagai jalan keluar untuk menyelesaikan suatu masalah atau mencapai suatu tujuan dengan tidak tulus. Misalnya suami yang merasa bersalah karena suatu hal atau untuk menghentikan omelan atau pertanyaan dari sang istri. Ia lalu membelikan hadiah mahal untuk membungkam omelan atau kecurigaan sang istri. Kelemahan lainnya, hal ini bisa dimanfaatkan pihak yang diberi untuk meminta ini dan itu (di sinilah muncul istilah cewek/cowok matre, karena mereka tahu persis kelemahan orang yang mempunyai bahasa kasih dengan memberikan hadiah ini).

Sebetulnya masih ada bentuk-bentuk lain dari bahasa kasih seperti bahasa tubuh (tatapan mata, dan sebagainya), bahasa kasih yang bersifat spiritual, dan sebagainya. Akan tetapi beberapa bahasa kasih di atas adalah yang paling umum dan paling berperan dalam interaksi dan komunikasi sehari-hari.

Banyak kesalah pahaman dan ketidak selarasan terjadi karena kedua belah pihak tidak menyadari perbedaan cara mengungkapkan kasih ini. Sebagai contoh akan saya coba gambarkan beberapa kasus yang kerap terjadi. Misalnya seorang istri memiliki bahasa kasih sentuhan, kebersamaan dan pelayanan. Sedangkan bahasa kasih yang kerap dipakai suaminya adalah perhatian dan hadiah. Contoh kasus:

1. Si istri merasa tidak enak badan dan ingin dimanja, ingin dipeluk dan ditemani (sesuai dengan bahasa kasihnya, sentuhan, kebersamaan dan pelayanan). Begitu dia mengutarakan bahwa dia merasa agak tidak enak badan, suami yang mengasihinya akan menyatakan kasihnya dengan caranya (perhatian) sebagai berikut :
• Memarahi karena bekerja terlalu capek dan kurang tidur.
• Mengambil obat gosok dan mengurut badan si istri yang pegal-pegal sampai si istri berteriak-teriak kesakitan. “Tahan!” kata si suami, “Ini ototnya pada tegang karena kecapean, jadi harus diurut supaya lemas lagi & ngga pegal-pegal.”
• Memaksa si istri meminum obat dan menyuruhnya tidur supaya lekas sembuh.
Reaksi si istri:
• Sedih karena dimarahi, padahal lagi sakit.
• Kesakitan dan kesal karena diurut, padahal penginnya dipeluk dan dielus-elus.
• Merasa tidak disayang karena ditinggal tidur sendiri, lampunya dimatikan, pintunya ditutup pula.
Akhirnya si istri jadi cemberut dan si suami merasa heran karena si istri marah-marah tanpa sebab, akhirnya suami jadi ikut kesal dan marah-marah juga.

2. Si istri berulang tahun. Si suami karena orangnya sibuk dan praktis, belum memberikan apa pun di hari jadi sang istri. Dia menanyakan kepada istrinya, “Mamah pengin hadiah apa?”
Si istri menjawab, “Pengin titip anak-anak ke ibu, biar kita bisa berduaan di rumah.”
Jadilah anak-anak dititipkan ke ibu. Malam itu si istri memesan pizza dengan tujuan supaya tidak usah memasak dan lebih banyak waktu untuk mengobrol dan berduaan.
Dengan manja si istri duduk merapat pada si suami, menyuapkan pizza ke mulut suaminya sementara si suami menonton televisi karena ada pertandingan siaran langsung sepak bola. Lama kelamaan si istri merasa sebal karena merasa tidak dipedulikan si suami. Akhirnya si istri mengajak si suami tidur dengan bayangan akan terjadi percintaan yang hangat dan romantis.
Ternyata di kamar si suami kembali menyalakan televisi dan menanggapi rayuan si istri secara sambil lalu. Akhirnya si istri tidur dengan kesal sambil memunggungi si suami. Hancurlah hari ulang tahunnya.
Setelah pertandingan sepak bola selesai si suami mulai menggerayangi tubuh si istri sambil membangunkannya, “Mamah… katanya mau bercinta?”
Si istri menampik tangan suaminya dan dengan ketus menjawab,” Ngga mau, ngantuk!”
Dengan bingung dan sedikit kesal si suami pun tidur.
Keesokan harinya si suami memberi hadiah untuk istrinya. “Kok? Kapan kamu beli hadiahnya?” si istri merasa agak senang dengan perhatian sang suami meskipun terlambat.
“Aku titip uang sama adikku. Dia yang beliin, kamu lagi butuh tas kan?” perasaan si istri langsung menyurut lagi sampai ke dasar jurang. Bibirnya pun maju 3 cm. Si suami merasa agak terluka, “Kamu ngga suka tas ya? Kalo gitu mau apa dong?”
“Ngga mau apa-apa! Kalo ngga niat mendingan ngga usah beli kado segala!” si istri menjawab dengan ketus lalu masuk ke kamar sambil menangis.
Akhirnya? Terjadilah pertengkaran yang sebenarnya tidak jelas siapa yang salah.

Dan masih banyak lagi kasus-kasus kecil setiap hari menjadi pemicu keributan. Masing-masing merasa pasangannya tidak mau mengerti dirinya atau tidak mencintainya. Hal ini sebenarnya bisa dihindari kalau saja setiap pihak mau menelaah dan memahami bahasa kasih yang dipakai oleh pasangannya. Pertama dia akan menyadari dan menerima saat pasangan menunjukkan perhatian atau kasih sayang dengan caranya. Kedua dia bisa menyenangkan pasangannya dengan memberikan perhatian yang sesuai dengan bahasa kasih yang dikuasainya.

Ilmu komunikasi yang sederhana ini ternyata berperan cukup besar dalam kelancaran suatu hubungan. Saya sendiri pun sempat mengalaminya di awal-awal hubungan dengan suami. Tetapi setelah kami berdua belajar untuk saling memahami, semua bisa berjalan dengan lebih baik dan menyenangkan. Semoga bermanfaat 

Cerpen : A Little Sad Love Story

When she was young she looked everywhere for love
No love for her even when she’d searched under every gravel and pebble
No love for her even when she’d peeked behind every single bush
She ended up begging for love and got broken hearted a few times
She didn’t learn the lesson and finally got the biggest suffering in her life
So she learned her lesson allright and she was no longer looking for love
But just when love had no more appeal for her
It came through her door and had her right there and then
She had to learn to trust and to love and to be loved all over again
Until she felt that this love is what every thing she lived through was meant to prepare her for
But just when her life was on the top of the world
Her love said that he never loved her all those time they’d been together
He just needed her at that time as a stepstone in his life
Her heart was broken again
But she tried her best to hold on to the only love she ever knew
And she did everything in her power to make her love fall in love for her again
Until her love apologized because he had found someone else
The true love he’d been searching for
Then, she allowed her heart to crumble into pieces
So shattered it could never be mended
So tired she no longer want to live
So hurt she could feel no more anger
He stayed by her side, knowing that he could never pursue his true love
She stayed by his side, knowing that she could never own his love
Life went on…
And one day, her love told her he’s the luckiest man alive to have her by his side
He finally said that he loves her
But her heart could no longer feel
It could no longer smile or cry
And they lived together forever after…

10 Most Adorable Moments about the Father of My Sons

1. When he rubs my aching neck and back after a hard day
2. When he'd been made horsey by Christopher and never complain through the whole half hour
3. When he encouraged Lucky to finish his art project by himself and stand by him all the way untill he'd succeeded and then praised and hugged him (I secretly wiped my eyes on my sleeve)
4. When he accompanied me in the delivering room all night long and held my hand whenever I whimpered in pain when giving birth to Christopher (he ended up with nightmares of me screaming for a whole week)
5. When he brought back 3 litres of ice cream home when I was pregnant and had a crave for ice cream all day (never again I could eat so much ice cream without guilty feelings of too much calories)
6.When he takes lucky to school with puffy eyes in the mornings after a big soccer match till 4 in the morning
7. When he secretly tickles my nape and ear from behind when I'm reading bedtime story to Christopher (sending goosebumps all across my arms and back)
8. When he childishly leaps and yells in delight before running fast and plunges into the water everytime we went to the beach (he really loves the sea and the waves, and his enthusiasm is contagious)
9. Whenever he eats everything I cooked and put in front of him
10. When he's asleep and his face is so naive just like our sons, how I love to watch my 3 guys asleep :)

Happy Father's Day darling, you're a really great husband and father, love you.....
June 20th 2009