Rabu, 23 Juni 2010

My Brother Christopher

Hi! My name is Lucky. I’m 9 years old. I want to tell you a story about my little brother. His name is Christopher. He’s fifteen months old. He can walk already, but he cannot talk yet.

My mom says I have to give good examples because Chris imitates everything I do. When I play ball, he will try to catch the ball, and my mom will shout, “Be careful, don’t kick your brother!”
When I play with my toy cars, he will grab the cars and throw them everywhere!
When I try to sleep at night, Chris will climb up my bed, sit down on my belly, and then he will pinch and poke every part of my face, then he will jump up and down on my belly, and he will laugh happily if I laugh at him.

One day, my mom taught him to throw away a piece of garbage into the dustbin. Since then, he always try to throw everything away into the dustbin, including my mom’s comb, my father’s cell phone, and his food. I just realize it’s not easy to teach a skill to a baby, even a simple one.

I love my brother very much, and I hope he will grow up very soon, so that we can play ball together, and I hope he will love me as much as I love him.

THE END

Ini adalah cerita yang dibawakan anak sulungku waktu memenangkan juara 1 lomba story telling yang diadakan oleh PIPO English Course di Istana Plaza Bandung. Juri menyukainya karena topiknya yang orisinil (peserta lain kebanyakan membawakan cerita dari buku atau dongeng yang telah dikenal orang). Dan kebetulan anakku cukup atraktif membawakannya (memamerkan foto adiknya, memperagakan cara Chris melempar bola dan mobil-mobilan, sampai memperagakan gayaku waktu memperingatkannya untuk berhati-hati dengan adiknya, hahaha, jadi malu!)

Kebetulan sekarang (2 tahun kemudian) aku menemukan arsipnya. Karena sayang kalau hilang, akhirnya aku mendokumentasikannya di sini.

Sharing : Kejadian-kejadian dalam Hidup Berkeluarga Sehari-hari (4) Episode Membuang Dot

Setelah sukses dengan proyek melatih Chris tidur di kamarnya sendiri, keluarga kami memulai suatu proyek baru yaitu proyek membuang dot. Sejak bayi Chris selalu meminta susu ketika akan tidur. Walaupun baru saja minum susu 10 menit sebelumnya, saat mengantuk dan ingin tidur dia akan menangis meminta susu. Begitu susunya habis dia akan tertidur.

Kebiasaan ini terbawa sampai dia besar. Setiap akan tidur dia selalu meminta susu. Karena itulah sangat sulit baginya untuk melepaskan kebiasaan minum susu dengan memakai dot. Saat tidak akan tidur dia bisa saja minum susu dengan gelas atau dengan sedotan. Toh setiap hari pun dia minum air, jus buah, teh dan minuman apa pun juga dengan gelas. Hanya saat mau tidur dia akan meminta susu dalam botol. Dia akan berbaring, memejamkan mata, memeluk baju meng (kaos putih bergambar kucing yang selalu dibawanya tidur) dan menghisap dot berisi susu. Saat susunya habis, dia pun tertidur. Masalah ini tidak kami hadapi dengan Lucky anak sulung kami, karena Lucky minum susu pada saat kami memberikannya. Pada saat akan tidur dia tidak mencari susu. Karena itu mudah saja mengalihkannya dari dot ke gelas dengan kerucut berlubang, kemudian ke sedotan, akhirnya ke gelas. Usia satu tahun setengah Lucky sudah tidak menggunakan dot sama sekali.

Masalahnya, Chris kini sudah berusia lebih dari tiga tahun dan kami cukup khawatir dengan beberapa hal. Pertama kami takut kebiasaan ini akan merusak giginya. Karena walaupun sudah menyikat gigi sebelum tidur, dengan minum susu lagi berarti sisa-sisa susu akan menempel di giginya bukan? Kedua kami takut kebiasaan menghisap dot akan mempengaruhi bentuk dan pertumbuhan giginya (jadi tonggos misalnya). Dan ketiga kami khawatir semakin lama kebiasaan buruk ini akan makin sulit untuk dihilangkan. Karena itulah kami bertekad untuk melaksanakan proyek membuang dot ini.

Kini telah beberapa waktu lamanya Chris lulus dari proyek tidur sendiri (dalam arti bisa tidur nyenyak sepanjang malam di kamarnya sendiri tanpa terbangun terus menerus dan memanggil-manggil Mamanya), kami mulai mencoba proyek baru ini. Diawali dengan memuji Chris sebagai anak pintar yang sudah besar pada setiap kesempatan di mana dia melaksanakan kewajibannya atau melakukan suatu perbuatan yang terpuji. Misalnya setiap malam sebelum tidur dia menyikat giginya tanpa harus disuruh terlebih dahulu. Atau bila dia menghabiskan makanannya dengan cepat dan rapi. Juga bila dia merapikan kembali mainan yang sudah dipakainya tanpa disuruh. Kami selalu memujinya sebagai anak yang sudah besar dan pintar.

Langkah kedua, memilih cerita yang akan dibacakan sebelum tidur sesuai dengan topik yang sedang kita tanamkan kepadanya. Akhir-akhir ini kami membacakan cerita Franklin si kura-kura karena dalam cerita-cerita itu selalu terkandung nilai-nilai yang baik dalam bentuk cerita yang sederhana dan mudah dimengerti. Kami pilihkan judul-judul yang menggambarkan tanggung jawab dan perilaku anak yang sudah besar. Bagusnya lagi, cerita Franklin selalu diawali dengan kalimat-kalimat senada seperti ini: “Franklin sudah besar. Dia bisa memakai pakaian sendiri, menyikat giginya, dan mengikat tali sepatunya sendiri.” Atau “Franklin sudah besar. Dia berani meluncur turun dari papan luncuran di sekolahnya. Dia juga sudah bisa membantu ibu.” Dan sejenisnya.

Setiap kali aku membacakan kalimat-kalimat pembuka itu, Chris akan segera berkomentar,”Klis juga udah besal. Klis juga bisa pake baju sendili!” Atau “Klis juga udah besal. Klis juga belani loncat dali yang tinggiiiii sekali!” Begitulah kami coba tanamkan semangat menjadi anak besar selama beberapa waktu.

Ketika kami rasa dia sudah siap, suatu malam setelah berdoa dan membacakan cerita sebelum tidur kami mengajaknya mengobrol.
“Chris udah besar kan sekarang?”
“Iya, Klis udah besal. Udah kelas lima kaya Koko.”
“Tapi kalau anak besar minum susunya ngga pake dot.”
Untuk beberapa saat dia terdiam dan berpikir.
“Kan Koko minum susu pake gelas. Papa Mama juga pake gelas,” sambung kami lagi.
Dia masih terdiam.
“Sekarang minum susunya pake gelas kaya anak besar ya?”
“Aahhh, ngga mauuu!”
“Kan Chris katanya mau jadi anak besar?” kataku. Suatu kesalahan karena dia langsung menyahut,”Klis jadi anak kecil aja!”
Aku sempat bingung. Untung suamiku memberikan jalan keluar.
“Kalau gitu Papa kasih waktu 3 hari ya? Sekarang kan hari Senin, Chris nya masih kecil. Selasa, Rabu, Chris nya jadi besar. Hari Kamis kita buang dotnya ya?” Papanya menantang Chris yang kebetulan menyukai tantangan. Untungnya pula dia sudah mengerti konsepnya dan hafal urutan dan nama-nama hari dalam seminggu. Dengan bersemangat dia mengangguk setuju. Maka aku pun membuatkan susu dalam botol yang diterima Chris dengan bersemangat. Begitu susunya habis, tertidurlah dia dengan nyenyaknya.

Keesokan harinya Hari Selasa. Kami mengingatkan bahwa ini adalah hari kedua. Pada saat akan tidur siang Chris seperti biasa meminta susu. Aku membuatkannya di dalam botol sesuai janji kami. Demikian pula pada malam harinya.

Hari Rabu. Kembali kami mengingatkannya bahwa hari ini adalah hari terakhir memakai dot. Chris hanya tersenyum dan menghisap susunya dengan nikmat.
“Wah, gawat nih!” pikir kami,”Kelihatannya besok bakalan gagal total nih!”

Akhirnya Hari Kamis pun tiba. Kami mengingatkan Chris pada janjinya.
“Chris hari ini udah besar ya? Kan udah Hari Kamis nih.”
“Iya!” ujarnya ringan.
“Udah siap mau buang dot?”
“Udah!” dan dia pun berlari mendahului kami ke tempat penyimpanan botol-botol susunya.
Satu persatu kulepaskan dot-dot silikon itu dari botolnya. Setelah terkumpul semua aku menyerahkannya kepada Chris yang menanti dengan kedua tangan ditangkupkan seperti mangkok. Sebetulnya aku menyembunyikan satu dot untuk keadaan sangat darurat seandainya Chris ternyata belum siap dan tidak bisa tidur sama sekali atau seandainya dia ngadat dan menjadi trauma, tetapi tanpa sepengetahuan Chris tentunya.

Kemudian kami sekeluarga pun memperlakukan acara membuang dot ini seolah-olah ini adalah suatu upacara besar yang sangat serius. Papanya membukakan dan memegangkan tutup tempat sampah dan Mamanya menghitung dengan khidmat dan serius,”Satu…Dua…Ti…gaaa!!” Dan Chris pun membuang dot-dot dalam genggamannya ke tempat sampah. Begitu dot dibuang kami sekeluarga bersorak dan bertepuk tangan. Kami pun memeluk dan mencium Chris serta memberinya selamat karena sudah benar-benar menjadi anak besar.

Ketika Kakek Neneknya datang berkunjung siang itu pun kami menyampaikan berita bahwa Chris sudah besar dan sudah tidak minum susu pakai dot lagi kepada mereka. Kakek Neneknya memuji dan memeluk serta mencium Chris. Kakek dan Nenek dari pihak Papanya pun kami beri tahu. Bahkan Nenek sampai membelikan hadiah sebagai tanda penghargaan karena Chris sudah bisa tidur sendiri dan tidak memakai dot lagi. Rupanya hal ini sungguh membuatnya bangga dan memotivasinya untuk menjadi anak besar sungguhan. Siang itu Chris tidur siang tanpa minum susu dengan dot. Kami membuatkannya susu di dalam gelas dan setelah meminumnya sedikit (dia tidak menghabiskannya) Chris tidur sambil membawa mainan yang dibelikan Neneknya.

Kami sangat senang dan bangga, juga lega karena ternyata proyek ini berjalan dengan baik. Tapi berkaca dari pengalaman-pengalaman sebelumnya, kami sadar bahwa tidak ada perkembangan yang tidak melalui proses. Maka dari itu kami belajar untuk memaklumi ketika pada malam harinya Chris menangis ketika kami memberinya susu dalam gelas waktu dia meminta susu sebelum tidur.

Kami membujuknya sambil berdoa semoga kami tidak sampai harus menggunakan dot darurat yang aku sembunyikan tadi pagi.
“Loh, anak besar kok nangis?”
“Klis mau susuuuu,” rengeknya.
“Iya ini kan Mama udah bikini susu buat Chris,” kataku sambil menyodorkan gelas berisi susu.
“Mau pake botooolll!!” rengeknya lagi.
“Ayo dicoba dulu. Rasanya sama kok,” aku berusaha membujuknya.
“Ngga mau! Mau pake dot aja!” Chris menangis makin keras.
“Kan dotnya udah dibuang sama Chris?” kataku lagi, “Ayo dong cobain dulu.”

Akhirnya Chris mau minum sedikit susunya dan berhenti menangis. Sambil terisak-isak dia memeluk baju meng-nya dan meringkuk di ranjangnya. Hatiku terasa miris sekali melihatnya. Betapa kutergoda untuk memberikan botol susu yang diinginkannya. Tapi kami tahu bahwa apabila kami menyerah di sini proyek ini akan gagal total dan kami harus memulainya lagi dari awal. Akibat lainnya Chris tidak akan belajar untuk menjalani konsekuensi dari setiap tindakan dan keputusannya.

Maka kami berusaha menghiburnya semampu kami. Menemaninya, membelai-belai kepala dan punggungnya, menyanyikan lagu-lagu kesayangannya dan membisikkan kata-kata sayang dan pujian di telinganya. Akhirnya Chris tertidur juga setelah berulang kali membalikkan tubuhnya dan merengek sambil mengomel panjang pendek.

Hal yang sama kami alami selama beberapa minggu. Kadang Chris bisa cepat tertidur, kadang sangat lama. Beberapa kali juga dia menangis dan meminta dot, terutama apabila dia terlalu lelah atau mengalami hal-hal yang kurang menyenangkan di siang dan sore harinya. Tapi puji Tuhan kami tidak pernah sampai harus mengeluarkan dot darurat yang sampai sekarang masih tersimpan rapi di pojok laci terdalam (yang mengingatkanku bahwa aku harus membuangnya). Benar-benar proses yang membutuhkan kesabaran dan ketekunan, karena tidak jarang kami (terutama aku yang menidurkan Chris setiap malam) dibuat kesal dan greget dengan rengekan dan kemunduran yang berulang kali terjadi selama proses ini.

Sekarang, Chris sudah benar-benar lulus dari proyek membuang dot. Dia tidak pernah lagi meminta dot dan tidak lagi kesulitan tidur setiap malam. Kami sangat bangga padanya dan bersyukur atas kehadiran anak-anak kami dalam hidup kami. Hanya saja ada beberapa dampak yang ditimbulkan dari perubahan pola ini. Yang pertama Chris jadi jarang tidur siang. Mungkin sebenarnya di usianya dia sudah tidak terlalu membutuhkan tidur siang lagi. Suatu hal yang positif menurut kami karena sebelumnya dia selalu tidur larut malam. Sebelum jam 11 malam energinya seolah-olah tak ada habisnya. Tanpa tidur siang Chris bisa tidur pada jam yang lebih normal (sekitar jam 8-9 malam). Memang kadang-kadang dia mengantuk di sore hari dan hal ini pun menjadi pergumulan tersendiri sebetulnya. Karena bila sampai dia tertidur di sore hari (bukan siang) maka malamnya dia akan tidur lebih larut lagi sementara orang tuanya sudah layu karena kelelahan. Tetapi dengan pengalihan perhatian, memberikan kegiatan dan menanamkan pengertian, berangsur-angsur pola tidur Chris menemukan bentukan yang semakin baik dan teratur.

Dampak kedua adalah Chris jadi jarang minum susu. Biasanya minimal dalam sehari dia minum 4 sampai 5 botol susu. Kini, paling-paling sehari dua kali, itu pun jumlahnya tidak banyak karena kalau dibuatkan dalam jumlah besar dan tidak dihabiskan, kami terpaksa membuangnya. Tetapi setelah berkonsultasi hal ini tidak menjadi masalah selama asupan gizinya dipenuhi dari sumber-sumber makanan yang lain dan suplemen tambahan seperti vitamin dan kalsium bila diperlukan. Malahan hal ini membawa kebaikan buat kami karena setelah susunya berkurang, nafsu makan Chris membaik. Kini dia bisa makan dalam jumlah yang lebih banyak dalam waktu yang lebih cepat dan menikmatinya tanpa harus dibujuk-bujuk atau diiming-imingi hadiah. Itu yang terpenting bukan? Memang benar, bagaimana seorang anak bisa menikmati makan saat perutnya sudah kenyang dipenuhi susu? Pengeluaran bulanan pun kini agak berkurang karena harga susu anak balita itu cukup mahal. Biasanya dalam seminggu Chris menghabiskan 1 dus (400 gram) susu. Kini jumlah itu berkurang hingga kurang dari setengahnya.

Kami bersyukur satu lagi tahapan perkembangan anak kami sudah terlalui dengan baik. Yang jelas semua ini tidak akan bisa kami jalani dengan baik tanpa doa dan pertolongan Tuhan yang dengan setia mendampingi dan memampukan kami dalam setiap tahapannya. Kami juga bersyukur karena memiliki keluarga dan teman-teman yang mendukung dan memberikan semangat serta menjadi teman sharing dalam kehidupan keseharian kami. Thanks to all of you guys, God bless you all :D

Sharing : Kejadian-kejadian dalam Hidup Berkeluarga Sehari-hari (1) Episode Melatih Chris Tidur di Kamarnya Sendiri

Sejak melahirkan anak ke-2 kami (Christopher) di tahun 2006, saya dan suami selalu tidur terpisah. Kami tidak mempunyai box khusus untuk bayi dan kebetulan saudara-saudara kami yang memiliki anak kecil masih menggunakan box miliknya atau sudah keburu memberikan atau meminjamkannya kepada orang lain. Sementara untuk membeli yang baru kami rasa biayanya terlalu besar. Karena itu Chris si bayi tidur bersamaku di kamar utama sedangkan suamiku tidur bersama Lucky, anak kami yang sulung di kamar anak-anak.

Sekarang Chris sudah berusia lebih dari 3 tahun dan kami sedang berusaha untuk melatihnya tidur di tempat tidurnya sendiri di kamar anak yang memang sudah kami persiapkan untuknya.

Proyek ini kami awali dengan merubah tata letak perabotan di kamar anak-anak. Kedua ranjang yang tadinya dipisarkan oleh meja belajar kami geser ke sudut kamar hingga berjejer dengan sisi kanan dan atas dari ranjang Chris menempel pada dinding dan sisi kirinya menempel pada sisi kanan ranjang Lucky. Maksudnya untuk meminimalisir resiko Chris terjatuh dari ranjang karena ia adalah seorang anak yang sangat aktif bergerak bahkan di saat tidur sekalipun. Terkadang dalam semalam Chris bisa bergerak hingga membentuk 2 atau 3 putaran penuh.

Chris dan Lucky sangat senang dan bersemangat karena dilibatkan untuk suatu proyek keluarga. Dan mereka juga senang karena aktifitas memindahkan seisi perabot kamar buat anak-anak seperti mereka adalah suatu keasyikan tersendiri. Dengan penuh semangat mereka membantu mendorong dan menggeser perabotan di kamar, walaupun dalam prakteknya mereka lebih banyak merepotkan daripada membantu, tetapi kita sebagai orang tua harus mendukung antusiasme dan memberi apresiasi atas bantuan mereka bukan?

Setelah itu giliran memindahkan perkakas tidur ke tempat yang baru. Bantal, guling dan selimut Papanya mereka pindahkan ke ranjang Mamanya (Senangnya hatiku! Blink! Blink!). Setelah itu perkakas tidur Chris yang terdiri dari bantal, guling, beberapa boneka dan baju meng (kaos lusuh berwarna putih bergambar kucing yang warnanya sudah tidak putih lagi tetapi selalu dibawanya tidur sejak kecil) dipindahkan ke kamar anak-anak. Mereka juga menata sendiri ranjang dan meja mereka di kamar yang “baru”. Sempat juga terjadi ribut-ribut kecil gara-gara rebutan boneka anjing, tetapi secara keseluruhan semuanya berjalan dengan sangat baik.

Dengan hati senang aku dan suamiku berpikir bahwa prosesnya ternyata tidak sesulit yang kami duga sebelumnya. Kami pun memberi Chris banyak pujian karena ia sudah menjadi anak besar yang berani tidur di ranjang sendiri.

Malam pertama dimulai dengan sangat baik. Dengan manis dan menurut Chris berbaring di ranjang “baru”-nya dan meminum susunya. Aku menemaninya sambil duduk di kaki ranjang sementara Lucky sudah tertidur pulas di ranjang sebelah.

Begitu susunya habis Chris langsung bangkit dari tidurnya. Ia duduk, menyerahkan botol kosongnya kepadaku seraya berkata,”Chris mau bobo di kamar Chris aja!”
“Loh, ini kan kamar Chris?” ujarku bingung sambil memandangnya turun dari tempat tidurnya.
“Ngga! Kamar Chris di sana. Papa aja yang di sini sama Koko,” ia pun mulai menyeret kembali perkakas tidurnya ke kamar kami.
“Eits! Nanti dulu. Itu bantal guling mau dibawa ke mana?” aku menghadang di hadapannya.
“Ke kamar Chris,” jawabnya renyah sambil berusaha mengitari tubuhku yang menghalangi jalannya.
“Kamar Chris sekarang di sini. Kan Chris udah gede,” aku membujuknya sambil berusaha menahannya. Tetapi Chris melepaskan diri dari peganganku di bahunya sambil terus melangkah ke kamar kami.

Sementara itu suamiku sedang menikmati malam pertamanya bersantai di kamar kami. Ia berbaring di ranjang yang kini bersih dari tumpukan boneka dan baju meng sambil menonton televisi. Chris melemparkan bantal gulingnya ke atas ranjang dan mendorong perut Papanya
“Papa bobo di sana sama Koko. Ini ranjang Chris!”
“Loh, ini kan ranjang Papa,” kata suamiku.
Tiba-tiba Chris menangis dan berteriak,’’ Ini kamar Chris, bukan kamar Papa!”

“O-ow! Pertarungan dimulai,” demikian pikir kami. Kami pun mulai membujuknya, berusaha untuk tidak menyerah karena kami tahu konsistensi adalah kunci utama keberhasilan disiplin. Ternyata anak kecil dengan bobot sedikit di atas 13 kg memiliki kepala dengan tingkat kekerasan mendekati intan dan daya juang yang bahkan akan membuat kagum para pejuang kawakan.

Akhirnya kami pun mencoba untuk bernegosiasi karena disiplin tanpa toleransi bukanlah disiplin yang baik dan efektif. Setelah tawar menawar yang lebih alot daripada transaksi ibu-ibu dan pedagang sayur di Pasar Andir, akhirnya tercapailah kesepakatan. Untuk malam itu Chris boleh tidur di kamar kami (bertiga, dia di tengah) tetapi semua perkakas tidurnya tetap di ranjang barunya (kecuali baju meng yang tidak bisa diganggu gugat harus hadir).

Setelah Chris tertidur, kami memindahkannya ke kamar anak-anak sambil berdoa semoga tengah malam Chris tidak terbangun dan minta pindah lagi ke kamar kami. Ternyata sepanjang malam itu ia beberapa kali terbangun dan berteriak,”Mama!” Tetapi puji Tuhan begitu aku berlari-lari muncul di kamarnya dan dan menemaninya, ia pun dapat tertidur kembali.

Malam kedua hampir persis seperti malam pertama. Kembali Chris (dan baju meng-nya) tidur di kamar kami dan kami pindahkan ke kamarnya setelah ia tertidur.

Malam ketiga Chris sudah mau tidur di kamarnya dan di ranjangnya sendiri, meskipun sampai ia tertidur aku harus menemaninya selama hampir 2 jam, menghabiskan 3 botol susu, 2 buku cerita dan nyanyian serta senandung dan “mpok-mpok” (tepukan-tepukan lembut di kaki Chris) yang tak terhitung banyaknya.

Malam-malam berikutnya Chris makin terbiasa tidur di kamarnya sendiri bersama si Koko. Tetapi sepanjang malam aku harus bersiap-siap mendengar teriakan ,”Mama!” dan berlari-lari ke kamar sebelah untuk menenangkan Chris beberapa kali dalam semalam. Rasanya seperti mempunyai bayi kecil lagi. Walhasil, selama beberapa minggu ini aku serasa berjalan di awan-awan dan tidak menjejak bumi karena kurang tidur.

Kadang-kadang karena malas bolak-balik ke kamar anak-anak, apabila Chris tampak belum nyenyak betul aku memilih untuk tidur meringkuk di kaki tempat tidurnya untuk beberapa waktu. Biasanya aku akan terbangun 1 atau 2 jam kemudian dengan sakit pinggang dan merayap ke kamarku sendiri.

Hal yang sama dialami oleh suamiku ketika aku tidak ada di rumah selama 3 hari 2 malam karena mengikuti suatu retreat. Tapi secara keseluruhan kami menikmati semua ini karena ini merupakan bagian dari tumbuh kembang anak kami yang akan menjadi kenangan manis di kemudian hari.

Sampai sekarang proyek ini masih terus berjalan dengan proses yang menunjukkan perkembangan yang positif. Satu lagi tahapan menjadi orang tua yang kami lalui dan kami syukuri.

Bagi mereka yang tidak mengalami, mungkin tidak terpikir bahwa hal ini merupakan suatu berkat tersendiri. Sekarang aku dan suamiku bisa tidur di dalam 1 kamar yang sama di atas ranjang yang sama setelah lebih dari 3 tahun kami pisah ranjang dan pisah kamar pula. Puji Tuhan! :D

Kucing

Pada dasarnya aku adalah seorang penyayang binatang. Hampir semua binatang aku suka. Memang terutama binatang yang berbulu halus atau yang menggemaskan. Tetapi banyak binatang lain seperti serangga, ikan, bahkan beberapa reptilia dan ular cukup menarik di mataku. Hanya ada beberapa hewan yang memang tak dapat kutoleransi dan menjadi phobia bagiku.

Tetapi di atas semua jenis hewan, kucing merupakan hewan favoritku. Mengapa kucing? Padahal ada sebagian orang justru membenci hewan yang satu ini. Mitos yang banyak kita dengar adalah bahwa kucing itu hewan yang egois dan hanya memanfaatkan majikannya. Susah diatur dan berbuat sekehendak hatinya, datang dan pergi pun semaunya, tidak setia seperti anjing misalnya. Justru alasan inilah yang menggelitikku untuk sedikit membagikan sedikit pengalamanku berinteraksi dengan jenis hewan ini.

Pada kenyataannya, ada banyak sekali yang dapat kita pelajari dari seekor kucing. Aku sendiri, yang sedari muda sudah memelihara banyak sekali kucing, tak putus-putusnya mengagumi setiap kucing dengan ke-khas-an setiap pribadinya satu-persatu. Ya, kucing adalah hewan dengan kepribadian. Ada kucing yang pendiam, ada kucing yang cerewet. Ada kucing yang cuek, ada kucing yang perhatian. Ada kucing yang sanguin, ada pula kucing yang melankolis. Tetapi yang sama dan tak pernah berubah, kucing adalah hewan yang sangat pengasih dan bermartabat.

Apa maksudnya bermartabat? Hubungan antara seekor kucing dengan manusia harus dilandasi dengan saling menghormati dan saling menyayangi. Tidak seperti anjing yang walaupun dipukuli dan tidak diberi makan tetap bertahan dengan majikannya, kucing tidak akan menerima perlakuan yang semena-mena. “Bila kau sudah tak menyayangiku, aku pun tak memaksa. Hanya saja jangan berharap aku akan terus mengikutimu.” Mungkin begitulah kira-kira jalan pikiran kucing.

Kucing pertamaku bernama Meng Mong. Seekor kucing jalanan yang suatu hari datang ke rumahku dan menolak untuk diusir. Aku diadopsi olehnya. Sungguh, dalam dunia perkucingan, merekalah yang memilih dan mengadopsi kita, bukan sebaliknya. Coba saja memungut seekor kucing yang tidak menyukaimu. Kecuali kau mengurungnya di dalam kandang, dia bisa dipastikan akan meninggalkan rumahmu dengan satu atau lain cara.

Meng Mong adalah seekor kucing betina yang mungil dan manis dengan bulu 3 warna. Dominan putih, dihiasi dengan beberapa pulau berwarna oranye dan hitam di sepanjang kepala hingga ekornya. Dia begitu ramah dan penyayang, walaupun agak penakut pada orang yang belum dikenalnya. Sayang dia mati kira-kira 6 bulan setelah perjumpaan kami. Dia terkena serangan jantung dan mati di kolong mobil Papaku. Tetapi dia sempat melahirkan di rumahku. Dan anak-anaknya yang berjumlah 6 ekor itu kubagi-bagikan pada teman-teman dan orang-orang yang menyukai kucing, kecuali satu.

Kucing keduaku adalah Puppet, anak Si Meng Mong. Seekor kucing jantan berwarna kelabu bergaris-garis hitam. Aku memilihnya dari keenam anak si Meng Mong karena ia paling dekat denganku. Dia sangat ekspresif dan manja terhadapku, tetapi terhadap orang lain sikapnya dingin, bahkan cenderung galak. Dia juga seekor kucing yang doyan makan. Bobot tubuhnya mencapai 7 kg, dengan bulu yang lebat dan halus serta gelambir besar di kedua sisi lehernya, dia adalah seekor kucing yang sangat tampan. Aku men-steril-nya sebelum usia 5 bulan (usia kematangan seksual seekor kucing), sesuai dengan anjuran kesehatan kucing dari dokter hewan, karenanya Si Puppet ini tidak pernah mencapai masa puber dan karenanya tidak pernah kelayapan keluar rumah. Semua orang gemas melihatnya, tapi jangan harap bisa memegangnya. Hanya dengankulah dia mau bermanja-manja, minta dielus, minta dipangku, dan menemaniku ke mana pun aku berjalan di seluruh rumah.

Tidak percaya bahwa kucing itu penuh kasih sayang? Salah satu cara utama seekor kucing menunjukkan kasih sayang pada sesama kucing adalah dengan menjilati bulu tubuhnya dan merapikannya. Perhatikan seekor induk kucing memandikan anak-anaknya, atau kakak beradik kucing yang saling menjilati wajah saudaranya.

Suatu hari, ketika aku sedang “curhat” kepada si Puppet di pangkuanku yang juga merupakan sahabat dan psikolog-ku (kucing merupakan pendengar yang sangat baik, dia bisa duduk tenang dan memandang kita dengan penuh perhatian tanpa menyela sedikit pun sampai kita selesai berbicara), seperti biasa dia bisa merasakan kegalauan hatiku dan akan berusaha menghiburku. Entah dengan menggosok-gosokkan kepala dan pipinya ke wajahku, atau merapatkan diri ke tubuhku sambil mendengkur keras bak mesin pemotong rumput, pokoknya dia tahu persis cara untuk membuat seseorang yang sedang bersedih merasa nyaman dan terhibur. Kali itu di memandang wajahku lekat-lekat, lalu kedua kaki depannya diletakkannya di bahuku, dan dia mulai menjilati alis ku dengan lidahnya yang diliputi duri-duri halus seperti sisir. Selesai dengan yang kanan, dia melanjutkan dengan yang kiri, sampai kedua alisku tampak rapi dan licin ketika aku berkaca di cermin. Aku sungguh tersentuh dengan tindakannya yang berusaha menghiburku dan jelas-jelas menunjukkan bahwa dia menyayangiku.

Sayang suatu hari aku tak dapat menemukan Si Puppet di mana pun, sepertinya seseorang mengambilnya ketika dia sedang berjemur di halaman. Cukup lama aku menangisi kehilangan akan dirinya, sampai suatu hari aku menemukan seekor anak kucing yang terlantar di depan rumahku.

Seekor kucing kecil berwarna coklat muda, tanpa corak ataupun warna lain di sekujur tubuhnya. Sungguh manis, hanya sayang keadaannya begitu memprihatinkan. Kotor dan dekil dengan banyak bongkahan tanah yang sudah mengering di bulunya. Kurus dan lemas karena kekurangan gizi. Matanya tertutup kotoran mata yang lengket dan meleber ke pipinya. Tubuhnya tinggal tulang berbalut kulit, sungguh mengenaskan.

Ketika aku membawanya ke dalam rumah, Mamaku sempat marah karena menurutnya kucing kecil ini menjijikkan dan membawa penyakit. Tetapi aku tidak tega membuangnya sehingga aku memohon pada Mama agar diperbolehkan merawatnya. Akhirnya setelah kubersihkan dengan hati-hati, aku menyuapinya dengan kuning telur yang dicampur susu. Ini adalah resep pertolongan pertama pada hewan sekarat yang kujumpai di sekitar rumahku, sarat gizi dan bisa disuapkan menggunakan pipet jika si hewan terlalu lemah untuk makan sendiri. Untungnya si kucing coklat kecil dengan patuh menelan setiap tetes makanan yang kumasukkan ke dalam mulutnya. Aku pun menamainya Meeko, seperti nama rakun peliharaan tokoh Pocahontas di salah satu film kartun Disney yang rakus dan gemuk, dengan harapan dia akan segera sehat dan rakus seperti Meeko sang rakun.

Keesokan harinya aku membawanya ke dokter hewan. Dokter hewan pun tampaknya tidak yakin dapat menyelamatkan kucing kecilku. Beliau memberi Meeko cairan infus dan suntikan antibiotik. Beliau juga mengajarkanku cara membuat sweater dari kaus kaki bekas untuk kupakaikan pada Meeko agar dia tidak kedinginan. Selama hampir seminggu aku merawatnya, menyuapinya makan sepulang sekolah, menemaninya sambil mengajaknya berbicara, menyuapinya lagi selesai belajar dan membuat PR, dan membawanya ke dokter setiap 2 hari sekali untuk menerima cairan infus dan suntikan antibiotiknya. Keadaannya sempat membaik, Meeko bisa mengangkat kepalanya dan mengeong lemah, bahkan sempat berdiri walaupun dengan kaki goyah.

Tetapi rupanya tubuhnya terlalu lemah untuk bertahan. Kira-kira seminggu setelah aku menemukannya, Meeko pun mati di pangkuanku. Kucing ketiga yang kutangisi dan mengukir kenangan di hatiku.

Beberapa waktu kemudian, kembali seekor kucing mengadopsiku. Kali ini seekor kucing betina yang mungil dengan corak keabuan yang bercampur aduk dengan warna-warna lainnya. Sekilas agak mirip warna lap pel butut. Ekornya bengkok-bengkok di 3 tempat, tampaknya seperti habis terjepit pintu dan bentuknya tidak dapat kembali ke bentuk asalnya. Salah satu kaki depannya pun kehilangan 2 jarinya. Ditambah lagi dengan bekas-bekas luka di hidung dan robekan di telinganya. Seolah belum cukup, kucing ini datang dengan perut membuncit, penuh dengan entah berapa ekor anak kucing di dalamnya. Kembali Mamaku menentang habis-habisan keinginanku untuk memliharanya. Tetapi kucing itu rupanya sudah menetapkan pilihannya. Dia melesat masuk dan melompat ke tempat yang tidak dapat diraih oleh kami, dengan bantuan sapu sekalipun. Akhirnya kami terpaksa membiarkannya di sana. Mamaku berharap kucing jelek itu segera turun sehingga bisa diusir.

Tapia pa boleh dikata, malam itu sang kucing melahirkan di antara tumpukan barang-barang di sela-sela tangga antara lantai 1 dan lantai 2. Mamaku pun mengomel panjang pendek. Sempat kutangkap kata-kata ‘kutu’, ‘bulu’, dan entah apa lagi di dalamnya. Tapi aku tak ambil pusing karena seperti yang sudah-sudah, semua kucingku toh akhirnya bisa merebut hati Mama dan Mama pun akhirnya menyayangi kucing-kucing itu.

Sempat kuintip dan ternyata kucing jelek itu melahirkan 5 ekor anak kucing yang manis-manis. Dan ternyata dia seekor kucing yang sangat lembut dan menyayangi anak-anaknya. Dengan telaten ia menyusui dan memandikan anak-anaknya. Bila aku memberinya makan, dia akan mengeong mengucapkan terima kasih dan menggosok-gosokkan kepalanya ke tanganku yang membelainya. Dia juga cukup percaya kepadaku untuk mengijinkanku melihat anak-anaknya dari dekat, walaupun hal itu tidak berlaku bagi orang lain. Dia akan mendesis marah jika dirasanya seseorang berada terlalu dekat dengan sarangnya.

Aku memberinya nama Faye. Nama yang cantik untuk kucing yang jelek, tapi aku tetap melihatnya sebagai kucing yang cantik karena kepribadiannya yang cantik.

Beberapa hari kemudian, Faye tidak tampak keluar dari sarangnya seperti biasa, makanannya pun tak disentuhnya. Aku menengok ke atas tumpukan barang-barang tempatnya bersarang, dan ternyata Faye sedang terengah-engah dan kejang-kejang. Perutnya membuncit dan keras seperti batu. Memang kuperhatikan sejak habis melahirkan perutnya masih tetap besar, bahkan masih seperti kucing hamil saja layaknya, tapi tidak seperti apa yang kulihat sore itu.

Dengan panik aku menelepon dokter hewan. Untung beliau mau mampir ke rumah malam itu. Dan untungnya Faye cukup percaya kepadaku sehingga di tidak melawan ketika aku mengambilnya dari dalam sarangnya untuk diperiksa dokter.

Ternyata menurut dokter Faye tidak berhasil mengeluarkan ari-ari anak-anaknya dengan sempurna. Ada sebagian yang tertinggal di dalam dan menyebabkan infeksi rahim. Satu-satunya cara pengobatan adalah dengan menyuntikkan antibiotik langsung ke dalam rahimnya melalui liang vagina, karena kondisinya sudah kritis dan pengobatan oral tidak akan membantu sebelum waktunya. Masalahnya, setelah hampir seminggu melahirkan, jalan lahir dan liang vaginanya sudah tertutup. Dengan berat hati aku memeganginya erat-erat sementara dokter memasukkan dengan paksa sejenis batang panjang untuk menyuntikkan antibiotik ke dalam rahim Faye. Faye menjerit-jerit dan meronta-ronta kesakitan. Aku pun sambil menangis berusaha menghiburnya sambil mengeraskan hati untuk memeganginya erat-erat.

Akhirnya proses yang menyakitkan itu pun selesai juga dan aku meletakkan Faye yang lemas kelelahan dan kesakitan di sarangnya. Dan memang Faye kucing yang sangat baik, tak sekalipun selama proses itu dia berusaha menggigit atau mencakarku. Sepertinya dia tahu bahwa kami terpaksa melakukannya demi kebaikannya.

Puji Tuhan keesokan harinya keadaan Faye jauh lebih baik dan aku pun meneruskan pengobatan dengan memberikan antibiotik secara oral sampai Faye sehat sepenuhnya. Cukup lama juga Faye menjadi bagian dari keluarga kami. Setelah insiden itu sempat 2 kali lagi Faye melahirkan di rumah kami, yang untungnya tidak bermasalah lagi. Yang pertama berjumlah 4 ekor, semuanya kuberikan kepada orang-orang yang mau menerimanya. Yang kedua berjumlah 6 ekor, dan aku memelihara 2 di antaranya.

Ketika ke-6 anak kucing yang terakhir berusia beberapa bulan, Faye seperti biasa pergi untuk bersosialisasi. Tetapi kali itu dia tidak kembali. Sempat aku menelusuri jalan-jalan di sekitar rumahku untuk mencarinya, tetapi aku tak menemukannya. Dugaanku Faye mati tertabrak mobil karena kecil kemungkinan ada orang yang mau mengambil kucing jelek dan berperut buncit seperti Faye. Adikku bilang, saat duduk bentuk tubuhnya tampak seperti guci.

Cukup sedih juga rasanya, tapi aku agak terhibur karena kali ini ada anak-anak peninggalan Faye di rumahku. 4 di antaranya sudah ada yang mengambil, tetapi 2 lagi kupelihara. Yang 1 sebetulnya paling diminati, tetapi aku sengaja menahannya karena anak kucing itu adalah kesayanganku. Sekujur tubuhnya berwarna abu-abu tua, tanpa ada sedikit pun corak ataupun warna lain. Ketika baru dilahirkan, ukuran dan warnanya persis seperti seekor tikus. Itulah sebabnya aku menamainya Mickey. Tetapi setelah besar, Mickey sangat tampan dan elegan. Tubuhnya langsing dan luwes, warna dan proporsi tubuhnya persis seperti kucing ras berjenis Russian Blue. Pernah seorang penggemar kucing yang kebetulan melihatnya manawarnya dengan harga berdigit 7 angka, tapi aku tidak mau menjualnya.

Yang 1 lagi bernama Joy, berwarna dominan putih dengan sebuah pulau besar berwarna kelabu seperti induknya di punggungnya. Dengan kedua kucing ini lah aku menghabiskan masa remajaku hingga aku duduk di bangku kuliah, bahkan hingga aku menikah dan mempunyai anak. Kedua kucing ini selalu menyambutku di puncak tangga setiap aku pulang sekolah, mereka juga selalu bergelimpangan di sekitarku saat aku sedang membaca atau menonton televisi di ruang tamu.

Mickey lebih anggun dan pendiam, tetapi dia lebih manja dan selalu mengikutiku ke mana-mana. Dia selalu berada di pangkuanku saat aku berkutat dengan PR dan buku pelajaranku. Dia juga selalu menungguiku mandi di depan kamar mandi. Sedangkan Joy lebih ceria dan senang bermain. Dia juga sering menjahiliku dengan menubruk kakiku ketika aku berjalan, atau melompat menerkam tas atau buku yang terayun-ayun saat kuberjalan.

Ketika aku akhirnya menikah dan memiliki anak, aku kurang memperhatikan kedua kucingku dan jarang mengajak mereka bermain. Tugas memberi makan pun kudelegasikan pada pembantuku. Rupanya mereka merasakan hal itu dan dalam waktu singkat kedua kucing itu pergi meninggalkanku. Aku hanya berharap mereka menemukan seseorang yang sungguh layak untuk mereka dan mau menyayangi mereka dengan sebaik-baiknya.

Kini anak-anakku sudah cukup besar untuk tidak terlalu tergantung padaku. Percaya tidak percaya seekor kucing baru datang ke rumahku. Seekor kucing kampung, mirip sekali dengan Faye, kucingku dulu. Kembali aku diadopsi seekor kucing. Aku memberinya nama Meng karena begitulah kedengarannya ketika ia mengeong,” Meeeenngg….”

Meng seekor kucing yang sangat ramah dan lembut. Bahkan anak-anakku pun dapat bermain dengan aman bersamanya. Meng juga sangat manja dan menggemaskan. Dia selalu ingin berada di dekat kami. Kecuali kala ia pergi keluar rumah untuk berburu atau berjalan-jalan, ia akan selalu tampak di sekitar kami. Entah tertidur di meja kasir toko kami, bergelung di pangkuanku, atau duduk mengamati sambil mendengkur di etalase toko kami.

Senang rasanya bisa memelihara lagi seekor kucing setelah waktu yang cukup lama. Selain semua kesenangan hidup bersama dengan seekor kucing, ada lagi beberapa kelebihan hewan ini dibandingkan dengan binatang peliharaan lainnya loh, misalnya :
1. Kucing tidak perlu dimandikan. Kucing itu mempunyai kebiasaan mandi sendiri dengan menjilati bulu-bulu di sekujur tubuhnya. Air liur kucing mengandung desinfektan dan karenanya sangat efektif membersihkan dan menghilangkan bau tak sedap, juga membersihkan dan menyembuhkan luka. Hal ini sudah diteliti secara ilmiah oleh para ahli, bahkan konon katanya tingkat kebersihan mandi kucing itu lebih tinggi daripada kita yang mandi dengan sabun mandi. Hanya saja mungkin untuk kucing ras berbulu panjang, kita perlu memandikan dan menyisirinya agar bulunya tidak kusut. Karena itulah aku kurang menyukai kucing ras berbulu panjang. Selain perawatannya yang lebih rumit, secara umum kepribadiannya pun lebih pasif dan malas daripada jenis kucing kampong yang luwes dan lincah serta ekspresif.

2. Kucing secara naluriah memiliki dorongan untuk mengubur kotorannya. Maka kita tinggal menyediakan sebuah wadah atau bak berisi pasir atau tanah atau abua gosok atau cat litter, maka secara naluriah dia akan buang air di situ tanpa kita perlu bersusah payah melatihnya.


3. Kucing memiliki naluri berburu yang sangat baik. Mulai dari tikus, kecoak sampai cicak, bahkan capung dan laron, semua berusaha ditangkap olehnya. Bahkan jika ia tidak memakannya, naluri berburunya menyebabkannya berusaha menangkap makhluk-makhluk itu. Karena itulah, setiap kali aku memelihara kucing, rumahku bersih terbebas dari tikus dan kecoak. Suatu keuntungan yang sangat besar karena tikus belakangan ini sangat merusak dan sulit dibasmi. Baik lem tikus, perangkap tikus, racun tikus maupun alat pengusir tikus elektrik tak dapat membasminya sampai tuntas seefektif memelihara seekor kucing.

4. Kucing adalah seekor pendengar yang sangat baik hingga bahkan terapis dan psikolog pun sangat menganjurkan memelihara kucing untuk mengurangi stress. Dan seorang anak yang dibesarkan dengan satu atau beberapa binatang peliharaan yang terpelihara dengan baik secara psikologis akan lebih baik pertumbuhan mental dan kecerdasannya. Dan seseorang yang sedari muda sudah berdekatan dengan hewan yang terjaga kebersihannya akan berkecenderungan membangun sistem imun di dalam tubuhnya terhadap virus-virus yang biasanya dijumpai pada hewan. Bukti nyata dari hal ini adalah aku dan kedua sahabatku yang sama-sama pemelihara kucing, pada hasil tes darah pra-nikah terbukti kami semua memiliki anti-toxoplasma dan anti-rubella yang konon katanya disebarkan oleh hewan peliharaan.

Yah, mungkin itulah sedikit yang ingin kuceritakan dan kubagikan mengenai spesies hewan yang satu ini. Mungkin tulisan ini bisa sedikit membuka wawasan tentang kehidupan bersama seekor kucing. :D

Kisah Freeia dan Vorg part.11

Bagian dalam dari istana itu gelap dan lembab. Penerangan hanya berasal dari beberapa buah obor yang ditancapkan pada dudukannya di sepanjang dinding lorong batu itu. Ada beberapa jendela tetapi semuanya tertutup rapat. Rupanya aktifitas di istana itu belum dimulai sepagi ini. Baguslah, berarti semakin kecil kemungkinan mereka tertangkap.

Cukup jauh Vorg dan Freeia merayap di sepanjang dinding lorong istana itu sampai menjumpai sebuah persimpangan.
“Kita harus ke mana? Kanan, kiri atau lurus?” tanya Freeia pelan.
“Aku juga tidak tahu. Menurutmu bagaimana?” Vorg balas berbisik.
“Perasaanku bilang sebaiknya kita ke kanan,” kata Freeia lagi.
“Baiklah, kalau begitu kita ke kanan,” kata Vorg.

Mereka berlari menyeberangi lorong itu dan kembali merayap di sepanjang dinding lorong yang mengarah ke kanan. Semakin masuk ke perut istana itu suasana bertambah suram. Bau lumut semakin menyengat ditambah bau-bauan lain yang membuat Vorg dan Freeia terpaksa harus menahan napas mereka dan menghirup udara sesedikit mungkin supaya tidak muntah karena bau yang memuakkan itu.
“Sepertinya kita salah jalan. Tidak mungkin tempat tinggal raja sebau dan sejorok ini,” kata Freeia dengan suara aneh karena berbicara sambil memencet hidungnya.
“Tapi kata Lloyd bangsa Troll memang menyukai kelembaban dan bau busuk bukan?” jawab Vorg juga dengan suara aneh karena memencet hidungnya. Maka mereka pun meneruskan perjalanan mereka. Untunglah sejauh ini mereka tidak menjumpai satu troll pun.

Beberapa meter kemudian Vorg tiba-tiba berhenti melangkah dan memberi isyarat agar Freeia tidak bersuara. Rupanya ada suara-suara yang mencurigakan dari tikungan di depan mereka. Mereka mengendap maju perlahan-lahan, Freeia memegang tangan Vorg kuat-kuat. Sesampainya di tikungan Vorg melongokkan kepalanya sedikit ketika tiba-tiba
“RRAAHHH!!! KKIIKKK!!!” Seekor tikus besar memekik sambil melompat melewati kepala mereka. Ekornya yang berulir-ulir dan panjang hampir menampar wajah Vorg yang untungnya sigap berkelit.
Freeia sempat memekik tertahan tetapi untunglah suara tikus dan suara troll-troll yang mengejar di belakangnya lebih berisik dan menutupi suara pekikan Freeia. Kedua troll itu sama sekali tidak melihat atau memperhatikan kedua peri kecil yang meringkuk di pojok tembok itu. Dengan gaduh mereka mengejar tikus besar tadi sambil membawa pentungan dan memaki-maki dengan ribut.

Begitu kedua troll tadi menghilang dari pandangan mereka Vorg segera menarik tangan Freeia menuju ruangan yang ditinggalkan oleh para troll itu. Rupanya ruangan itu adalah semacam gudang penyimpanan bahan-bahan ramuan dan obat-obatan sekaligus semacam laboratorium. Tampak ratusan stoples dan kotak-kotak kecil berderet-deret di rak-rak yang tersusun di sekeliling dinding ruangan sampai ke langit-langit. Di sepanjang tepi ruangan itu juga dipenuhi meja-meja berlaci dan lemari-lemari yang memuat banyak peralatan yang berbentuk aneh dan kotor. Setiap jengkal di ruangan itu tertutup debu dan sarang labah-labah bergelantungan di mana-mana. Bau lumut bercampur dengan bau jamu-jamuan menggantung di setiap penjuru ruangan bagaikan kabut yang menyesakkan. Di tengah ruangan terletak meja besar dengan bermacam-macam timbangan, tabung-tabung, pipet, alat suntik dan beberapa stoples yang terbuka di atasnya. Di pojok ruangan terdapat deretan kandang yang disusun seperti loker bertingkat-tingkat dan dipenuhi tikus-tikus besar seperti yang melewati mereka beberapa waktu yang lalu. Sepertinya tikus itu kabur ketika akan dijadikan tikus percobaan oleh kedua ilmuwan troll tadi.

“Tidak mungkin permata itu ada di sini, ayo kita keluar dari sini,” bisik Vorg kepada Freeia yang tampak memandang ke sekeliling ruangan itu dengan ekspresi jijik campur takjub.
“Tunggu sebentar. Kelihatannya ini cukup menarik,”Freeia malah melayang terbang ke atas meja tempat kerja para ilmuwan troll. Sambil bergidik dilewatinya sebuah botol yang berisi organ-organ hewan entah apa yang diawetkan dan melayang-layang di dalam cairan berwarna kehijauan. Dibacanya catatan yang ditinggalkan kedua troll itu.
“Lihat ini Vorg. Ramuan penyembuh luka dalam sekejap,”Freeia berjalan mundur sambil membaca dengan seksama. Dia menggigiti bibir bawahnya dan mengerutkan keningnya,”Hmm… kelihatannya ini bisa berguna.”
Sementara itu Vorg sudah memanjat naik melalui kursi batu yang berada di samping meja itu. Dia ikut mengintip catatan ramuan itu dari balik bahu Freeia.
“Sejumput kotoran siput air, dua tetes liur kadal sisik merah, tiga tetes air rendaman limpa tikus jantan, sekeping sisik ular bertanduk tiga. Dilarutkan dengan darah anak naga dan direbus dengan api kecil hingga mengental. Hiyyy!! Kok kelihatannya tidak meyakinkan yah?” Vorg meleletkan lidahnya.
“Tapi bagaimana seandainya ramuan ini benar-benar manjur?” kata Freeia lagi,”Kau bisa mencobanya pada lukamu.”
Dengan ragu Vorg memandang cairan hitam berbau busuk yang menggelegak lembut di dalam wadah yang dipanaskan di atas sejenis tungku berbahan bakarkan entah apa yang menyemburkan api kecil berwarna hijau dengan inti api berwarna ungu.
“Bagaimana? Kau mau mencobanya?” tanya Freeia lagi.
“Apakah menurutmu aman?” kata Vorg yang sebenarnya enggan,”Tikus tadi saja lari-terbirit-birit ketika akan dijadikan bahan percobaan.”
“Tentu saja. Untuk mencoba ramuan penyembuh kan mereka harus melukai dahulu tikus itu. Apakah kau tidak akan kabur bila akan dilukai dengan pisau sebesar itu?” kata Freeia sambil menunjuk pisau melengkung besar penuh karat yang memang tampak menyeramkan di dekat mereka.
“Baiklah!” akhirnya Vorg memutuskan,”Toh tidak akan bertambah parah lagi kan?” sambungnya tak yakin sambil membuka bebatan sobekan baju Freeia yang membalut luka di sikunya.

Maka Freeia pun menyobek sedikit ujung catatan ramuan itu dan menggulungnya untuk kemudian mencelupkannya pada ramuan hitam tadi. Begitu diangkat dari wadah tempatnya dipanaskan cairan lengket itu tampak menggumpal dan berubah warna menjadi perak keputihan, uapnya pun langsung menghilang begitu saja seolah-olah cairan kental itu tidak panas sama sekali. Freeia menyentuhkannya perlahan pada luka menganga yang tampak membengkak dan bernanah di siku Vorg.
Vorg menggigit bibirnya kuat-kuat dan memejamkan matanya untuk menahan rasa sakit yang mungkin ditimbulkan obat itu. Tetapi alih-alih merasa sakit, ia malah merasakan suatu perasaan sejuk di daerah sikunya yang terluka. Dibukanya matanya dan dilihatnya ramuan keperakan itu melapisi seluruh lukanya dan dalam sekejap daging dan kulitnya terbentuk sempurna seolah-olah tidak pernah terluka sama sekali. Rasa sakitnya pun menghilang tanpa bekas. Dicobanya untuk menggerakkan lengan itu. Tidak masalah. Dicobanya untuk memutarnya ke segala arah. Berfungsi dengan sempurna!

“Wow! Luar biasa!” hanya itu yang bisa diucapkannya. Freeia pun tercengang memandang khasiat dari ramuan itu.
“Bagaimana kalau kita membawanya sedikit? Pasti suatu waktu akan berguna,” kata Freeia masih terkagum-kagum.
Mereka pun memindahkan sedikit dari ramuan itu ke dalam salah satu cangkang kumbang yang biasa mereka pakai untuk minum dengan gulungan kertas tadi, membungkusnya dengan sobekan baju Freeia bekas membalut luka Vorg, kemudian mengikatnya kuat-kuat dengan seutas tali peri. Vorg memasukkan persediaan ramuan itu ke dalam tas kulit ularnya. Sobekan kertas tadi pun disimpannya agar tidak meninggalkan jejak yang akan membuat para troll curiga.

Kemudian Freeia terbang menyusuri rak-rak yang dipasang di sekeliling ruangan itu sambil membaca setiap label yang melekat pada jajaran botol-botol itu.
“Ramuan penumbuh kutil, ramuan pengeras rambut, ramuan pemikat lalat… Parfum aroma lumut basah, parfum aroma bangkai siput air, parfum aroma lumpur asam… Obat sariawan tanpa cacing, obat sariawan bercacing, obat batuk kering, obat batuk berdahak hijau, obat batuk berdahak hitam, obat batuk berdahak kuning… Hoekhh! Jadi mual aku,” kata Freeia sambil melayang turun kembali ke meja.

Dari kejauhan terdengar suara-suara troll mengobrol yang makin mendekat.
“Ayo kita keluar. Sepertinya mereka sudah kembali,” bisik Vorg sambil melompat turun ke kursi yang tadi dipakainya untuk naik ke meja. Freeia pun melayang turun mengikutinya. Sesampainya di lantai mereka cepar-cepat keluar dan bersembunyi di pojokan tembok yang tertutup bayang-bayang obor yang ditancapkan di atasnya. Dan benarlah. Tampak kedua ilmuwan troll tadi datang mendekat. Troll yang berambut dan berkumis kuning tua memanggul pentungan di bahunya sementara troll pendek yang berambut pendek dan mekar ke segala arah berwarna biru elektrik menjinjing ekor tikus yang meronta-ronta dan mencicit ribut di tangannya.
“Untung kita berhasil menangkap tikus ini. Kalau sampai masuk ke kamar Raja, bisa-bisa kepala kita dipenggalnya,” kata si rambut biru.
“Betul! Padahal hampir saja kita terlambat. Satu, dua, tiga, empat pintu dilewatinya. Tikus ini sungguh lincah dan lihai berkelit. Tepat di depan pintu kamar Raja kita berhasil menangkapnya tadi. Untung Raja tidak terbangun,” si rambut kuning mengiyakan.
Dan mereka pun masuk ke dalam laboratorium mereka seraya menutup pintunya.
“Harus ditutup. Jangan-jangan tikus sialan ini kabur lagi nanti,” ujar salah satu troll itu samar-samar dari balik pintu yang kini tertutup. Ternyata setelah pintu ditutup dinding batu itu tampak seperti dinding batu biasa tanpa terlihat pintu sedikitpun.

Vorg dan Freeia berpandang-pandangan.
“Ternyata kita sudah melewati kamar Gorchuk di lorong tadi,” bisik Vorg.
“Ya. Pintu kelima dari tikungan tadi bukan?” sahut Freeia penuh semangat.
“Tapi, perasaan tadi kita tidak melewati satu pintu pun?” kata Freeia lagi.
“Pandanglah pintu laboratorium itu. Memang sangat tersamar bukan? Mari kita melihatnya dari dekat,” jawab Vorg sambil menggamit lengan Freeia.

Mereka menghampiri bagian dinding yang tadi merupakan pintu masuk ke laboratorium. Tidak tampak tanda-tanda pintu sama sekali. Vorg dan Freeia meraba-raba dinding tersebut mencari celah yang merupakan tanda batas tepi pintu yang mereka cari, tetapi tetap mereka tidak menemukannya.
“Hmm… Aneh sekali,”Freeia menotol-notol dagunya dengan jari telunjuk tanda ia sedang berpikir keras. Sementara itu Vorg memandang seluruh permukaan dinding dengan seksama. Pandangannya menelusuri tempat di mana pintu tadi berada dari bawah, perlahan-lahan naik ke atas hingga mencapai langit-langit lorong itu.
“Freeia, lihat! Rupanya di atas pintu itu ditandai dengan semacam plakat yang merupakan nomor ruangan atau sejenisnya” Vorg berbisik sambil menunjuk semacam plakat kusam yang ditempelkan di atas pintu hampir mendekati langit-langit lorong batu itu,”Pantas saja kita tidak melihatnya. Tinggi sekali, tersamar pula saking kotornya.”
“Berarti kita tinggal mencari cara membuka pintunya,” sambung Freeia penuh semangat.
“Kedua troll yang ada di dalam akan curiga bila pintunya tahu-tahu terbuka. Lebih baik kita menunggu sampai mereka keluar,” kata Vorg lagi
“Tapi bagaimana jika mereka tidak keluar-keluar sampai malam?” tanya Freeia.
“Kalau begitu sebaiknya kita mencari dahulu letak kamar Raja Gorchuk, bagaimana?” Ujar Vorg.
“Baiklah!” Freeia pun setuju.

Vorg memimpin di depan. Kembali mereka mengendap-ngendap kembali ke jalan yang telah mereka lewati sebelumnya. Sesampainya di tikungan Vorg berkata,“Kita harus berhati-hati kalau-kalau tiba-tiba ada troll yang keluar dari salah satu pintu itu,”
Mereka berjalan sambil memperhatikan bagian atas dari dinding di sebelah kanan mereka. Dan benarlah, Setiap beberapa meter ada semacam plakat yang tertempel di sana. Plakat itu memuat lambang-lambang yang tidak mereka pahami.

Pintu pertama, kedua, ketiga dan keempat mereka lewati.
“Berarti yang berikutnya pintu kamar Gorchuk,” Vorg berbisik pada Freeia yang menempel rapat di belakangnya sambil tanpa menghentikan langkahnya. Ia baru berhenti ketika pintu kelima sudah tepat berada di hadapan mereka. Sambil memberi tanda kepada Freeia untuk mengikutinya Vorg menyeberangi lorong itu.

Mereka memandang ke atas ke arah plakat di atas pintu kelima. Memang plakatnya lebih besar dan di sekeliling tepiannya dihiasi oleh ornamen-ornamen seperti ukiran, tidak polos seperti plakat-plakat lainnya.
“Kira-kira bagaimana cara membuka dan menutup pintu-pintu ini ya?” baru saja Vorg selesai berbicara ketika pintu di hadapan mereka mendadak menggeser terbuka dan di hadapan mereka tampak sepasang kaki besar mengenakan sepatu bot yang terbuat dari sejenis kulit binatang melata. Saking kagetnya kedua peri itu tidak sempat bersembunyi atau berbuat apa pun.
“Gawat! Matilah kita,” hanya itu yang sempat terlintas di pikiran mereka saat itu.

TO BE CONTINUED….
Apakah kedua peri itu akan tertangkap?
Bagaimana nasib mereka dan keempat Ratu Musim?
Nantikan lanjutannya di Kisah Freeia dan Vorg part.12

Kisah Freeia dan Vorg part.10

Mereka melesat di keremangan langit senja dengan ketinggian dan kecepatan yang tak pernah terbayangkan. Freeia saja yang sebetulnya sudah terbiasa terbang merasa ngeri. Dicengkramnya bulu-bulu di leher Lloyd kuat-kuat. Kakinya menjepit leher burung besar itu sampai pegal rasanya. Untunglah dengan adanya tubuh kokoh Vorg di belakangnya dan kedua lengan kekar yang memeluk pinggangnya Freeia merasa cukup aman.

Sementara itu Vorg sebenarnya merasa sangat ngeri. Tubuh burung yang berlapiskan bulu itu terasa licin di pantatnya. Gerakan mengepak dari kedua sayap di kiri kanannya serasa mendorongnya ke berbagai arah dan ia tak menemukan tempat untuk berpegangan selain dari memeluk tubuh gadis yang duduk merapat di depannya. Tapi lama kelamaan Vorg dapat juga menikmati perjalanan udara itu. Tubuhnya mulai menemukan ritme yang seirama dengan kepakan sayap Lloyd. Helai-helai rambut Freeia yang halus dan harum tertiup angin menyapu wajahnya dan bintang-bintang yang mulai bermunculan di langit menjadikan segalanya menjadi begitu indah. Untuk beberapa saat ia melupakan misi yang kini diembannya bersama Freeia dan rasa sakit menusuk yang berdenyut-denyut di siku dan di kepalanya.

Malam semakin larut tetapi Lloyd terus terbang dengan kecepatan tinggi menembus awan-awan. Vorg memaksa dirinya untuk terus terjaga. Pertama karena takut jatuh, kedua karena udara dingin yang tidak memungkinkannya untuk tidur. Bahkan ketebalan mantel bulunya tidak dapat melawan dinginnya angin di ketinggian seperti itu. Freeia tampaknya cukup nyaman dengan lilitan sayap di sekitar tubuhnya dan lengan Vorg di sekeliling pinggangnya. Beberapa kali gadis itu terangguk-angguk dalam tidurnya, tetapi Vorg memastikan gadis itu aman di atas punggung Lloyd.

Akhirnya Vorg merasa laju terbang mereka mulai melambat dan Lloyd mulai menurunkan ketinggian terbangnya. Saat itu sudah menjelang fajar. Hitamnya langit sudah mulai kehilangan kepekatannya dan bintang-bintang mulai kembali ke peraduannya. Ia memandang ke bawah. Tampaknya kini mereka berada di atas daerah rawa-rawa. Tanaman ilalang yang lebat tampak berkelompok di mana-mana mencuat dari permukaan tanah yang becek dan berlumpur. Beberapa pohon yang rendah tapi rimbun tumbuh di tepian genangan-genangan air yang besar, beberapa di antaranya bahkan hampir menyerupai danau-danau kecil.

Mereka melayang makin rendah hingga akhirnya dengan mulus mendarat di samping sebuah rumpun ilalang yang cukup lebat. Begitu kaki-kaki Lloyd menjejak tanah Freeia terbangun dari tidurnya.
“Hoahhemm… Di mana kita sekarang?” ujarnya sambil menguap dan menggeliat.
“Ssh… Kita sudah berada di wilayah kekuasaan Gorchuk. Sebaiknya kita berhati-hati karena dia menempatkan penjaga di setiap pelosok rawa ini.” Kata Lloyd setengah berbisik.
“Di sini baunya tidak enak,” kata Freeia lagi sambil mengernyitkan hidung, tetapi kali ini dengan suara yang dipelankan.
“Justru karena itulah para Troll memilih tinggal di daerah berawa seperti ini. Mereka menyukai kelembaban dan bau-bauan yang menyengat. Makanan mereka pun biasanya berupa daging yang sudah membusuk dan berbagai jenis ulat dan serangga yang hidup di sekitar sini,” Lloyd menjelaskan dengan suara rendah.
“Hoekkh!” Freeia menjulurkan lidah sambil memegang perutnya yang tiba-tiba terasa mual.
“Apa yang harus kita lakukan sekarang?” Vorg akhirnya buka suara.
“Kurasa sebaiknya kita berusaha mendekati tempat kediaman Gorchuk mumpung hari masih gelap. Akan lebih sulit untuk kita mendekati istananya di siang hari,” kata Lloyd.
“Baiklah, ke arah mana?” tanya Vorg.

Lloyd memberi tanda dengan sayapnya untuk mengikutinya. Maka mereka pun berjalan mengendap-ngendap sambil merunduk dari satu rumpun ilalang ke rumpun ilalang berikutnya mendekati istana Gorchuk. Semakin mendekati istana Gorchuk tanah di bawah kaki mereka semakin becek dan berlumpur. Belum lagi dengingan nyamuk-nyamuk besar yang sesekali berseliweran di sekitar kepala mereka. Sepatu Freeia dan Vorg kini terbungkus lapisan tebal lumpur yang lengket dan bau. Demikian pula dengan kaki Lloyd. Berulang kali ia mengangkat kakinya dan berusaha mengguncangkan lumpur yang memenuhi sela-sela jari kakinya sebelum bisa melangkah lagi. Beberapa kali mereka harus berjalan memutar karena terdengar dengkur keras dari balik rumpun ilalang di hadapan mereka.
“Untung para penjaga Troll malas-malas dan tertidur selagi berjaga,” kata Freeia dengan berbisik.
“Untungnya lagi mereka semuanya mendengkur begitu kerasnya sehingga kita tidak menabrak salah satu dari mereka,” Vorg menimpali dengan berbisik juga.

Langit mulai menampakkan semburat jingga di sebelah timur. Rupanya sebentar lagi Sang Surya akan menampakkan wajahnya.
“Sekarang sudah dekat,” bisik Lloyd,”Istana Gorchuk terletak di balik rumpun ini. Mulai sekarang jangan bersuara sedikitpun.”

Perlahan mereka menyibakkan rumpun ilalang di hadapan mereka. Beberapa meter dari tempat mereka bersembunyi tampaklah istana Gorchuk yang tak tampak seperti istana di mata Freeia dan Vorg. Istana itu berupa bangunan batu besar tak berbentuk yang diselimuti lumut di seluruh permukaannya.Pintu masuknya terbuat dari potongan-potongan batang pohon yang berat yang dijalin dengan sulur-sulur tanaman yang kuat. Dua orang penjaga baru saja terjaga dari tidur mereka. Mereka bangkit dari duduknya di bongkahan batu berlumut di sebelah kiri dan kanan pintu gerbang besar itu.

“Huaahhhhmmm!!!” penjaga sebelah kiri menguap lebar sambil merentangkan tangannya. Suaranya sangat keras karena ternyata Troll itu cukup besar. Tingginya lebih dari tiga kali tinggi Vorg dan lebarnya lebih dari empat kali lebar tubuh Vorg. Badan mereka gempal dan padat, dengan kaki-kaki dan tangan-tangan yang pendek dan lebar. Wajah mereka penuh keriput seperti layaknya kakek-kakek. Hidung mereka bulat dan besar berwarna kemerahan dengan beberapa kutil di seluruh permukaannya dan bulu-bulu hidung mereka mencuat keluar dari kedua lubangnya. Alis mereka pun tebal hingga menjuntai di kedua sisi wajah mereka, tetapi mata mereka yang hitam bulat dan besar tampak kekanak-kananakan dan tidak cocok dengan wajah mereka yang keriput. Kedua mata itu bagaikan bola kaca hitam dan tidak memiliki bagian berwarna putih di sisinya, menonjol keluar dan begitu besarnya hingga memenuhi hampir separuh dari wajah mereka. Sedangkan mulut mereka sangat mungil dan hampir tersembunyi di bawah hidung besar yang memenuhi separuh sisa wajah mereka. Dan yang paling menakjubkan mungkin adalah rambut mereka. Rambut itu tumbuh panjang ke arah atas seolah-olah melawan gravitasi bumi. Penjaga sebelah kiri memiliki rambut berwarna ungu terang yang mencuat lurus dan bersatu di ujungnya sehingga membentuk kerucut yang melengkung membentuk spiral. Sementara penjaga sebelah kanan memiliki rambut berwarna hijau lumut yang mencuat ke segala arah seperti kipas. Dua gumpal kumis lebat berwarna sama menggantung di bawah setiap lubang hidungnya sehingga saat ia berbicara hanya tampak kedua kumis itu bergoyang-goyang tanpa terlihat lubang mulutnya.
“Bagaimana caranya dia makan ya?” mau tak mau pikiran itu terlintas di benak Freeia,”Pasti bubur biji bunga matahari akan tersangkut di kumis itu saat ia makan. Hiyyy!!”

“Kita harus bersiap-siap. Apakah hari ini Raja Gorchuk jadi mengirimkan permata biru untuk Putri Gwendoline?” kumis hijau itu bergerak-gerak cepat saat ia berbicara.
“Sepertinya belum. Kabar terakhir yang kudengar Putri Gwendoline mengajukan syarat tambahan untuk menerima pinangan Raja Gorchuk.” Timpal si rambut ungu.
“Ck ck ck. Memang makin cantik seorang wanita pasti semakin macam-macam saja maunya,” si kumis hijau berdecak sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, rambut kipasnya melambai-lambai seperti ekor merak.
“Hush! Jangan sampai Raja Gorchuk mendengar perkataanmu. Bisa-bisa dipenggalnya kepalamu nanti,” si rambut ungu mengingatkan. Si kumis langsung menutup mulutnya sambil celingukan ke segala arah.

Lloyd memberi tanda untuk mundur. Mereka pun mundur beberapa langkah dan mulai mengatur strategi.
“Tampaknya permata-permata itu ada di dalam,” ujar Lloyd senang.
“Bagaimana caranya kita masuk?” tanya Vorg.
“Itulah masalahnya. Kurasa kita harus mengalihkan perhatian kedua penjaga itu,” kata Lloyd.
“Kalaupun kita berhasil mengalihkan perhatian mereka, bagaimana cara kita membuka pintu yang besar dan berat itu?” Freeia ikut bertanya.
“Hmm… benar juga,” Lloyd tampak makin bingung.
“Apakah ada jalan masuk lain? Jendela mungkin?” kata Vorg.
“Aha! Itu dia! Kita harus mencari jendela untuk masuk,” Lloyd mengangguk setuju.
“Lalu, setelah kita berhasil masuk bagaimana?” Freeia kembali bertanya.
“Entahlah, yang penting kita harus asuk dulu,” jawab Lloyd lagi.

Maka mereka pun mengendap-ngendap memutari bangunan batu itu sambil mencari lubang atau jendela yang terbuka. Kini mereka harus lebih berhati-hati karena sudah terdengar suara-suara dari dalam istana itu yang menunjukkan terjadinya aktifitas di dalamnya. Beberapa jendela yang tertutup mereka jumpai dan mereka lewati karena mereka tak akan mungkin sanggup membukanya. Daun-daun jendela itu terbuat dari lempengan-lempengan kayu yang besar dan berat untuk ukuran tubuh mereka.
Akhirnya mereka menemukan sebuah jendela yang terbuka. Mereka menduga itu adalah jendela dapur karena sejalur tipis asap abu-abu tampak keluar dari cerobong batu di atasnya dan aroma berbau busuk menyengat menguar keluar dari jendela yang terbuka itu. Juga terdengar suara-suara Troll yang ditingkahi suara gedombrangan perkakas yang mereka gunakan dari dalam ruangan di balik jendela itu.

“Bagaimana ini?” Lloyd berbisik. Mereke bersisian di bawah jendela itu. Tubuh mereka menempel rapat pada dinding batu untuk meminimalisir kemungkinan ketahuan.
“Sebaiknya aku terbang dan mengintip keadaan di dalam,” Freeia balas berbisik.
“Terlalu berbahaya,” Vorg tidak setuju.
“Tapi tak ada cara lain. Tenanglah, aku akan berhati-hati,” Freeia menenangkan.
Maka Freeia pun melayang tanpa suara. Sayapnya yang berkilauan bergerak cepat sampai hanya tampak seperti kilatan cahaya keemasan yang berkelebat di belakang punggung dan bahunya. Sesampainya di bibir jendela Freeia bergantung ke tepi bawah jendela dengan kedua tangannya. Perlahan diangkatnya tubuhnya sampai matanya tepat berada di ambang jendela. Untunglah para Troll wanita di dalam dapur itu tampak sangat sibuk dan tidak memperhatikan ke arah jendela. Seorang Troll gemuk dengan rambut oranye keriting yang mencuat tak beraturan sedang sibuk membumbui sekerat daging yang sudah tampak berjamur dan dirayapi belatung dengan sejenis tepung berwarna kuning keabu-abuan di meja besar di tengah dapur. Troll wanita lainnya yang berambut biru lurus ke atas dan melingkar di ujungnya sedang memotong-motong semacam rumput rawa yang layu dan berlendir dan memasukkannya ke dalam panci besar berisi air comberan kecoklatan yang mendidih di atas api di dalam perapian besar yang menempel di dinding dapur. Di sudut lainnya seorang Troll wanita kurus dengan rambut pink menyala yang mengarah ke kiri seperti habis ditiup angin besar selama berjam-jam sedang menggosok peralatan makan dari logam yang sudah berkarat dengan secarik kain lap yang juga berjamur dan penuh bercak-bercak kehitaman.

Perlahan Freeia melayang turun dan menceritakan apa yang dilihatnya kepada Vorg dan Lloyd.
“Menurutmu, bisakah kita masuk tanpa ketahuan?” tanya Vorg.
“Kalau kita kurasa bisa. Tapi Lloyd sepertinya pasti akan menarik perhatian mereka,” jawab Freeia sambil mengerutkan kening dan menotol-notol dagunya dengan jari telunjuk (yang menandakan bahwa ia sedang berpikir keras).
“Betul!” tiba-tiba Vorg berseru agak keras sambil menampar pahanya sendiri membuat kedua temannya terlonjak kaget, “ Lloyd harus terbang masuk dengan ribut dan menarik perhatian ketiga wanita Troll itu. Saat mereka sibuk dengannya, kita menyelinap masuk. Saat itu Lloyd harus terbang keluar dan bersembunyi di sekitar sini kalau-kalau kita butuh kabur dengan cepat,”Vorg menjelaskan strateginya.
“Kalau begitu aku tidak akan ikut menyelinap bersama kalian dong?” Lloyd tampak agak kecewa.
“Tidak ada jalan lain Lloyd, kau terlalu besar untuk menyusup tanpa terlihat oleh para Troll,” kata Vorg.
“Lagipula kami mengandalkanmu untuk kabur dari sini Lloyd. Justru peranmulah yang paling penting untuk menjamin keselamatan kita,” Freeia menambahkan dengan nada membujuk sambil mengelus pipi burung tampan itu.
“Baiklah kalau begitu,” akhirnya Lloyd setuju,” Aku akan mengangkat kalian ke jendela. Bersiap-siaplah untuk masuk begitu mereka mengejarku.”

Freeia dan Vorg pun memanjat ke atas punggung Lloyd yang membawa mereka sampai ke ambang jendela. Segera mereka turun dan bersembunyi di balik daun jendela itu. Tiba-tiba Lloyd melesat masuk ke dalam dapur Troll sambil berkaok-kaok ribut. Ketiga wanita Troll menjerit-jerit dan menutupi kepala mereka ketika paruh Lloyd menyambar-nyambar di atas kepala mereka. Si Troll berambut biru melemparkan pisau yang dipegangnya ke arah Lloyd. Untung Lloyd berhasil menghindar dan pisau itu menancap di daun jendela tepat di atas kepala Vorg yang reflek menunduk begitu pisau melayang ke arahnya. Lloyd kembali menyambar dan ketiga wanita Troll itu berebutan bersembunyi di balik meja sambil menjerit-jerit ribut. Melihat peluang itu Vorg segera menarik tangan Freeia melompat ke rak bumbu di samping jendela, melompat ke meja kecil di bawahnya, dan melorot turun melalui kaki meja itu ke lantai. Lloyd melihat Vorg dan Freeia sudah berhasil masuk dengan sudut matanya. Maka sambil menyambar sekali lagi ia pun melesat keluar dari jendela. Ketiga wanita Troll itu bergegas lari ke jendela dan membanting daun jendela itu keras-keras. Ketiganya terengah-engah di depan jendela.

“Aduh hampir copot jantungku,” ujar si Troll gemuk.
“Dasar burung kurang ajar. Mungkin dia lapar dan tertarik mencium harumnya bau masakan kita,” timpal si rambut pink.
“Sayang pisauku tidak mengenainya tadi. Sup burung busuk mungkin cukup enak untuk disajikan pada Raja Gorchuk,” si rambut biru tak mau kalah.
Sementara itu Freeia dan Vorg telah merayap di sepanjang dinding dapur dan keluar dari pintu dapur menuju bagian dalam dari istana Gorchuk.

TO BE CONTINUED….
Berhasilkan mereka menemukan keempat permata musim?
Nantikan lanjutannya di Kisah Freeia dan Vorg part.11

Kisah Freeia dan Vorg part.9

Keesokan harinya badai telah berhenti. Freeia telonjak bangun dan segera memeriksa keadaan Vorg. Syukurlah suhu tubuhnya terasa normal walaupun wajahnya masih tampak pucat. Freeia pun bangkit untuk menjerang air dan membakar beberapa biji-bijian kalau-kalau Vorg bangun dan merasa lapar.

Vorg bermimpi buruk. Kumbang raksasa mengejar-ngejar dan menangkap adiknya. Saat Vorg mengejarnya wajah dan suara teriakan Trod berubah menjadi sosok dan teriakan Freeia yang dicengkram capit beracun kumbang ganas itu. Vorg berusaha berlari mengejar dan berteriak tetapi suaranya tidak keluar dan langkahnya terasa begitu berat. Tangannya menggapai tanpa daya ketika kumbang itu menyeret tubuh lemas Freeia menuju kegelapan yang begitu pekat…

Vorg bermimpi indah. Tubuhnya serasa melayang di udara. Aneka warna menghiasi latar belakang mimpinya. Rongga hidungnya dipenuhi aroma segar yang sangat familiar di hidungnya, seperti harum bunga-bunga di musim semi. Vorg memejamkan mata dan sepasang tangan yang lembut membelai rambut dan keningnya. Apakah ia sudah mati dan berada di Surga?

Tiba-tiba aroma lain merasuki rongga hidungnya. Harum biji-bijian hangat dan pekatnya aroma dedaunan kering membuatnya terbangun. Dibukanya matanya yang terasa berat. Vorg melihat Freeia sedang bersimpuh di sisi api, mengaduk the rumput dalam cangkang kumbang mantan pelindung sikunya. Biji-bijian yang sudah dipanggang sampai merekah beralaskan daun kering di sisi kakinya. Vorg tersenyum senang. Seandainya saja setiap pagi pemandangan indah seperti ini menyambutnya saat bangun tidur.

Vorg mencoba untuk bangun, tetapi rasa nyeri yang menusuk di lengan dan kepalanya membuatnya terpaksa berbaring kembali sambil mengaduh tertahan. Freeia menoleh mendengar suara Vorg. Dijatuhkannya ranting yang sedang dipakainya mengaduk the dan buru-buru dihampirinya pemuda itu.
“E..eh! Kau jangan bangun dulu,”
“Aku tidak apa-apa kok. Cuma luka kecil, tak seberapa,” kata Vorg.
“Luka kecil apanya? Seluruh tubuhmu luka-luka dan memar-memar. Dan sikumu hampir hilang setengahnya tahu?” Freeia memarahi Vorg.
“Hahaha… Jangan sewot dong. Aku sudah biasa kok,” jawab Vorg ringan. Tetapi tak urung ia mengernyit kesakitan ketika menggerakkan lengannya. Freeia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya, setengah kagum, setengah bingung menghadapi pemuda jabrik itu.

“Ayo kita makan. Setelah itu kita melanjutkan perjalanan. Kau mau pulang kan?” Vorg berkata ceria sambil kembali berusaha bangkit dari tidurnya.
Freeia membantu Vorg duduk. Saat itulah Vorg menyadari bahwa ia tidak berpakaian. Wajahnya yang pucat tiba-tiba saja tampak tidak begitu pucat karena semburat kemerahan di pipinya, hanya bibirnya yang masih tampak kebiruan.

“Kemarin pakaianmu berlumuran lendir dan darah, juga sobek di beberapa tempat. Aku sudah membersihkan dan memperbaikinya. Tuh di sana,” Freeia menjelaskan dengan canggung sambil bergegas mengambilkan pakaian Vorg. Wajahnya merah padam dan ia berjongkok membelakangi Vorg sambil pura-pura mengaduk the rumput yang sebenarnya sudah siap dari tadi. Setelah yakin Vorg selesai berpakaian barulah Freeia berbalik dan membawakan sarapan mereka ke tempat Vorg duduk.

Selama sarapan mereka berdebat tentang ide melanjutkan perjalanan versus ide beristirahat beberapa waktu sampai lengan Vorg sembuh.
Freeia berpikir sebaiknya mereka menunggu tangan Vorg sembuh.
Vorg berpendapat bahwa tangannya tidak apa-apa.
Freeia berkeras bahwa wajah Vorg sangat pucat.
Vorg berkata bahwa wajahnya memang pucat dari dulu.
Freeia merasa menunda perjalanan beberapa hari tidak akan banyak pengaruhnya.
Vorg berdalih bahwa ada kemungkinan masih ada kumbang raksasa lain di sekitar situ.
Akhirnya Freeia terpaksa menyerah karena tidak tahu mau bilang apa lagi.

Setelah selesai sarapan mereka pun melanjutkan perjalananan mereka. Langkah mereka agak lambat karena kondisi Vorg belum pulih benar. Berulang kali Freeia berpura-pura lelah dan meminta Vorg untuk berhenti dan beristirahat karena dilihatnya bibir Vorg begitu putih dan keringat dingin bermunculan di dahinya walaupun Vorg tidak mengatakan apapun.

Menjelang sore mereka baru mencapai tepian dataran luas berumput ketika mereka mendengar suara berkerosak keras di rumpun rumput si sebelah kanan mereka. Keduanya saling memandang. Perlahan Vorg mengeluarkan senjata tanduknya dan berjalan sambil merunduk mendahului Freeia menghampiri arah datangnya suara tadi.
“Vorg, jangan! Mari kita memutar saja,” Freeia merintih setengah memohon. Ingatannya melayang pada kumbang raksasa yang menyerang mereka semalam.
“Tenanglah. Lebih baik kita tahu apa yang kita hadapi dari depan daripada tiba-tiba mendapat serangan dari belakang,” jawab Vorg tenang meskipun rahangnya mengeras dan garis-garis wajahnya tampak tegang.

Dengan hati-hati disibakkannya lembar rumput terakhir yang menghalangi mereka dari sumber suara itu. Hatinya mencelos lega sementara di belakangnya Freeia menghembuskan nafas yang sedari tadi ditahannya. Ternyata seekor burung besar yang sangat tampan terperangkap di sana, tubuhnya terbelit sulur-sulur dan rerumputan yang kusut di sekelilingnya. Wajahnya yang berwarna coklat tanah bermahkotakan jambul besar berwarna hitam mengkilat, sewarna dengan paruhnya yang ramping dan melengkung cantik. Punggung dan sayapnya yang kokoh juga berwarna hitam mengkilat, hanya saja makin mendekati ujungnya warna sayap-sayap itu bergradasi menjadi warna kelabu dengan pendar-pendar kebiruan di seluruh permukaannya. Sedangkan bulu-bulu yang menutupi dada dan perutnya berwarna putih bersih dengan secercah pulasan warna kuning di ujung-ujungnya. Dengan sisa-sisa tenaganya ia berusaha melepaskan diri, tetapi usahanya sia-sia. Tampaknya ia sudah berjuang cukup lama, kepakan sayapnya sudah melemah dan kepalanya terkulai lesu.
“Kasihan,” kata Freeia,” Mari kita tolong dia.”
Freeia dan Vorg dengan senjata tanduknya membantu burung itu melepaskan diri dari jeratan rumput dan sulur-sulur tanaman yang membelit tubuhnya.

“Terima kasih peri-peri yang baik hati. Tanpa kalian aku pasti mati sendirian di sini. Aku, Lloyd tidak akan pernah melupakan budi kalian.” Kata burung itu setelah tubuhnya terbebas sepenuhnya.
“Mengapa kau bisa terjebak di sini?” tanya Freeia
Untuk sesaat burung itu terdiam. Wajahnya tampak sedih sebelum akhirnya ia menjawab.
“Penunggangku adalah ksatria peri Vlardon. Kami sedang dalam perjalanan mengemban sebuah misi penting dari Yang Mulia Ratu-Ratu Musim ketika badai besar kemarin menjebak kami. Aku terlempar ke rerumputan dan terbelit di sini hingga aku bisa selamat, tetapi penunggangku terhempas ke tebing batu sebelah sana, tak mungkin ia berhasil selamat dari badai seganas itu,” sebutir ait mata berkilau menetes dari mata Lloyd.
“Kasihan sekali,” Freeia mengelus-ngelus sayap burung itu untuk menghiburnya.
“Kalau kami boleh tahu, sebenarnya misi apa yang begitu penting sehingga tidak bisa ditunda sampai musim semi?” Vorg akhirnya ikut bersuara.
“Kekacauan musim ini sebenarnya disebabkan karena Gorchuk si Troll mencuri keempat permata musim yang menjaga keseimbangan musim di negeri ini. Permata biru milik Ratu Musim Panas, permata Coklat milik Ratu Musim Gugur, permata ungu milik Ratu Musim Dingin dan permata Hijau milik Ratu Musim Semi. Keempat Ratu Musim menugaskan kami untuk merebut keempat permata itu dari tangan Gorchuk dan mengembalikannya ke tempatnya masing-masing sehingga cuaca ini bisa kembali dikendalikan. Sampai saat ini cuaca masih bertahan karena keempat Ratu Musim mengerahkan energi mereka untuk mengisi tempat permata yang kosong setiap hari. Apabila salah seorang dari mereka melemah terjadilah badai besar seperti kemarin. Badai pertama terjadi karena Ratu Musim Panas jatuh sakit akibat hawa dingin yang berkepanjangan ini. Entah berapa lama keempat Ratu Musim dapat bertahan. Apabila keempat permata itu tak ditemukan , aku tak tahu apa jadinya dunia ini nantinya,” Lloyd menjelaskan panjang lebar dengan wajah muram.

“Kini entah bagaimana nasib Ksatria Vlardon. Bagaimana kau bisa menjalankan misimu?” tanya Freeia.
“Justru itulah yang membuat aku bingung dan sedih,” jawab Lloyd.
“Kami bersedia membantumu,” celetuk Freeia spontan, “Eh, kalau kau mau maksudku…” Freeia melirik Vorg sambil menggigit bibir.
“Tentu saja kami bersedia membantu. Tapi apakah kau tidak ingin pulang? Perjalanan ini mungkin berbahaya,” kata Vorg.
Untuk beberapa saat Freeia sibuk mempertimbangkan perkataan Vorg sambil mengerutkan kening dan menotol-notol dagunya seperti biasa.
“Tidak!” kata Freeia akhirnya, “Aku ikut dengan kalian. Toh di rumah aku tidak akan tenang karena mengkhawatirkan kalian dan nasib dunia ini,” katanya mantap.
“Baiklah kalau begitu!” Lloyd dengan bersemangat merentangkan sayapnya dan merundukkan tubuhnya, “Naiklah ke punggunggku ksatria-ksatria peri. Kita akan memulai misi kita, semoga kita berhasil menyelamatkan dunia ini.”

Kedua peri kecil pemberani itu pun memanjat naik ke punggung Lloyd. Sang burung mengepakkan sayapnya dan mereka pun lepas landas menyongsong suatu petualangan yang tak terbayangkan oleh mereka berdua. Kebaikan dan kepedulian mereka mengalahkan setiap kegentaran dan keragu-raguan akan apa yang harus mereka hadapi nantinya.
TO BE CONTINUED….
Ke mana mereka menuju?
Apa yang akan mereka temui di sana?
Nantikan kelanjutannya di Kisah Freeia dan Vorg part.10