Tampilkan postingan dengan label Friends. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Friends. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 Juli 2010

Sharing : Kejadian-kejadian dalam Hidup Berkeluarga Sehari-hari (6) Episode Nonton Toy Story 3


Pada hari Senin 28 Juni yang lalu kami berencana untuk mengajak anak-anak menonton Toy Story 3 di bioskop. Ini adalah pengalama pertama kali menonton di bioskop untuk Christopher, karenanya sebenarnya kami agak was-was juga karena entah dia bisa bertahan duduk dengan tenang sepanjang film ataukah dia akan rewel dan minta keluar sebelum film berakhir (bersiap-siap untuk kemungkinan terburuk, hehehe…). Ini juga acara nonton bioskop yang pertama kalinya untuk aku dan suami sejak kami memiliki Chris karena sebelum ini kami merasa dia terlalu kecil untuk diajak ataupun ditinggal hanya dengan pembantu di rumah.

Kami berencana pergi dengan teman dekat keluarga kami, Teguh dan Johana (Jojo). Kebetulan mereka mempunyai kartu blitz megaplex yang menyediakan layanan pesan tiket on-line sehingga kami tidak perlu mengantri untuk membeli tiket. Sebetulnya sejak hari Sabtu sebelumnya Chandra suamiku sedang sakit dan agak tidak enak badan. Tetapi pagi ini dia sudah merasa jauh lebih baik dan kami antusias ingin merasakan nonton di bioskop lagi (ampun, kesannya kampungan banget ya?)

Siang itu kami sudah memesan tiket. 6 tiket untuk pertunjukan pk.19.30. Aku pun membereskan bon-bon di toko lebih awal dari biasanya dengan pertimbangan perjalanan ke Paris Van Java atau PVJ (yang selalu macet) dan perjuangan mencari tempat parkir di mall yang selalu penuh itu (apalagi sekarang musim liburan anak sekolah) akan memakan waktu sekitar 1 jam atau lebih. Aku pun menyiapkan susu dan baju meng kesayangnya Chris untuk berjaga-jaga seandainya dia rewel.

Pukul 18.30. Waktunya tutup toko. Teguh dan Jojo sudah hadir di rumah kami dan menunggu dengan manis. Segera kututup toko kami secepat mungkin. Langsung aku naik ke rumah kami di lantai 2. Aku berlari ke kamar, ternyata Chandra sedang tidur. Kubangunkan dia, kemudian aku pun menyiapkan anak-anak. Setelah mengganti pakaian anak-anak dan cuci muka ala kadarnya karena untuk mandi waktunya tidak cukup, aku kembali ke kamar dan kudapati Chandra terduduk di tempat semula.
“Kenapa Can?” tanyaku
“Ngga, cuman agak lemes aja,” jawabnya.
Waduh! Bagaimana ini? Padahal tiket sudah dipesan.
“Gimana dong? Bisa pergi ngga?” tanyaku lagi.
“Bisa kok,pake jaket aja,” katanya,”Tapi Teguh yang nyetir.”
Maka setelah bersiap-siap akhirnya kami berangkat pukul 19.00. Sangat pas-pasan, habis mau bagaimana lagi?

Ternyata di sepanjang perjalanan keadaan lalu lintas lumayan padat. Dengan agak berdebar-debar kami memandangi jam di sepanjang perjalanan kami. Akhirnya kami tiba di perempatan Pasirkaliki- Pajajaran dan di sana macet total dan banyak polisi. Kami berencana untuk mengambil jalan lurus karena itu adalah jalan yang paling singkat, tetapi karena lalu lintas macet polisi menutup jalan lurus dan membelokkan semua kendaraan ke kanan dan ke kiri.
“Ke kanan Guh! Jangan ke kiri, jauh lagi,” kata Chandra.
“Susah Ko, “kata Teguh agak bingung karena mobil terasa sangat berat dan berjalan sangat perlahan walaupun ia sudah menekan pedal gas sampai mentok dan mesin sudah mengaum –aum dengan kerasnya.
“Belok Ko, belok!” Jojo yang tampaknya belum menyadari ada keanehan pada mobil kami merasa aneh karena mobil kami tidak maju-maju.
Mobil kami merayap dengan sangat berat dan berisik, dan beberapa sentimeter kemudian tiba-tiba Chandra berseru,”Matiin Guh, itu ngebul!”
Dan benarlah dari bawah kap mesin tampak asap tebal mengepul naik ke atas.

Teguh pun mematikan mesin mobil, saat itu posisi mobil kami tepat berada di perempatan jalan yang sangat ramai itu. Chandra dan Teguh segera turun dan membuka kap mesin mobil kami. Bagaikan sepanci sop yang baru matang, begitu dibuka tutupnya asap tebal pun menguar ke mana-mana. Air radiator tampak menggelegak mendidih dan hawa panas membuat Chandra dan Teguh mundur beberapa langkah. Anak-anak ingin ikut turun untuk melihat tetapi tidak kuperbolehkan walaupun semakin lama mereka semakin rewel dan mulai berkelahi karena di mobil sempit dan panas. Bayangkan saja kami berada tepat di tengah perempatan yang ramai dengan banyak mobil dan motor berseliweran di sekitar mobil kami.

“Ci, kata Koko ada air?” tiba-tiba Teguh melongokkan kepala ke dalam mobil. Untunglah aku selalu membawa air minum untuk anak-anak. Kuberikan botol itu kepadanya. Tidak 10 detik kemudian botol itu kembali kepadaku dalam keadaan kosong. Tak lama kemudian aku melihat Chandra sedang berlari menjauh. Rupanya ia mencari mini market terdekat karena ia kembali dengan menjinjing sekantong besar penuh berisi botol-botol besar berisi air mineral. Liter demi liter isi botol-botol itu mengalir ke dalam pipa radiator. Chandra pun sudah melepas jaketnya dan keringat mengalir deras di keningnya. Tetapi tampaknya suhu mobil kami tak kunjung menurun. Akhirnya Chandra menelepon Papa untuk meminta bantuan kalau-kalau mesin mobil tidak dapat dihidupkan kembali. Tetapi sambil menunggu ia terus mencoba untuk mendinginkan mesin mobil dengan air yang dibelinya tadi. Seorang Bapak polisi sempat menghampiri kami, tetapi setelah bertanya apa yang terjadi, ia pun ngeloyor pergi tanpa mencoba menolong ataupun menawarkan bantuan. Yahh, mungkin ia sedang sibuk sekali kali ya?

Saat itu waktu menunjukkan pukul 19.36 (Lucky bahkan mengecek waktu dengan menelepon 103). Sudah terlambat. Kami sudah pasrah karena kelihatannya kami tidak akan jadi nonton dan tiket yang sudah dibayar itu akan sia-sia saja. Lucky sudah cemberut dan berdiam diri di jok belakang. Kalau Chris lain lagi reaksinya. Begitu Lucky bilang sudah terlambat untuk menonton ia langsung berkomentar,”Kita ke IP aja yuk! Tuh udah deket,” katanya sambil menunjuk Istana Plaza yang memang terletak di perempatan jalan itu, tepat di depan mobil kami.

Beberapa menit kemudian Chandra dan Teguh menutup kap mesin dan masuk ke dalam mobil.
“Udah?” aku bertanya setengah tak menyangka bisa secepat ini.
“Bisa lah kayanya mah, pelan-pelan aja,” jawab Chandra, karena sekarang dia yang mengemudikan mobil kami. Aku pun kembali menelepon Papa untuk memberi kabar bahwa mobil sudah bisa jalan kembali. Kasihan Papa karena dia sudah dibangunkan dari tidurnya dan membawakan air untuk kami. Saat aku menelepon pun dia sudah berada di depan IP dari arah yang berlawanan.

Mobil pun merayap perlahan sampai ke Jalan Sukajadi. Tepat di pintu masuk PVJ asap kembali mengepul dari kap mobil dan jalannya mobil pun mulai terseok-seok. Dengan tidak sabar kami menunggu antrian pengambilan tiket parkir di gerbang masuk. Begitu kami mendapatkan tiket parkir dan berbelok ke kanan ke arah tempat parkir mesin mobil kembali mati. Untunglah beberapa petugas parkir membantu kami mendorong mobil dan mencarikan tempat parkir untuk mobil kami.

Sementara Chandra dan Teguh memarkirkan mobil, Jojo, Lucky dan aku yang menggendong Chris berlari kea rah bioskop. Jojo langsung menuju ke mesin untuk mencetak tiket menggunakan kartu blitz nya sementara aku yang kebelet pipis menitipkan Chris kepada Lucky dan berpesan kepada mereka untuk tidak ke mana-mana dan menungguku kembali kemudian berlari ke toilet wanita yang untungnya tidak jauh dari sana.

Begitu keluar dari toilet aku menjumpai anak-anak dan Jojo yang berdiri di tempat aku meninggalkan mereka.
“Ampun Ci, gua ajak geser sedikit ke arah pintu bioskop aja mereka ngga mau bergerak sesenti pun,” kata Jojo,”Kata anak-anak Mama bilang ngga boleh ke mana-mana.”
Hatiku senang bercampur bangga karena mereka anak-anak yang patuh dan dapat dipercaya. Dan kami pun masuk ke dalam ruangan bioskop yang saat itu sudah gelap. Tetapi alangkah terkejutnya aku karena ternyata layar masih menampilkan iklan-iklan untuk film-film yang akan tayang berikutnya. Film nya sendiri belum lagi dimulai. Entah jam di Blitz Megaplex memang lebih lambat atau memang film nya terlambat dimulai. Yang jelas kami sangat bersyukur karena Tuhan mengijinkan kami menonton film tersebut dengan lengkap malam itu.

Sesampainya di deretan kursi kami ternyata kursi-kursi itu sudah ditempati orang lain. Ya ampun! Apalagi ini? Akhirnya kami pun memanggil petugas dan ternyata memang orang-orang yang menempati kursi kami yang salah duduk. Seharusnya mereka duduk di deretan kursi di atas kami. Baru saja kami duduk, tiba-tiba telepon Jojo berbunyi. Rupanya Chandra dan Teguh sudah selesai memarkir mobil dan menunggu di depan pintu. Aku pun kembali keluar untuk memberikan tiket kepada mereka.

Setelah itu kami pun dapat menikmati film dengan tenang, karena ternyata Chris sangat menikmati film tersebut dan duduk dengan tenang. Sesekali ia tertawa apabila ada adegan yang lucu. Aku sangat senang karena anak bungsuku sudah besar. Film nya sendiri sangat bagus dan menghibur, ada adegan-adegan yang membuat kami tertawa terpingkal-pingkal, ada juga adegan-adegan yang menegangkan. Dan keseluruhan cerita membawa pesan moral yang baik tentang persahabatan, kesetiaan, keuletan dan kerja sama. Kami sangat menikmati film tersebut.

Tetapi kira-kira di pertengahan film Chris mulai agak rewel dan ingin keluar, mungkin karena bosan atau mungkin juga takut karena ada adegan yang sangat menegangkan ketika para tokoh utama sedang mencoba kabur dari daerah kekuasaan si boneka beruang jahat dan beberapa kali nyaris tertangkap. Akhirnya aku membujuknya dengan membelikannya pop corn (yang berarti keluar bioskop untuk kesekian kalinya. Mungkin penonton lain agak kesal melihatku bolak-balik keluar masuk bioskop. Untung aku sudah mengantisipasi kemungkinan ini dan memilih tempat duduk paling pinggir tepat di sisi lorong.) Pop corn itu menahan Chris tetap tenang selama kira-kira 15 sampai 20 menit.

Setelah pop corn ludes disantap Chris pun mulai gelisah lagi. Untung aku sudah menyiapkan senjata pamungkas untuk menghadapinya. Sekotak susu kemasan (karena Chris sudah tidak minum susu pakai dot lagi) dan baju meng yang tak pernah gagal membuatnya tenang. Chris pun bergelung nyaman dengan baju meng nya dan menyeruput susunya dengan manis sampai film berakhir. Akhirnya acara nonton ke bioskop pun berhasil dengan sukses. Yeeaaa!!!

Selesai menonton kami kembali dihadapkan dengan masalah yang untuk beberapa waktu tadi kami tinggalkan. Mobil yang mogok! Di lapangan parkir Chandra dan Teguh pun kembali sibuk mengutak-atik radiator di bawah kap mesin. Sungguh beruntung bahwa di ujung lapangan tersebut ada keran air sehingga kami tidak perlu sulit mencari dan membeli air untuk mendinginkan serta mengisi radiator mobil. Lucky kebagian tugas bolak-balik mengisi botol air kemasan dengan air dari keran tersebut. Entah berapa belas kali ia bolak-balik mengisi botol air itu. Sementara aku dan Jojo kebagian tugas menghibur dan memberi kegiatan kepada Chris supaya dia tidak bosan. Kami sempat menelepon beberapa teman untuk meminta bantuan. Ada teman yang malah menertawakan nasib kami, ada teman yang bersimpati tapi tidak dapat membantu, dan akhirnya kami pun kembali membangunkan Papa untuk menanyakan nomor telepon service panggilan Toyota 24 jam. Kasihan Papa, apalagi ternyata nomor tersebut pun sia-sia karena tidak ada yang menjawab panggilan kami padahal kami menelepon lebih dari 10 kali selama lebih dari 15 menit tanpa henti. Maaf ya Pa, hehehe…

Chandra membutuhkan selotip keran untuk mengencangkan baut penutup radiator. Aku, Jojo dan Lucky pun berlari ke pasar swalayan yang berada di lantai bawah pusat perbelanjaan itu. Sebenarnya Chris pun kami ajak, tetapi kira-kira 10 meter dari mobil ia berubah pikiran.
“Chris anter sampe sini aja yah, dadah Mama!” dan ia pun berlari kembali ke arah mobil. Maka setelah menitipkannya pada Chandra kami meneruskan perjalanan kami ke pasar swalayan. Sesampainya di sana ternyata pasar swalayan itu sudah tutup. Pintu masuknya sudah dihalangi oleh bangku-bangku walaupun para karyawannya masih ada dan sedang membereskan barang-barang.
“Maaf mas, boleh ngga saya masuk? Saya perlu selotip keran untuk membetulkan mobil kami yang mogok di tempat parkir,” aku pun meminta tolong karyawan yang ada di sana. Untunglah ia memperbolehkannya. Kami bertiga pun berlari-lari di sepanjang lorong-lorong pasar swalayan yang telah kosong itu untuk mencari barang yang kami perlukan. Rasanya seperti sedang mengikuti kuis yang pada tahun 90-an pernah ditayangkan di televisi, di mana peserta harus menghabiskan sejumlah uang tertentu dengan daftar barang-barang yang harus dipenuhi dalam waktu yang terbatas. Ternyata sulit juga mencari selotip keran. Setelah bertanya pada pramuniaga yang bertugas pun ia tak dapat menemukannya. Untunglah berkat kegigihan Jojo yang rela sampai bertiarap di lantai dan merogoh-rogoh sampai ke setiap ujung rak akhirnya kami menemukannya. Sontak kami bertiga bersorak sorai dan segera berlari ke kasir yang sudah akan ditutup.

Setelah membayar harga selotip tersebut kami pun berlari lagi ke tempat parkir. Sesampainya di tempat parkir dengan terengah-engah kami menyerahkan selotip itu. Chandra berujar,”Beli senter ngga? Gelap nih, ngga keliatan apanya yang rusak. Soalnya airnya ngga habis, tapi setiap mesin menyala jadi mendidih.” Gubrak! Mana bisa? Orang begitu kami selesai membayar tadi pihak pasar swalayan langsung menarik rolling door dan mematikan lampu kok. Kenapa ngga kepikir dari tadi yah?

Cukup lama juga Chandra dan Teguh memutar otak mencari sumber masalahnya. Chandra bahkan sempat menelepon Papi nya untuk meminta masukan apa yang harus dilakukan, tetapi semuanya sia-sia. Sementara itu anak-anak mulai mengeluh lapar. Ya, saat itu sudah lebih dari pukul 22.00 dan kami belum makan malam. Untuk kesekian kalinya malam itu Jojo dan aku berlari-lari melintasi lapangan parkir menuju sebuah restoran waralaba yang berada di halaman pusat perbelanjaan itu. Kami hanya membeli 2 buah burger dan lemon tea untuk anak-anak. Alasannya, pertama karena sedang sibuk Chandra dan Teguh tidak mau makan. Kedua karena tegang dan khawatir aku dan Jojo pun tidak mau makan. Ketiga karena terburu-buru sebelum berangkat aku lupa mengambil uang sebelum berangkat sedangkan di dompet Jojo hanya ada uang yang tak seberapa. Untuk mengambil uang di ATM kami harus masuk lagi ke dalam gedung sedangkan kami lelah dan anak-anak sudah kelaparan, jadi ya sudahlah.

Sekembalinya di mobil anak-anak sudah menanti dengan tidak sabar. Selama mereka makan kami berusaha mencari pinjaman senter pada petugas parkir, petugas keamanan dan pada teman kami yang kebetulan bekerja di salah satu gerai di pusat perbelanjaan PVJ itu. Sayang, usaha kami sia-sia karena tidak ada satu orang pun yang mempunyai senter di sana.

Saat kami sudah hampir putus asa dan berpikir mungkin kami harus menginap di lapangan parkir malam itu, tiba-tiba Chandra menyuruh Teguh masuk ke dalam mobil dan menyalakan AC. Tak lama kemudian dengan berseri-seri Chandra menutup kap mesin mobil dan masuk ke balik kemudi.
“Ayo masuk semuanya!” serunya sambil memasang sabuk pengaman.
“Udah bener emang?” aku bertanya kebingungan.

Mobil pun menggelinding perlahan tapi stabil. Sambil mengusahakan agar mesin tidak bekerja terlalu berat, kilometer demi kilometer kami lalui dengan mulus tanpa kepulan asap dari balik kap mesin. AC dinyalakan sampai batas maksimum dan kami semua menggigil kedinginan. Sambil mengemudi Chandra menjelaskan bahwa tampaknya kipas radiatornya yang mati, bukan radiatornya yang kehabisan air. Karena itulah radiator menjadi panas. Idenya, dengan menjalankan AC sampai batas maksimum kipas AC yang letaknya bersebelahan dengan radiator akan ikut mendinginkan radiator tersebut. Akhirnya kami pun tiba di rumah dengan selamat. Papi Chandra tampak menanti di halaman rumah kami. Setelah melihat kami pulang dengan selamat beliau pun pulang. Terima kasih Papi buat perhatiannya . Teguh dan Jojo pun pamit pulang. Saat itulah rasa lapar mulai terasa di perut kami. Teguh dan Jojo berencana mampir ke McD dalam perjalanan pulang mereka sementara kami yang sudah sampai di rumah cukup senang untuk menghabiskan apa yang ada di meja makan kami.

Kami sungguh bersyukur atas pengalaman kami hari itu. Dari kejadian itu begitu banyak kami menjumpai kebaikan dan penyertaan Tuhan dalam hidup kami. Pertama, saat di mini market akan membeli air, di dompet Chandra hanya ada 1 lembar uang senilai Rp.2.000,- Sambil berdoa ia mengorek setiap lipatan dan selipan di dompetnya. Tiba-tiba di salah satu celah dompet itu ia menemukan selembar uang Rp.10.000,- yang entah kapan ia selipkan di sana. Kedua, walaupun kami tiba di bioskop sangat terlambat ternyata kami tidak ketinggalan film barang 1 menit pun. Ketiga, kami bisa tiba di tujuan dan kembali pulang ke rumah dengan selamat dengan keadaan mobil yang demikian. Keempat, dengan ajaib Tuhan menyediakan keran air di sisi lapangan tempat kami memarkirkan mobil. Kelima, kami masih sempat membeli selotip keran walaupun sebetulnya pasar swalayan itu sudah tutup saat itu. Keenam, Tuhan memberikan hikmat kepada Chandra untuk menemukan permasalahan mesin dan pemecahannya. Dan terakhir, yang paling ajaib, Chandra sembuh total dari masuk angin, lemas-lemas dan pegal-pegal yang dideritanya sejak hari Jumat minggu sebelumnya. Mungkin dengan berolah raga lari ke mini market dan dengan mengucurkan begitu banyak keringat terkena uap panas dari mobil membuat semua angin keluar dari tubuhnya.

Sungguh satu pengalaman yang sangat berkesan bagi kami semua malam itu. Tetapi kami harap pada acara menonton ke bioskop berikutnya kami tidak akan menjumpai kendala seperti yang kami alami malam ini. Hahaha…

Rabu, 23 Juni 2010

A Tribute to Fredy Widjaja

Pada hari Sabtu, tanggal 26 Desember 2009 yang lalu, saya mendapat kabar yang sangat mengejutkan. Seorang teman meninggal dunia di usianya yang masih sangat muda karena serangan jantung mendadak. Padahal selama ini tidak ada gejala bahwa dia mengidap kelainan jantung. Dia meninggalkan seorang istri dan seorang putri berusia 8 bulan.

Dia bernama Fredy Widjaja. Pertama kali aku mengenalnya kira-kira 10 tahun yang lalu. Saat itu kami tergabung dalam suatu kelompok persekutuan yang bertempat di rumahku. Sebetulnya, dia adalah teman kuliah adikku. Adikku kemudian mengajaknya bergabung dalam pertemuan persekutuan doa kami.

Kesan pertama aku melihatnya, seorang pria tinggi besar berkacamata, berkulit hitam dan berambut gondrong. Cukup mengintimidasi, apalagi dengan pakaiannya yang dominan hitam. Secara keseluruhan tampilannya seperti seorang ‘Biker’ atau penggemar motor besar, yang ternyata benar juga. Dia memang penggemar motor besar, bersama kakak dan Papanya, mereka bertiga memiliki hobi mengoleksi replika atau miniatur berbagai macam motor besar. Tetapi begitu sudah mengobrol dan mengenalnya lebih jauh, kesan angker dan sangar yang ada di awal perjumpaan ternyata tidak sedikitpun mendekati kenyataannya. Fredy ternyata orang yang sangat ramah dan mudah tertawa.

Selama tahun-tahun aku mengenalnya, lebih jauh kujumpai bahwa Fredy itu orang yang apa adanya. Saat menawarkan jasa asuransi, yang memang menjadi salah satu bidang karir yang digelutinya selain bidang kontraktor bangunan, setelah menjelaskan manfaat asuransi yang ditawarkannya, dengan terus terang dikatakannya bahwa ia sedang mengejar target nasabah bulanan di kantornya. Kami tertawa bersama saat itu, menghargai keterus terangannya yang tidak seperti salesman lain yang pada umumnya yang cenderung memanipulasi kata-kata dan menghalalkan segala jenis persuasi dengan kamuflase “untuk keuntungan nasabah sendiri” guna mencapai target penjualannya.

Hal lain yang aku kagumi darinya adalah kerendahan hatinya yang selalu bersedia menerima masukan dari orang lain. Dan kemauannya untuk memperbaiki diri dan menjadi lebih baik dalam hidupnya. Juga kesetiaannya dalam setiap hal yang dilakoninya, mulai dari pekerjaan sampai hubungan dengan orang-orang dalam hidupnya. Kekasih yang dengannya Fredy menjalin kasih sejak jaman kuliah kira-kira 10 tahun yang lalu, sampai kini telah menjadi istri dan menjadi ibu dari buah hati mereka berdua.

Akan tetapi yang paling kukagumi dari Fredy, sebetulnya baru kusadari saat aku melayat ke rumah duka. Percakapan dengan Lenny, istri dari Fredy yang ditinggalkannya dalam usia yang masih sangat muda membuatku tak bisa tidak menitikkan air mata dan mengacungkan jempol secara jasmani dan rohani untuk Fredy.

Lenny bercerita betapa dalam tahun-tahun terakhir, yang boleh dibilang tahun-tahun keemasan dalam hidupnya, Fredy mengalami begitu banyak transformasi yang menakjubkan dalam berbagai bidang kehidupan, karakter, maupun kerohaniannya. Ia akhirnya menikahi Lenny menjadi istrinya, pekerjaannya pun mencapai titik terang dan mulai membuahkan hasil dalam tahun-tahun terakhirnya. Secara karakter dan rohani ia berkembang sedemikian rupa menjadi seorang anak terkasih kebanggaan orang tua, menjadi suami dan kepala keluarga yang begitu mengasihi dan mengayomi istri dan keluarganya, dan menjadi teman yang baik dan dicintai di antara teman-temannya, mulai dari teman-teman lama sampai teman-teman barunya.

Kalau boleh saya kutip pengakuan Lenny kepada saya mengenai suaminya mengenai saat-saat terakhir hidupnya.
“Beberapa bulan belakangan ini Fredy makin deket sama Tuhan. Bahkan 4 hari sebelum Fredy dipanggil Tuhan, pada suatu kesempatan dia lagi ngegitar sambil memuji Tuhan. Dia nyanyi sambil menitikkan air mata, terus dia bilang sama saya, ‘Len, elu kalo mau ikut Tuhan tuh ngga boleh 99,99% tau ngga? Kudu 100% tuh bener-bener 100%. Inget yah, Tuhan tuh baek banget sama kita’ gitu katanya, ngga tau kenapa ngga ada angin ngga ada ujan dia ngomong gitu sama saya.”

“Yang saya kagum dari Fredy dia itu orangnya sabar banget. Sama anak buahnya juga dia selalu sabar, mau dengerin dan selalu ngomongin masalah tuh baik-baik. Kadang saya kalo lagi emosi dia tuh ingetin saya kalo Tuhan aja sabar kok menderita buat kita yang berdosa.”

“Satu peninggalan Fredy yang dia ajarin sama saya, yang akan saya pake juga buat ngedidik anak kita, bahwa semua rencana Tuhan itu adalah yang terbaik dan terindah menurut waktunya Tuhan. Dan kita harus percaya 100% bahwa Tuhan lebih tau apa yang terbaik buat kita.”

“Terlalu cepat emang Fredy ninggalin kita. Saya sih udah rela banget karena saya percaya ini udah rencana-Nya, dan Fredy juga meninggalnya tuh cepet banget. Ngga menderita, ngga ada tanda-tanda. Jam 2 masuk ICU, jam 6 udah ngga ada. Padahal sebelum masuk ICU itu dia cuman sempet ngeluh sakit dada sedikit, tapi masih sehat. Orang paginya dia masih ngantor kok. Cuman memang beberapa waktu belakangan dia suka ngomong hal-hal yang aneh, kaya waktu bulan lalu kan saya ulang tahun. Fredy tuh ngasih saya hadiah gelang ini, dan dia berkeras harus masangin gelang ini ke tangan saya, dia bilang,’Gua takut ngga bisa masangin gelang ini lagi ke tangan elu Len.’ Ngga tau kenapa dia bilang gitu.”

“Papanya Fredy terpukul banget sama kematian Fredy. Dia bilang Fredy tuh anak kebanggaan Papa, kenapa Tuhan bukan manggil Papa yang udah tua aja? Masa depan Fredy kan masih panjang? Tapi yah, kayanya Fredy udah nyiapin saya buat ini makanya pas di rumah sakit sebelum meninggal pun dia masih sempet ngingetin saya buat percaya 100% sama Tuhan. Terus dia meninggalnya sambil tersenyum, bener-bener tersenyum sampe Pendeta aja heran ngeliatnya. Jadi saya rasa dia tau kalo saya udah nerima bahwa ini rencana Tuhan.”

Melihat ketabahan istrinya dan imannya sama rencana Tuhan membuat saya lebih terenyuh lagi, juga membuat saya kagum sekaligus malu karena seandainya saya yang berada di posisinya saya merasa tidak akan bisa setegar itu. Mungkin saya malah menyalahkan Tuhan dan berpaling dari iman saya.

Kematian Fredy juga ternyata membawa dampak terhadap orang-orang di sekitarnya. Salah satunya Mama saya yang notobene tak ada hubungan apapun dengan Fredy. Mendengar kisah kematian Fredy beliau menanyakan penyebab kematiannya karena usianya masih sangat muda. Saya pun menceritakannya. Dan tahukan apa yang dikatakan Mama saya?

“Wah bener euy, orang baek kayanya baru bisa matinya enak gitu. Ngga menderita, ngga nyusahin orang lain, ngga disiksa dulu berbulan-bulan. Sayang dia masih muda. Kalo Mama sih mau deh matinya kaya gitu. Mama paling takut harus disiksa penyakit sebelum mati.”

“Percaya ngga percaya Ma, Tuhan tuh bilang kalau kita tuh sebenernya tinggal minta apa yang kita mau sama Tuhan. Dengan iman dan sikap hati yang benar, ngga ada yang ngga mungkin. Mama hanya harus berdoa dan minta sama Tuhan,” begitu jawabku pada Mama.

“Masa? Bisa gitu? Mama paling ngga bisa berdoa. Mama ngga tau mau ngomong apa kalo berdoa. Ngga kaya orang laen yang bisa berdoa panjang-panjang, Mama cuma bisa bilang ampuni Tuhan kalo saya bersalah, udah gitu aja.”

“Menurut saya itu udah bagus kok Ma, toh yang terpenting dari semuanya kan sebenernya pertobatan kita. Dan berdoa itu ngga harus panjang atau bagus, seperti kalo Mama lagi ngobrol atau cerita aja sama Tuhan...” dan seterusnya kita jadi ngobrol banyak tentang Tuhan. Padahal selama ini Mama orang yang jarang mau diajak ngobrol soal rohani dan awal mula Mama ikut Tuhan pun berkesan seperti hanya ikut-ikutan belaka. Sekali lagi saya terkagum-kagum bahwa seseorang masih dipakai Tuhan untuk menjadi saluran berkat-Nya, bahkan setelah ia meninggalkan dunia ini.

Akhirnya, seperti yang Lenny bilang, waktu dan tugas Fredy di dunia ini sudah selesai, tinggal kita yang masih menjalani waktu kita memilih untuk menjalani hidup seperti apa sebelum Tuhan memanggil kita pulang. Semoga semangat dan teladan Fredy Widjaja bisa menjadi kekuatan dan inspirasi bagi setiap kita yang pernah mengenalnya, amin…

4 Sekawan part.2 (The Reunion)


Akhirnya, terjadi juga reuni 4 sekawan yang dinanti-nanti. Lokasinya di rumah Amul, waktunya Hari Minggu jam 11 siang (menjelang makan siang). Acaranya makan siang bersama dan ngobrol ngalor ngidul tentunya.

Sejak beberapa hari sebelumnya aku sudah berkirim-kiriman SMS dengan anggota 4 Sekawan lainnya, memastikan kehadiran mereka dan mengatur menu yang akan disajikan untuk acara makan siang bersama nanti. Diputuskan setiap orang akan membawa makanan untuk kemudian memakannya bersama-sama.

Seperti anak sekolah menanti rencana darmawisata, kami pun tidak sabar menanti hari reuni kami. Bahkan malam hari sebelum hari H aku sempat bermimpi sedang berkumpul bersama teman-teman 4 sekawanku.

Akhirnya, hari minggu pun tibalah. Betapa senangnya kami berkumpul kembali. Amul masih agak montok setelah melahirkan. Tapi kami sepakat bahwa dia tampak lebih sehat, karena sebelum hamil Amul itu sangat mungil dan kurus (walaupun paling galak) sampai-sampai kalau ke mal dia lebih sering berbelanja baju di counter anak-anak daripada di counter baju wanita dewasa. Mencari baju hamil yang pas dengan ukuran tubuhnya pun sangat sulit, karena baju hamil ukuran S pun masih kebesaran untuknya.

Putrinya yang sangat cantik lahir dengan berat 2,355 kg, cukup kecil, tapi sangat sehat dan stabil. Luar biasa! Berkat kegigihan si ibu yang selalu mengatur pola makan dan menghitung gizi yang masuk dengan seksama. Padahal dia tidak dianugerahi nafsu makan yang meningkat seperti yang dialami aku dan Wina semasa kehamilan kami. Bayangkan, sewaktu aku hamil, makanan yang tadinya tidak kusuka pun menjadi enak di lidahku. Setiap melihat orang makan, aku akan ikut makan karena tergiur, walaupun aku baru saja selesai makan. Sedangkan Amul, walaupun diserang mual berkepanjangan dia harus menjadwal dan memaksakan diri untuk makan setiap beberapa jam sekali, menunya pun bergizi lengkap dan seimbang. Yahhh, itu lah Amul yang perfeksionis, dia bahkan menghindari semua makanan enak dan jajanan yang dianggapnya kurang sehat, tidak seperti aku dan wina yang semakin getol jajan sewaktu hamil. Kami pikir itu kesempatan makan tanpa merasa takut gemuk, hahaha…

Ide-ide kreatif dan jiwa pengarangnya pun sempat memuncak di masa kehamilannya. Sayang, ide yang muncul selalu cerita horror atau pembunuhan, atau tentang psikopat, sampai-sampai kadang ia ketakutan sendiri saat menulis sebuah cerita seram. Akhirnya suaminya melarangnya untuk menyalurkan ide-ide itu ke dalam bentuk tulisan, khawatir penghayatan dan emosi nya dalam menulis akan mempengaruhi emosi si janin.

Adag pun tampak segar sepulangnya dari Negeri Kanguru. Masih tinggi besar dan ramai seperti dulu. Juga masih sangat kocak. Di pertemuan pertama kami pun, dia sempat terjatuh di tangga. Tanpa sempat mengerem sekitar 6 anak tangga dilewatinya berturut-turut dengan kecepatan tinggi sambil terduduk. Waduh! Untung Adag tidak cedera. Sudah lama sekali kami tidak tertawa terpingkal-pingkal sampai sakit perut seperti itu.

Dia juga tambah cantik dan feminin. Penampilannya apik dan modis walaupun dia tidak memakai pakaian yang wah dan hampir tanpa aksesori. Memang dari dulu dia bisa menentukan gaya yang pas dengan tubuh dan wajahnya, tidak percuma jadi anak pemilik butik pakaian wanita, ya Dag? Tapi jangan terkecoh dengan penampilan manisnya. Dia masih sama kuatnya seperti dulu, mungkin lebih akibat gemblengan bekerja sebagai chef profesional di Australia sana. Jam kerjanya kadang mencapai 17 jam sehari. Aku sebagai ibu rumah tangga yang memasak untuk keperluan makan keluarga sendiri saja kadang merasa lelah setelah memasak, padahal 3 jam pun tidak.

Pernah sekali dia menolong seorang temannya yang dianiaya oleh kekasihnya sendiri. Seorang pria Korea pengangguran yang setelah ditampung di rumahnya malah memanfaatkannya dan akhirnya berani memukulinya. Begitu temannya menelepon minta tolong, Adag langsung datang dengan amarah membara. Cowok Korea itu pun tak berkutik ketika Adag memarahinya habis-habisan. Setelah itu Adag meminta dan menahan paspornya. Diperintahkannya pria itu mengambil uang di bank untuk mengganti barang-barang temannya yang sempat dirusaknya. Setelah semua kerugian diganti, tanpa belas kasihan diusirnya pria itu dari rumah temannya beserta seluruh barang miliknya. Kebetulan pria itu tidak mempunya tas atau pun koper. Dengan tega Adag menggiringnya keluar sambil membawa tumpukan barang dan pakaian di tangannya. Untuk mencegah teror dari pria itu Adag menginap seminggu di rumah temannya. Untunglah, karena memang ternyata beberapa kali pria itu sempat berusaha mendekati temannya lagi. Hah! Puas sekali rasanya mendengar keadilan ditegakkan. Hidup Adag!

Wina datang dengan putrinya yang manis dan cerdas yang sudah berusia 3 tahun. Masih kalem seperti dulu. Yang termanis di antara kami ber-4, Wina masih tetap menjadi pinguin kesayangan kami. Walaupun sekarang sudah tidak galling (keriting) lagi. Rambutnya yang lebat dan indah kini lurus di-rebonding. Kacamata nya pun kini diganti dengan softlens, membuat mata kucingnya tampak semakin eksotis disandingkan dengan lesung pipitnya. Memang Wina ini agak sedikit terlambat mekarnya. Tapi bunga yang mekar terakhir biasanya yang paling indah bukan? (Mengutip dari film Mu Lan, hehehe…). Aku yakin tak sedikit juga cowok-cowok yang akan menyesal kalau melihat Wina sekarang. Yang terang-terangan menyatakan penyesalan padaku saja sudah 2 orang. Wina juga masih senang tertawa. Sepanjang sesi obrolan kami, tak henti-hentinya dia terpingkal-pingkal sambil mengusap ujung matanya mendengar cerita-cerita seru Adag. Audrey, putrinya, tak henti-hentinya bertanya, “Ada apa Mih? Apa katanya Mih?” Sementara Wina hanya bisa menjawab di sela-sela tawanya, “Ngga, itu tadi ceritanya lucu.”

Memang Kepribadiannya yang lembut dan keibuan tampak jelas dari caranya menangani putrinya. Menyuapinya dengan telaten, mengajarinya berdoa sebelum makan, menidurkannya di sofa rumah Amul, sampai mendandaninya dengan pakaian dan aksesori yang manis dan pantas, lengkap dengan ekor kuda di kepala mungilnya. Sungguh beruntung suaminya mendapatkan Wina sebagai istri. Profesi sebagi guru sekolah dasar juga kelihatannya cocok untuknya. Dia sangat menikmati pekerjaannya sebagai wali kelas 5, walaupun kadang ada anak yang menjengkelkan dan kejadian yang menyebalkan.

Ada seorang muridnya, yang sebenarnya cerdas tapi sering melamun dan kurang perhatian. Suatu hari Wina dalam pelajaran Biologi mengajarkan tentang perbedaan Frog (katak) dan Toad(kodok), karena di sekolah tempatnya mengajar memang bahasa pengantar yang digunakan adalah Bahasa Inggris dan Indonesia. Setelah menjelaskan panjang lebar, Wina pun memberikan kesempatan pada murid-miridnya untuk bertanya.
“Any question, class?”
Si anak yang tukang melamun tadi mengangkat tangan, Wina pun megangguk ke arahnya untuk mempersilahkannya bertanya.
“Miss, kalo katak sama kodok bedanya apa?”
Gubrak! Kami pun tertawa terbahak-bahak tanpa sempat memikirkan jawaban apa yang diberikan Wina pada muridnya itu.

Yang terakhir, aku sendiri, San San. Masih sama cerewetnya, masih juga menjadi mobilisator kelompok. Biasanya aku lah yang menjadi EO untuk acara-acara kebersamaan kami, termasuk reuni kali ini. Secara fisik pun aku tidak banyak berubah, masih sederhana, masih anti make up. Hanya bertambah gemuk berkat saham lemak dari kedua jagoan cilikku, monumen peringatan bagi statusku sebagai mama.
Aku datang bersama suami dan putra bungsuku yang seusia dengan putri Wina, sementara putra sulungku yang berusia 11 tahun memilih untuk bermain game di rumah daripada ikut ke “acara ngobrol ibu-ibu” menurut bahasanya.

Setelah puas melepas kangen dan saling mengomentari, kami pun diajak melihat bayi Amul. Untuk beberapa lama kami asyik mengagumi dan mengajaknya bermain, karena ternyata anak-anak kami pun terpesona dan sangat senang membelai-belai kaki “si Dede”.

Dan karena ada anak-anak, aku dan Wina pun menyuapi dahulu anak-anak kami sebelum acara makan siang dimulai. Amul dan Adag pun turut membantu dengan berbagai cara, mulai dari menyemangati, menantang balapan, menawarkan hadiah, sampai mengingatkan untuk mengunyah atau mengisi kembali mulut yang kosong ke mama masing-masing. Berkat bantuan mereka, kami pun berhasil menyelesaikan tugas memberi makan anak-anak dalam waktu yang relatif cepat.

Acara makan siang yang sesungguhnya baru dimulai sekitar pukul 2 siang. Tetapi walaupun terlambat, makan siang kali itu sangat memuaskan karena makanan yang dibawa begitu beragam dan berlimpah. Aku membawa lotek dan rujak ulek lengkap dengan kerupuk aci 2 toros. Suami Amul membeli soto Bandung yang dibumbui dengan jeruk nipis yang dipetik langsung dari pohon di halaman rumah Amul. Adag membawa baso ikan isi daging cincang dengan kuah ayam dan irisan bawang daun dan bawang goreng renyah. Harumnya sungguh menggugah selera,apalagi kami sudah membauinya dari tadi ketika menyuapi anak-anak nasi dengan baso ikan yang dibawa Adag ini. Dan Wina membawa es campur Pa Oyen yang tersohor itu. Melihat bungkusannya yang berembun saja sudah membuat kami menitikkan air liur di hari yang teramat panas itu.

Setelah kenyang dengan berbagai santapan yang lezat, akhirnya kami pun duduk di ruang tamu sambil mengobrol ngalor-ngidul ditemani kipas angin dan rujak ulek dingin yang segar. Sementara itu suamiku dan suami Amul pun ternyata mengobrol asyik juga ditemani semangkok rujak ulek segar, dan anak-anak kami juga asyik bermain rujak-rujakan dengan buah-buahan plastik di karpet yang dihamparkan di lantai. Sayang suami Wina tidak datang. Aku sangat bahagia dan bersyukur karena keluarga kami ternyata bisa cocok dan bersahabat juga.

Tanpa terasa hari pun beranjak semakin sore. Chris dan Audrey mulai rewel karena mengantuk, Vely pun menangis minta susu. Suamiku yang pengertian mengajak Chris pulang untuk tidur siang, dan Wina menidurkan Audrey di sofa, sementara Amul masuk ke kamar untuk menyusui Vely. Tinggal aku dan Adag mengobrol berdua. Topik pembicaraan kami kebanyakan mengenai perbedaan budaya dan gaya hidup di Aussie dan di Indonesia.

Setelah Amul selesai menyusui Vely dan Audrey tertidur nyenyak, kami pun melanjutkan obrolan kami. Kali ini di hamparan karpet yang tadi menjadi tempat bermain anak-anak. Topik kali ini adalah aib kami di masa lalu. Topik yang sukses membuat kami tertawa terpingkal-pingkal sampai keram perut dan berurai air mata.

Aib Wina adalah ketika dia spontan menjerit di Toko Buku Gramedia waktu mendapatkan foto idolanya. Ceritanya begini, waktu itu sepulang sekolah kami pergi ke Gramedia untuk berjalan-jalan, sesuatu yang sering kami lakukan karena kebetulan letaknya tidak jauh dari sekolah. Ketika itu di kalangan anak-anak ABG sedang tren membeli dan tukar menukar kartu bergambar foto bintang film/penyanyi idola remaja saat itu. Caranya, dengan membeli koin, memasukkannya ke mesin, lalu menarik tuas untuk mengeluarkan kartunya. Jadi,kartu yang didapat pun tidak dapat dipilih melainkan untung-untungan.
Siang itu Wina iseng membeli sebuah koin dan mencoba menarik tuas mesin kartu yang ada di Gramedia. Ternyata kartu yang didapat adalah idola kesayangan Wina. Spontan dia menjerit sekeras-kerasnya. Semua kepala serentak menoleh ke arah kami. Perlahan Amul berbisik, “Ayo! Cepet pergi!” dan kami pun berjalan secepat-cepatnya ke pintu keluar. Sesampainya di luar barulah kami tertawa terbahak-bahak. Itulah senangnya mempunyai sahabat-sahabat. Semua kejadian, yang memalukan sekalipun bisa jadi menyenangkan kalau dijalani bersama.

Aibku adalah ketika mengikuti ujian lari untuk nilai akhir semester. Guru olah raga memegang stop watch untuk menghitung berapa waktu yang diperlukan tiap murid untuk menempuh jarak 10 keliling lapangan sepak bola yang luar biasa lebarnya. Sekali tiupan peluit 3 siswa diberangkatkan, dan setelah ketiga siswa tersebut selesai, 3 siswa berikutnya diberangkatkan, dan demikian seterusnya. Biasanya di putaran keenam murid-murid sudah mulai tidak sanggup berlari dan mulai berjalan, diselingi dengan lari-lari kecil. Pada putaran terakhir seringkali murid-murid sudah harus menyeret kakinya sampai ke garis finish dan langsung duduk untuk beristirahat.
Waktu itu, ketika tiba giliranku, aku pun mengalami kelelahan yang sama. Di putaran keenam nafasku sudah kembang kempis. Pinggang kananku sudah terasa sakit dan kerongkonganku sudah terasa kering. Aku pun mengendurkan langkahku dan mulai berjalan. Di putaran kedelapan, saat aku merasa hampir-hampir tidak kuat lagi melangkah, tiba-tiba aku merasakan ada sesuatu yang aneh. Ternyata, kait pakaian dalam (bra)-ku lepas! Kurasakan wajahku memucat. Apa yang harus kulakukan? Akhirnya sebisa mungkin aku menekankan lenganku di samping tubuh agar tidak kelihatan kalau bra-ku lepas. Secepat mungkin aku berlari untuk menyelesaikan jatah 10 putaranku. Teman-teman yang menonton di sisi lapangan tampak takjub melihatku bahkan semakin bersemangat di putaran terakhir (walaupun gaya berlariku mungkin tampak sedikit aneh). Begitu mencapai garis finish di putaran terakhir, bukannya duduk kelelahan seperti yang lainnya, aku malah meneruskan lariku langsung ke arah WC putri.

Orang-orang mengira aku kebelet pipis atau sakit perut, tapi beberapa teman yang jeli akhirnya tahu kejadian yang sebenarnya. Aduh, malunya!

Aib Amul adalah ketika ia mengagetkan Papa Adag. Hari itu sepulang sekolah, kami berempat sepakat untuk berkumpul di rumah Adag yang memang bisa ditempuh dengan berjalan kaki dari sekolah.

Sesampainya di rumah, Adag masuk ke dalam untuk menyimpan tas sekolahnya di kamarnya. Sambil masuk ke dalam, Adag menutup pintu geser yang membatasi ruang tamu dengan ruangan dalam rumahnya. Tak berapa lama kemudian, terdengar suara pintu geser yang akan dibuka, lalu tampaklah ujung jemari seseorang di celah pintu yang mulai bergerak terbuka. Tiba-tiba muncul ide iseng di dalam kepala Amul untuk mengejutkan Adag. Dia perlahan berdiri dari duduknya dan tepat saat pintu terbuka ia pun melompat sambil berteriak sekeras-kerasnya, “DARRRR!!!!!”

Ternyata orang yang muncul di ambang pintu adalah Papa Adag. Demi mendengar teriakan Amul, spontan beliau mengangkat sebelah tangan ke atas kepala dan mengangkat sebelah kaki dengan posisi menyerang gaya kung fu sambil berteriak “HAII-YAAA!!!”

Untuk sesaat semua orang diam terpaku di tempatnya masing-masing bagaikan adegan film yang di-pause dengan remote control DVD player. Saat berikutnya terasa sangat canggung dan serba salah.
“Eh! Maap Om, kirain teh Ingrid…,” Perlahan Amul berkata dengan wajah memerah.
“Eh! Vera… I..Iya ngga papa…,” Papa Adag menjawab sambil menurunkan tangan dan kakinya ke posisi semula, lalu ngeloyor keluar rumah. Ternyata beliau memang sedang bermaksud untuk ke luar rumah.
Sementara itu aku dan Wina berdiri di sudut ruang tamu Adag sambil menyembunyikan wajah kami di balik tirai jendela. Dan Adag, yang ternyata berada tepat di balakang papanya, tampak menutup mulutnya menahan tawa.

Begitu terdengar suara mobil dihidupkan dan meninggalkan halaman rumah, kami semua (kecuali Amul tentunya) meledak tertawa terpingkal-pingkal sampai tidak sanggup berdiri lagi. Ketika akhirnya tawa kami mereda dan kami mengusap ujung mata kami dengan lengan seragam kami, tampak wajah Amul yang begitu merana antara malu dan kesal.
“Jahat! Bukannya bantuin malah pada ngetawain!”
Otomatis kami pun meledak tertawa lagi, kali ini sampai perut kami kejang-kejang karenanya.

Aib Adag adalah ketika wajahnya terkena bola. Adapun waktu itu diadakan pertandingan sepak bola antar kelas. Seperti biasa Adag dan Amul pun hadir di samping lapangan untuk memberi semangat sekaligus untuk “ngeceng” karena “kecengan-kecengan” mereka turut bertanding sore itu (Kebetulan aku dan Wina tidak ada di sana karena kami tidak sekelas dengan Adag dan Amul). Cewek-cewek rela berbecek ria di sisi lapangan yang baru kemarin disiram hujan demi untuk melihat jagoan-jagoannya beraksi.

Kira-kira di pertengahan jalannya pertandingan, ketika para cewek sedang asyik mengobrol, tiba-tiba seseorang berteriak, “Awaaassss!!!”
Semua orang menoleh ke arah lapangan dan melihat bola mendekat ke arah penonton. Aku yakin apabila adegan itu di-film kan pasti sutradara akan merekamnya dengan fitur gerak lambat (slow motion) karena bola itu mendarat dengan keras tepat di tengah wajah Adag. BUK! Bola yang belepotan lumpur itu menghantam keras wajah Adag sebelum dia sempat menghindar. Sebuah bulatan coklat kehitaman terpeta tepat di tengah wajah Adag. Si penendang bola berlari-lari ke pinggir lapangan sambil meminta maaf, dan Amul bersama dengan seorang teman buru-buru mengantar Adag ke kamar mandi untuk mencuci muka.

Ketika Adag sedang mencuci muka, Amul dan temannya tidak tahan untuk tidak tertawa mengingat kejadian barusan. Dengan ekspresi kesal Adag pun keluar dari kamar mandi.
“Kurang ajar! Malah ngetawain!”
Muka Adag kini bersih dari lumpur, tetapi sebagai gantinya kini di wajahnya ada bulatan merah dengan pola kotak-kotak seperti bola sepak. Melihat itu Amul dan temannya langsung terbahak-bahak tanpa bisa dikendalikan lagi. Sementara Adag blingsatan mencari cermin untuk melihat keadaan wajahnya.

Aaahhh… hari itu sungguh menyenangkan. Tanpa terasa kami mengobrol sampai pukul delapan malam. Itu pun karena suami Wina menelepon menanyakan kepulangan Wina dan putrinya. Kalau saja suami Wina tidak menelepon, mungkin kami lupa untuk pulang. Rasanya waktu bagaikan terbang saja jika kita sedang bersenang-senang bukan?

Aku sangat senang karena persahabatan kami bisa terjalin sampai sekarang. Mudah-mudahan persahabatan ini akan berlanjut sampai ke anak-cucu kami nantinya. Rencananya kami akan mengadakan acara kumpul-kumpul sekali lagi sebelum Adag harus kembali pulang ke Australia. Doakan semoga jadi ya?

Selasa, 15 Juni 2010

4 Sekawan

Empat Sekawan”, begitulah orang-orang menjuluki kami berempat di sekolah dulu, karena kami selalu bersama, sejak awal masuk SMP, sampai kami lulus SMA, bahkan sampai sekarang. Entah bagaimana awalnya, kami berempat merasa cocok satu sama lain, sehingga tanpa dikomando, setiap jam istirahat dan sepulang sekolah kami selalu saling mencari dan berkumpul untuk makan, jalan-jalan atau sekedar mengobrol ngalor-ngidul tak ada habisnya. Inilah kami :

Vera, si mungil berhati baja, idealis, smart, naturalis, seniman sejati dan galaknya minta ampun. Julukannya : “Amul Cakar Setan”.

Ingrid, si bongsor bertenaga kuli, gampang marah, tapi gampang tertawa, berbadan besar tapi feminin, pintar masak dan sangat sangat lucu. Julukannya : “Adag” (singkatan dari Amoy Badag, badag dalam Bahasa Sunda berarti besar).

Wina, si pendiam yang manis, keriting, berkaca mata, sangat pandai, pendengar yang baik, kalem, tapi senang tertawa, terutama kalau melihat tingkah polah si Adag. Julukannya : “Pinguin Galing” (pinguin, karena orang-orang selalu menyapanya dengan “Win!Win!”, galling dalam Bahasa Sunda berarti keriting).

Dan aku, San San, si cerewet yang romantis, seorang perfeksionis tapi kurang percaya diri, kutu buku dan aktivis yang tak pernah bisa berhenti bicara. Julukanku : Oa (Oa adalah sejenis kera yang sangat berisik, selalu mengobrol bersahut-sahutan dengan kawanannya).

Masa-masa penuh canda tawa selalu kami nikmati bersama, kegiatan favorit kami adalah masak bersama, biasanya di rumah Amul, karena dapur di rumahnya cukup luas untuk kami bereksperimen. Kami pernah mencoba membuat spaghetti, salad, steak, juga berbagai kue-kue yang tampak menggugah selera di buku resep. Kenangan yang tak terlupakan, ketika kami mencoba membuat Apple Schotel, entah salah di tahap mana, akhirnya kue itu tidak berbentuk, isian dalamnya menyerupai bubur dan saat dipotong berbunyi “Nyop! Nyop!”, rasanya pun tak terlukiskan, TIDAK ENAK!! Sampai saat ini setiap ada yang mengingatkan tentang Apple Nyop Nyop, kami masih selalu tertawa terbahak-bahak.

Kami juga selalu berburu jajanan-jajanan enak untuk teman kami ngerumpi seharian, beberapa yang paling berkesan sampai sekarang di antaranya keripik lada (lada dalam Bahasa Sunda artinya pedas) di warung depan rumah Amul, keripik gopek yang dijual Rp.500,- sebungkus di depan rumahku (ini adalah keripik singkong renyah dengan bumbu manis pedas yang sungguh menggoyang lidah), sampai sekarang pun kami masih sering membeli keripik ini, tapi karena pengaruh inflasi harganya sekarang Rp.5.000,- sebungkus, lidi gurih pedas yang dibeli di kantin 2 sekolah kami, kerupuk odol (kerupuk putih yang berbentuk langsing dan panjang-panjang dengan bumbu cabai kering, nama sebenarnya sih gurilem kalau tidak salah), dan gorengan yang dijual di gerbang sekolah.

Memang kami tak terpisahkan, bahkan setelah bersama-sama di sekolah seharian pun, malam harinya kami pasti saling menelepon, sampai-sampai orang tua kami mengomel karena tagihan telepon yang terus membengkak, maklum, jaman itu belum ada handphone dan internet seperti sekarang, jadi kadang kami harus susah payah bersabar sampai esok hari untuk menyampaikan suatu kabar apabila kebetulan telepon tidak dapat digunakan. Topik terhangat biasanya seputar kecengan kami dan keluarga di rumah. Indahnya masa muda, rasanya saat itu masalah terberat adalah kecenganmu hari ini tidak menoleh ke arahmu sama sekali, ha ha ha ha….

Tapi bukan hanya saat-saat manis yang mewarnai persahabatan kami, kami juga saling berbagi kepedihan dan air mata, saat salah seorang dari kami patah hati, yang lain selalu ada untuk menghibur dan mendukung, juga saat salah satu dari kami mengalami masalah keluarga atau pun pertengkaran dengan saudara, yang lain selalu stand by untuk dijadikan tempat curhat dan penghiburan.

Cobaan terberat datang menguji persahabatan kami ketika akhirnya aku mempunyai seorang kekasih, yang pertama di antara kami berempat. Saat itu kami sudah duduk di bangku kuliah, dan kebetulan kekasihku adalah seorang yang sangat posesif dan mengekang, sehingga akhirnya hubunganku dengan teman-temanku menjadi renggang. Khususnya Amul, dia merasa sangat terpukul karena merasa aku rela meninggalkan sahabat-sahabatnya demi seorang laki-laki yang tidak berguna. Ditambah lagi pada saat itu terjadi ‘Kerusuhan Mei ‘95’, Amul pun dikirim ke RRC untuk menghindari bahaya dan untuk belajar Bahasa Mandarin, maka kami pun putus hubungan.

Tak lama setelah itu, Adag pun berangkat ke Australia untuk melanjutkan pendidikan di bidang kuliner, sedangkan Wina pun setelah lulus kuliah entah bekerja di mana dan kami berempat tidak lagi saling kontak dan berkomunikasi, karena aku pun sibuk membenahi hidupku yang sempat kacau karena hubunganku dengan laki-laki itu. Ternyata keluarga dan teman-temanku benar, dia bukanlah pangeran impianku, dia hanyalah seseorang bermulut manis yang hanya bermaksud memanfaatkan diriku.

Tapi puji Tuhan, seiring berjalannya waktu, ternyata Tuhan tidak membiarkan persahabatan kami berakhir begitu saja. Beberapa Tahun kemudian, dalam suatu kesempatan, aku bertemu kembali dengan Wina, dan kami mulai menjalin lagi komunikasi di antara kami. Beberapa waktu kemudian, aku mengetahui ternyata Amul adalah jemaat di gereja yang sama denganku, dan proses rekonsiliasi di antara kami pun mulai bergulir, akhirnya dia bisa memaafkan diriku, dan kami mulai menjalin hubungan kembali.

Tinggal satu lagi anggota “4 Sekawan” yang terhilang, tapi puji Tuhan teknologi internet sudah berkembang, dan akhirnya kami menemukan Adag kami tersayang di Facebook, dan babak baru persahabatan kami pun dimulai di usia kami yang sudah menginjak kepala 3. Begitu banyak yang telah berubah dalam diri kami, tetapi ternyata ada begitu banyak hal juga yang tidak pernah berubah di dalam persahabatan kami, kasih, persaudaraan, dan kepedulian kami satu sama lain yang kuharap akan bertahan sampai selamanya.

Vera, kini berprofesi sebagai guru Bahasa Mandarin dan penulis amatir di Bandung, sudah menikah dan sedang menantikan kelahiran putri pertamanya di Bulan September ini. Dia akhirnya bertemu dengan seorang suami yang sangat mengasihinya, padahal dia sendiri tadinya meragukan apakah akan ada laki-laki yang berani mendekati dirinya.

Ingrid, sekarang bekerja sebagai seorang Chef profesional di sebuah restaurant di Melbourne, Australia. Dalam waktu dekat Ingrid akan berkunjung ke Bandung untuk menyambut kelahiran putri Amul dan untuk reuni lengkap “4 Sekawan” yang pertama.

Wina, berprofesi sebagai guru di sebuah sekolah dasar ternama di Bandung, sudah menikah, dan sudah dikaruniai seorang putri berusia 3 tahun yang sangat manis dan cerdas seperti mamanya.

San San, kini mengelola Toko Berkat, sebuah toko peralatan rumah tangga di Bandung bersama seorang suami yang sangat sabar dan baik hati, dikaruniai 2 orang putra yang sepertinya mewarisi bakat cerewet yang akut dari mamanya, ha ha ha ha…..