Dilahirkan sebagai seorang wanita membawa banyak konsekuensi bagi seseorang. Konsekuensi fisik, peran, posisi dan tentunya pandangan umum sesuai dengan konteks budaya dan tradisi yang berlaku. Banyak wanita yang merasa kurang beruntung karena dilahirkan sebagai wanita. Banyak pula yang pasrah menerima nasib karena takdir memilihnya menjadi wanita. Tak sedikit pula yang menyesali, menangisi, bahkan berontak dari kodratnya sebagai seorang wanita.
Mungkin dapat dimaklumi karena seringkali dalam kenyatannya wanita diposisikan sebagai warga kelas 2. Bahkan di beberapa daerah sangat terasa diskriminasi dan perbedaan hak dan prioritas antara kaum pria dan wanita. Tetapi bila ditelaah lebih jauh, kita akan melihat betapa istimewanya Tuhan menciptakan kita sebagai wanita.
Kita lihat dari segi fungsi. Tuhan menciptakan pria sebagai kepala dan wanita sebagai penolong pria dan keluarga. Tanggung jawab pria sebagai kepala memang berat, karena itulah ia membutuhkan seorang penolong yang sepadan baginya. Secara logika penolong dengan yang ditolong, pasti penolong mempunyai kemampuan lebih sehingga dianggap mampu untuk menolong pria melaksanakan tanggung jawabnya bukan? Nah, jika demikian, dalam hal apa wanita memiliki kemampuan lebih untuk melaksanakan fungsi sebagai penolong ini?
1. Tenaga. Secara fisik memang tenaga otot seorang wanita kalah jauh dengan yang dimiliki seorang pria. Tetapi secara pikiran dan ketahanan, tenaga seorang wanita jauh melebihi tenaga pria. Secara ilmiah sudah dibuktikan bahwa wanita mempunyai daya tahan yang lebih tinggi terhadap stress dan rasa sakit. Buktinya, seringkali kaum wanita (terutama para ibu) tidak merasakan sakit kepala atau masuk angin/flu yang dideritanya dan tetap melakukan aktifitasnya sehari-hari dengan baik. Sedangkan kebanyakan kaum pria akan tumbang dan perlu istirahat penuh untuk pulih dari penyakit flu atau masuk angin yang dideritanya.
Wanita juga mengalami pendarahan dan gangguan hormonal berupa sakit kepala, keram perut, kejang betis atau sakit pinggang setiap bulan pada saat menstruasi dan bisa tetap bekerja. Seorang pria akan merasa sangat lemas apabila kehilangan darah dalam jumlah yang sama.
Karena itulah seorang wanita merupakan tulang punggung keluarga dalam arti domestik. Seorang ibu yang baik dan dapat diandalkan di dalam sebuah rumah menjamin keteraturan dan kenyamanan hidup seluruh anggota keluarganya. Biasanya seorang ibu yang berdedikasi akan menjadi orang pertama yang bangun di rumah untuk merapikan rumah dan menyiapkan segala kebutuhan keluarganya. Dia juga akan menjadi orang terakhir yang tidur di rumah setelah memastikan semua anggota keluarganya tidak kekurangan suatu apapun dan sudah tertidur dengan nyaman serta mempersiapkan segala yang diperlukan untuk keesokan harinya.
Betapa mulianya tugas seorang wanita sebagai penjaga keluarga dan betapa istimewanya Tuhan memperlengkapi kita dengan segala kelebihan dan kemampuan itu.
2. Keseimbangan otak. Wanita memiliki daya konsentrasi dan ketelitian yang lebih baik dari pria. Secara anatomi, otak wanita lebih berkembang secara seimbang karena kedua belah otak yang mengatur logika dan perasaan akan dipakai pada porsi yang hampir sama. Sedangkan kebanyakan pria lebih mengandalkan logika dan kurang mengasah sisi perasaan mereka. Itulah sebabnya kebanyakan wanita sanggup melakukan multi tasking (mengerjakan beberapa hal sekaligus pada waktu yang bersamaan). Misalnya: menyuapi anak yang bungsu sambil melipat baju-baju dan memeriksa pekerjaan rumah anaknya yang sulung. Seorang pria biasanya akan berkonsentrasi penuh pada satu pekerjaan yang sedang dilakukannya tanpa bisa memperhatikan hal lainnya. Perhatikan seorang pria yang sedang menonton pertandingan sepak bola atau membaca koran. Seringkali dipanggil pun dia tidak sadar dan ditanya pun dia tidak menjawab. Memang seringkali tugas-tugas seorang istri dan ibu menuntut seorang wanita melakukan multi tasking sedangkan tugas suami sebagai seorang pencari nafkah (jaman dahulu: pemburu makanan) bagi keluarga menuntut fokus yang tajam dan konsentrasi yang terpusat. Untuk itulah Tuhan sudah memperlengkapi kita masing-masing sesuai dengan peran yang sudah dirancangkan-Nya.
3. Simpati dan empati. Seorang wanita lebih bisa menyelami perasaan orang lain dan merasakan kesenangan ataupun penderitaan orang lain. Maka tak heran banyak wanita yang akan menangis atau tertawa ketika membaca buku atau menonton film sesuai dengan keadaan tokoh yang dibaca/dilihatnya. Hal ini menyebabkan seorang ibu menjadi tempat yang tepat bagi suami dan anak-anaknya untuk bermanja-manja dan menceritakan segala kesenangan atau permasalahan yang mereka hadapi. Betapa dinginnya suasana rumah tanpa seorang ibu yang hangat dan penyayang.
Sedangkan suami yang berperan sebagai pelindung keselamatan keluarga dibutuhkan untuk menciptakan rasa aman dan untuk menjadi seseorang yang selalu dapat diandalkan dalam setiap ancaman/masalah yang mengganggu keluarga. Dari suami lah anak-anak akan belajar mengenai rasa aman dan ketegasan serta tanggung jawab. Untuk itu seorang wanita harus dapat me-manage emosi dan kondisi dirinya agar dapat menciptakan suasana yang kondusif bagi suami dan anak-anaknya di rumah. Seorang istri yang pengomel dan selalu mengeluh atau terlalu mementingkan dirinya sendiri akan dijauhi oleh suami dan anak-anaknya. Mungkinkah itu sebabnya banyak suami yang berselingkuh dan banyak anak-anak yang tidak betah di rumah?
Jika demikian, ke mana seorang wanita, seorang istri, seorang ibu, harus menyalurkan kebutuhan emosionalnya? Bukankan wanita adalah makhluk kata-kata yang butuh untuk mengeluarkan sekitar 15.000 kata setiap harinya? Bukankah seorang wanita butuh tempat “curhat” untuk meredam stress-nya sendiri? Justru karena itulah Tuhan menjadikan wanita makhluk yang bersahabat dengan wanita lainnya. Perhatikan hubungan pertemanan seorang pria. Sedekat apapun seorang pria dengan temannya, selalu diwarnai dengan persaingan (membandingkan mobil, pekerjaan, istri,dll.). Dan rasa gengsi seringkali menghalangi mereka untuk mengemukakan masalah yang sedang mereka hadapi atau kelemahan yang mereka punyai. Hal ini wajar mengingat kodrat seorang pria yang memang diciptakan demikian pada awalnya, yaitu untuk bertahan dan menjaga keamanan teritori kedaulatan dan keluarganya. Bukankah sungguh beruntung kita kaum wanita yang bisa berinteraksi dengan begitu intim dan terbuka dengan sahabat-sahabat kita sesama kaum wanita? Dua orang wanita yang berjalan-jalan sambil bergandengan tangan di tempat umum atau saling menyapa dengan pelukan dan ciuman dianggap wajar. Apa yang kita pikirkan dan rasakan saat melihat 2 orang pria dewasa melakukan hal-hal tersebut?
Tuhan juga menciptakan wanita sebagai makhluk rohani. Setiap wanita mempunyai naluri untuk mendekat pada pencipta-Nya. Meskipun suami Tuhan tetapkan sebagai imam dalam keluarga, peran istri tak kalah pentingnya dalam membangun kehidupan rohani dalam keluarga. Doa seorang istri mempunyai kuasa yang tak terbatas. Setiap tokoh wanita hebat yang dicatat dalam Alkitab adalah sosok-sosok wanita pendoa yang luar biasa. Dan kita memiliki Allah sendiri di pihak kita, yang sanggup menanggung setiap beban kita, yang merasakan setiap penderitaan kita dan menyembuhkan setiap luka kita dengan bilur-bilur-Nya di atas kayu salib. Dia adalah sahabat yang tak pernah tertidur, Dia adalah kekasih yang tak pernah bĂȘte, Dia adalah tempat curhat yang tak pernah menganggap remeh setiap cerita kita, Dia adalah konselor cuma-cuma yang maha bijak dan tak terbatas waktu prakteknya, Dia adalah Bapa yang selalu siap memeluk kita, dan Dia adalah Allah yang maha kuasa yang sanggup mengubah hati, mengubah keadaan dan menjungkir balikkan dunia hanya dengan kehendak dan Firman-Nya.
4. Mengandung dan melahirkan anak. Ini adalah hak istimewa yang Tuhan karuniakan kepada kaum wanita. Memelihara sebuah jiwa di dalam tubuh kita dan merasakannya bertumbuh selama 9 bulan di dalam tubuh kita adalah sebuah pengalaman spiritual yang tak tergambarkan dan tak tergantikan. Hubungan batin dan hubungan fisik yang terjadi sungguh adalah anugerah yang tak akan bisa dirasakan oleh seorang pria. Secara naluriah seorang bayi akan mengenal bau tubuh, detak jantung dan suara ibunya karena kebersamaan selama di dalam kandungan. Seorang anak juga akan menyerap setiap emosi dan perasaan ibunya selama ia dikandung.
Bayangkan betapa besarnya kuasa kita membentuk dan mempengaruhi anak di dalam kandungan kita. Seorang anak yang tidak diinginkan, mengalami usaha pengguguran atau dikandung dalam kandungan seorang ibu yang menderita ketakutan atau depresi atau kemarahan akan menjadi seorang manusia yang peka terhadap penolakan, tidak percaya diri dan sulit mengendalikan emosi. Sedangkan seorang anak yang dicintai sejak dari dalam kandungan, diajak bicara, distimulasi dengan sentuhan dan nyanyian, akan tumbuh menjadi seorang manusia yang hangat, cerdas dan percaya diri. Apa yang terekam selama masa kehamilan dan 4 tahun pertama kehidupannya selamanya akan mempengaruhi kepribadian dan kehidupan si anak.
Setelah itu tugas utama seorang ibu adalah mendidik anak-anaknya di jalan yang benar. Pola asuh dan cara kita memperlakukan dan menerapkan disiplin pada anak-anak kita akan menentukan manusia seperti apa jadinya mereka nanti.
Betapa luar biasanya kepercayaan yang Tuhan berikan saat kita diijinkan menjadi seorang ibu. Adakah kita menyadari dan mensyukuri anugerah sekaligus tanggung jawab ini? Karena bagaimanapun tak ada seorang anak pun yang meminta untuk dilahirkan. Kita orang tuanya lah yang memutuskan untuk menjadikan dan melahirkannya ke dunia ini. Kita jugalah yang bertanggung jawab membentuk anak kita menjadi seorang manusia yang baik dan bahagia.
5. Kemampuan untuk beradaptasi dan ketidakegoisan. Wanita dikodratkan untuk menjadi makhluk yang tidak egois. Tak akan ada seorang wanita yang egois yang dapat menciptakan rumah tangga atau lingkungan yang menyenangkan dan berhasil. Sebaliknya seorang wanita yang tahu tugas dan perannya, yang punya hati yang rela untuk berkorban dan melayani, dan punya jiwa yang kaya akan pengampunan dan kasih yang tak bersyarat bagi Tuhan dan keluarga akan berdampak sedemikian besar bagi lingkungan dan keluarganya.
Ada pepatah yang mengatakan di balik setiap pria sukses ada seorang wanita bijak dan di balik setiap pria gagal ada seorang wanita yang tidak bijak. Wanita ini bisa berupa istri atau ibunya, atau mungkin kekasihnya. Betapa akuratnya pernyataan itu. Seorang wanita bisa berdampak begitu besar bagi keluarga dan orang-orang terdekatnya. Apakah kita mau menjadi orang di baik kesusksesan keluarga kita ataukah kehancuran keluarga kita?
Ya, seorang wanita bisa mengangkat semangat seorang suami yang putus asa dan menjadikannya sukses dengan dukungan dan kasih yang tulus. Dia juga bisa merawat dan mendidik seorang anak yang cacat fisik menjadi seorang yang berprestasi dengan kepercayaan dan pendampingan yang penuh kasih.
Seorang wanita bisa menghasut seorang Samson hingga menjual kekuatan dan kredibilitasnya. Dan seorang wanita juga bisa menyebabkan perpecahan dalam keluarga besar seorang pria baik-baik gara-gara soal warisan.
Memang tidak mudah menjadi seorang wanita yang mendahulukan kepentingan orang lain di atas kepentingan diri kita sendiri. Kita harus mengurus rumah, mengurus suami, mengurus anak-anak, kadang harus bekerja, harus merawat diri agar selalu tampak cantik, juga harus menjaga emosi dan membawa kehangatan di rumah dan mengesampingkan masalah emosi dan keegoisan kita. Tetapi Tuhan sudah memperlengkapi kita dengan segala atribut, kasih karunia dan kemampuan yang diperlukan untuk semuanya itu. Dan saat kita menyadari misi khusus yang Tuhan persiapkan buat kita dan kita menjalankannya dengan penerimaan dan sukacita, semua akan ternikmati dan pada gilirannya akan mendatangkan kebaikan pada semua pihak. Suami semakin mengasihi kita, anak-anak akan tumbuh menjadi anak-anak yang baik dan berhasil, lingkungan kita akan terberkati dengan kehadiran kita yang membawa teladan dan kebaikan, dan kita akan merasa puas secara utuh atas tujuan hidup yang tergenapi dengan baik. Dan pada akhirnya, Tuhan akan tersenyum dan berkata,”Baik sekali perbuatanmu itu, hai hamba-Ku yang baik dan setia….Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan Tuanmu.”
Tulisan ini saya persembahkan bagi setiap wanita pada umumnya dan secara khusus bagi setiap istri dan ibu yang mungkin selama ini mempertanyakan keberhargaan dan tujuan hidupnya. Tuhan memberkati…
Rabu, 23 Juni 2010
Wajah dalam Cermin
Wajah itu menatapku dari dalam cermin. Wajah yang sangat familier, tapi juga asing karena selama ini aku kurang akrab bergaul dengan cermin. Boleh dibilang bahkan aku cenderung untuk menjauhi cermin karena aku kurang menyukai apa yang kutemukan di sana.
Tetapi malam itu aku menatap wajah itu dengan seksama. Memperhatikan setiap detilnya, menganalisa setiap bagiannya.
Aku melihat dahi yang lebar, persis dahi ayahku, dengan warna kulit yang sedikit lebih gelap dari bagian wajahku yang lain (yang juga tidak putih). Ibuku bilang sewaktu melahirkanku dulu, dokter meninggalkan ibuku yang baru mencapai bukaan lima untuk menangani pasien yang sudah mencapai bukaan sepuluh di rumah sakit lain dengan pesan untuk jangan dulu mengejan sebelum dokter kembali. Ternyata dalam waktu yang relatif singkat ibuku sudah mencapai bukaan sepuluh dan aku mulai mendesak keluar. Cukup lama beliau menahanku tepat di jalan lahir. Ketika dokter kembali, begitu melihat ujung rambut sang dokter, ibuku melepas semua pertahanannya dan akupun meluncur keluar dalam satu dorongan. Dahi dan ubun-ubunku berwarna kehitaman karena pembuluh-pembuluh darah di sana sempat terjepit cukup lama ketika ibuku menanti dokter yang tak kunjung datang. Untunglah lama kelamaan warna kehitaman itu memudar walaupun tidak sama persis dengan bagian wajahku yang lain.
Pandanganku beralih ke alis yang tipis dan tersebar tak beraturan di sepanjang tulang alis, bahkan sampai ke kelopak mata.
Disusul dengan sepasang kelopak mata yang tebal dan tanpa lipatan, dengan bulu mata yang lurus dan pendek-pendek. Begitu tipis dan pendeknya sampai kalau tidak diperhatikan benar-benar, tampak seolah-olah aku tidak mempunyai bulu mata sama sekali.
Kini aku memperhatikan bagian mata. Sepasang mata yang kecil dan sipit, dengan sudut luar yang mengarah ke bawah sehingga mennimbulkan kesan sayu. Seandainya saja sudut-sudut mata itu mengarah ke atas seperti mata kucing, mungkin akan tampak lebih menarik dan seksi, seperti Lucy Liu, salah satu pemeran tokoh Charlie’s Angels, atau Michelle Khan, seorang aktris Hong Kong yang terpilih menjadi salah satu James Bond’s girl (gadis pendamping James Bond) yang merupakan pilihan gadis-gadis terseksi sepanjang zaman.
Beralih ke hidung yang walaupun tidak pesek tetapi cukup besar, dengan sebutir baso sebagai pusat tepat di tengahnya. Kucoba memijitnya agar tampak lebih ramping, tetapi wajah itu malah terlihat aneh karena sudut matanya ikut tertarik. Akhirnya, dengan pasrah kulepaskan kembali hidung baso yang malang itu sambil menghembuskan nafas keras-keras.
Bagian terakhir dari wajah itu adalah sepasang bibir yang cukup lumayan sebetulnya, hanya saja bibir itu tampak sedikit kehitaman akibat pemakaian lipstick-lipstik murah yang kubeli waktu ABG, sebelum akhirnya aku menyerah dalam usahaku memperbaiki penampilanku ini.
Aku pun mengalihkan tatapanku ke bawah, menolak untuk menatap wajah yang mengecewakan itu lebih lama lagi.
Memang selama ini aku tidak pernah mengalami kesulitan bergaul dengan siapa pun, termasuk para pria. Mereka mengagumi efisiensi kerja dan luasnya wawasanku, kami biasa berdiskusi dan tukar pendapat. Topik apa pun bisa kuladeni dengan seimbang seolah-olah aku ini seorang pria seperti mereka, bahkan sampai membicarakan kaum wanita tanpa merasa kagok di depanku. Tapi kalau soal asmara, tak seorang pun melirikku. Seperti percakapanku siang tadi dengan serang rekan pria.
“Gila, gue kemaren ngeliat cewek cakep banget di BIP! Putih, mulus, pake hot pants sama tank top, keren boo! Pantatnya kenceng lagi, kaya bapaw!”
“Ah elo! Emang ngga cukup apa punya pacar satu? Kan si Rani juga udah cakep banget,” ujarku sambil diam-diam melirik pakaianku yang sangat jauh dari kategori seksi. Lagipula aku tidak cukup percaya diri untuk mengenakan pakaian seksi karena kurasa bentuk tubuhku kurang menunjang untuk itu.
“Iya dong! Pacar gue kan harus cakep. Kalo ngga cakep malu dong dibawa jalan, apalagi kalo ketemu temen, muka gue mau ditaro di mana kalo bawa cewek jelek?”
Dalam hati aku ngedumel, “Ngga sensitif! Ngga punya perasaan! Gua kan termasuk cewek jelek, sialan! Dia pikir gua bukan cewek apa?”
“Emang kenapa?” tantangku, “Yang penting kan hati sama otaknya. Diajak ngomong nyambung, saying suami, setia pula!”
“Puih! Cewek mah ngga usah pinter-pinter, ntar malah ngelunjak! Yang penting keren, jadi bangga ngegandengnya. Kalo urusan setia sih, selama doku mengalir, doi pasti setia kok, tenang aja,” sahutnya renyah.
“Emangnya barang? Bisa dibeli pake uang & gunanya Cuma untuk dipamerin doang? Enak aja!” ujarku ketus, tersinggung karena dia begitu merendahkan nilai dan martabat kaum wanita.
“Ya iya lah! Bayangin gue ngegandeng cewek udah item, jelek, gayanya kampungan lagi. Bisa-bisa disangka gue jalan sama pembantu gue dong!”
Aku pun malas membahasnya lebih lanjut karena rasanya hatiku perlahan tenggelam, amblas entah ke mana menyisakan ruang yang begitu hampa sampai-sampai terasa menyesakkan di dadaku.
Itulah penyebab aku mengamati wajahku di cermin malam itu, dan banyak malam-malam lain di mana aku menyesali penampilanku yang “biasa-biasa saja” kalau tidak bisa dibilang jelek.
Lamunanku terputus oleh suara anak bungsuku, “Mama! Susunya udah abisss!”
“Oh! Iya sayang, sebentar mama ke sana,” aku menyahut dengan riang.
Perlahan kuletakkan sisir yang kupegang di meja riasku, kembali kutatap bayanganku di cermin. Wajah yang menatapku mala mini masih wajah yang sama dengan wajah dalam cermin di malam itu dua belas tahun yang lalu, hanya sedikit lebih berisi, dan mulai ada timbunan lemak tipis di bawah daguku. Tetap tanpa polesan, tetap dengan hidung baso dan dahi yang lebih gelap. Yang membedakan hanyalah ekspresi damai dan penerimaan yang terpancar darinya, tak ada lagi penyesalan dan amarah di sana.
Diam-diam kuamati sosok suamiku yang sedang bercanda dengan kedua jagoan cilikku. Sosok yang gagah dan digandrungi wanita. Bahkan sampai saat ini masih banyak wanita yang menunjukkan perhatian lebih padanya. Tapi dia telah memilihku menjadi pendampingnya, mengasihiku dan menghormatiku. Alasannya? Ternyata kriteria seorang pria dalam mencari pacar dan mencari istri itu berbeda, dan dia menemukan apa yang dia cari di dalam diriku.
Jadi, kaum wanita yang merasa dirinya “biasa-biasa saja”, percayalah bahwa Tuhan menciptakan setiap kita sempurna adanya. Setiap kekurangan dan kelebihan kita ada dalam rancangan-Nya, bukan merupakan suatu kesalahan atau pun kelalaian. Dan Tuhan punya rencana yang indah dalam hidup kita, apa pun itu, asalkan kita sabar menanti dan mengikuti waktunya Tuhan.
Tetapi malam itu aku menatap wajah itu dengan seksama. Memperhatikan setiap detilnya, menganalisa setiap bagiannya.
Aku melihat dahi yang lebar, persis dahi ayahku, dengan warna kulit yang sedikit lebih gelap dari bagian wajahku yang lain (yang juga tidak putih). Ibuku bilang sewaktu melahirkanku dulu, dokter meninggalkan ibuku yang baru mencapai bukaan lima untuk menangani pasien yang sudah mencapai bukaan sepuluh di rumah sakit lain dengan pesan untuk jangan dulu mengejan sebelum dokter kembali. Ternyata dalam waktu yang relatif singkat ibuku sudah mencapai bukaan sepuluh dan aku mulai mendesak keluar. Cukup lama beliau menahanku tepat di jalan lahir. Ketika dokter kembali, begitu melihat ujung rambut sang dokter, ibuku melepas semua pertahanannya dan akupun meluncur keluar dalam satu dorongan. Dahi dan ubun-ubunku berwarna kehitaman karena pembuluh-pembuluh darah di sana sempat terjepit cukup lama ketika ibuku menanti dokter yang tak kunjung datang. Untunglah lama kelamaan warna kehitaman itu memudar walaupun tidak sama persis dengan bagian wajahku yang lain.
Pandanganku beralih ke alis yang tipis dan tersebar tak beraturan di sepanjang tulang alis, bahkan sampai ke kelopak mata.
Disusul dengan sepasang kelopak mata yang tebal dan tanpa lipatan, dengan bulu mata yang lurus dan pendek-pendek. Begitu tipis dan pendeknya sampai kalau tidak diperhatikan benar-benar, tampak seolah-olah aku tidak mempunyai bulu mata sama sekali.
Kini aku memperhatikan bagian mata. Sepasang mata yang kecil dan sipit, dengan sudut luar yang mengarah ke bawah sehingga mennimbulkan kesan sayu. Seandainya saja sudut-sudut mata itu mengarah ke atas seperti mata kucing, mungkin akan tampak lebih menarik dan seksi, seperti Lucy Liu, salah satu pemeran tokoh Charlie’s Angels, atau Michelle Khan, seorang aktris Hong Kong yang terpilih menjadi salah satu James Bond’s girl (gadis pendamping James Bond) yang merupakan pilihan gadis-gadis terseksi sepanjang zaman.
Beralih ke hidung yang walaupun tidak pesek tetapi cukup besar, dengan sebutir baso sebagai pusat tepat di tengahnya. Kucoba memijitnya agar tampak lebih ramping, tetapi wajah itu malah terlihat aneh karena sudut matanya ikut tertarik. Akhirnya, dengan pasrah kulepaskan kembali hidung baso yang malang itu sambil menghembuskan nafas keras-keras.
Bagian terakhir dari wajah itu adalah sepasang bibir yang cukup lumayan sebetulnya, hanya saja bibir itu tampak sedikit kehitaman akibat pemakaian lipstick-lipstik murah yang kubeli waktu ABG, sebelum akhirnya aku menyerah dalam usahaku memperbaiki penampilanku ini.
Aku pun mengalihkan tatapanku ke bawah, menolak untuk menatap wajah yang mengecewakan itu lebih lama lagi.
Memang selama ini aku tidak pernah mengalami kesulitan bergaul dengan siapa pun, termasuk para pria. Mereka mengagumi efisiensi kerja dan luasnya wawasanku, kami biasa berdiskusi dan tukar pendapat. Topik apa pun bisa kuladeni dengan seimbang seolah-olah aku ini seorang pria seperti mereka, bahkan sampai membicarakan kaum wanita tanpa merasa kagok di depanku. Tapi kalau soal asmara, tak seorang pun melirikku. Seperti percakapanku siang tadi dengan serang rekan pria.
“Gila, gue kemaren ngeliat cewek cakep banget di BIP! Putih, mulus, pake hot pants sama tank top, keren boo! Pantatnya kenceng lagi, kaya bapaw!”
“Ah elo! Emang ngga cukup apa punya pacar satu? Kan si Rani juga udah cakep banget,” ujarku sambil diam-diam melirik pakaianku yang sangat jauh dari kategori seksi. Lagipula aku tidak cukup percaya diri untuk mengenakan pakaian seksi karena kurasa bentuk tubuhku kurang menunjang untuk itu.
“Iya dong! Pacar gue kan harus cakep. Kalo ngga cakep malu dong dibawa jalan, apalagi kalo ketemu temen, muka gue mau ditaro di mana kalo bawa cewek jelek?”
Dalam hati aku ngedumel, “Ngga sensitif! Ngga punya perasaan! Gua kan termasuk cewek jelek, sialan! Dia pikir gua bukan cewek apa?”
“Emang kenapa?” tantangku, “Yang penting kan hati sama otaknya. Diajak ngomong nyambung, saying suami, setia pula!”
“Puih! Cewek mah ngga usah pinter-pinter, ntar malah ngelunjak! Yang penting keren, jadi bangga ngegandengnya. Kalo urusan setia sih, selama doku mengalir, doi pasti setia kok, tenang aja,” sahutnya renyah.
“Emangnya barang? Bisa dibeli pake uang & gunanya Cuma untuk dipamerin doang? Enak aja!” ujarku ketus, tersinggung karena dia begitu merendahkan nilai dan martabat kaum wanita.
“Ya iya lah! Bayangin gue ngegandeng cewek udah item, jelek, gayanya kampungan lagi. Bisa-bisa disangka gue jalan sama pembantu gue dong!”
Aku pun malas membahasnya lebih lanjut karena rasanya hatiku perlahan tenggelam, amblas entah ke mana menyisakan ruang yang begitu hampa sampai-sampai terasa menyesakkan di dadaku.
Itulah penyebab aku mengamati wajahku di cermin malam itu, dan banyak malam-malam lain di mana aku menyesali penampilanku yang “biasa-biasa saja” kalau tidak bisa dibilang jelek.
Lamunanku terputus oleh suara anak bungsuku, “Mama! Susunya udah abisss!”
“Oh! Iya sayang, sebentar mama ke sana,” aku menyahut dengan riang.
Perlahan kuletakkan sisir yang kupegang di meja riasku, kembali kutatap bayanganku di cermin. Wajah yang menatapku mala mini masih wajah yang sama dengan wajah dalam cermin di malam itu dua belas tahun yang lalu, hanya sedikit lebih berisi, dan mulai ada timbunan lemak tipis di bawah daguku. Tetap tanpa polesan, tetap dengan hidung baso dan dahi yang lebih gelap. Yang membedakan hanyalah ekspresi damai dan penerimaan yang terpancar darinya, tak ada lagi penyesalan dan amarah di sana.
Diam-diam kuamati sosok suamiku yang sedang bercanda dengan kedua jagoan cilikku. Sosok yang gagah dan digandrungi wanita. Bahkan sampai saat ini masih banyak wanita yang menunjukkan perhatian lebih padanya. Tapi dia telah memilihku menjadi pendampingnya, mengasihiku dan menghormatiku. Alasannya? Ternyata kriteria seorang pria dalam mencari pacar dan mencari istri itu berbeda, dan dia menemukan apa yang dia cari di dalam diriku.
Jadi, kaum wanita yang merasa dirinya “biasa-biasa saja”, percayalah bahwa Tuhan menciptakan setiap kita sempurna adanya. Setiap kekurangan dan kelebihan kita ada dalam rancangan-Nya, bukan merupakan suatu kesalahan atau pun kelalaian. Dan Tuhan punya rencana yang indah dalam hidup kita, apa pun itu, asalkan kita sabar menanti dan mengikuti waktunya Tuhan.
Toko Berkat 2 (Buku Harian Seekor Kucing)

Di dunia kucing, namaku Sophie, seekor primadona di lingkungan RT.04. Setiap malam, aku tinggal memilih jantan mana yang akan kujadikan teman kecan untuk malam itu, warna buluku yang terdiri dari campuran warna coklat tua, coklat muda, coklat susu hingga cream, dalam pola garis-garis yang elegant disebut brown patch tabby. Tetapi di dunia manusia, aku dipanggil "Meng" , dan banyak orang menyebut jubah buluku dengan sebutan "warna lap pel", apapun artinya itu, mungkin sebuah sebutan untuk warna yang cantik dan langka.
Aku mengadopsi sebuah keluarga manusia yang cukup baik terhadapku, mereka selalu menyediakan makanan untukku, membelai-belai dan menggendongku, berbicara kepadaku, dan mengajakku bermain. Mereka juga tidak merepotkan, mereka tinggal di suatu bangunan yang mereka beri nama "Toko Berkat"
Mereka mengisi ruangan bawah yang mereka sebut "toko" dengan banyak rak dan barang-barang, ada juga ruangan-ruangan lain yang disebut "gudang", "dapur", dan lain-lain, dan pada malam hari mereka akan memasukkan diri mereka sendiri ke dalam suatu kandang di lantai 2 yang mereka sebut "rumah", benar-benar tidak merepotkanku, karena pada malam hari lah aku sibuk beraktifitas.
Di malam hari, aku berpatroli di setiap ruangan untuk berburu mangsa, ada tikus-tikus yang gemuk dan lezat, terutama di "toko" dan di "gudang", ada cicak-cicak yang merayap di dinding "dapur" dan di balik barang-barang, ada juga cecurut-cecurut yang masuk ke dalam dari got di depan bangunan, nah kalau yang ini tidak akan aku makan, karena mereka berbau busuk, tetapi cukup menarik untuk diburu dan dijadikan mainan. Aku bekerja keras mengejar-ngejar mereka di kegelapan, tetapi itu bukan masalah untukku karena mataku memiliki kemampuan night vision yang sempurna. Terkadang aku terpaksa menjatuhkan barang-barang dalam usahaku menangkap mangsa, apalagi makin lama populasi hewan buruan di Toko Berkat ini semakin menurun, pernah sekali aku menjatuhkan sesuatu yang disebut "oven toaster" oleh manusia, dan keesokan harinya mereka semua sangat ramai meributkan barang tersebut, aneh! Lagipula, apa kegunaan barang kotak yang keras dan dingin itu?
Beberapa kali aku mencoba menghadiahkan hasil buruanku pada keluargaku, tetapi kelihatannya mereka tidak menyukai tikus, karena mereka malah berteriak-teriak, bahkan memanjat ke atas kursi saat aku membawakan bangkai tikus segar atau cicak mati untuk mereka.
Karena populasi hewan buruan di Toko Berkat sudah sangat menurun dan kebutuhanku untuk kehidupan sosial yang sehat dan gaul, maka terkadang sebelum pukul 18.00, saat keluarga manusiaku menutup pintu toko, aku akan pergi meninggalkan Toko Berkat untuk memulai kehidupan malamku. Seringkali aku berkelana di jalanan yang dingin dan kejam di malam hari, menghadapi berbagai tantangan seperti monster-monster besar berisik yang mengeluarkan gas beracun (kalau tidak salah manusia menyebutnya "mobil") yang seringkali mencelakai kami bangsa kucing ketika sedang menyeberang jalan, anjing-anjing liar yang selalu mengejar-ngejar dan menggigit kami, juga manusia-manusia liar yang tidak mempunyai "kandang" sendiri dan berkeliaran di jalanan untuk mencelakai makhluk-makhluk yang lebih lemah. Tetapi yang aneh dengan manusia, kadang mereka saling mencelakai antar mereka sendiri, sungguh tak masuk akal! Pengalamanku di jalanan membuatku sangat akurat menilai manusia atau pun makhluk-makhluk lainnya.
Di pagi hari, tepatnya setiap pukul 8.30 pagi, saat keluarga manusiaku membuka toko mereka (catatan: Manusia justru beraktifitas di pagi-sore hari, di malam hari mereka tidur. Aneh? Percayalah, aku melihatnya setiap hari), aku sudah menanti di halaman, dan begitu celah pertama terbuka, aku akan melesat masuk untuk segera mengistirahatkan tubuhku yang lelah dan mengembalikan kesegaran serta kecantikanku. Biasanya keluarga manusia ku akan manyambutku dengan cemilan yang nikmat dan belaian serta sapaan hangat, mereka juga akan merawat luka-luka yang kuperoleh dari perkelahian antar gank dan perebutan pasangan, ahhhh nikmatnya punya keluarga! Bahkan para karyawan pun menyambutku dengan ceria, mereka akan tersenyum lebar dan melontarkan sapaan akrab seperti, "eh, si jablay tah baru pulang!" atau "Liat si Meng meni dekil gitu!", yang walaupun tidak aku mengerti tapi terasa akrab dan membuatku tersanjung karena kehadiranku begitu disukai.
Setelah makan dan membersihkan diri, aku akan mencari tempat yang nyaman untuk beristirahat, biasanya di sekitar toko karena aku senang berada di dekat keluargaku, dan untungnya banyak tempat yang nyaman di sana untuk aku bergelung hangat menikmati istirahatku. Tempat favoritku adalah di pangkuan salah satu keluargaku, tapi sayang mereka seringkali harus bangkit dari duduknya untuk melayani tamu yang datang, sehingga aku sering dipindahkan (lagi enak-enaknya tidur, gimana ngga bete coba?) Alternatif lain, aku seringkali tidur di sebuah kardus di pojokan, isinya tumpukan kertas dan brosur, cukup hangat dan nyaman, atau di rak pertama sekat paling bawah, tempat display berbagai karpet dan kesed, hanya saja di sana seringkali aku terbangun oleh jeritan orang yang kaget saat menyentuhku waktu melihat-lihat kesed. Tempat strategis juga adalah di rak sisi pada sekat yang cukup tinggi, tepatnya di balik display blender atau magic com, tetapi kadang aku terkejut ketika barang yang menutupi di depanku tiba-tiba diambil karena ada yang hendak membelinya, terpaksa aku pindah lagi.
Apabila aku tidak terlalu lelah atau mengantuk, terkadang aku duduk di atas etalase, atau berjalan-jalan mengitari toko sambil mengamati orang-orang yang keluar masuk toko. Beberapa sangat simpatik dan tampak menyukaiku, seringkali seseorang membelai-belai diriku atau menggendongku, tapi tak jarang juga orang yang menjerit begitu melihatku, atau berjalan menjauh dariku sambil mengernyit tak suka seakan-akan aku adalah suatu sosok yang menjijikan. Yang paling kubenci adalah anak-anak yang senang menjahili atau menendangku (untung keluargaku selalu menyelamatkan dan membelaku), atau orang-orang yang tidak memakai matanya saat berjalan dan menginjak kaki atau ekorku (ngga sopan!).
Di Toko Berkat ini aku menjadi saksi bisu (paling-paling hanya akan menjadi bahan gossip di arisan kucing di malam hari) dari berbagai drama kehidupan, mulai dari tawar-menawar yang alot antara keluargaku dengan pembeli, hubungan yang akrab dan manis dengan langganan, konflik-konflik antar manusia, sampai wajah-wajah koruptor yang selalu meminta bon palsu (percaya atau tidak, 90% dari para koruptor ini adalah mereka yang berprofesi sebagai guru atau pegawai pemerintahan, ck ck ck! Apa jadinya bangsa manusia ini? Anak-anak mereka dididik oleh oknum-oknum koruptor yang tidak tahu malu, untung di dunia kucing, bangsa kami yang bermartabat tidak pernah mempraktekkan korupsi yang memalukan itu)
Yahhh, itu lah sedikit cerita tentang kehidupanku bersama manusia di Toko Berkat, di sini aku belajar tentang hubungan antar manusia yang beragam, juga tentang nilai kebersamaan dan pentingnya keluarga bagi kita, karena semenarik apa pun kehidupan dan orang-orang yang kita jumpai di luar sana, keluarga lah yang selalu kita rindukan, yang pada nya aku selalu bisa kembali dan diterima sampai kapan pun......
THE END
Diceritakan oleh Meng, kucing dan anggota keluarga Toko Berkat
Toko Berkat
Tahukah kau, ternyata pekerjaan berdagang alat-alat rumah tangga adalah pekerjaan yang sangat lucu. Begitu banyak kelucuan yang terjadi setiap hari kalau kau memperhatikannya.
Barang-barang yang dijual saja lucu-lucu. Pernahkah kau melihat alat penangkap nyamuk yang berbentu kodok 'calangap'? Cara kerjanya, lubang hidung si kodok mengeluarkan gelombang suara dengan frekuensi nyamuk untuk menarik perhatian nyamuk, lalu di dalam mulut si kodok ada sinar kebiruan yang katanya efeknya akan rada menghipnotis dan mengundang nyamuk, begitu nyamuk bodoh yang tertipu itu mendekat, di perut kodok ternyata ada kipas penyedot, dan si nyamuk pun terperangkap di dalam, ha ha ha!
Atau pernahkah kau melihat sikat belok? Sikat belok adalah sikat yang ujungnya melengkung pada bagian bulunya, digunakan untuk menyikat sudut kamar mandi, bak, wajan, bahkan ada juga yang membelinya untuk menyikat motor. Bentuk sikat ini bermacam-macam, ada yang polos, ada yang gagangnya berbentuk tangan, bahkan ada yang berbentuk ikan paus, ekornya di ujung gagang dan bulunya adalah gigi si ikan paus. Ikan paus bergigi gondrong! Hi hi hi hi!
Ada pula berbagai pernak-pernik kecil yang ajaib, seperti benda entah apa yang ujungnya keriting, ternyata untuk kerok balewah! Atau gunting sakti yang bisa dipakai untuk mengupas kentang, membuka tutup kaleng, membuka tutup botol, menyisik ikan, memotong ayam, dan membuka kulit kenari. Wawww!
Belum lagi tutup botol kecap dari karet yang berwarna-warni. Semua anak kecil yang melihatnya di dalam stoples akan bertanya pada ayah atau ibunya yang sedang berbelanja ,"Mah, itu apa?" Kebanyakan dari mereka akan berkata ,"Ngga tau!" dengan tidak sabar, hanya 1 dari 10 orang yang mengetahui itu adalah tutup botol, sedangkan sisanya akan menjawab asal dan ngarang.
Sekali, seorang bapak-bapak berkeras bahwa itu adalah tutup botol aqua supaya tidak bocor, dan ia memaksakan tutup karet itu ke dalam botol aquanya. Saya sampai khawatir tutup botol itu akan sobek ,"Pa, ngga cukup pa... Pa, ngga cukup..." tapi tidak digubris, sampai untunglah akhirnya dia menyerah juga "Ahh, ngga bisa!" ujarnya ketus sambil melempar tutup itu ke stoplesnya. Ih udah dibilangin juga!
Lain lagi sama Chris anakku, tutup botol yang memang vakum itu selalu dijepitkan ke muka pengasuhnya, ke muka papanya, ke muka mamanya, ke muka semua pegawai toko, tapi dia sendiri paling anti mukanya dijepit, soalnya nyabutnya sakit!
Itu baru barangnya, belum lagi yang belinya, kadang lebih aneh lagi. Tahukah kau, ternyata banyak sekali orang yang tidak tahu bahwa wajan = katel = kuali. Kadang konsumen dan karyawan berdebat dulu 10 menit soal istilah katel sama wajan. Ck ck ck!
Terus istilah kettle = teko juga sering jadi bodor. Si Alim karyawanku bertanya ,"Ci, kettle Maspion 24 berapa?" Si ibu langsung menukas dengan galak, "Salah!! Teko ci, lain katel! Kumaha si ujang mah?"
Kadang ada konsumen yang nawar sampai titik darah penghabisan, beli gelas 1/2 lusin jadi lebih mahal 250 perak aja ngga mau, padahal kan kagok yah? Ada juga konsumen yang dikasih panci presto harga 500 ribu ngga mau beli karena harganya kemurahan, takut jelek cenah. Ada yang dikasih harga pas, ditawar ngga kira-kira sampe di bawah harga modal, ada juga yang udah dimahalin bisi mau nawar, ternyata ngga nawar. Nah loh! Jadi bingung kan?
Langganan juga bodor-bodor da, ada satu ibu-ibu yang kalo belanja helmnya ngga pernah dilepas, padahal sama konde & kerudung teh udah tinggi, jadi di atas epalanya kaya ada kue tar susun 3. Ada ngko-ngko yang setiap belanja selalu bilang ," Sok cepetan! Saya buru-buru!" Jadi kalo ngeladangin dia, semua blingsatan.
Terus yang paling ajaib, ada satu ibu-ibu yang benar-benar serammm! Udah gendut, lebar pantatnya 2x lebar bahunya coba, terus keriting, galak, judes, pipinya tai lalatan besar berbulu, kumisan, jenggotan lagi! Beneran! Jenggotnya teh banyak, rada keriting lagi, ih! Geuleuh pisan! Pokonya cocok pisan buat jadi tokoh cewek seram di film Stephen Chow. Tapi anehnya, suaminya tinggi besar & cakep pula, rada-rada mirip Bucek Depp lah (geleng-geleng). Yah mungkin aja sebetulnya hati ibu itu baik pisan, kita kan ngga tau juga.
Tapi ibu itu gendutnya belum seberapa loh, ada yang saking gendutnya sampe pas duduk di kursi baso, kursinya pecah berkeping-keping. Serius! Si ibu kaget, saya juga kaget, untung ibu-ibunya ngga jantungan, kalo ngga bisa gawat tuh! Buru-buru saya kasih minum. Jadi rugi satu kursi baso jadi bs dan 1 gelas aqua, tapi ngga papa deh, masih untung si ibu ngga marah & nuntut toko saya kan?
Beberapa langganan ciri khasnya bener-bener dominan. Seperti si Teteh Pink, selalu pakai baju pink, sepatu pink, naik vario pink, pake helm pink, eye shadow, lipstick & kutex pink. Belinya juga milky box pink, tempat sendok pink, tempat sampah pink, dll yang warna pink. Pokonya kalau ngga ada warna pink, ngga akan jadi beli, dijamin!
Ada lagi si Ngko Kursi, da selalu beli kursi! Ada Bapa Ember, da selalu beli ember! Ada Aa gelas, ada juga Bapa Rumah Sakit (bagian pembelian rumah sakit maksudnya, kalo belanja juga datangnya pake ambulance," Asyik, bisa nerobos lampu beureum jadi gancang, Ci!" cenah), macem-macem deh pokonya.
Lain konsumen, lain lagi suppliernya, sebetulnya sih sales-nya ding. Ada sales yang bener-bener hobby ngobrol sampe kisah cinta dari pacar pertama sampai terakhir diceritain semua, ada sales dari Jakarta yang tiap datang minta ditraktir makan bakut dan ngajakin maen bulutangkis ( bukannya ngorder coba yah).
Ada satu sales nih, yang ngga pernah ngomong, cuma senyum-senyum doang, kalo dikasih kursi dia akan duduk dengan sopan, tapi suka pisan sama yang namanya anak kecil. Kalo Chris nongol, pasti diheureuyan pake saringan, pake serok, pake stoples sampe Chris ketawa-ketawa, da lucu atuh, orangnya teh botak, kalem lagi, tau-tau jingkrak-jingkrak pake saringan, cukil, atau apa lah. Kalo Chris masuk dia langsung nyimpen saringan di tempatnya, duduk, dan jadi kalem lagi. Sayang sales itu dimutasi ke luar kota, penggantinya mah sama sekali ngga bodor, cuman datang teh ngorder & nagih doang, ngomongnya juga soal blender, setrika dan kipas angin melulu (eh, da sales mah memang harusnya gitu yah?).
Dan yang ngga kalah bodornya teh karyawannya. Yang satu orang Garut tulen, tapi kalo ngomong logatnya suka macem-macem. Dia ngaku orang Jawa, dipercaya. Ngaku orang padang,dipercaya. Ngaku orang betawi dipercaya tapi anehnya kalo ngaku orang Sunda ngga pada percaya, selalu dituduh bohong, kadang dia sampe bo hoat, salah sendiri!
Yang satu lagi orang Jawa, tapi terobsesi jadi orang sunda,, ngomongnya sunda melulu, walaupun logat jawanya masih medok, " Urang mahh te bheki lenca dha!" hobinya nyanyi-nyanyi lagu sunda lagi, aneh kan?
Ada lagi karyawan cowok duaan yang apet banget sampe sama karyawan lain dipanggil mamah & ayah. Dasar duaan itu teh kalo diledekin malah makin kaya orang hombreng, ih! Emang yang satu gayanya kaya bencong sih, tapi yang bencong teh justru si ayah, bukan si mamah, lieur! Sayang si mamah udah ga kerja lagi gara-gara sakit ambeien, tapi sampe sekarang yang satu lagi tetep dipanggil ayah sama karyawan yang lain.
Keuntungan lain punya toko alat rumah tangga, saya ngga perlu beli mainan anak-anak , soalnya di mata Chris yang baru berumur 2 tahun, toko ini bagaikan rumah mainan raksasa. Coba bayangkan, ada begitu banyak stoples plastik buat main drum, ada begitu banyak container dan keranjang buat main mobil-mobilan,kesed buat tidur-tiduran, baskom, kemoceng, dan seabrek barang lucu lainnya kaya mutu, susuk, jepit jemuran, dan lain-lain. Belum lagi kursi-kursi aneka bentuk, warna dan ukuran, juga ember-ember, pispot, dan gayung-gayung, pokoknya asyik deh!
Yah, itulah sekelumit gambaran kehidupan di toko alat-alat rumah tangga, menarik dan lucu bukan? Jadi, berkunjung yah! :)
NB: Semua kisah dan tokoh dalam cerita ini adalah nyata dan bukan karangan
Barang-barang yang dijual saja lucu-lucu. Pernahkah kau melihat alat penangkap nyamuk yang berbentu kodok 'calangap'? Cara kerjanya, lubang hidung si kodok mengeluarkan gelombang suara dengan frekuensi nyamuk untuk menarik perhatian nyamuk, lalu di dalam mulut si kodok ada sinar kebiruan yang katanya efeknya akan rada menghipnotis dan mengundang nyamuk, begitu nyamuk bodoh yang tertipu itu mendekat, di perut kodok ternyata ada kipas penyedot, dan si nyamuk pun terperangkap di dalam, ha ha ha!
Atau pernahkah kau melihat sikat belok? Sikat belok adalah sikat yang ujungnya melengkung pada bagian bulunya, digunakan untuk menyikat sudut kamar mandi, bak, wajan, bahkan ada juga yang membelinya untuk menyikat motor. Bentuk sikat ini bermacam-macam, ada yang polos, ada yang gagangnya berbentuk tangan, bahkan ada yang berbentuk ikan paus, ekornya di ujung gagang dan bulunya adalah gigi si ikan paus. Ikan paus bergigi gondrong! Hi hi hi hi!
Ada pula berbagai pernak-pernik kecil yang ajaib, seperti benda entah apa yang ujungnya keriting, ternyata untuk kerok balewah! Atau gunting sakti yang bisa dipakai untuk mengupas kentang, membuka tutup kaleng, membuka tutup botol, menyisik ikan, memotong ayam, dan membuka kulit kenari. Wawww!
Belum lagi tutup botol kecap dari karet yang berwarna-warni. Semua anak kecil yang melihatnya di dalam stoples akan bertanya pada ayah atau ibunya yang sedang berbelanja ,"Mah, itu apa?" Kebanyakan dari mereka akan berkata ,"Ngga tau!" dengan tidak sabar, hanya 1 dari 10 orang yang mengetahui itu adalah tutup botol, sedangkan sisanya akan menjawab asal dan ngarang.
Sekali, seorang bapak-bapak berkeras bahwa itu adalah tutup botol aqua supaya tidak bocor, dan ia memaksakan tutup karet itu ke dalam botol aquanya. Saya sampai khawatir tutup botol itu akan sobek ,"Pa, ngga cukup pa... Pa, ngga cukup..." tapi tidak digubris, sampai untunglah akhirnya dia menyerah juga "Ahh, ngga bisa!" ujarnya ketus sambil melempar tutup itu ke stoplesnya. Ih udah dibilangin juga!
Lain lagi sama Chris anakku, tutup botol yang memang vakum itu selalu dijepitkan ke muka pengasuhnya, ke muka papanya, ke muka mamanya, ke muka semua pegawai toko, tapi dia sendiri paling anti mukanya dijepit, soalnya nyabutnya sakit!
Itu baru barangnya, belum lagi yang belinya, kadang lebih aneh lagi. Tahukah kau, ternyata banyak sekali orang yang tidak tahu bahwa wajan = katel = kuali. Kadang konsumen dan karyawan berdebat dulu 10 menit soal istilah katel sama wajan. Ck ck ck!
Terus istilah kettle = teko juga sering jadi bodor. Si Alim karyawanku bertanya ,"Ci, kettle Maspion 24 berapa?" Si ibu langsung menukas dengan galak, "Salah!! Teko ci, lain katel! Kumaha si ujang mah?"
Kadang ada konsumen yang nawar sampai titik darah penghabisan, beli gelas 1/2 lusin jadi lebih mahal 250 perak aja ngga mau, padahal kan kagok yah? Ada juga konsumen yang dikasih panci presto harga 500 ribu ngga mau beli karena harganya kemurahan, takut jelek cenah. Ada yang dikasih harga pas, ditawar ngga kira-kira sampe di bawah harga modal, ada juga yang udah dimahalin bisi mau nawar, ternyata ngga nawar. Nah loh! Jadi bingung kan?
Langganan juga bodor-bodor da, ada satu ibu-ibu yang kalo belanja helmnya ngga pernah dilepas, padahal sama konde & kerudung teh udah tinggi, jadi di atas epalanya kaya ada kue tar susun 3. Ada ngko-ngko yang setiap belanja selalu bilang ," Sok cepetan! Saya buru-buru!" Jadi kalo ngeladangin dia, semua blingsatan.
Terus yang paling ajaib, ada satu ibu-ibu yang benar-benar serammm! Udah gendut, lebar pantatnya 2x lebar bahunya coba, terus keriting, galak, judes, pipinya tai lalatan besar berbulu, kumisan, jenggotan lagi! Beneran! Jenggotnya teh banyak, rada keriting lagi, ih! Geuleuh pisan! Pokonya cocok pisan buat jadi tokoh cewek seram di film Stephen Chow. Tapi anehnya, suaminya tinggi besar & cakep pula, rada-rada mirip Bucek Depp lah (geleng-geleng). Yah mungkin aja sebetulnya hati ibu itu baik pisan, kita kan ngga tau juga.
Tapi ibu itu gendutnya belum seberapa loh, ada yang saking gendutnya sampe pas duduk di kursi baso, kursinya pecah berkeping-keping. Serius! Si ibu kaget, saya juga kaget, untung ibu-ibunya ngga jantungan, kalo ngga bisa gawat tuh! Buru-buru saya kasih minum. Jadi rugi satu kursi baso jadi bs dan 1 gelas aqua, tapi ngga papa deh, masih untung si ibu ngga marah & nuntut toko saya kan?
Beberapa langganan ciri khasnya bener-bener dominan. Seperti si Teteh Pink, selalu pakai baju pink, sepatu pink, naik vario pink, pake helm pink, eye shadow, lipstick & kutex pink. Belinya juga milky box pink, tempat sendok pink, tempat sampah pink, dll yang warna pink. Pokonya kalau ngga ada warna pink, ngga akan jadi beli, dijamin!
Ada lagi si Ngko Kursi, da selalu beli kursi! Ada Bapa Ember, da selalu beli ember! Ada Aa gelas, ada juga Bapa Rumah Sakit (bagian pembelian rumah sakit maksudnya, kalo belanja juga datangnya pake ambulance," Asyik, bisa nerobos lampu beureum jadi gancang, Ci!" cenah), macem-macem deh pokonya.
Lain konsumen, lain lagi suppliernya, sebetulnya sih sales-nya ding. Ada sales yang bener-bener hobby ngobrol sampe kisah cinta dari pacar pertama sampai terakhir diceritain semua, ada sales dari Jakarta yang tiap datang minta ditraktir makan bakut dan ngajakin maen bulutangkis ( bukannya ngorder coba yah).
Ada satu sales nih, yang ngga pernah ngomong, cuma senyum-senyum doang, kalo dikasih kursi dia akan duduk dengan sopan, tapi suka pisan sama yang namanya anak kecil. Kalo Chris nongol, pasti diheureuyan pake saringan, pake serok, pake stoples sampe Chris ketawa-ketawa, da lucu atuh, orangnya teh botak, kalem lagi, tau-tau jingkrak-jingkrak pake saringan, cukil, atau apa lah. Kalo Chris masuk dia langsung nyimpen saringan di tempatnya, duduk, dan jadi kalem lagi. Sayang sales itu dimutasi ke luar kota, penggantinya mah sama sekali ngga bodor, cuman datang teh ngorder & nagih doang, ngomongnya juga soal blender, setrika dan kipas angin melulu (eh, da sales mah memang harusnya gitu yah?).
Dan yang ngga kalah bodornya teh karyawannya. Yang satu orang Garut tulen, tapi kalo ngomong logatnya suka macem-macem. Dia ngaku orang Jawa, dipercaya. Ngaku orang padang,dipercaya. Ngaku orang betawi dipercaya tapi anehnya kalo ngaku orang Sunda ngga pada percaya, selalu dituduh bohong, kadang dia sampe bo hoat, salah sendiri!
Yang satu lagi orang Jawa, tapi terobsesi jadi orang sunda,, ngomongnya sunda melulu, walaupun logat jawanya masih medok, " Urang mahh te bheki lenca dha!" hobinya nyanyi-nyanyi lagu sunda lagi, aneh kan?
Ada lagi karyawan cowok duaan yang apet banget sampe sama karyawan lain dipanggil mamah & ayah. Dasar duaan itu teh kalo diledekin malah makin kaya orang hombreng, ih! Emang yang satu gayanya kaya bencong sih, tapi yang bencong teh justru si ayah, bukan si mamah, lieur! Sayang si mamah udah ga kerja lagi gara-gara sakit ambeien, tapi sampe sekarang yang satu lagi tetep dipanggil ayah sama karyawan yang lain.
Keuntungan lain punya toko alat rumah tangga, saya ngga perlu beli mainan anak-anak , soalnya di mata Chris yang baru berumur 2 tahun, toko ini bagaikan rumah mainan raksasa. Coba bayangkan, ada begitu banyak stoples plastik buat main drum, ada begitu banyak container dan keranjang buat main mobil-mobilan,kesed buat tidur-tiduran, baskom, kemoceng, dan seabrek barang lucu lainnya kaya mutu, susuk, jepit jemuran, dan lain-lain. Belum lagi kursi-kursi aneka bentuk, warna dan ukuran, juga ember-ember, pispot, dan gayung-gayung, pokoknya asyik deh!
Yah, itulah sekelumit gambaran kehidupan di toko alat-alat rumah tangga, menarik dan lucu bukan? Jadi, berkunjung yah! :)
NB: Semua kisah dan tokoh dalam cerita ini adalah nyata dan bukan karangan
Tik… Tok…!
Tik… tok…! Tik… tok…!
Detik jam di sudut kamarku
Bandulnya tak lelah mengayun
Jarumnya tak lelah berputar
Terus… dan terus… dan terus…
Seperti jantungku
Dag… dug…! Dag… dug…!
Detak jantung di dalam dadaku
Tak hentinya berdenyut
Seperti napasku
Sst…hah…! Sst… hah…!
Tarikan dan hembusan
Tak putus-putus silih berganti
Suatu saat nanti
Batu baterai akan melemah
Kemudian mati
Bandul dan jarum berhenti, lelah…
Seperti jantungku, seperti napasku
Kapankah berhenti?
Bilakah terjadi?
Saat hari itu tiba
Kuingin tiada yang sia-sia
Seperti jam rusak yang dibuang orang
Kuingin telah kulakukan sesuatu yang berarti
Yang membawa kebahagiaan dan patut dikenang
Karena kita bukan jam
Yang bisa diisi ulang dan hidup kembali
Untuk melayani di sudut kamar
Tik… tok…! Tik… tok…!
Detik jam di sudut kamarku
Bandulnya tak lelah mengayun
Jarumnya tak lelah berputar
Terus… dan terus… dan terus…
Seperti jantungku
Dag… dug…! Dag… dug…!
Detak jantung di dalam dadaku
Tak hentinya berdenyut
Seperti napasku
Sst…hah…! Sst… hah…!
Tarikan dan hembusan
Tak putus-putus silih berganti
Suatu saat nanti
Batu baterai akan melemah
Kemudian mati
Bandul dan jarum berhenti, lelah…
Seperti jantungku, seperti napasku
Kapankah berhenti?
Bilakah terjadi?
Saat hari itu tiba
Kuingin tiada yang sia-sia
Seperti jam rusak yang dibuang orang
Kuingin telah kulakukan sesuatu yang berarti
Yang membawa kebahagiaan dan patut dikenang
Karena kita bukan jam
Yang bisa diisi ulang dan hidup kembali
Untuk melayani di sudut kamar
Tik… tok…! Tik… tok…!
Sharing : Camp Wanita Bijak XI Bandung (Sebuah Resensi dan Kesaksian)

Tanggal 22-24 April 2010 kemarin, saya baru saja mengikuti sebuah pelatihan yang diadakan oleh gereja-gereja antar denominasi seindonesia. Pelatihan ini dinamakan Camp Wanita Bijak (WB), yang mempunyai visi “Melalui keunikannya, wanita berfungsi dan menjadi teladan”. Sebetulnya WB ini dibagi menjadi beberapa divisi, yaitu WB Remaja Putri (13-17 tahun/Siswa kelas 7-11), WB Single (18-24 tahun/siswa kelas 12 dan mahasiswa), WB Profesional / Dewasa Single (≥ 24 tahun, mungkin sudah bekerja, dan belum menikah), dan WB Ibu (sudah menikah dan sudah/berencana memiliki anak). Dan karena sudah menjadi ibu-ibu, maka saya pun mawas diri dan mengikuti WB Ibu sesuai dengan kebutuhan saya.
Ternyata melalui camp ini begitu banyak kebenaran dan pencerahan yang saya dapatkan hingga saya tidak bisa tidak merasa harus dan rindu untuk membagikan pengalaman saya kepada teman-teman sekalian.
Pertama dari sesi-sesi yang dibagikan. Materinya secara umum dibagi menjadi 3 bagian utama sesuai dengan visi WB itu sendiri, yaitu sesi keunikan wanita, sesi fungsi wanita dan sesi teladan wanita.
Di sesi keunikan wanita kita dibawa menyadari bahwa kita sebagai wanita adalah makhluk Tuhan yang begitu berharga, istimewa dan unik. Begitu banyak wanita yang merasa rendah diri, bahkan menyesal karena dilahirkan sebagai wanita. Apalagi tradisi dan budaya tertentu menempatkan wanita sebagai warga kelas dua. Di samping itu, karena keunikan yang sudah dikaruniakan kepada kita, wanita memang memiliki jiwa yang lebih sensitif dan emosional. Hal ini apabila tidak disadari dan diolah sesuai dengan kebenaran, seringkali menyebabkan wanita terluka secara emosi dan mengganggu keutuhan kodratnya sebagai sosok makhluk yang sangat luar biasa. Setelah menyadari hal-hal tersebut, secara pribadi saya merasa diri saya dipulihkan dan saya mengerti dan percaya bahwa saya adalah seorang yang sungguh berharga dan istimewa. :D Padahal sebelum mengikuti camp ini saya adalah seorang yang rendah diri, defensif dan perfeksionis. Walaupun tampak percaya diri dan berprestasi tapi saya tidak pernah merasa puas dan seringkali bingung karena saya tidak pernah merasa benar-benar utuh dan bahagia.
Di sesi fungsi, kita diajak untuk mengenali dan mengambil peran dan fungsi yang benar sebagai seorang wanita. Betapa mulia dan terhormat nya peran kita ketika kita diciptakan Allah sebagai wanita. Dan Allah sudah memperlengkapi kita dengan segala yang diperlukan untuk menjalankan peran dan fungsi kita secara efektif, maksimal dan memberi kepuasan. Kadang saya merasa sudah melakukan yang terbaik dalam berbagai hal, seringkali juga saya menjalankan sesuatu karena keadaan menuntut saya untuk menjadi seperti itu. Setelah mengikuti camp ini, saya sadar bahwa ternyata banyak hal yang saya lakukan dengan cara saya, pengertian saya, bukan cara dan apa yang Tuhan persiapkan buat saya. Hal ini membuat saya tidak maksimal dan seringkali merasa tidak puas. Tetapi sekarang saya tahu apa yang seharusnya saya lakukan, dan saya bangga bahwa Tuhan mempercayai saya untuk menjadi sosok itu. Ibarat sebuah barang yang diciptakan dengan tujuan tertentu, tentu untuk memahami kegunaannya dan menggunakannya secara maksimal kita harus mencari petunjuk dari produsen atau penciptanya bukan? Dari buku manual perakitan atau penggunaan misalnya. Jadi untuk mengetahui fungsi dan pemeliharaan diri kita secara maksimal, seharusnya kita bertanya pada pencipta kita (yaitu Allah) bukan? Ia juga sudah memberikan suatu manual praktis dan lengkap dalam Alkitab melalui setiap Firman-Nya. Dari sanalah semua kebenaran ini disarikan di dalam sesi ini. Luar biasa! :D
Sesi-sesi terakhir, yaitu sesi teladan, mengingatkan kita untuk peduli pada orang lain dan meninggalkan warisan yang berharga untuk anak cucu kita, keluarga kita dan lingkungan kita, berupa teladan yang baik, dampak positif yang ditimbulkan dengan keberadaan kita, dan berkat yang orang lain terima melalui perjumpaan dengan kita. Bukankah pada saatnya nanti kita harus meninggalkan segalanya di dunia ini? Apa yang ingin kita tinggalkan di dunia dan kita bawa kepada kekekalan? Bukankah itu tergantung dari keputusan-keputusan, pilihan-pilihan, kata-kata dan tindakan-tindakan yang kita ambil selama kita hidup? Sesi ini sungguh memberi semangat dan motivasi serta pengharapan untuk hidup saya ke depan.
Selain daripada materinya sendiri yang begitu menjawab kebutuhan dan disampaikan secara menarik oleh para pembicara yang kompeten dan berpengalaman, sistem pembagian kelompok pun saya rasakan sangat mendukung pertumbuhan dan pemahaman saya selama camp ini. Kelompok dibagi berdasarkan rentang usia yang sama. Setiap kelompok terdiri dari 4 orang dengan 1 orang fasilitator yang membantu dan mendukung anggota kelompoknya selama camp berlangsung. Setiap kelompok tidur dalam 1 kamar, duduk dalam 1 deret kursi dan mengadakan sharing, diskusi dan saling mendoakan secara intensif. Kesamaan rentang usia dan kebersamaan selama 3 hari 2 malam membuat kelompok kami memiliki kesatuan hati, kepedulian dan keterbukaan yang sungguh mendukung motivasi dan pertumbuhan pribadi kami. Bahkan setelah camp berakhir pun, kami di-encourage untuk terus berhubungan dan membangun suatu komunitas sel yang bertemu secara rutin untuk saling sharing, evaluasi, menguatkan dan berbagi dalam perjalanan hidup di mana kita mempraktekkan apa yang kita dapatkan selama camp. Senang sekali memperoleh saudari-saudari baru yang memiliki visi, pergumulan dan kepedulian yang sama, yang bisa dipercaya dan bisa berbagi. Walaupun sebenarnya setiap pribadi kami ternyata berbeda satu dengan yang lainnya. Kelompok kami terdiri dari 1 orang berkarakter sanguin, 2 orang berkarakter melankolis, 1 orang berkarakter kolerik dan 1 orang berkarakter plegmatis. Ada yang super heboh dan ada yang sangat pendiam. Ada yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga, wanita karir, bahkan Hamba Tuhan (pendeta). Tapi di antara kami telah muncul persaudaraan yang begitu manis dan berharga.
Menutup sharing ini, saya mengajak setiap wanita yang belum pernah mengikuti WB atau yang mencari jawaban atas berbagai sisi kehidupan sebagai wanita, atau yang rindu mengalami pemulihan dan berfungsi secara maksimal untuk mengikuti WB yang disediakan sesuai dengan kebutuhan Anda. WB ini juga dilaksanakan dan dikelola oleh lembaga dan orang-orang yang sungguh terbeban untuk menjadi berkat dan melayani sesama. Biaya yang dibebankan kepada peserta adalah di bawah jumlah dana yang diperlukan. Dengan bantuan subsidi beberapa gereja dan lembaga, serta bantuan dari donatur yang tergerak untuk membantu, panitia pun sudah mengambil janji iman untuk menombok dari uang mereka pribadi seandainya dalam pelaksanaannya ternyata terjadi defisit dalam hal dana. Bahkan di beberapa daerah sudah mulai dilaksanakan camp WB tanpa biaya untuk mereka yang sungguh-sungguh tidak mampu.
Untuk informasi dan pendaftaran, Anda bisa menghubungi gereja di mana Anda beribadah atau bertanya kepada orang yang sudah mengikuti WB (termasuk saya) yang pasti akan dengan senang hati membantu Anda memperoleh informasi yang diperlukan.
Tuhan memberkati kita semua….
Sekolah Kehidupan
Selama kira-kira 1 bulan terakhir ini aku didera permasalahan yang cukup pelik. Selama itu pula aku merasa bahwa Tuhan mengingatkan dan mengajarkan beberapa hal mengenai kehidupan ini kepadaku.
Yang pertama adalah berserah penuh. Akumengalami titik di mana aku merasa tidak mempunyai jalan keluar dan tak ada satu hal pun yang dapat kulakukan lagi mengenainya. Aku belajar untuk menerima bahwa segala usahaku sungguh tak ada artinya. Dan di saat-saat seperti itu hanya satu hal yang dapat kami lakukan, yaitu berserah dan memasrahkan semuanya kepada Tuhan. Berharap hanya pada belas kasihan dan kasih setia-Nya karena aku tak tahu lagi apa yang harus kulakukan.
Yang kedua adalah tidak bergantung pada manusia. Karena pada akhirnya manusia akan mengecewakan. Karena hanya Tuhan lah yang tetap setia dan tak pernah berubah. Hanya Tuhan lah yang tulus dan menilai manusia berdasarkan hatinya, bukan penampilannya, buan hartanya, bukan bukan statusnya dan bukan masa lalunya.
Yang ketiga adalah terus berharap. Karena kita tahu bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan itu menimbulkan tahan uji, dan tahan uji menimbulkan pengharapan, dan pengharapan tidak mengecewakan. Dan karena tanpa pengharapan tak ada lagi alasan untuk bertahan, sehingga aku terus berharap dan berharap. Hanya doa, pencarian di dalam Firman Tuhan dan perenungan di dalam kasih-Nya yang menjadi penghiburan dan kekuatan bagiku.
Yang keempat adalah terus bersyukur. Karena begitu banyak berkat yang aku terima, bahkan di titik terendah dari kehidupanku. Sosok-Nya dan kasih-Nya muncul di sekitarku di saat-saat aku begitu membutuhkan-Nya. Kujumpai kasih-Nya saat membaca ayat-ayat Firman yang menguatkan. Kurasakan kasih-Nya lewat perhatian dan kehadiran sahabat-sahabat yang senantiasa menopangku. Kutemukan penghiburan-Nya dalam SMS dari saudara-saudara yang mengasihiku. Kualami jamahan-Nya lewat pelukan dan sentuhan mereka yang mencintaiku, menemaniku, menghapus air mataku, menguatkanku dan memberiku alasan untuk bertahan dan berjuang.
Yang kelima adalah bahwa Tuhan itu begitu baik. Sangat baik dan luar biasa baik padaku. Dari detik ke detik Dia pelihara aku. Dia mampukan aku berjalan maju walaupun ujung dari jalan yang kutempuh tidak terlihat. Seperti seorang ayah yang membimbing langkah anak-Nya di jalan yang berat dan berbatu-batu. Dia menuntun tanganku dan berjalan bersamaku, Diatak membiarkanku jatuh terjerembab. Dia mengangkatku saat aku terantuk jatuh dan berdarah. Dia menggendongku saat aku tak sanggup lagi melangkah, dan dia mencucurkan air mata bersamaku saat kumenangis di sepanjang perjalananku.
Yang keenam adalah pelajaran untuk mengampuni. Mengampuni orang lain dan diri sendiri, berdamai dengan orang lain dan diri sendiri, menerima kekurangan orang lain dan diri sendiri, merendahkan hati dan melembutkan hati untuk orang lain dan diri sendiri.
Dan yang terakhir adalah aku belajar untuk memfokuskan diri pada tujuan yang ditetapkan Tuhan, bukan ditetapkan oleh diriku sendiri. Untuk bersedia dipangkas dan dibentuk dengan cara Tuhan, bukan caraku. Untuk menanti segalanya terjadi sesuai dengan waktu yang ditetapkan Tuhan, bukan waktu yang kutetapkan sendiri. Dan untuk beriman bahwa semua yang Tuhan ijinkan terjadi adalah bagian dari rencana-Nya yang indah untuk hidupku.
Masalah tetap masalah. Ujung jalan tetap belum terlihat. Tapi aku tidak akan menyerah dan akan terus melangkah karena aku tahu bahwa Tuhan besertaku. Bukankah DIa yang menanggung beban kita saat DIa memanggul salib-Nya di Kalvari? Bukankah bilur-bilur pada tubuh-Nya yang menyembuhkan segala luka dan kelemahan kita?
Dan ketika tiba waktunya aku pulang menjumpai-Nya pada saatnya nanti, aku akan memperoleh semua jawaban, kelegaan, kedamaian dan penggenapan dari apa yang telah direncanakan-Nya bahkan sebelum aku dijadikan, asalkan aku selalu berpegang teguh pada imanku…
Sebuah lagu yang selalu menguatkan dan menjadi penghiburan bagiku di saat-saat yang berat adalah sebuah lagu anak-anak yang begitu indah dan member pengharapan.
Rumahku ada di dalam Surga
Di tempat suci dan mulia
Bila hatiku sedih dan susah
Kuingat rumahku di Surga…
May God bless all of you with His unchanging love….
Yang pertama adalah berserah penuh. Akumengalami titik di mana aku merasa tidak mempunyai jalan keluar dan tak ada satu hal pun yang dapat kulakukan lagi mengenainya. Aku belajar untuk menerima bahwa segala usahaku sungguh tak ada artinya. Dan di saat-saat seperti itu hanya satu hal yang dapat kami lakukan, yaitu berserah dan memasrahkan semuanya kepada Tuhan. Berharap hanya pada belas kasihan dan kasih setia-Nya karena aku tak tahu lagi apa yang harus kulakukan.
Yang kedua adalah tidak bergantung pada manusia. Karena pada akhirnya manusia akan mengecewakan. Karena hanya Tuhan lah yang tetap setia dan tak pernah berubah. Hanya Tuhan lah yang tulus dan menilai manusia berdasarkan hatinya, bukan penampilannya, buan hartanya, bukan bukan statusnya dan bukan masa lalunya.
Yang ketiga adalah terus berharap. Karena kita tahu bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan itu menimbulkan tahan uji, dan tahan uji menimbulkan pengharapan, dan pengharapan tidak mengecewakan. Dan karena tanpa pengharapan tak ada lagi alasan untuk bertahan, sehingga aku terus berharap dan berharap. Hanya doa, pencarian di dalam Firman Tuhan dan perenungan di dalam kasih-Nya yang menjadi penghiburan dan kekuatan bagiku.
Yang keempat adalah terus bersyukur. Karena begitu banyak berkat yang aku terima, bahkan di titik terendah dari kehidupanku. Sosok-Nya dan kasih-Nya muncul di sekitarku di saat-saat aku begitu membutuhkan-Nya. Kujumpai kasih-Nya saat membaca ayat-ayat Firman yang menguatkan. Kurasakan kasih-Nya lewat perhatian dan kehadiran sahabat-sahabat yang senantiasa menopangku. Kutemukan penghiburan-Nya dalam SMS dari saudara-saudara yang mengasihiku. Kualami jamahan-Nya lewat pelukan dan sentuhan mereka yang mencintaiku, menemaniku, menghapus air mataku, menguatkanku dan memberiku alasan untuk bertahan dan berjuang.
Yang kelima adalah bahwa Tuhan itu begitu baik. Sangat baik dan luar biasa baik padaku. Dari detik ke detik Dia pelihara aku. Dia mampukan aku berjalan maju walaupun ujung dari jalan yang kutempuh tidak terlihat. Seperti seorang ayah yang membimbing langkah anak-Nya di jalan yang berat dan berbatu-batu. Dia menuntun tanganku dan berjalan bersamaku, Diatak membiarkanku jatuh terjerembab. Dia mengangkatku saat aku terantuk jatuh dan berdarah. Dia menggendongku saat aku tak sanggup lagi melangkah, dan dia mencucurkan air mata bersamaku saat kumenangis di sepanjang perjalananku.
Yang keenam adalah pelajaran untuk mengampuni. Mengampuni orang lain dan diri sendiri, berdamai dengan orang lain dan diri sendiri, menerima kekurangan orang lain dan diri sendiri, merendahkan hati dan melembutkan hati untuk orang lain dan diri sendiri.
Dan yang terakhir adalah aku belajar untuk memfokuskan diri pada tujuan yang ditetapkan Tuhan, bukan ditetapkan oleh diriku sendiri. Untuk bersedia dipangkas dan dibentuk dengan cara Tuhan, bukan caraku. Untuk menanti segalanya terjadi sesuai dengan waktu yang ditetapkan Tuhan, bukan waktu yang kutetapkan sendiri. Dan untuk beriman bahwa semua yang Tuhan ijinkan terjadi adalah bagian dari rencana-Nya yang indah untuk hidupku.
Masalah tetap masalah. Ujung jalan tetap belum terlihat. Tapi aku tidak akan menyerah dan akan terus melangkah karena aku tahu bahwa Tuhan besertaku. Bukankah DIa yang menanggung beban kita saat DIa memanggul salib-Nya di Kalvari? Bukankah bilur-bilur pada tubuh-Nya yang menyembuhkan segala luka dan kelemahan kita?
Dan ketika tiba waktunya aku pulang menjumpai-Nya pada saatnya nanti, aku akan memperoleh semua jawaban, kelegaan, kedamaian dan penggenapan dari apa yang telah direncanakan-Nya bahkan sebelum aku dijadikan, asalkan aku selalu berpegang teguh pada imanku…
Sebuah lagu yang selalu menguatkan dan menjadi penghiburan bagiku di saat-saat yang berat adalah sebuah lagu anak-anak yang begitu indah dan member pengharapan.
Rumahku ada di dalam Surga
Di tempat suci dan mulia
Bila hatiku sedih dan susah
Kuingat rumahku di Surga…
May God bless all of you with His unchanging love….
Label:
contemplation,
family,
life,
sharing
Langganan:
Postingan (Atom)